
"Gimana, sayang, jadi pesan catering nya?" tanya Radit.
"Jadi. Udah kok. Tinggal tunggu aja. Aku minta jam 3 sore udah diantar ke sini." Aretha sedang membuat puding buah untuk snack pengajian nanti malam. Untuk makanan berat, mereka memang sudah berencana memakai jasa catering. Karena tamu undangan yang akan datang untuk pengajian memang tidak sedikit. Rasanya akan sangat merepotkan jika semua dimasak di rumah. Apalagi hanya ada Aretha dan Bu Jum saja yang akan mengerjakan urusan dapur.
"Itu kamu nggak apa apa, Sayang, masak buat snack nya? Kenapa nggak sekalian pesan aja. Jadi kamu kan nggak perlu repot. Nanti kamu capek loh."
"Nggak apa apa kok, Dit. Lagian cuma snack aja. Kan aku biasa bikin kalau Bunda dulu ada pesanan. Lagian aku juga pengen ada kegiatan."
"Ya udah. Tapi ...." Radit melingkarkan kedua tangan ke pinggang Aretha. Wanita yang sudah menyandang status sebagai istri Radit itu, tidak terkejut sama sekali akan ulah sang suami. Radit memang sudah biasa melakukan hal romantis ini sejak mereka awal menikah.
Aretha hanya makin hati-hati apalagi karena kini dia sedang mengaduk adonan puding di atas kompor yang panas. Jangan sampai konsentrasinya buyar karena ulah Radit.
Suara langkah kaki terdengar masuk. Alhasil Radit yang awalnya masih memeluk sang istri dari belakang, mengendurkan tangannya sambil menoleh. Bu Jum masuk dengan membawa beberapa kantung belanjaan setelah berbelanja ke pasar atas suruhan Aretha pagi tadi.
"Sudah pulang, Bu Jum? Sama Pak Slamet, kan?" tanya Radit basa basi. Niat ingin melakukan adegan romantis dengan sang istri mendadak buyar karena kedatangan Bu Jum. Tapi setidaknya senyum Aretha melebar, dan hatinya pun menjadi berbunga - bunga.
"Iya, suami saya di depan. Katanya mau merapikan taman," jelas Bu Jum sambil menunjuk arah di mana suaminya berada.
"Oh ya sudah. Saya ke depan dulu. Tolong istri saya dibantu, ya, Bu."
"Baik, Pak Radit."
Setelah Radit melangkah keluar halaman, Bu Jum dengan sigap membantu Aretha. Sebenarnya Aretha menguasai bakat sang Ibunda dalam hal memasak. Hanya saja dia lebih suka membuat hidangan berupa snack daripada makanan berat. Aretha akan lebih pintar dalam mengkreasikan makanan ringan. Daripada hidangan utama. Walau demikian, masakannya tentu tetap enak.
Radit melihat Pak Slamet sedang memotong rumput di halaman depan. Ia sudah membawa bibit bunga sesuai pesanan Aretha. Taman di rumah Pak Ibrahim sebelumnya sudah cukup bagus. Hanya saja beberapa tanaman menjadi layu dan mati. Sehingga ada beberapa lahan yang tampak kosong saat Radit dan Aretha pindah ke rumah itu.
Aretha sengaja ingin menanam beberapa tanaman hias. Mulai dari aneka macam bunga, seperti bunga krisan yang ingin ia tanam sejak dulu. Tapi sayangnya, rumah miliknya tidak cocok untuk menanam bunga krisan. Maka impian itu rasanya akan ia wujudkan di tempat ini.
"Pak Slamet?" panggil Radit.
Pria dengan rambut yang sudah sebagian besar beruban itu pun mendekat. "Ada apa, Pak Radit?"
"Itu ... Eum, pintu di kamar utama, sudah dibetulkan atau belum, ya, Pak?"
"Pintu kamar utama? Sudah kok, Pak. Saya sudah ganti engsel pintunya, jadi sudah tidak akan berbunyi lagi. Memangnya kenapa, Pak Radit?" tanya pria itu sambil mendongak pada Radit, karena postur tubuh Radit memang lebih tinggi dari Pak Slamet.
__ADS_1
"Beneran sudah diganti, kan, Pak?" tanya Radit sekali lagi, menegaskan.
"Sudah, Pak Radit. Sebentar." Pak Slamet merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah besi yang ternyata adalah engsel pintu kamar utama yang sudah berkarat. "Ini engsel yang lama. Pak Radit boleh periksa kalau engsel kamar itu berkarat atau tidak. Karena saya memang sudah menggantinya dengan yang baru kemarin."
"Oh ya sudah, Pak. Nggak usah. Saya percaya kok sama Pak Slamet."
"Memangnya kenapa, Pak Radit? Apakah ada yang salah?"
"Eum, nggak kok, Pak." Jawaban Radit memang terkesan biasa saja, tanpa beban. Tapi sorot matanya menunjukkan kegelisahan. Sehingga Pak Slamet pun terus mengajukan pertanyaan demi pertanyaan hingga akhirnya Radit pun menceritakan apa yang membuat dia gelisah.
