
Kabut tipis mengiringi tiap langkah kami. Jujur saja karena kondisi jalan yang belum di aspal, membuat Danu kesulitan mendorong kursi roda Nek Siti. Beberapa kali dia harus mendorong dengan sekuat tenaga agar roda dapat melewati terjalnya kerikil tajam di depan kami. Aku berjalan di belakang mereka, mengawasi tiap sudut jalan sekitar. Aku perhatikan sejak tadi tidak ada orang yang lewat, padahal ini sudah lepas azan isya berkumandang. Kupikir larangan keluar rumah hanya berlaku di jam petang, saat magrib atau sandekala saja. Atau memang beginilah situasi di desa ini saat malam hari. Karena ini pertama kalinya aku keluar rumah saat malam hari. Kondisi Nek Siti memang perlu mendapatkan penanganan serius, aku yakin kalau luka tersebut pasti sangat sakit dan menyiksa. Hanya saja Nenek tidak mampu berteriak dan mengeluh.
"Dan, sepi banget, ya?" Aku merapatkan jaket yang sedang kukenakan. Danu lantas ikut memperhatikan sekitar sambil sesekali memperhatikan jalur yang ada di depannya. Memastikan kalau tidak banyak guncangan agar Nenek baik-baik saja sampai di rumah dokter Daniel nanti.
"Mungkin memang warga di sini tidurnya cepet, Tha. Atau sudah capek setelah aktivitas seharian," sahutnya dengan penjelasan masuk akal. Dia kembali fokus pada kursi roda Nek Siti. Jarak yang kami tempuh akan cukup lama dan memakan waktu. Mobil Danu memang sedang tidak bisa dinaiki, karena mesin mobilnya mengalami kerusakan sesaat setelah sampai di desa ini. Dia belum bisa memperbaiki mobilnya karena ada beberapa suku cadang yang harus diganti dan Danu tidak memiliki cadangan di mobilnya. Desa ini juga tidak ada bengkel mobil yang lengkap, hanya ada satu bengkel yang biasanya hanya diperuntukkan kendaraan roda dua saja.
Semilir angin makin membuat tubuh menggigil, bulu kuduk ikut meremang. Aku yang memang gelisah sejak tadi, terus mengawasi keadaan sekitar. Pertanyaan demi pertanyaan terus mengusik otak. Makhluk halus di rumah tadi membuat aku makin tidak karuan. Kemunculan Ummu Sibyan sendiri yang memang menjadi momok besar teror di desa ini sudah kujumpai dengan pertemuan singkat yang cukup berkesan. Hanya saja, dia yang tidak banyak melakukan gerakan perlawanan membuatku merasa kalau dia bukan musuh yang harus dikhawatirkan keberadaannya. Mungkin karena dia lebih suka mengganggu anak kecil dan para ibu hamil. Beberapa cerita dari warga yang menjadi desas desus selama ini sudah kudengar dari mulut ke mulut. Bagaimana beberapa anak kecil yang sempat hilang, ada yang kembali, ada juga yang tidak ditemukan sampai sekarang. Bahkan ibu hamil yang tiba - tiba kehilangan janin mereka. Kejadian seperti itu tidak hanya terjadi satu atau dua kali, tapi berkali - kali. Ada saja warga yang mengabaikan larangan itu. Walau aku sendiri tidak terlalu mempercayai mitos tersebut.
Tapi yang mengusik pikiranku sekarang bukanlah kemunculan sosok Ummu Sibyan tersebut. Justru sosok lain yang telah melukai Nenek tadi. Aku tidak tau siapa dia, apa alasannya melukai Nenek sampai seperti itu. Biasanya setan atau makhluk halus tidak akan bisa melukai manusia dengan semudah itu. Sepertinya makhluk itu memiliki energi yang cukup kuat, mungkin dia memiliki banyak dendam atau sakit hati terhadap manusia.
Entah kenapa aku merasa kalau sosok tadi adalah jelmaan penunggu rumah sebelah. Dari cerita Pak Karjo, Nenek dulu cukup dekat dengan keluarga itu, sampai akhirnya keluarga itu meninggal semua dan Nenek menderita sakit parah. Suatu kebetulan yang aneh rasanya.
"Duh, Tha! Jangan bercanda deh!" sungut Danu, memegang kepala belakangnya lalu menoleh padaku. Aku bahkan tidak paham maksudnya apa.
"Apa sih?" tanyaku, mendengus sebal. Dia berhenti dan otomatis aku ikut menghentikan langkahku.
