
Sore ini, aku dan Radit akan pergi ke pentas seni di salah 1 universitas negri di kota kami.
Ini memang agenda rutin tiap beberapa bulan sekali.
Kali ini kami naik motor, karena mobil radit sedang di bengkel.
Dengan memakai, blouse dan cardigan pastel berbahan rajut dengan celana ripped jeans biru. aku melenggang keluar kamarku.
Tak lupa kubawa Flapbag pastel juga, aku selalu memakai tas jika bepergian. Rasanya itu adalah barang wajib yg harus ku bawa ,agar ponsel dan dompetku dapat aman jika kubawa ke mana mana.
Kutemui Radit yg sedang duduk manis di atas motornya sambil memainkan ponsel pintarnya.
Saat aku sudah ada di dekatnya ,dia lantas menoleh dan tersenyum.
"Udah siap ,Ai?"
"Yuk.."
Motor Radit melesat cepat menuju ke kampus yg menjadi tujuan kami, aku berpegangan erat pada pinggangnya. Bahkan terkesan memeluk. Karena Radit ini kalau mengendarai motor dengan kecepatan yg lumayan tinggi.
Akhirnya kami sampai di kampus itu. Keadaan yg cukup ramai membuat aku dan Radit sedikit kesulitan untuk masuk dan berdiri lebih dekat ke panggung.
Aku dan Radit memang sama sama menyukai musik. Jadi kalau ada acara pensi seperti ini, kami akan sangat berantusias.
Setelah beberapa jam berlalu, keadaan yg makin ramai membuat kami mundur.
"Dit, aku salat dulu ya."
"Oke.. Mau salat di mana?"
"Masjid sini aja.. Deket kan?"
"Ya udah yuk."
Radit menemaniku ke masjid besar yg ada di kampus ini.
Dia menunggu di depan masjid.
Aku salat ashar dulu, setelah ini kami akan pulang.
Saat aku keluar dari masjid, aku melihat Radit sedang mengobrol dengan seorang pria bersorban putih, mereka terlihat asik membahas sesuatu.
Tak lama pria itu undur diri dan memberikan sebuah buku ke Radit, aku pun mendekat.
"Dit-- siapa tadi?"
"Ustadz Faizal. " Dimasukan buku itu ke jaket Radit. aku tidak bertanya buku apa yg dia pegang, karena aku bukan orang yg terlalu ingin tau urusan orang.
"Oh" walau aku tidak tau siapa ustadz Faizal itu. aku iya-kan aja deh. Paling ustadz yg biasa ada di masjid ini, pikirku.
Kami lalu berjalan ke parkiran motor, dan Radit menyalakan mesin motornya lalu membawaku pulang.
Saat naik motor, entah kenapa aku merasa tidak nyaman. Perasaanku tidak enak sedari tadi.
Sampai kami di perempatan lampu merah, dari arah yg berlawanan ada sebuah truk yg oleng lalu menabrak sebuah mini bus di depan nya, dan mini bus itu menuju ke arah kami.
Dan...
Bruugggghhhh!!
Kami terpental dan jatuh ke trotoar jalan. Samar samar aku melihat Radit yg terkapar di jalan tak jauh dariku bersimbah darah di sekujur tubuhnya.
Tapi lama kelamaan pandanganku memburam.
••••••
Bau obat obatan menyeruak ke hidungku. Aku membuka mataku perlahan, sekujur tubuhku sakit sekali. Aku ada di rumah sakit.
Di sampingku ada bunda yg sedang tertidur di samping ranjangku.
Kucoba gerakan tanganku untuk membangunkan bunda.
"Masya Allah,, Aretha -- kamu udah bangun? alhamdulillah.." pekik bunda girang.
Aku tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. karena tubuhku yg masih lemas.
Di tangan kiri ku terpasang infus dan hidungku ada selang oksigen yg menempel juga.
Bunda membangunkan ayah yg tengah terlelap di sofa.
Lalu mereka mendekatiku dan tersenyum sumringah.
Ayah berlari keluar kamar dan tak lama kembali dengan perawat.
Keadaanku diperiksa dengan teliti," sudah lebih baik, bu," ucapnya sambil menoleh ke bunda.
"Sayang... Apa yg kamu rasain?"tanya ayah.
"Lemes," ucapku dengan pelan.
Bunda menyuapiku dengan makanan rumah sakit. Sebenarnya aku tidak suka, karena rasanya hambar. Asin tidak, manis tidak, pedas pun tidak. Tapi, bunda terus saja memaksaku untuk membuka mulutnya.
"Bun... "
"Kenapa?"
"Radit mana?"
Aku baru ingat dia. Bukan kah kami mengalami kecelakaan bersama sama.
Bunda terdiam beberapa saat.
