
POV ARETHA
Suara ketukan pintu terdengar mengusik tidurku. Diiringi lengkungan panggilan dari bunda yang terus mengumandangkan namaku. Samar namun pasti, ada sebuah nama yang membuat kedua netraku perlahan membuka. "Radit!"
"Aretha! Bangun, ada Radit!" Akhirnya setelah membuka mata sempurna kalimat bunda mampu aku dengar dengan baik. Aku melirik jendela kamarku, suasana di luar masih agak gelap dan sepertinya ini masih pagi.
Mataku yang juga masih terasa berat membuatku tidak memperdulikan panggilan bunda, dan aku tidak bergerak sedikit pun dari posisiku sekarang. Terlebih lagi aku sedang libur salat, jadi lebih baik aku kembali makin menenggelamkan diriku di dalam selimut.
Ini hari minggu, aku sedang halangan, tentu lebih baik aku meneruskan tidurku lagi. Toh, Radit bisa menunggu. Dia dan bunda kan akrab.
Namun ada yang aneh, karena aku tidak mendengar suara Kak Arden pagi ini.
Biasanya kak Arden tiba tiba sudah ada di kamarku untuk mengganggu ku tidur. Entah mengajak joging, mencuci motor atau hanya sekedar mengusik tidurku. Memang dia kadang menyebalkan.
Mataku kembali terpejam, tak memperdulikan lagi panggilan bunda yang makin lama makin tenggelam seiring perjalananku memasuki alam mimpi. Bayangan mimpi mulai tergambar, namun tiba-tiba aku merasakan wajahku sejuk tersapu angin.
Sebentar.
Angin?
Bukan!
Lebih tepatnya seperti ada yg meniup wajahku dengan embusan nafas lembut beraroma mint, dan rasanya segar menerpa kulit wajahku.
Kubuka perlahan mataku yg sebenarnya masih agak berat.
"Pagi, Sayang...," sapa pria di hadapanku ini.
Seketika ku tutup wajahku dengan selimut.
"Radit! Ngapain kamu di sini?" jeritku dengan pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu kutanyakan. Hanya saja mengapa bunda mengijinkan dia masuk ke kamarku?!
"Aku kangen kamu. Mau ngajak jalan jalan. Yuk, buruan bangun. Anak gadis jam segini masih molor aja," gerutunya sambil berusaha melepaskan selimut yg menutupi kepalaku.
"Kok kamu bisa masuk kamarku sih?kenapa nggak tunggu aja di luar!" Aku terus menggerutu.
Jujur saja, aku malu jika Radit melihatku dengan keadaan kacau begini karena baru bangun tidur.
"Lah kamu nya sih. Udah digedor gedor masih aja tidur. Ya udah aku samperin ke sini," jawabnya cuek.
"Ish, kamu ih. Masuk kamar cewek." Akhirnya aku membuka selimut yg di kepalaku dan menatapnya sinis.
"Jangan salahin aku dong, Bunda mu yg nyuruh tau," jelasnya dengan gaya mengangkat kedua tangannya ke atas, pertanda dia tidak tau menahu.
Iya sih, lagian mana mungkin dia tiba tiba masuk kamarku tanpa ijin bunda dulu. Bakal dimasak tumis nanti.
Akhirnya kubuka selimutku dan langsung beranjak menuju kamar mandi.
"Lho eh, Aretha! Mau ke mana? " tanya Radit yg melihatku pergi begitu saja meninggalkan nya.
Kembali ku buka pintu kamar mandi dan mengeluarkan kepalaku sedikit.
"Katanya mau pergi!! Gimana sih ah. Ya aku mau mandi lah!" gerutuku sebal.
"Hehehe. Ya udah, aku tunggu di depan deh," kata Radit lalu keluar dari kamarku.
\=\=\=\=
Setelah mandi aku memakai celana jeans dengan blouse putih yang kututup dengan hoddie ungu pemberian Radit sebagai pengganti cardigan yg biasa ku pakai.
Terakhir ku pakai Cross body Bag
Coklat yg ku beli kemarin di Bali.
Setelah mematutkan sekali lagi penampilanku di cermin, aku keluar kamar dan menemui Radit yang ternyata ada di ruang makan dengan bunda.
