Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
36.sosok hitam


__ADS_3

Sore ini aku diajak Radit ke rumahnya. Dia hendak mandi dan ganti baju dulu.


Setelah ini kami berencana akan nonton film yg sudah kami tunggu selama beberapa minggu kemarin.


Sampai di halaman rumah Radit yg terbilang luas, aku turun dengan berpegangan pada bahu Radit.


Motor nya yg agak tinggi buatku memang terkadang membuatku sulit untuk naik atau pun turun. Mungkin karena aku terbiasa membonceng motor matic sepertinya


"Yuk," ajaknya lalu dia ngeloyor masuk begitu saja.


Aku masih agak trauma jika berada di rumah Radit. Masih teringat jelas, kejadian soal lukisan berdarah waktu itu. Karena alasan itu, aku masih diam di tempatku berdiri sekarang, sambil melihat sekeliling.


"Ya ampun, malah bengong lagi ini anak," ucap Radit lalu berbalik lagi, langsung menggandengku dan membawaku masuk.


Hingga saat sampai di depan kamar, aku menahan tangan Radit.


"Mau ke mana?" tanyaku dengan dahi berkerut.


"Ke dalem. Aku mau mandi," jawabnya santai.


"Lah, terus kenapa bawa bawa aku ke sini? Aku di luar aja deh," tolak ku.


Dia menarik nafas dalam lalu menghembuskan nya perlahan.


"Aku tau kamu masih trauma di rumahku, dan aku takut kalau kamu kenapa kenapa. Jadi, jangan jauh jauh dari aku. Ngerti?" ucap Radit dengan mendekatkan wajahnya menjadi hanya berjarak setengah jengkal dari wajahku. Yang otomatis membuat aku melotot karena berhasil memporak poranda kan hatiku. Aku jadi salah tingkah, aku menundukkan kepalaku lalu masuk ke kamar Radit begitu saja.


Pintu kubuka, dan kini mulutku ternganga melihat keadaan di dalamnya. Aku menyipitkan mata, melirik pemilik kamar ini. Dia hanya garuk garuk kepala sambil cengengesan.


"Ini kamar?" tanyaku datar.


Dia mengangguk.


"Bukan gudang?" tanyaku lagi.


"Anggap aja gudang deh, Tha. Suka suka kamu lah." dia pasrah lalu berjalan ke kamar mandi yang berada di ujung kamarnya.


Aku hanya senyum melihat reaksi Radit. Lucu. Sambil menunggu Radit selesai mandi, aku iseng beres beres kamarnya. Karena aku merasa risih melihatnya. Yah, memang sih ini kamar laki-laki, dan biasanya memang berantakan. Tetapi ini sangat parah. Bahkan kamar kak Arden saja tidak seperti ini, walau bunda tidak pernah membantu membereskan.


Samar samar aku melihat ada bayangan lewat di depan pintu kamar Radit. Karena penasaran aku keluar dan tengak tengok. Namun hening.


Mungkin, asisten rumah tangga Radit lewat barangkali.


Tap!!


Bahu ku ditepuk pelan, aku sontak kaget.


"AstagfiruLloh," pekikku sambil menoleh.


"Ngapain?" tanya Radit dengan wajah keheranan


"Itu, mbak Wati barusan lewat," sahutku sambil menunjuk ke arah luar.


Radit mengerutkan kening.


"Aku pakai baju dulu," ucapnya lalu berbalik menuju lemari bajunya.


Dan saat itu aku baru sadar kalau dia hanya memakai handuk. Astaga.


\=\=\=\=\=\=


Kami lalu ke rumah kiki dulu naik mobilnya Radit. Karena kami memang berencana nonton berempat bersama Kiki dan Doni.


"Tha ...."


"Hm?" aku masih asik memainkan game di ponselku.


"Tadi kamu lihat mba Wati di mana?" tanya Radit.


"Depan kamar kamu, lewat gitu. Tumben tapi ya, kok gak nyapa aku ya."


"Mm... Sebenernya, Mba Wati itu lagi cuti, Tha."