"Radit masih koma. Dia masih di ICU"
"Apa?dia gak kenapa kenapa kan, bun?"
"Kita doain aja ya."
"Aretha mau liat."ku sibakkan selimut yg menutupi tubuhku dan nekat turun dari tempat tidur.
"Aretha.. Jangan dulu. Kamu masih belum sehat,"larang bunda.
"Gak papa, Aretha mau liat Radit," ucapku dengan terisak.
Entah kenapa aku tiba tiba menangis.
Ayah yg baru masuk ke ruangan ini lalu segera memapah ku.
Bunda menjelaskan ke ayah, kalau aku mau melihat Radit.
Akhirnya ayah memapahku dan membantuku berjalan ke ruang ICU yg tIdak jauh dari ruang rawat inap ku.
Rupanya kak Arden yg ada di depan ruangan ICU menunggu Radit. Karena orang tua Radit belum bisa pulang.
Dan kak Arden agak kaget juga karena melihatku berjalan bersama ayah.
"Lho.. Kamu udah sadar?"
"Radit gimana, kak?" kutatap mata kak Arden lekat lekat.
Kak Arden malah terdiam beberapa saat.
Kugoyang goyangkan tangan kak Arden,"Radit gimana??" kembali pertanyaan tadi terlontar dari mulutku.
"Masih belum sadar."
Tangisku lagi lagi pecah. Aku lalu masuk ke dalam. karena peraturan rumah sakit yg hanya membolehkan 1 orang saja yg berkunjung.
Dengan memakai pakaian steril, aku melangkah dengan langkah yg tertatih. Kakiku masih nyeri. Namun terus kucoba berjalan.
Sampai di kasur Radit, aku berjalan mendekat padanya. dia dipenuhi banyak alat bantu di sekelilingnya.
Kugenggam tangan Radit.
"Dit,, kamu bangun dong. Jangan tidur terus. Ayok, Dit.. Radit... Bangun..." bulir bulir air mata mengalir deras melewati pipiku dan jatuh ke punggung tangan Radit.
Wuuuuussshhh.
Semilir angin membuat tirai di ruangan ini bergerak gerak.
__ADS_1
Aku tengak tengok ke segala arah.
Ruangan ini tertutup, tidak ada akses angin yg bisa masuk maupun keluar kecuali pintu yg terbuka, dan tidak mungkin AC yg menggerakan tirai nya.
Aku berdiri dan mengamati keadaan di sekitar ruangan ini.
Ruang ICU memang besar, dan di sini tidak hanya ada Radit saja, namun ada beberapa pasien lagi yg dirawat. namun, semua dipisahkan dan disekat sekat.
Suasana memang hening. Tidak boleh terlalu berisik karena pasien butuh banyak istirahat juga. Kusibak kan tirai di depan bilik kamar Radit.
Terlihat sesosok makhluk hitam legam, seluruh tubuhnya hitam hanya meninggalkan matanya yg merah menyala.
Dia terus berjalan di sepanjang koridor ruangan ini, seperti sedang mencari cari sesuatu.
Kututup kembali tirai itu rapat rapat.
Aku lalu berjalan mundur perlahan, berharap makhluk itu tidak masuk ke sini.
Bug!
Aku menabrak seseorang, saat aku menoleh. Ternyata Arkana yg sedang berdiri di belakangku.
Alu menatapnya heran.
Dia ini kan sebangsa jin ya, tapi kok aku bisa nabrak dia?
Arkana tersenyum padaku,"biar aku yg menjaga Radit. Kamu jangan takut. Tidak ada yg bisa menyakitinya selama ada aku di sini."
"Bener? kapan Radit bangun? dia pasti bangun kan? dia bakal sembuh kan? " tanyaku sambil ku goyang goyangkan tangan Arkana.
"Insha Allah. Doakan saja yg terbaik, Tha."
••••••
Sudah seminggu Radit koma, dan sampai sekarang pun belum ada perubahan apa pun.
Setiap hari aku selalu ke rumah sakit menjenguknya.
Bahkan tak jarang, aku menginap dengan kak Arden jika orang tua Radit tidak bisa datang.
"Dek.. Kakak mau beli makan dulu ya. kamu mau makan apa? Ini udah malem lho."
Kulirik jam dipergelangan tanganku, yah-- sudah pukul 21.30 .
"Terserah kakak aja."
"Ya udah, tunggu sini ya.."
Aku hanya mengangguk menanggapinya.
Radit dirawat di ruangan vip. Jadi di sini hanya dia seorang. Selain itu ada sebuah ranjang untuk yg menunggu.
Ada TV dan sofa juga, nyaman deh intinya.
Karena bosan, aku menonton tv, itupun hanya mengganti ganti channel saja lewat remote di tanganku.
Sreeeeekkk... sreeeeaaaakkk..
