
"Balik ke sini lagi lo?" tanya Aretha saat melihat Hendra datang bersama Radit, bahkan sampai sampai dia juga membawa sebuah tas. Bisa dipastikan kalau isi tas tersebut adalah pakaian Hendra. Aretha langsung bisa menebak kalau Hendra akan bermalam lagi di rumahnya.
"Numpang lah, Tha," kata Hendra sambil masuk ke dalam begitu saja.
"Heh! Enak bener main masuk aja!" maki Aretha.
"Anggap aja rumah sendiri," sahut Hendra.
Radit hanya tersenyum melihat tingkah Hendra yang memang terkadang sedikit kurang ajar.
"Jangan terlalu diambil hati ya, sayang," kata Radit sambil mencium kening istrinya itu.
"Iya, aku ngerti kok. Dia emang suka bercanda," sahut Aretha.
Mereka berdua pun akhirnya menyusul Hendra masuk ke dalam rumah, karena hari juga sudah hampir maghrib. Namun saat hendak menutup pintu, tiba-tiba ada beberapa rombongan yang melintas sambil membawa kentongan. Karena penasaran Radit pun Kembali keluar untuk menanyakan apa yang sedang terjadi.
"Pak, Pak! Ada apa, ya?" tanya Radit sambil keluar halaman rumah.
"Oh, Mas Radit. Sudah pulang? Kebetulan ini, kami ingin mengingatkan kalau nanti malam adalah malam selasa kliwon. Jadi Mas Radit harus hati hati, ya. Sudah tahu, kan, apa yang harus di lakukan?" tanya salah seorang warga.
"Oh begitu, ya? Wah, saya hampir lupa. Untung diingatkan. Baik, Pak. Kami akan berhati-hati dan mengikuti aturan desa," kata Radit.
"Baik, kalau begitu kami jalan lagi. Sebelum magrib, kami harus sudah keliling desa."
"Iya, Pak. Hati hati di jalan. Terima kasih banyak!"
Setelah warga melintas, Radit pun segera masuk ke dalam rumah sambil memperhatikan sekitar. Dia sadar, ancaman bisa saja datang nanti malam.
Aretha yang menunggu di pintu lantas bertanya padanya. "Aku belum tabur garam ke jendela sama pintu. Gimana nih?" tanya Aretha yang sepertinya juga melupakan hari ini adalah hari keramat.
"Nggak apa apa. Nanti biar aku sama Hendra aja yang lakuin. Kamu masuk aja ke dalam. Hen! Hendra!" jerit Radit tergesa gesa.
"Aku ambilkan garam dulu!" tukas Aretha.
Hendra yang baru saja duduk lantas menoleh dengan malas malasan. "Apa sih, Bos?" tanyanya sambil melepas kancing lengan bajunya.
"Ikut gue!"
"Eh, ke mana sih? Makan di luar?"
"Dit, ini garamnya!" Aretha memberikan toples besar yang berisi garam kasar yang sengaja dia beli saat datang ke desa ini.
"Kok pakai garam? Mau ngapain?"
"Gue lupa kalau ini malam selasa kliwon. Kita Harus taburkan garam ini ke sekeliling rumah sebelum magrib! Ayo!" perintah Radit.
"Hm? Emangnya ada apa sih? Kenapa pakai tabur garam segala?" tanya Hendra.
"Udah, nanti aja ceritanya. Sekarang bantuin gue! Bentar lagi magrib!" paksa Radit.
Sementara itu yang arena lakukan adalah menutup semua pintu jendela dan gorden yang ada di rumah ini. Dari kamar nya yang dipakai bersama Radit, lalu pintu belakang rumah, jendela di kamar Bu Jum. Dia juga segera berlari ke lantai dua, di mana di sana lebih banyak kamar yang membuatnya harus segera bergegas.
Sambil menabur garam, Radit pun menjelaskan mengenai peraturan desa tersebut. Hendra yang biasanya akan bereaksi berlebihan saat mengetahui adanya jejak makhluk halus di sekitar, mendadak menjadi terlihat santai. Dia hanya sedikit terhenyak, namun tetap tenang.
"Serem bener! Kalau gitu buruan, Dit. Jangan kelamaan. Lima menit lagi jam 6 sore," kata Hendra.
__ADS_1
Aretha sudah memeriksa kamar Keisha dan dua kamar lain di atas, yang sebenarnya selalu dalam kondisi tertutup karena tidak terpakai. Dia pun juga bergegas ke kamar utama. Memeriksa balkon dan menaburkan garam di sekitarnya. Setelah itu Aretha segera menutup pintu balkon, dan menutup korden kamar tersebut.
Saat hendak keluar kamar, dia berhenti sejenak. Dari ujung ekor matanya, Aretha merasakan ada seseorang yang berdiri di kamar mandi. Dia lantas menoleh, namun tidak menemukan apapun di sana.
