Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
19. ke rumah Pak Ustad


__ADS_3

Kami bersama sama pergi ke batas desa sebelah. Para teman laki laki akan menyelesaikan pembangunan batas desa, karena tinggal sedikit lagi selesai.


Daripada aku di rumah posko hanya tidur tiduran saja, jadi aku putuskan untuk ikut. Kami membawa tikar dan beberapa makanan dari rumah yg telah kami masak sebelumnya. Ini adalah hari minggu. Kami sudah memasak bersama sama tadi.


Dengan begini, kami seperti sedang piknik. Kami mulai menggelar tikar dan menata makanan di tengah tengah.


"Eh, Nis, yang kasih bunga siapa sih? Kok kamu kaya gak suka?" Tanya Ferli.


"Oh jadi bunga mawar yang di tempat sampah itu buat kamu, Nis?" Tanya Indah ikut komen.


"Wah, sayang banget sih. Bunga bagus bagus dibuang. Buat aku aja sih, Nis. " Nadia menambahkan.


"Ambil aja kalo mau," jawabku cuek.


"Kamu berantem ya sama pak polisi itu?perasaan kemaren baik baik aja?" tanya Yola.


"Enggak. Bukan dari Indra. Maka nya kubuang," kataku sambil melihat teman teman yang sibuk di ujung sana.


"Terus? Dari siapa??" tanya mereka hampir bersamaan.


"Gak penting. Males bahas ah.. " rengekku.


Akhirnya mereka mengalah untuk tidak meneruskan mendadak jadi infotainment. Tak lama berselang, Yola tiba tiba menekan tengkuknya lalu menengok ke belakang.


"Kenapa?"tanyaku, karena aku duduk dekat dengan nya.


"Kok merinding gini ya. Kamu ngerasain juga gak nis?" tanyanya.


Duh, kok feeling ku jd gak enak ya kalo Yola udah mulai bereaksi gak wajar.


Ku amati belakang Yola, gak ada apa apa. tapi ... Samar samar aku melihat beberapa anak kecil ada di dalam desa sebelah.


Wajahnya sama seperti sebelumnya, pucat sekali. Mereka menatap kami terus.


Aku menjadi terdiam. Kenapa ya?


Mereka kenapa terus ada di sana?


Kasian banget. Apakah mereka belum tenang?


"Nis." Indah tiba tiba menepuk bahuku karena aku terus diam melamun.


"Eh.. Ya ampun ngagetin deh, " kataku sambil menekan dada.


"Lagian kamu ngelamun. Ntar kesambet!!" kata Indah serius.


Kreeeteek kreeeteeek


Kami spontan melihat ke Yola. Dia mulai melakukan gerakan yg aneh, sama seperti kemarin saat dia kesurupan. Beberapa tulang di tubuhnya digerakkan dan menimbulkan bunyi.


"Duh, kumat ni bocah. Gimana dong, Nis???" Ferli mulai panik.


Kami lalu menjauh dari Yola.


Yola menunduk namun diam saja.


FerliĀ  dan Indah berteriak teriak memanggil yg lain. Mereka menghentikan aktifitas mereka lalu mendekati kami.


"Yola kenapa lagi?" tanya Wicak.


"Kayanya kesurupan deh," ucap feri yang segera tahu hanya melihat sekilas saja gerak geriknya.


"Gimana nih???" Tanya Nadia mulai ikut panik.


Yola perlahan mendongak, karena posisinya duduk tadi.


Wajahnya pucat seperti anak anak yg tadi kulihat.


"Mas.. Mba.. Tolong," Ucap Yola dengan menjulurkan tangannya.


Namun hanya hitungan detik, dia pingsan. Seperti nya yg merasukinya sudah pergi.

__ADS_1


Beberapa dari kami lalu membawa nya pulang, sebagian masih meneruskan pekerjaan mereka.


Memang masalah pak Slamet sudah selesai, tapi desa itu tetap seperti desa angker. Karena banyak sosok warga desa yg masih bergentayangan di sana.


Sepertinya harus segera ditindak lanjuti.


"Ndah, aku mau ke rumah ustadz dulu," pamitku ke Indah.


"Mau ngapain?"


"Ada yg mau aku obrolin.."


"Ya udah ayok, " katanya sambil ikut siap siap mengambil cardigen nya.


"Aku sendirian aja," tolakku.


"Lho kenapa?" Indah heran sambil menatapku.


"Yg jagain Yola siapa? Masa cuma sama Ferli doang? Tau sendiri kan dia gimana," kataku mengingatkan nya.


Setelah mengantar Yola ke rumah, sebagian besar memang kembali lagi ke proker tadi. sebagian melanjutkan kegiatan mereka yg belum selesai.


Jadi di rumah hanya ada aku, Indah, Ferli dan Yola.


Ferli tidak mungkin ditinggal berdua saja dengan Yola. Bahaya banget.


Dia orangnya panikan, penakut juga.


Beda sama Indah, dia jauh lebih berani dari pada Ferli, bahkan lebih berani dari pada aku sendiri.


Indah mikir, lalu manggut manggut. Tanda mengiyakan.


"Tapi kamu gak papa pergi sendirian?" tanya Indah


Dia juga khawatir jika harus membiarkanku pergi sendiri.


"Gak papa, Ndah. Ya udah, aku pergi sekarang ya. Doain, semoga bisa ketemu ustadz," kataku.


Aku mulai berjalan sendirian menuju rumah pak ustadz yg tidak terlalu jauh dari rumah pak kades.


Sampai di rumah pak ustadz, aku berjalan masuk ke halaman rumah beliau. Di teras ada seorang wanita berjilbab panjang, sedang menyapu. Sepertinya istri nya ustadz.