"Bun, Kak Arden mana? Kok nggak keliatan, ya?" tanyaku sambil mengambil makanan yg sudah ada di hadapanku.
"Lagi di rumah Alya, nginep sana. Paling bentar lagi balik," sahut bunda sambil menyecap teh hijau di tangan nya.
"Hah! Nginep tempat mba Alya?" tanyaku sangat terkejut.
Radit lalu menutup wajahku dengan telapak tangannya.
"Ih Radit, apaan sih!!" aku mengerucutkan bibirku karena kesal akibat kelakuan nya.
"Habisnya, reaksi kamu heboh bener sih. Sampai segitunya...."
Dia ini terkadang memang usil sekali.
"Kalian, Berantem terus. Heran deh bunda," kata bunda sambil geleng geleng kepala.
"Habisnya tuh Radit," rajukku sambil menunjuk Radit yg menahan tawa dengan menutup mulutnya rapat rapat.
__ADS_1
"Aretha juga tuh tante."
"Halah, kalian sama aja." bunda berdiri ke wastafel untuk mencuci cangkir bekas teh tadi.
Radit terkekeh lalu mengulurkan tangan untuk tos denganku.
"Ish... Ogah...."
Dia malah mengacak acak rambutku yg sudah kutata rapi sejak tadi.
"Radit!" kupukul lengannya karena kembali membuatku kesal.
"Ih, maaf sayang. Sini aku benerin lagi," ucapnya sambil merapikan rambutku yg acak acakan karena ulah nya tadi.
"Sayang. sayang! Dasar jelek. Eh, jelek! Udah makan belom?" tanyaku.
"Belom sayang. Suapin," rengek nya dengan nada seperti anak kecil.
"Ish.... Lebay!" aku melanjutkan makan tanpa peduli lagi Radit yg masih menjahili ku terus.
Bunda yg memang sudah hafal dengan kelakuan kami berdua hanya diam saja.
Setelah selesai makan, kami pamit ke bunda.
Radit akan mengajakku ke gereja yg agak jauh dari sini. Letaknya ada di daerah pegunungan. Katanya akan ada pertunjukan teater di sana.
Aku memang sering ikut Radit jika ada acara yg diadakan oleh gerejanya maupun di luar gereja.
Semisal, ada teman nya yg ulang tahun atau hanya sekedar hang out bersama.
Namun, jika mereka sudah mulai berdoa dan melakukan acara keagamaan yg lebih sakral, aku agak menjauh dan lebih memilih duduk di luar dengan mendengarkan musik saja dari ponselku.
\=\=\=\=\=\=\=
Kami sampai di tempat yg Radit maksud, di sana sudah banyak teman teman Radit. Kami pun menghampiri mereka.
"Hai, Tha!"
"Kirain nggak ikut, Tha."
Aku memang sudah akrab dengan beberapa teman teman gereja Radit, karena kami sering bertemu selama ini.
"Lah, ini anak pagi pagi udah di rumahku aja. Mau gimana lagi coba," cetusku sambil menunjuk Radit yg cengengesan.
"Hajar aja, Tha. Anak gini doang mah, elu tabok pingsan dia," sahut Daniel sambil mengapit leher Radit. Akhirnya mereka melancarkan drama perkelahian yang biasa mereka lakukan.
Radit menggandengku lalu kami duduk di kursi yg sudah disediakan, diikuti teman teman yg lain. Kami pun duduk dengan rapi dan tenang, sambil menunggu acara dimulai. Sesekali kami becanda seperti biasa.
Tiba tiba ada seorang peserta wanita yg bertindak aneh. Dia menunduk lalu menggerak gerakan kepalanya dengan cara aneh, ia lalu menggeram dengan suara berat dan menyeramkan.
Dia, kesurupan!!
Beberapa peserta agak panik dan ketakutan, lalu ada yg berlari ke luar dan tak lama kembali lagi dengan seorang pendeta.
Pendeta itu mendekat dengan ekspresi yg serius sekali lalu menatap tajam wanita yg kesurupan tadi.
"Keluarlah dari badan anak ini! Dalam nama Yesus Kristus Tuhanmu, serta Malaikat Agung Santo Mikael yang kepadanya kamu membangkang, keluarlah!"