Deg!!

__ADS_1


Aku langsung menoleh ke Radit dan melotot padanya. Rasanya mataku ini seperti akan keluar saja dari tempatnya.


"Serius? Jadi tadi ... Siapa?" tanyaku agak panik. Dia hanya mengangkat bahunya ke atas. "Sial!!' aku mulai ngomel panjang lebar.


Tapi memang aku tidak begitu jelas melihat siapa yg tadi lewat di depan kamar Radit. Aku hanya merasakan ada yg lewat saja.


Ah, sudahlah. Biar kan saja. Mungkin ada yang iseng.


Sampai di rumah Kiki, mereka berdua sudah menunggu kami di teras. Melihat kami datang, mereka lalu mendekat. Radit membuka kaca mobil samping kami.


"Woh... Lama bener!" gerutu Doni sambil membuka pintu mobil belakang Radit.


"Yaelah... Baru juga 2 jam," bela Radit, seolah olah dua jam adalah waktu yang sebentar.


Kami memang berencana akan naik mobil bersama-sama. Agar lebih seru.


"Kalian habis ke mana aja, Tha?" tanya Kiki yg duduk di belakangku.


"Tadi rencana nya mau nonton teater gitu, cuma gagal," sahutku sambil melirik Radit yg sedang fokus nyetir.


"Lah kenapa?"


"Harusnya nonton teater, eh malah nonton exorcism," terangku.


Kuceritakan apa yg kualami tadi dengan Radit.


"Hahahahaha ... Kok bisa elu cuma diem aja? Kagak dibantuin pula. Jahat bener." Doni malah tertawa setelah mendengar semua ceritaku.


"Ya kupikir, itu bapa romo pasti bisa, Don. Cuma tinggal sabar apa nggak nya sih menurutku. Lagi pula itu bukan ranahku," jelasku.


"Udah deh, nggak usah dibahas lagi," pinta Radit.


"Kenapa? Takut? Tumben elu takut?" tanya Doni.


Radit menarik nafas dalam.


"Perasaan gue kok nggak enak ya," katanya dengan menekan dadanya seperti menahan nyeri.


"Kenapa, Dit? Apa yg kamu rasain?" tanyaku.


Kurasakan dari ekor mataku, ada bayangan hitam yg duduk di belakang Kiki.


Aku menoleh dengan gerakan cepat, karena makhluk itu akan sangat cepat menghilang. Bahkan hanya dengan satu kedipan mata, mereka bisa langsung  lenyap.


Aku kembali melihat ke depan dengan nafas memburu dan agak panik.


"Tha..."


Aku diam. Hanya terus mendengar Radit memanggilku. Hanya saja aku masih kaget dengan apa yg kulihat barusan. Wajahnya memang tidak dapat kulihat dengan jelas. Hanya sesosok bayangan hitam sedang duduk di kursi belakang. Aku hanya dapat melihat sorot matanya yg merah menyala dengan rambut panjang yg berantakan.


Tanganku berkeringat dingin, rasanya udara sekitar terasa panas. Tapi aneh sekali.


"Sayang..."  Radit tiba tiba menggenggam tanganku erat.


Dan saat aku menoleh, dia sedang menatapku lekat lekat. Baru kusadari mobil pun sudah terparkir di pelataran bioskop. Suasana sekitar sudah ramai orang orang yg berdatangan untuk menonton film juga seperti kami.


"Kamu kenapa?" tanya Radit lembut.


Aku seperti bingung dan tidak tau harus mengatakan apa.


Kutengok lagi ke belakang, namun sosok hitam itu sudah tidak ada di sana. Apa mungkin aku salah lihat?


"Tha... Kenapa sih?" Kiki ikut cemas sambil mendekatkan wajahnya di samping ku.


Aku menatap kiki. Sambil terus menoleh kebelakang mencari sosok hitam itu.


Doni yg mengetahui gelagatku aneh ikut menoleh ke arah belakangnya sambil bergidik ngeri.


