Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
Part 17 Merihim


__ADS_3

"Den, kalau kita ke rumah itu, otomatis kita juga bakal melewati rumah Pak Karjo, kan? Apa nggak bahaya? Mereka nggak mungkin lupa sama kejadian semalam, kan?" tanya Danu saat sarapan pagi ini. Tema outdoor masih menjadi kebiasaan kami selama di desa ini. Beruntung Lulu memiliki persediaan makanan yang cukup. Hal ini juga yang membuat kami justru berpikir yang tidak - tidak. Kalau memang stok makanan dia masih sebanyak ini, lantas ke mana dia? Semalaman belum juga terlihat, bahkan sampai detik ini.


Kak Arden bersikap santai, masih sibuk dengan ubi bakar di depannya. "Maka dari itu, kita harus hati - hati, kan? Mungkin jangan semua ikut ke sana, sebagian tinggal di sini, bagaimana?"


"No, Big no! Den, lu tau bahayanya tempat ini. Jangan sampai kita berpencar deh saran gue. Bahaya. Entah kelompok yang bakal ke rumah Pak Yodie, atau kelompok yang ada di sini. Inget, kita ini sekarang statusnya buronan. Lulu saja udah berbulan - bulan bersembunyi. Hidupnya nggak tenang. Jangan sampai kita, atau salah satu dari kita tertangkap oleh mereka. Jadi kita harus terus sama - sama!" tukas Dedi tegas. Beberapa orang mengangguk setuju. Kak Arden hanya tersenyum.


"Nah gitu dong. Yang semangat. Kita harus yakin, kalau kita pasti akan segera keluar dari tempat ini," sanggah Kak Arden, meniup ubi yang sudah matang, dan inilah menu sarapan kami. Ubi, singkong, ikan. Nasi? Aku rindu nasi.


Kami semua menikmati sarapan yang ala kadarnya itu, tidak lagi memikirkan rasa, jenis, atau cara pengolahan yang higienis, yang terpenting semua yang kami makan, cukup untuk mengganjal perut - perut lapar kami.


"Semua siap?" Kak Arden selalu memimpin di mana dan kapan pun kasus terjadi. Dia juga lebih sering memberikan saran yang lebih rasional, tanpa emosi berlebihan. Makanya kami selalu menurut padanya. Jarang ada cek cok tentang keputusan yang dia ambil. Walau terkadang apa yang ia rencanakan hampir mencelakai kami. Tapi beruntung sampai detik ini kami masih bertahan. Apalagi dengan kekompakan kami dari dulu sampai sekarang.


"Siap."


'Kita harus hati - hati. Sebisa mungkin jangan sampai ada satu pun warga desa yang melihat keberadaan kita. Saling jaga dan awasi satu sama lain, karena jika satu tertangkap maka yang lainnya juga akan mudah tertangkap."


Kami mulai berjalan menuju rumah Pak Yodie, satu persatu dengan mengendap - endap terus menyusuri hutan dengan lancar. Spot ini memang sepertinya sangat jarang dilalui warga desa ini, karena kegiatan mereka tidak terfokus di hutan. Tidak membutuhkan waktu lama, kami sudah sampai di dekat rumah Pak Yodie. Di balik pohon, kami bersembunyi, memeriksa keadaan sekitar. Takut jika Pak Karjo dan Bu Heni masih berada di rumah itu. Walau sebenarnya aku ingin sekali ke rumah tersebut, guna melihat keadaan Nenek Siti yang sampai sekarang belum diketahui bagaimana kondisinya. Aku masih berharap nenek baik - baik saja.


"Udah sepi," tegas Radit, masih tetap menoleh ke kanan dan kiri bergantian. Kami sudah sepakat akan membagi kelompok menjadi dua, sebagian masuk ke dalam sana, sebagian lagi menunggu di sini, memeriksa keadaan dan berjaga jika ada hal yang mencurigakan di luar sini.