"Assalamualaikum," sapaku.


"Wa alaikum salam.."


"Maaf bu, ustadz nya ada?" tanyaku berusaha sopan.


"Ohhh, ada.. Sebentar. Silahkan masuk dulu. Biar saya panggilkan ya," kata nya tak kalah ramah.


Aku lalu masuk dan duduk di ruang tamu. Tak lama ustadz dan istrinya keluar. Mereka tersenyum melihatku.


"Eh, mba.. Sudah lama?" tanya ustadz basa basi.


"Baru aja ustadz. Maaf saya ganggu nih," kataku sungkan.


"Enggak kok mba. Nggak ganggu. Gimana? Teman temannya baik baik saja kan?" tanya ustadz.


"Mmmm.. Baik kok ustadz. Sejauh ini.."kataku ragu.


"Lho ada apa ?apa ada yg kesurupan lagi.. Ini mbak nya kok sendirian aja ke sini?" tanya ustadz serius.


"Saya sengaja ke sini, mau ketemu ustadz. Pengen sharing aja soal ...


Desa sebelah.."


"Desa sebelah? Ada apa mba?" Tanya ustadz.


"Mmmm.. Apa nggak sebaiknya di adakan pembersihan agar sosok di sana tidak lagi menampakan wujudnya?" tanyaku ragu.


Entahlah darimana aku dapat ide ini.

__ADS_1


hanya saja, kupikir desa itu perlu dibenahi. Jangan sampai kesan angker terus melekat.


Ustadz nampak diam sambil berfikir.


"Dulu saya pernah berfikiran sama mba.. Namun saya tidak bisa melakukan nya seorang diri. Desa itu sangat luas.."kata ustadz.


"Oh gitu. Kalau ada yg bantu, berarti bisa ya pak ustadz?" tanyaku yg tiba tiba mendapat ide untuk mengundang kak yusuf and the genk ke sini.


"Insha allah bisa.. Memangnya, mba nya punya kenalan yg bisa bantu saya?"


"Insha allah ada ustadz. Saya punya kakak lulusan pondok pesantren. mungkin bisa membantu. Nanti coba saya hubungi kakak saya. Siapa tau bisa," kataku sumringah.


"Wah, baiklah kalau begitu. Saya tunggu mba. Semoga kakak nya bisa," kata ustadz ikut senang.


Aku masih ngobrol ngobrol di rumah ustadz selama beberapa lama. Ustadz dan istrinya baik dan ramah membuatku betah ada di rumahnya.


Ustadz menatap keluar halaman rumahnya, lalu mengangguk dan tersenyum tipis.


Otomatis aku juga ikut menoleh ke belakangku, karena posisi halaman rumah ustadz ada di belakangku.


Namun aku tidak menemukan apapun dan siapapun di sana.


"Untung mba Nisa ada yg mendampingi," kata ustadz.


"Mendampingi? Siapa ya ustadz?" tanyaku malah bingung.


"Macan putih di depan selalu mengikuti mba Nisa. selama mba Nisa di sini, beliau yg selalu mendampingi mba Nisa. Sehingga mba Nisa aman," kata beliau.


"Mmm.. Keliatan ya ustadz. Kok saya gak bisa liat ya. Kadang kadang muncul. Tapi kalau situasi gawat, kadang juga gak muncul." ini lebih ke arah pertanyaan sih. Karena akupun penasaran.


Ustadz tersenyum tipis.


"Mbak Nisa sebenarnya cukup kuat, karena menjadi keturunan beliau. Hanya belum dikembangkan, dan beliau muncul jika keadaan benar benar genting saja. Karena saya maupun beliau sama sama yakin kalau mba Nisa sebenarnya bisa mengatasi semua nya.


."kata kata ustadz malah bikin aku bingung.


Kalau aku ketemu 'mereka' malah gak tau harus gimana. Kak Yusuf pernah memberitahu ku beberapa doa untuk menghadapinya. Hanya saja kalau udah di depan mata, rasanya semua doa itu hilang dari pikiranku. Aku seperti lupa semua doa. Yang ada hanya rasa takut saja.


Karena hari sudah sore, aku pun pamit pulang.


Aku berjalan menuju ke depan gerbang desa ini, untuk mendapatkan signal.


Kuangkat tinggi tinggi ponselku, bahkan ku goyang goyangkan untuk mendapat signal.


Duh, harus pake manjat pohon apa ini??


Ah, dapat!!


Segera ku hubungi kak yusuf, dan kuceritakan semua kejadian di desa ini dan rencanaku tadi bersama ustadz. Mak Yusuf bersedia datang bersama teman temannya yg biasa melakukan pembersihan,dan katanya besok akan datang. Syukurlah.


Ada beberapa pesan yg masuk juga. Itu dari Indra. Entahlah kenapa dia mengirimiku pesan padahal tau kalau di sini aku sulit mendapat signal.


Saat aku akan kembali ke rumah, ponselku berbunyi.


Indra menelfonku.


' iya, Ndra. assalamualaikum'


'Wa alaikum salam nis..kok kamu dapet signal? Kamu lagi di mana?'


'Di depan desa nih, tapi aku telfon kak yusuf. Nyuruh ke sini..'


'Oh gitu..'


Kuceritakan juga tentang rencana tadi ke Indra.


'Ya udah kalo gitu.. Kamu hati hati ya nis. Aku belum bisa ke sana lagi..'


'Iya, Ndra. Nggak papa kok. Ya udah aku balik dulu ya..daah'


'Iya. Kamu ati ati.. Assalamualaikum'

__ADS_1


'Wa alaikum salam..'


Aku kembali ke posko setelah semua beres.


__ADS_2