Namun reaksi anak itu begitu mengejutkan kami semua. Dengan gerakan cepat dan tak terpahami dari sudut mekanika badan manusia, ia berkelit langsung menatap wajah pendeta itu. Ia mendesis menatap lurus ke mata Bapa itu, matanya penuh kebencian.
"Jangan sebut nama itu! Itu musuh kami! Apakah kamu takut, Bapa?"
"Kamulah yang takut!" sahut bapa itu.
Kemudian, dengan tatapannya yang tajam dia bertanya, "Mengapa Bapa mengusir saya? Saya juga anak Tuhan. Kalau tidak, tentu saya tidak ada!"
"Kamu anak Tuhan yang tidak taat, sombong. Mengapa kamu memasuki anak ini?" tanya bapa itu lantang.
Namun setan itu menjawab enteng saja, "Tempat ini nyaman. Saya mau pergi asalkan anak ini kubawa. Saya telah menambah penyakit pada dirinya, meremas alat cernanya, dan membunuhnya. Itu salah Bapa kalau Bapa memaksakan kehendak"
"Tidak ada kompromi. Kamu tidak bisa membunuh anak ini dan tidak akan mampu membawa nyawanya," bentak bapa yg ku tau dari Radit bernama Bapa Robert. Beliau ini pendeta yg mengurusi gereja di sini.
Setan inipun menantang dengan mengatakan bahwa ia tidak takut pada imamNya, tidak takut pada Sakramen dan tidak takut pada Yesus, karena dia juga mengaku sebagai anakNya.
Ia yang kesurupan itupun berubah dari waktu ke waktu. Kadang-kadang suaranya berubah menjadi lembut bak wanita cantik, namun kemudian menjadi ganas. Kadang ia tertawa ngikik, kadang menantang, kadang merunduk sok kalah. Kadangkala ia merajuk minta dikasihani.
Anak itu muntah-muntah berkali-kali. Kadang setan melepaskan anak itu, lalu masuk lagi. Ketika anak itu dilepas, si anak mengeluh, "Romo, saya tak kuat, badan saya dan usus serta lambung sakit semua. Saya mau mati saja, dan takut.*
Oke, panggilan nya ganti lagi. Dari Bapa ke Romo.
Romo menguatkan agar ia berani melawan. Ternyata si anak ini juga diberitahu oleh setan bahwa Romo akan dibunuhnya jika anak itu tidak taat padanya. Maka si anak merasa lemah, karena tak mau Romo diapa-apakan oleh setan.
Namun, yang paling mengejutkan ialah, walaupun setan itu dapat keluar meninggalkan anak itu tetapi selang beberapa menit, kemudian setan kembali memasuki anak itu dengan jumlah yang makin banyak. "Kami ini Legion," katanya jelas sekali.
__ADS_1
Ia fasih berbahasa Inggris dan Jawa.
"Kekuatanmu hanya seperempat. Masih ada Malaikat Agung Santo Mikael, serta Gabriel dan Rafael." Mendengar ini, ia mundur dan melepaskan anak itu. Tiba-tiba ia masuk lagi dan berkata, "You are stupid, Father." lalu menghantam romo hingga romo jatuh tersungkur.
Semua histeris.
Beberapa dari mereka membantu romo dan mendorong anak itu menjauh. ia terjatuh tepat di salib, dan kontan ia menjerit kepanasan. Maka para jemaat menempelkan salib-salib mereka. Ia berteriak kepanasan dan tersiksa. Si setan itu pergi .
Namun dengan cepat ia kembali lagi, dengan membawa lebih banyak lagi setan bersamanya. Ia mau menguras kekuatan romo. Karena kulihat nafasnya makin tak beraturan, keringat mengalir deras di dahinya. Diumur yg sudah senja, Romo ini termasuk kuat menghadapi makhluk yg mendiami wanita itu.
"Sampai kapan Bapa bisa bertahan? Akan ku kuras tenaga mu, Bapa!"
"Kekuatanku datang dari Allah, yang menjadikan langit dan bumi."