"Tha? Ada setan?" tanya Doni ceplas ceplos.


"Eum."


"Udah. Yuk turun. Nanti kita nggak dapet tiket," ajak Radit lalu turun dari mobil dan berjalan ke sampingku untuk membukakan pintu sampingku.

__ADS_1


Radit tidak banyak bertanya lagi, dia terus menggandengku masuk ke dalam diikuti Doni dan Kiki.


Doni dan Kiki mengantre tiket, sedangkan aku dan Radit membeli cemilan.


"Hei... Kamu kenapa sih sayang?" tanya Radit.


Hatiku berdesir mendengar dia memanggilku begitu. Ini memang bukan pertama kalinya, bahkan beberapa kali dia memanggilku begitu, tapi entah kenapa terkadang rasanya lain. Seperti sekarang contohnya.


"Aku... Aku lihat bayangan, Dit. Bayangan hitam di belakang mobil kamu. Entah kenapa, kok aku takut ya. Dia nyeremin banget. Padahal aku sama sekali nggak lihat bentuknya secara keseluruhan. Kamu tau, semacam dia itu punya aura hitam yang pekat banget," terangku.


Dia diam sambil terus menatapku dalam.


"Ya udah, nggak usah takut ya. Ada aku di sini. Mungkin, aku gak bisa bantu banyak. Tapi aku bakal usahain. Aku gak akan biarin kamu kenapa kenapa," ujarnya.


Kadang Radit suka bergurau yang membuat aku kesal, kadang dia juga bisa serius seperti sekarang.


Dia selalu bisa menempatkan dirinya di segala situasi.


Cupp.


Tiba tiba dia mengecup keningku.


"Radit!" kupukul lengan nya karena sikapnya yg mendadak seperti itu. Apalagi ini ada di tempat umum.


Dia malah tertawa, lalu meraih tanganku dan menatap mataku dalam.


"Maaf, Tha. Refleks," katanya sambil senyum jahil.


"Heh! Pacaran mulu." Kiki dan Doni tiba tiba sudah muncul di samping kami.


"Memangnya kalian enggak!!" timpal Radit.


Terjadilah ajang caci maki di antara mereka.


"Dit!!" ku sentuh bahu Radit sambil menatap di ujung koridor toilet.


Bayangan hitam itu ada di sana. Kali ini aku makin jelas melihatnya. Pakaian nya semua hitam dengan membawa tongkat seperti trisula di tangan kirinya.


Yah, itu sosok yg kulihat di dalam mobil tadi.


Siapa dia? Kenapa dia mengikuti ku terus.


"Kenapa?" tanya Radit cemas.


"Itu... Itu, Dit." kutunjuk sosok di sana namun saat aku menoleh lagi ke sosok tadi, dia sudah tidak lagi terlihat.


Aku makin cemas.


Kenapa aku diikuti terus, dan apakah yg ada di rumah Radit juga sosok bayangan hitam tadi?


Jika iya, Radit tidak boleh tidur di rumahnya sendirian.


"Reta? aretha??" panggil Radit.


"Eh, iya... Kenapa?" aku yg sedikit terkejut lalu kembali fokus ke Radit.


"Ada apa, Tha?" tanyanya serius.


"Eum itu..tadi... Ada anu, eh, si item. Duh, kok item sih." kalimatku belepotan sampai sampai ku tepuk mulutku sendiri karena bicaraku yg ngawur


"Si item??" tanya Kiki bingung.


"Tha? Bgaco deh? Elu laper?" tanya Doni.


"Eh kok laper??" Kiki menyahut dengan pertanyaan lain.


"Iya, dia kan rese kalo lagi laper," sahut Doni santai.


"Korban iklan nih anak," tukas


Radit, menjitak kepala Doni.


"Ya udah yuk, masuk.. Udah mau mulai tuh film nya," ajak Kiki.

__ADS_1


Lalu dia menggandeng tanganku masuk ke dalam bioskop.


Semoga makhluk tadi, tidak muncul lagi di dalam.


__ADS_2