Ada suara yg agak samar samar, seperti ada yg menyeret sesuatu di luar.
Kupertajam pendengaranku.
Yah-- benar. itu dari luar kamar Radit.
Aku beranjak dan berjalan ke pintu. Kuintip dari kaca kecil yg ada di pintu itu.
Dari ujung koridor, ada sosok suster yg berjalan mengesot. di sepanjang jalan dengan meninggalkan bekas noda darah di lantai. Wajahnya pucat sekali, kakinya tidak ada. Alias buntung. Rambutnya acak acakan. Bajunya juga compang camping dan ada banyak bekas robekan di mana mana dan bercampur darah juga.
Dia mengesot sambil membawa kantung infus di tangannya. Saat dia hendak dekat dengan kamar Radit, aku bersembunyi menjauh dari kaca.
Aku tidak ingin dia melihatku.
Duughh!! Duuggg!! Duuuggg!
Gleekk!
Aku menelan ludah, jantungku berdebar sangat kencang.
Aku takut dia menembus pintu dan masuk kemari.
Aku membaca doa dalam hati. Berharap makhluk itu pergi.
Dan tak lama, ketukan itu berhenti.
Aku mengintip kembali ke jendela untuk memastikan sosok itu pergi.
Dia kembali mengesot menjauhi kamar Radit. Namun aku terus menatap sosok itu,aku harus memastikan dia benar benar pergi.
Namun baru saja aku mengintip sedikit, dia kembali menoleh padaku, lalu mengesot mendekati kamar Radit lagi.
Aku kaget lalu langsung beringsut mundur. Hingga menabrak ranjang Radit.
Suara itu makin terdengar jelas. Suara terseok seok di lantai.
Badanku gemetaran, dan benar saja-- sosok itu masuk menembus pintu kamar ini.
Dia menyeringai sambil memiringkan kepala nya. Lehernya hampir patah, karena ada luka robek yg menganga lebar.
Kakinya yg hanya setengah makin membuatku bergidik ngeri. Darah terus mengalir dan terus meninggalkan bekas di lantai.
Lidahku kelu untuk melantunkan ayat suci seperti biasa, pikiranku blank.
Seolah semuanya tidak ada yg bisa kuingat satu pun.
Dia makin mendekat, kaki ku makin lemas dan kini aku terduduk di lantai.
Kubenamkan wajahku dibalik kedua lututku.
Aku menangis ketakutan.
Braaakkk!!
Terdengar langkah kaki yg cepat dari luar.
"Dek.. Kamu gak papa?" kak Arden datang.
Aku langsung memeluknya.
"Udah gak papa kok.. Udah gak ada.." bisiknya di telingaku.
Aku berani kan diri melihat ke belakang kak Arden, dan sosok itu sudah tidak ada di sana.
"Yuk.. Kita makan dulu. Nanti
Maag, kamu kumat." kak Arden menuntunku ke sofa, lalu membuka bungkusan yg dibawanya tadi.
"Cuma ada nasi goreng.. "
"Gak papa, kak.."
Kami lalu mulai makan.
Namun baru beberapa suap, aku menutup mulutku menahan mual karena masih teringat sosok tadi.
Bahkan apa yg ku makan tadi hampir keluar lagi.
"Kenapa ,dek?"
"Eneq, kak. "Ku letakan makanan itu di meja dan menekan perutku. Lalu tak lama, aku berlari ke wastafel dan memuntahkan semua yg tadi kumakan.
Kak Arden mendekatiku lalu membantu memijat tengkuk ku.
"Mending kamu istirahat aja ,dek.."
Aku dituntun ke ranjang yg ada di samping Radit, dan seperti saran kak Arden, aku mencoba tidur karena hari juga sudah larut.
Kuraih tangan Radit dan kugenggam erat.
"Cepet bangun, Dit," gumamku lirih.
__ADS_1
Aku terpejam karena rasa lelah yg terus menggelayuti ku sejak beberapa hari ini.
Aku tidak pernah tidur nyenyak lagi.
Makan pun tidak berselera. Hanya terus berharap Radit bangun.
\=\=\=\=\=\=\=
Duuugg!
Aku membuka mataku dan memandang sekeliling.
Suara apa tadi?
Pukul 02.00
Seperti biasa aku selalu terbangun di jam ini. Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung turun dan mengambil air wudhu untuk salat malam.
Setelah salat, aku mendekat ke ranjang Radit masih mengenakan mukena.
Kak Arden masih tertidur pulas di sofa.
Kuambil alquran yg ada di tasku, lalu kulantunkan ayat ayat suci untuk Radit.
Hingga satu jam kemudian, Radit seperti tersentak, badan nya seperti sedikit tertarik ke atas lalu jatuh lagi ke ranjang.