"Lu apa pakai lempar - lempar gue pakai batu! Nggak ada kerjaan banget sih, kita lagi buru - buru loh, Tha. Jangan bercanda!" ungkapnya masih terlihat kesal.
"Lempar elu pakai batu? Jangan fitnah begitu napa sih, Dan. Apa juga gue lemparin batu. Dari tadi juga gue jalan, bahkan nggak ngelihatin elu," ketusku tidak terima atas tuduhan itu.
"Serius? Elu nggak lemparin gue pakai batu?" Dia sedikit melunak tapi tatapannya menunjukkan rasa khawatir yang besar. Aku pun mulai merasa kalau keadaan kami sedang tidak baik -baik saja. Jika memang Danu merasa ada yang melemparnya dengan batu, maka aku yakin itu bukan rekaan dia saja. Apalagi dengan reaksinya yang cukup kesal tersebut. Lantas siapa yang telah melakukan hal itu padanya?
Aku menyapu pandang ke sekitar, mencari tiap sudut dengan menajamkan mata. Walau gelap, tapi jika memang ada makhluk yang jahil, aku pasti akan dapat dengan mudah melihatnya. Kecuali dia cukup cerdik dengan melarikan diri terlebih dahulu sebelum kami menyadarinya.
Danu ikut memperhatikan sekitar, dia lantas mendekat padaku dan berbisik lirik. " Setan, ya, Tha?" tanyanya dengan sangat berhati - hati.
"Sepertinya iya." Aku memperhatikan ke atas, jika ternyata lemparan itu bukanlah batu, hanya biji buah atau apa pun yang berada di atas kami sekarang. Tapi anehnya pohon - pohon yang berada di sepanjang jalan bukanlah pohon berbuah atau berbiji yang akan menjatuhkan sesuatu dan mengenai Danu. "Batu beneran kan?" tanyaku kembali memastikan.
Danu lantas mencari benda yang telah mengenai kepalanya tadi. Dia lantas memungut sebuah benda bulat berwarna hitam. Dengan dua jari dia mengambilnya dan memperhatikan lekat - lekat. Tapi Danu kembali melemparnya sambil menjerit. "Gila!"
"Kenapa sih?"
"Tha, itu ... Bukan batu," sesalnya. Dia mengelap tangannya ke celana. Seolah ada kotoran yang menempel di sana. Sambil tetap melihat ke benda yang dia lempar tadi.
"Terus apa? Biji buah?" tanyaku masih berusaha berfikir positif. Danu justru menggeleng cepat.
"Lu tau itu apa, Tha? Itu mata! Bola mata!" rintihnya dengan sorot mata yang ketakutan, bahkan lebih takut dari pada saat menghadapi Ummu Sibyan tadi.
"Masa sih?" tanyaku agak ragu. Aku lantas berjalan ke benda tadi, karena saat Danu melemparnya benda bulat yang dia bilang mata justru terpantul karena menabrak sebuah pohon di dekat kami. Danu terus melarangku untuk mendekat, aku tidak menghiraukan larangannya karena aku penasaran. Bisa saja Danu salah lihat, karena terlalu lelah dan akhirnya menciptakan halusinasi yang berlebihan.
__ADS_1
Aku jongkok saat sudah ada di dekat bola itu. Bulat, hitam dan terlihat mengkilap. Seperti telah tercebur ke cairan kental seperti air got atau sesuatu yang kental. Pantas saja Danu terus mengelap tangannya, karena memang ini menjijikkan. Aku mencari daun yang jatuh, bermaksud menjadikannya alat untuk memegang bola hitam tadi.
Aku mendekatkan benda tersebut dan memicingkan mata, memperhatikan tiap inchi nya. Seketika kedua bola mataku sendiri membulat saat melihat wajahku ada di sana. Tercermin dengan jelas di sorot mata tajam di tanganku. Ini benar-benar bola mata. Masih segar seolah baru saja terlepas dari tempatnya. Aku segera melemparnya kasar dan sejauh mungkin.
"Bener, kan? Itu mata?" tanya Danu meminta kepastian. Aku mengangguk lantas mengajak Danu segera pergi dari tempat ini. Kami bergegas, aku juga membantu Danu mendorong kursi roda Nek Siti, agar kami segera sampai ke rumah dokter Daniel.
Sebuah rumah dengan papan nama bertuliskan ' Dr. Daniel praktek umum pukul bla ... bla ... bla.' Membuat kami menarik nafas panjang. Lega rasanya telah sampai ke tujuan dengan selamat, walau terjadi drama yang cukup menegangkan tadi. Aku segera berlari mendekat ke pintunya, mengetuk sekaligus memanggil namanya dengan cukup lantang.