"Oh jadi begitu," ucap Pak Slamet sambil tampak berpikir serius. "Kalau begitu, nanti saya periksa lagi kondisi pintunya, Pak Radit. Mungkin memang masih ada yang harus diperbaiki."
"Terima kasih, ya, Pak. Kalau begitu saya mau ke rumah Pak RT dulu. Ada perlu," kata Radit pamit undur diri.
"Oh iya, Pak. Silakan. Saya juga mau lanjut menanam benih bunganya. Kasihan, Bu Aretha sudah menanyakan sejak kemarin."
"Iya, Pak. Tapi sebaiknya makan dulu, Pak. Ambil saja di belakang," kata Radit.
"Iya, Pak Radit."
_____
Ruang tamu rumah itu dirapikan. Sofa dan meja sudah di pindahkan ke ruang tengah untuk sementara. Karena karpet akan digelar untuk acara pengajian nanti malam.
Aretha dan Radit kedatangan tamu dari pihak teman kerja Radit. Mereka sengaja mampir untuk silaturahmi. Sebagian besar dari mereka tinggal di rumah mess yang disediakan perusahaan. Kebanyakan dari mereka memang masih lajang, sehingga tidak perlu pusing untuk membawa istri atau keluarga. Tim yang biasa bersama Radit memang sudah mengenal Aretha. Kebersamaan yang telah dibangun selama ini, menjadikan mereka keluarga.
Ada sekitar lima orang yang hadir. Mereka kini sedang menyantap camilan yang sudah Aretha persiapkan, ditemani dengan secangkir kopi hitam, yang membuat semuanya menjadi lengkap.
Menikmati suasana sore di tempat itu yang sejuk, rasanya membuat obrolan santai mereka bisa bertahan lama.
"Wah, pindah ke sini bisa dianggap seperti bulan madu kedua, ya, Dit." Norman, salah satu pegawainya yang berumur sepantaran dengannya memang kerap meledek Radit jika sedang bersama Aretha.
"Oh ya harus dong. Apalagi pemandangannya bagus banget tuh."
"Ditambah suasananya, dingin," tambah yang lainnya.
__ADS_1
"Kalian itu, makanya cari istri. Jangan jadi bujangan terus," sindir Radit.
"Gue sih udah cari, tapi belum dapat juga. Tha, cariin dong. Siapa tau temenmu ada yang masih jomlo."
"Mending nyari ke ustaz ustaz itu, kan biasanya ada forum buat taaruf. Daripada aku yang cari, belum tentu cocok."
"Ah, paling Norman masih teringat dengan sang mantan. Makanya belum bisa move on," sindir Hendi.
"Mantanmu yang mana, Man?" tanya Aretha dengan ekspresi bingung.
"Jangan belaga nggak tau lo, Tha. Masa harus gue perjelas siapa yang dimaksud," kata Hendi.
"Oh yang inisialnya Citra?" tanya Aretha dan sontak membuat semua orang tertawa lepas.
"Itu sih bukan inisial! Tapi nama jelas. Bini lo emang paling pinter ngeledek gue, Dit," tutur Norman dengan tampang memelas pada Radit.
"Yang sabar ya, Man. Emang nyatanya lo nggak bisa move on, kan?" tanya Radit makin membuat Norman sebal.
Tiba tiba ada bunyi keras seperti pintu yang ditutup. Semua orang diam dengan dahi berkerut. "Siapa?"
"Pak Slamet mungkin," ungkap Radit. Namun dari pintu depan Pak Slamet justru masuk karena mendengar suara keras tersebut.
"Lah itu, Pak Slamet!"
"Pak Radit, ada apa? Tadi bunyi apa keras sekali?"
Aretha dan Radit saling pandang. Mereka juga tidak tau apa dan berasal dari mana suara keras tadi. Yang mereka tau, kalau itu seperti sebuah pintu yang ditutup kencang.
_______
Akhirnya pasangan suami istri itu memeriksa sumber suara ditemani oleh Pak Slamet dan Hendra, teman Radit yang paling berani di antara yang lain. Karena teman yang lain justru sibuk makan camilan daripada harus memeriksa ke sana.
Hendra dan Radit berjalan lebih dulu ke ruang tengah. Sementara Aretha dan Pak Slamet hanya mengekor di belakang. Mereka sampai di ruang tengah, dan tidak ada apa pun di sana. Sementara Bu Jum yang masih membereskan dapur juga melihat kedatangan mereka. Sang suami mendekat dan mereka berbisik dengan pembahasan tentang suara tadi.
"Kayaknya dari atas," jawab Bu Jum sambil menatap ke lantai dua dengan wajah takut.
__ADS_1
Hendra dan Radit dengan kompak melihat ke lantai atas. Di mana tidak ada satu pun makhluk hidup di sana. Mereka saling tatap lalu mengangguk. Langkah mereka mantap menaiki tangga. Hendra yang baru pertama kali masuk ke rumah itu, menatap sekitar.