Romo lalu mengambil secawan air suci dan memercikan ke anak itu. Si setan menjerit-jerit, dan kemudian ia lari lagi.
Anak itu menggumam lagi.
"Aku, Lucifer!"
Aku merinding. Terasa bulu kuduk ku berdiri. Ini bukan pertama kali aku melihat orang kesurupan. Namun kali ini agak berbeda.
"Kamu takut, Romo?" tanyanya dengan lembut di telinga romo.
"Aku akan mengincar mu terus sampai kapan pun."
Tiba- tiba romo berteriak kepada semua orang yg ada di ruangan ini, "Kita mendapat kehormatan, sampai Lucifer sendiri, si penghulu Setan, datang!"
Para jemaat terbawa emosi, mereka berdoa makin keras. Ada pula yang berteriak, "Hancurkan saja... Sikat dia, Romo!"
Setan itu berkata, "Paus Yohanes Paulus II memarahiku."
"Tak hanya Paus Yohanes Paulus II, semua paus dan uskup, dan imam memarahimu, bahkan Tuhanmu Yesus dan Malaikat Agung Mikael atasan langsungmu! Taatlah kepadaNya!"kata romo.
Jujur sejak tadi aku tidak mengerti apa yg mereka bicarakan, nama nama yang disebutkan sangat asing ditelingaku. Beberapa. Makanya aku hanya menonton saja.
Dan aku pun tidak begitu berniat untuk membantu, karena kulihat romo bapa ini sanggup menanganinya seorang diri.
"Sayalah Tuhan!" jawabnya sinis. Romo membanting dia, dan mereka yg membantu romo berpegangan tangan sambil saling melawan.
"Kamulah yang ketakutan, melihat kami semua dan Tuhanmu! Lepaskan badan anak ini, karena dia sudah menerima Sakramen Ekaristi! "
Lucifer menjawab: "Aih, itu hanya roti biasa! Dan kalian imam-imam semua bodoh!"
Mendengar perkataannya, romo marah sekali. "Kamu sudah melawan kuasa imamat rajawi Tuhan Yesus Kristus! Kamu mau melawan imamatNya?" Lalu ia menjawab dengan nada meremehkan, "Aku tak takut, Romo, pada imamatmu!"
Radit menggenggam tanganku,"kita balik aja yuk,"ajaknya.
Aku mengangguk tanpa mengalihkan pandanganku dari exorcism di hadapan ku.
"Gaes, gue uluan ya," pamit Radit ke teman teman nya.
"Oke, Dit. Hati-hati," sahut Daniel yg masih terpaku ngeri melihat pemandangan di depan seperti yg lain.
Radit berdiri lalu menarik ku keluar dari sini.
Kami lalu naik motor Radit dan melesat pergi.
"Kita makan dulu ya," teriak nya saat kami masih di atas motornya.
"Iya."
Sampai lah kami di sebuah cafe alam yg tidak jauh dari gereja tadi.
Kami turun lalu mencari tempat untuk duduk. Suasana nya memyenangkan. Tidak jauh berbeda dengan sekitar gereja tadi. Pemandangan pegunungan yg masih didominasi pohon pohon besar dan tinggi.
"Tha..." panggil Radit.
"Iya? Kenapa?" tanyaku lalu menoleh ke arahnya.
"Maaf ya, malah ketemu yg begituan tadi," ucap Radit sungkan.
Aku terkekeh.
"Kamu nih, kayak gak tau aku aja. Yg begituan mah biasa kan, Diit."
Radit tersenyum.
"Iya, Tha, tapi.. Kamu sampai tegang gitu tadi." dia terus menatapku dengan tatapan cemas.
"Masa sih, Dit? Keliatan tah? Habis nya ini pertama kalinya aku liat excorcism secara live. Banyak kalimat yg aku gak ngerti." aku cengengesan sambil garuk garuk kepala.
"Jadi kamu tegang itu karena gak ngerti maksudnya?" tanya Radit.
__ADS_1
"Iya," Sahutku sambil ketawa.
Radit mengacak acak rambutku diiringi senyum manisnya. Walau sebenarnya aku berbohong. Aku benar benar takut melihat makhluk yang masuk ke tubuh wanita itu. Dia ... Sangat mengerikan.