"Aku duluan, nanti yang lain menyusul, jaga jarak. pastikan keadaan aman, baru bergerak. Jaga diri kalian masing - masing," jelas Kak Arden sambil menatap kami satu persatu. Kami mengangguk menanggapinya. Kak Arden segera berjalan cepat menuju pagar tinggi rumah tersebut, menaikinya dengan mudah dan akhirnya berhasil masuk ke dalam halaman rumah itu. Dedi mulai menyusul, melakukan gerakan yang sama, dan mereka berdua berhasil masuk ke rumah tersebut. Radit sebagai kelompok terakhir, mulai bergerak. Saat dia sudah menginjakkan kaki di halaman rumah tersebut, pintu rumah Pak Karjo berderit, untung Radit juga mendengarnya, sehingga dia langsung bersembunyi di balik tumpukan drum - drum minyak yang memang berada di sudut halaman rumah. Rumah ini memang yang paling besar di desa, namun benar - benar tidak terawat sama sekali. Sekali pun desa ini mampu berubah wujud jika siang dan malam, tapi anehnya rumah itu tetap sama. Tidak akan berubah saat siang atau pun malam hari.


Pak Karjo keluar dari rumah diikuti Bu Heni. Kami yang berada di luar juga ikut bersembunyi dan berusaha tidak bergerak dari tempat kami. Terus memperhatikan pasangan suami istri yang mendadak seperti punya kepribadian ganda. Walau sekarang aku tau, alasan mereka seperti itu, karena memang mereka bukan lah manusia, tapi setan.


Kegiatan mereka terus berjalan seperti biasanya. Pak Karjo dan Bu Heni pergi ke ladang mereka yang memang letaknya cukup jauh dari rumah. Ada di pinggir desa, yang juga berjejer dengan ladang warga desa lainnya. Beberapa penduduk yang tadi kami lihat sebelum Pak Karjo dan Bu Heni muncul, juga masih melakukan aktivitas mereka seperti biasanya. Mereka selalu memainkan peran masing - masing dengan sangat baik.


Aku cemas dengan keadaan mereka di sana, tapi untungnya Radit dapat menghindari Pak Karjo dan Bu Heni, dan akhirnya semua sudah berhasil masuk ke dalam sana. Di luar sini hanya tinggal aku, Kiki, Danu dan Doni. Duduk begitu saja di rerumputan di balik semak belukar yang kami pakai untuk bersembunyi. Kami sudah tidak bisa berkeliaran seperti biasanya, karena status kami yang sudah berubah menjadi buronan desa.


"Tha, apa kita bisa pulang?" tanya Kiki sedikit putus asa. Kami bertiga menatapnya.


"Bisa. Kamu jangan pesimis begitu dong sayang. Kita pasti pulang," tegas Doni lalu menarik kepala Kiki agar berada dalam dekapannya.


"Iya, Ki, kita pasti pulang. Pasti. Sabar, ya." Aku pun sebenarnya tidak tau apakah perkataanku ini bisa kami wujudkan. Bahkan sekarang saja aku tidak tau bagaimana caranya keluar dari tempat ini.


"Mereka lama banget sih di dalam. Apa mereka baik - baik aja, ya?" tanya Danu dengan raut wajah penuh kecemasan.


Aku lantas beranjak, tidak mau berlama - lama diam saja di sini. Aku lelah dan tidak suka menunggu seperti ini.


"Eh, mau ke mana lu?" tanya Danu menyelidik.


"Gue mau ke rumah Bu Heni, mau cek keadaan nenek." Bokong kutepuk - tepuk, menyingkirkan debu yang menempel di sana. Walau sebenarnya tempat yang aku duduki hanya lah rerumputan. Tanganku ditahan oleh Danu. "Tha, Arden kan bilang kalau kita harus di sini aja. Tunggu di sini, Aretha!"

__ADS_1


"Dan, sebentar, kalian di sini dulu. Lagi pula kelihatan, kan? Kalau ada apa - apa aku teriak deh. Gimana?" tanyaku meminta persetujuan mereka. Menatap manik mata hitam Danu. Pemuda di depanku ini malah menarik nafas panjang, tanpa berkata apa pun lagi, tangannya terlepas dari tanganku. Itu membuktikan kalau dia setuju dengan permintaanku.


"Jangan lama - lama," kata Danu tanpa menatapku lagi.