Seseorang menyingkap korden dan muncul wajah dokter muda itu. Dia segera membuka pintu dan heran melihat kami.
"Dok, Nenek terluka," kataku menunjuk wanita tua yang duduk di kursi roda.
"Nenek kenapa? Ya sudah bawa masuk ke dalam!" Dengan sigap Danu mengangkat tubuh Nenek dan membawa masuk ke dalam.
Dokter Daniel tinggal seorang diri. Rumahnya memang khas seorang dokter, dia tidak memiliki ruang tamu seperti rumah Bu Heni, tapi ruang tamu di sini justru dijadikan ruang tunggu untuk prakteknya. Ada korden yang dipakai untuk sekat tempat periksa dan meja miliknya yang sepertinya biasa digunakan untuk menuliskan resep obat. Bahkan ada etalase yang menyediakan beberapa obat - obatan hingga perban dan bermacam - macam alat untuk penanganan luka.
Nenek di letakan di atas kasur yang berada di balik korden. Seprei garis - garis berwarna putih mengingatkan ku pada klinik yang biasa menjadi langgananku dulu. Dokter Daniel mengambil senter dan memperhatikan luka di leher nenek.
"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Dokter Daniel menatap aku dan Danu bergantian. Sementara kami justru bingung penjelasan apa yang akan kami berikan. Karena tidak mungkin kami menceritakan yang sebenarnya, hal yang tidak masuk logika rasanya hanya akan membuat dokter Daniel malah menertawai kami. Danu menggaruk kepala, bergumam, dari sikapnya dia sedang berusaha keras mencari jawaban yang lebih masuk akal daripada jawaban dicekik hantu.
"Jadi ... tadi itu, nenek lagi ... eum, kena itu loh, Dok," jawaban Danu berputar - putar tidak menemui titik temu. Dokter Daniel tentu ikut bingung.
"Oh, iya, sebenarnya lukanya cukup menyakitkan sih, pasti rasanya panas dan pedih, tapi untung saja tidak terlalu dalam. Saya juga kebetulan punya salep dan obatnya. Asal salepnya dioleskan dengan teratur, nenek juga harus menghabiskan obatnya karena ada antibiotik yang harus dihabiskan, ya. Lalu jangan sampai basah lehernya. Usahakan tetap kering, agar mempercepat proses kesembuhannya," jelasnya sambil masih mengamati kondisi Nenek.
Aku dan Danu mengangguk dan bernafas lega mendengar penjelasan tersebut. Setidaknya Nenek akan baik - baik saja. Beberapa obat dan perban sudah disiapkan oleh dokter Daniel, dia juga menjelaskan obat mana saja yang harus diminum sesuai jam yang tertera di bungkusnya.
"Saya buatkan teh hangat dulu, ya, sebelum kalian pulang. Pasti capek jalan kaki dari rumah ke sini," ujar Dokter Daniel, lalu segera masuk ke dalam rumah. Rasa sungkan untuk basa basi menolak tawaran itu, kami tepis. Karena jujur, aku memang lelah berjalan kaki dari rumah ke sini. Bahkan aku baru sadar kalau tenggorokan juga kering. Rasanya teh hangat akan meredakan semua rasa tidak nyaman ini.
Nenek masih berbaring di kasur, kata dokter kemungkinan nenek juga lelah karena terlalu lama duduk tadi, apalagi jalanan yang tidak mulus, membuat tubuh tidak akan nyaman jika berlama - lama di kursi roda. Dokter Daniel muncul dengan nampan yang berisi tiga cangkir teh hangat yang masih mengepulkan uap panas. Tidak hanya itu saja, ada sepiring pisang goreng yang sudah dingin.
"Silakan diminum dan dicicipi. Pisang goreng buatan saya ini. Maaf kalau sudah agak dingin," kata Dokter Daniel, meletakkan cangkir ke meja. Aku turut membantu karena merasa sungkan dilayani seperti ini oleh tuan rumah. Hanya di desa ini saja, setiap warga yang berobat tidak dipungut bayaran. Katanya stok obat sudah diberikan dari pusat, dan tenaga dokter Daniel juga sudah dibayarkan pemerintah. Makanya dia tidak memungut biaya sepeser pun dari warga. Justru warga malah sering memberikan makanan ke dokter Daniel sebagai ungkapan terima kasih. Bahkan pisang ini baru ia dapatkan dari seorang warga yang tangannya patah setelah bertani tadi siang. Walau dia tidak memintanya, dan tidak enak rasanya jika kita menolak pemberian orang seperti itu.