"Ah, cuma perasaanku aja mungkin!" gumam Aretha lalu segera keluar dari kamar untuk memeriksa pekerjaaan Radit dan Hendra di luar.
Aretha kembali menutup kamar tersebut dan menguncinya. Dia masih teringat akan kejadian di kamar tersebut, saat Ummu Sibyan masuk ke dalam kamar hanya karena korden di kamar yang belum ditutup. Kali ini hal itu dipastikan tidak akan terjadi.
"Kunci pintunya, Hen!" cetus Radit.
Suara langkah kaki mereka menggema di seluruh ruangan. Aretha yang baru turun dari tangga lantas mendekat. "Gimana? Udah semua, kan?" tanya Aretha.
"Udah kok, Sayang. Kamu udah tutup semua jendela dan korden rumah, kan?"
"Insya Allah udah semua kok. Bismillah, semoga malam ini nggak terjadi apa pun, baik di sini atau di tempat lain, ya."
"Iya, Aamiin. Huft, baru pulang udah bikin panik aja."
"Ya udah, kamu mandi dulu aja. Aku siapin makan malam dulu."
"Iya, Sayang."
"Gue nanti aja, habis lo, Dit. Dingin banget tapi ya?"
"Kan ada mesin air panas di kamar mandi," sahut Radit.
"Oh ya? Ya udah deh, mandi akhirnya gue."
"Ya udah sana buruan kalian mandi. Nanti kita salat jamaah aja."
Setelah salat magrib berjamaah Mereka pun makan malam bersama. Setidaknya dengan kehadiran Hendra malam ini di rumah mereka, suasana rumah menjadi lebih ramai dari biasanya. Apalagi karakter Hendra yang ceplas-ceplos dan cerewet membuat mereka tidak kehabisan topik pembicaraan.
Setelah makan malam Mereka pun memutuskan untuk Menonton serial netflix di televisi. Kebetulan mereka bertiga menyukai sebuah judul film yang sama. Kereta sudah membuatkan dua cangkir kopi dan satu cangkir coklat panas. Ditambah dengan singkong dan ubi rebus ditambah pisang goreng menambah semangat malam ini.
Di tengah-tengah tontonan film yang sedang mereka saksikan tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari arah belakang. Mereka semua lantas menoleh bersamaan lalu saling tatap satu sama lain.
"Siapa?" tanya Hendra.
"Udah biarin aja," cetus Radit melanjutkan menyeruput kopi hitamnya.
"Siapa sih? Kok dibiarin aja siapa tahu ada tamu penting?"
"Hen, lo lupa apa yang udah kita bahas tadi. Kalau di desa ini setiap malam Selasa dan Jumat Kliwon semua warga itu nggak boleh ada satupun yang keluar rumah. Jadi itu nggak mungkin warga desa sini. Kemungkinan besar ya dia Ummu Sibyan," jelas Aretha.
"Tapi kan kita udah menebar garam di seluruh halaman rumah. Bahkan gue nggak cuma menebar garam itu di jendela dan pintu, tapi di semua tembok, halaman rumah, gue sebar sebarin Tuh semua garamnya," jelas Hendra.
"Mau lo timbun seluruh halaman rumah ini pakai garam sekalipun nggak menutup kemungkinan kalau umur shibyan akan tetapi saat melintasi tempat ini. Makanya kalau kita dengar ada suara orang yang katak pintu di malam-malam seperti ini sebaiknya kita biarkan aja. Karena itu adalah salah satu trik dia untuk menarik perhatian kita dan membuka pintu supaya dia bisa masuk," tutur Radit.
"Hem, tapi kita aman kan di sini?"
"Insya Allah aman kok, Hen. Yang penting kita udah tutup semua jendela dan pintu serta gorden di seluruh rumah ini. Bahkan waktu sebelumnya jin itu masuk ke kamar utama, dia nggak bisa masuk lebih dalam lagi sekalipun dia berhasil masuk ke kamar di lantai atas. Jadi gua pikir pasti aman lah yang penting kita nggak buka pintu dan jendela aja," jelas Aretha.
"Tapi, Tha, bukannya setan itu bisa nembus tembok ya tapi kenapa dia nggak bisa masuk kalau pintu dan jendelanya ditutup?" Tanya Hendra masih penasaran dengan sosok Jin Ummu sibyan ini.
"Karena kita tutup pintu dan jendela itu pakai doa. Wah cuma ucapan Bismillahirrahmanirrahim aja setan itu nggak akan bisa masuk ke dalam rumah. Ini juga berlaku ke semua setan Nggak cuma Ummu sibyan aja."
__ADS_1
"Oh gitu, ya? Baru tahu gue."