Aku segera berjalan menuju rumah Bu Heni. Pintu rumah yang tidak pernah dikunci memudahkanku masuk ke dalam. Walau aku tau Bu Heni dan Pak Karjo tidak berada di rumah, tapi aku tetap waspada.


Rumah ini masih sama seperti terakhir kali tinggalkan, saat matahari muncul di langit. Rapi, bersih dan layak di sebut rumah. Aku melirik ke kamar pertama, di mana kemarin - kemarin menjadi tempatku untuk tidur. Semua masih sama, barang - barang ku masih ada di sana. Aku menoleh ke jendela di ruang tamu karena langkah kaki beberapa orang membuat perhatianku teralihkan. Rupanya mereka menyusulku. Otomatis aku kembali ke teras. "Apa?"


"Gue mau cek mobil. Siapa tau bisa nyala!" bisik Danu.


"Lu lanjut aja, Tha," tukas Doni. Aku mengangguk dan setuju dengan tindakan mereka. "Ki, lu jaga sekitar, siapa tau ada orang yang lewat. Kalian harus sembunyi."


"Oke. Lu hati - hati juga, Tha."


Aku kembali masuk ke dalam. Terus berjalan sampai ke dapur, dan saat sudah sampai di depan kamar nenek, aku menempelkan telingaku di depan pintu. Hening. Tidak ada apa pun di dalam. Karena penasaran aku membuka pintu kamar ini pelan. Derit pintu nyaring memenuhi ruangan ini. Di depan sana hanya ada kursi roda milik nenek saja. Netraku liar mencari keberadaan Nenek di seluruh sudut kamarnya. Namun kamar ini kosong. Menjadi pertanyaan besar dalam benakku, di mana nenek berada sekarang. Mungkin apa yang diceritakan Kak Arden semalam benar, nenek sudah ... meninggal.


Tubuhku lemas, kakiku seolah tidak memiliki tulang untuk penyangganya. Pinggir ranjang menjadi pilihan yang tepat sekarang. Aku berusaha duduk di tempat itu, tempat yang biasa aku pakai untuk berbincang dengan nenek selama ini. Menyuapi dan mengobati luka nenek. kenangan dengan nek Siti seolah berputar kembali di memori otakku. Awal kedatanganku dan Danu ke rumah ini, sambutan nenek yang awalnya membuat kami berdua tidak nyaman, sampai kejadian demi kejadian yang kami alami di rumah ini. Terutama saat melihat nenek hendak dilukai oleh pria itu. Pak Yodie?!


Tanpa terasa air mataku tumpah. Semua perasaan berkecamuk menjadi satu. Aku bahkan sampai tergugu sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Namun, tiba - tiba semilir angin berembus lembut. Pucuk kepalaku dibelai oleh seseorang, aku segera membuka mata dan melihat nenek sedang berdiri di depanku. Tersenyum tipis dan terus membelai wajahku lembut.


"Nenek?! Nenek baik - baik saja?" tanyaku, meraih telapak tangannya yang terasa sangat dingin. Saat itu juga aku sadar, dan langsung mendapat jawaban dari pertanyaanku sebelumnya.


"Aku mau lihat keadaan nenek."


"Nenek baik - baik saja, Aretha."


"Tapi ... nenek. Nenek sudah ...."


"Iya, tapi memang inilah yang terbaik. Kamu tidak boleh bersedih. Nenek justru merasa bebas sekarang. Oh iya, kamu sudah bertemu Lulu?"


"Belum. Nenek tau di mana dia? Dia menghilang sejak semalam, Nek. Apa terjadi sesuatu dengannya?" tanyaku cemas.


"Ya ... dia yang menyerahkan kalian ke Merihim."


"Merihim? Siapa dia, Nek?"


"Dia iblis yang menyebarkan wabah penyakit di desa ini, sekaligus mengunci desa ini dari dunia luar. Menjebak arwah - arwah warga desa, juga menjebak manusia yang masih hidup seperti kalian."


"Maksud nenek Lulu yang menyerahkan kami ke Merihim, apa?"