"Masya Allah.. Radit... Radit...." kututup alquran milikku lalu mendekat ke Radit.
Kutepuk tepuk pipinya lalu kugenggam tangan nya erat.
Ku lantunkan sholawat untuknya. Hingga tak terasa bulir bulir air mata jatuh dari pelupuk mataku.
Ku kecup punggung tangan Radit sambil terisak.
Deggg!
Jemari tangan Radit bergerak. Kuamati lekat lekat jarinya, aku takut salah lihat.
Tapi, ini memang benar. tangan Radit bergerak.
"Radit... Radit... Kamu udah sadar? Dit?!!!"aku berdiri makin mendekat ke wajah Radit.
"Radit... Bangun .. Ay... Bangun.. Aku mohon, bangun Ay.."
Itu adalah panggilan sayang yg ingin Radit dengar dari mulutku.
Radit memanggilku 'Ai' dan aku memanggil nya ' Ay'
Tapi aku belum pernah memanggilnya seperti itu, baru kali ini kulakukan.
Kepala Radit bergerak.
"Kak...kakaak..." aku berteriak agar kak Arden mendengarku.
Karena tidak sabaran, aku berlari ke kak Arden,kugoncang goncangkan tubuhnya agar terbangun.
"Apa sih, dek?"
"Raditt... Radit gerak."
"Hah??"
Kak Arden lalu berjalan mendekat ke Radit.
Dan Radit benar benar bergerak, bahkan kini dia sudah mulai bisa membuka matanya.
"Kakak panggil suster dulu.."kak Arden berlari keluar.
Kugenggam tangan Radit sambil kubelai wajahnya.
"Radit.. Kamu bangun?"tanyaku sambil terisak.
Dia menatapku dengan tatapan sendu, lalu tersenyum.
"Iya ,ta. Aku bangun karena ada yg manggil aku ' Ay' ulangin coba?"pinta nya.
"Radit! Kamu ih.."
"Lho kenapa? kalo gak mau,aku pingsan lagi nih," guraunya.
"Jangan.. Iya.. Ay," ucapku ragu ragu.
"Nah gitu dong, Ai.."
Suster masuk bersama kak Arden, lalu segera memeriksa kondisi radit.
Dan, kini Radit benar benar sudah pulih dan bangun dari koma nya.
"Ai... Laper," katanya sambil menatap manja padaku lalu memegangi perutnya.
"Iyalah, laper. Seminggu kagak bangun... makan air doang. Gimana gak laper?" gerutu kak Arden yg sedang duduk di kursi samping kanan Radit.
"Kok air, kak?" tanyaku bingung.
"Lah itu infus? Air kan?"
"Jangan becanda deh, Den," gumam Radit sebal.
Akhirnya aku menyuapi Radit dengan bubur yg sudah kak Arden beli tadi.
"Ai..."
"Hmm.."
"Kok hmm sih.. "
Aku mendengus sebal,"iya ,Ay" ini anak baru bangun dari koma masih aja gak ilang iseng nya.
"Gak ikhlas banget sih, Ai," rengek nya.
Aku melirik Radit, lalu menarik nafas panjang,"iya Ay... Kenapa?" tanyaku lebih melunak.
Dia malah cengengesan.
"Eh, aii.. Selama aku koma, kamu di sini terus?"tanyanya.
"Iya lah" aku berjalan ke ranjang samping Radit, lalu merapikan mukena dan menyimpan alquran milikku.
"Kamu habis ngapain tadi?"
"Salat, terus baca quran buat kamu."
"Hah? beneran? jadi itu suara kamu?"
Aku menoleh dan menatapnya heran,"suara apaan?"
"Aku denger suara orang ngaji. Itu lah yg bimbing aku balik lagi ke sini. kamu tau gak,ai. Aku tersesat di sana."
"Hah?"kak Arden kaget lalu ikut mendekat.
"Iya Den. Aku kaya nyasar entah ke mana. bingung banget . Tapi aku sering denger suara orang ngaji. akhirnya aku ikutin suara itu..dan-- yah sekarang aku balik juga."
Aku dan kak Arden saling lempar pandang.
"Eh tapi kamu gak papa kan?"
"Apa nya."
"Ini kan rumah sakit? Kalian kan anti banget di sini?"
"Gak papa kok. Santai aja bro.."ucap kak Arden.
Radit menatapku lalu menggenggam tanganku,"kamu sering diganggu ya ?"
"Enggak kok. Aku gak papa."
"Kamu jangan takut ya. Ada aku di sini sekarang, aku bakal jagain kamu kaya biasanya."
Aku tersenyum mendengar perkataan Radit.
__ADS_1
Syukurlah dia sudah bangun. aku memang merindukan nya. Sangaat.
\=\=\=\=