Mereka Lantas sepakat untuk tidak memedulikan sosok yang terus mengetuk pintu belakang rumah tersebut. Tapi tiba-tiba terdengar suara manusia yang membuat perhatian mereka kembali teralih.
"Tolong! Tolong, Kak! Tolong! Bukakan pintu! Setannya lagi kejar kejar aku! Huhuhu."
"Loh, dia bisa menyamarkan suara juga?" tanya Hendra.
"Hem, Kalau yang ini gue nggak tahu nih. Karena sebelumnya warga desa nggak ada yang bilang kalau Ummi Sibyan ini bisa menirukan suara orang lain," tutur Radit.
"Apa kita coba periksa aja ya, Dit. Kok kedengarannya Kasihan banget sih," pungkas Aretha.
"Iya, kayak suara anak kecil deh. Iya nggak sih?"
"Tapi, apa nggak terlalu beresiko? Jangan-jangan memang ini tipu datanya Ummu sibyan untuk mengecoh kita, agar kita membuka pintu belakang," timpal Radit masih tampak ragu.
"Kak! Tolong!"
Suara yang mereka dengar di pintu belakang lantas berjalan dari rumah. Mereka bahkan bisa mendengar suara langkah kaki berlari menuju ke pintu depan. Begitu sampai di depan pintu suara itu kembali terdengar. Tidak hanya suara permintaan tolong, tetapi juga pukulan ke pintu hingga sedikit terdorong ke dalam.
"Ah, gue mau lihat aja!" Hendra berdiri dan berjalan menuju ke pintu depan. Tapi Radit justru menahan tangannya.
"Terlalu beresiko, Hen. Takutnya dia ummu sibyan yang menyamar! Nanti kalau itu pintu dibuka, dia bisa masuk dan meneror kita semua!" cegah Radit.
"Kalau memang itu beneran anak kecil yang lagi minta tolong gimana coba, Dit? Kasihan tahu! Oke, kalau dia memang ummi sibyan, kita pasti punya cara untuk mengalahkan dia lah! Aretha sama lo itu udah sering berhadapan sama makhluk-mak seperti itu Jadi gue yakin kalian sebenarnya bisa menghadapinya. Kalian Cuma terpengaruh sama omongan warga desa sini aja! Masa kalian takut sama makhluk kayak gitu."
Radit diam, dia menatap Aretha yang juga ikut diam. Kalimat Hendra sedikit menampar mereka berdua. Hingga akhirnya Radit melepaskan tangan Hendra dan membiarkannya membuka pintu depan.
"Ayo, kita lihat juga, Sayang," ajak Aretha.
Saat sampai di depan, rupanya benar dugaan Hendra. Kalau orang yang mengetuk pintu sejak tadi adalah seorang anak kecil.
"Masuk, masuk!" ajak Hendra lalu ia segera kembali menutup pintu.
"Loh, Liya? Kamu kok bisa ada di luar?" tanya Aretha yang langsung mendekati gadis kecil tersebut.
"Tolong Liya, Mbak Aretha. Tadi Ummu Sibyan masuk ke rumah Liya. Liya lari disuruh sama Ibu," rengeknya. Dia bahkan sampai terisak saat menceritakan kejadian tersebut.
"Kamu pergi sendirian?" tanya Radit.
"Iya, Om Radit. Liya langsung lari dan pergi dari rumah, tapi saat Liya minta tolong ke orang-orang, mereka semua nggak ada yang mau membukakan pintu. Liya takut banget. Sepertinya Jin Ummu sibyan sedang mencari-cari Liya di luar."
Areta yang merasa iba melihat ketakutan gadis kecil itu lantas segera memeluknya. "Sudah, sudah. Sekarang Liya aman di sini."
"Tapi ... Ibu gimana? Bapak lagi pergi keluar kota jadi malam ini kami cuma berdua saja di rumah."
"Biar Om Radit telepon ke pak Rt dulu, ya. Untuk memeriksa ke rumah Liya."
Gadis kecil itu mengangguk sambil menghapus air matanya. Radit pun segera mengambil ponsel yang tadi tergeletak di meja ruang tengah. Areta juga mengajak Lia untuk duduk di ruang tengah sambil menunggu informasi selanjutnya.
" Memangnya kenapa ummu Sibyan bisa masuk rumah Liya? Apa kalian lupa menutup jendela dan pintu rumah?" tanya Aretha sambil membelai kepala Liya.
"Iya. Ibu lupa menutup pintu belakang. Seharian ini kami pergi ke rumah kakek, terus pas pulang udah mau magrib."
"Tha, kayaknya sih ibunya Liya juga lupa kalau ini malam Selasa Kliwon. Makanya dia bisa lupa menutup pintu belakang rumah apalagi kondisinya baru pulang dari tempat yang jauh."
__ADS_1
"Bener juga, Hen."