"Dia menukar jiwa kalian ke iblis itu, agar bertukar tempat dengannya. Mungkin dia sudah berhasil pergi dari tempat ini. Ada sebuah kebohongan besar yang Lulu katakan pada kalian, yang dia gunakan untuk menyelamatkan nyawanya sendiri."

__ADS_1


"Apa itu, nek?"


"Sebenarnya kalian bisa keluar dari desa ini sejak kalian semua kembali ke sini. Kalian bisa pergi saat itu juga. Tapi Lulu telah berbohong, kan? Dengan mengatakan kalau kalian tidak bisa keluar dari tempat ini?"


"Jadi dia bohong?


"Iya."


"Sebenarnya kami bisa keluar dari desa ini kemarin?"


"Iya, asal Karjo, Heni, dokter Daniel dan warga desa yang lain tidak mengetahui kalau kalian sudah tau yang sebenarnya. Karena jika kalian berpura - pura belum tau yang sebenarnya, mereka tidak akan menganggap kalian sebagai ancaman. "


Aku terperanjat. Tidak menyangka kalau Lulu telah berhasil mengecoh kami demi kepentingannya sendiri. Dia menjebak kami dan membuat kami menetap di sini. Sungguh keterlaluan!


"Lalu apa yang harus kami lakukan, nek?" tanyaku sudah hampir putus asa.


"Nenek tidak tau, tapi mungkin kalian harus memusnahkan iblis itu. Agar arwah yang terjebak di desa ini bisa bebas sama seperti keinginan kalian. Heni dan Karjo bukan orang jahat dulu, sikap mereka yang terkadang berubah - ubah itu pasti karena pengaruh Merihim. Mungkin jika Merihim musnah, maka kita semua pun akan bebas dari belenggunya."


'Tapi di mana kami bisa menemukan Merihim, Nek?"


"Di rumah itu," tunjuk nenek ke rumah di samping bangunan ini, rumah Pak Yodie.


"Aretha! Lama banget sih!" Kiki muncul dari balik pintu, otomatis aku menoleh dan saat itu juga nenek hilang. "Loh, nenek?!" panggilku lalu panik mencarinya.


"Nenek? Nenek siapa? Nek Siti ketemu?" tanya Kiki ikut masuk kamar ini.


"Masa kamu nggak lihat? Tadi nenek berdiri di depanku, Ki?"


"Ah, ngaco kamu. Nggak ada siapa - siapa tadi pas aku masuk. Justru aku lihat kamu lagi duduk sendirian, bengong. Aku pikir kamu kesurupan!" tukas Kiki. Aku terus memperhatikan kamar ini, dan ternyata nenek Siti memang tidak ada di mana pun. Tapi aku yakin, kalau aku tidak halusinasi tadi. Nenek ke mana? Mungkin nenek sengaja muncul untuk memberitahukan semua fakta baru ini.


"Kita harus susulin Kak Arden!" kataku, menarik tangan Kiki keluar dari kamar ini. Danu dan Doni masih berkutat dengan mobil mereka. Wajah mereka terlihat kesal dan kecewa. Mobil juga rusak. Beberapa komponen mobil hilang. Mungkin sengaja dicuri. Siapa lagi kalau bukan Lulu. Dasar manusia licik!


"Lu yakin, Tha?" tanya Danu setelah mendengar semua ceritaku.


"Yakin banget. Kita harus susulin mereka ke sana, kita hancurkan iblis itu agar kita bisa pulang. Cuma itu cara satu - satunya kita pulang, Dan, Don!"


"Ada benernya juga sih. Lagian Arden lama banget di dalam. Gue jadi khawatir kalau mereka kenapa - kenapa!" tukas Doni.


"Oke, kita ke sana sekarang!" kata Danu yakin.


Matahari mulai bergeser, cuaca terik kini mulai redup karena awan hitam yang berkumpul di beberapa sudut langit. Sepertinya akan terjadi hujan lebat nanti malam. ini adalah hal buruk lain yang harus kami hadapi sekarang. Semoga saja kami bisa keluar dari rumah itu dalam keadaan hidup dan baik - baik sana.

__ADS_1


__ADS_2