"Dok, memangnya di sini selalu sepi seperti ini, ya?" tanyaku menoleh ke jendela yang kordennya transparan, dengan cangkir teh yang masih aku genggam. Hangatnya cangkir ini membuatku betah berlama - lama menempelkan telapak tanganku di sana.
Dokter Daniel tidak segera menjawab, dia malah tersenyum sambil menatap ke cangkir teh miliknya. "Yah, memang beginilah keadaan desa ini jika malam. Tidak ada aktivitas warga di luar rumah. Semua selalu ada di dalam rumah, entah sudah terlelap tidur atau masih melakukan kegiatan. Awal saya di sini juga sedikit bingung dan heran, karena saat matahari mulai tenggelam, semua warga langsung menghilang masuk ke dalam rumah masing - masing. Desa yang saat siang hari penuh aktivitas di tiap rumah dan sudut lain desa, mendadak mirip desa tidak berpenghuni."
"...."
"Apalagi saya tinggal sendirian di sini, kan? Tidak ada jaringan internet, maupun TV. Ponsel saja nggak bisa saya gunakan sampai sekarang," ujarnya sambil meletakkan benda pipih tersebut ke meja. Sebuah ponsel lama, bukan tipe hand phone android seperti yang sudah banyak tersebar di masa kini. Rupanya dokter Daniel termasuk tipe orang yang tidak mengikuti perkembangan teknologi. Ah, lagi pula untuk apa memiliki ponsel kekinian, kalau nyatanya tidak bisa digunakan di sini.
__ADS_1
"Dokter nggak punya asisten?" tanya Danu yang sebenarnya juga ingin kutanyakan sejak tadi. Karena biasanya seorang dokter akan memiliki asisten untuk membantunya mengatur pasien yang datang. Dokter Daniel menggeleng, tetap dengan senyum di wajahnya.
"Mana ada yang mau di tempatkan di wilayah terpencil seperti ini. Yah, saya sendirian saja juga tidak masalah." Dia lantas tertawa, mengambil pisang goreng yang tinggal tersisa 4 buah di piring. Danu ikut tertawa dengan tambahan kalimat pujian untuk perjuangan dokter Daniel. Memang hal yang jarang terjadi, dia termasuk dokter yang kompeten, sigap dalam membantu orang, bahkan aku sempat tidak percaya kalau dia adalah dokter yang bertugas di desa ini. Apalagi dengan wajahnya yang tampak tampan. Biasanya dokter muda sepertinya akan memilik praktek di kota, walau hanya sebuah klinik kecil. Bukan malah terdampar di desa terpencil ini. Jauh dari keramaian, dari keluarga bahkan tidak ada akses internet yang masuk. Aku saja masih heran sampai sekarang ini, kenapa masih ada tempat tanpa sinyal internet. Padahal tempat ini tidak begitu jauh dari kota sebelumnya.
Danu ikut mengambil pisang goreng yang makin hanyut dalam obrolan hangat malam ini. Aku hanya menyimak obrolan mereka, yang dirasa menarik. Obrolan sesama pria. Aku memilih menatap meja di hadapanku. Kayu jati sebagai bahan dasarnya terlihat kuat, padahal meja ini terlihat sudah lama sekali berada di sini. Piring berwarna putih dengan motif bunga di pinggirnya, sangat khas seperti milik nenek buyutku yang tinggal di desa. Tapi senyum tipis yang sejak tadi aku ukir, mendadak hilang. Benda kecil di piring membuatku mual, dia bergerak, menggeliat. Aku menatap ke atas, tidak ada apa pun di sana. Aku kembali memperhatikan piring tersebut. Di samping pisang goreng yang masih tersisa, keluar sesuatu. hal yang sama seperti benda yang membuat senyumku hilang tiba - tiba. belatung! Ada belatung di pisang goreng itu. Aku memejamkan mata lalu membukanya kembali, takut ini hanya halusinasiku saja. Berkali - kali aku perhatikan semua tidak berubah. Aku langsung menepis tangan Danu saat hendak mengambil pisang goreng tadi.
"Tha? Kenapa sih?" tanya Danu jengkel. Mereka berdua melihatku, aku pun ikut menatap dua pria itu.
"Eum, ada semutnya tadi."
"Astaga, Aretha. cuma semut aja segitunya lu," ungkap Danu dan hendak memungut lagi pisang goreng yang jatuh di lantai. Belatung makin banyak keluar dari makanan itu. Itu sungguh menjijikkan. Anehnya Danu dan dokter Daniel seperti tidak melihatnya. "Jangan, Dan! Kotor!" kataku, tegas.
"Oh iya, kotor itu Mas Danu, ambil lagi saja," suruh Dokter Daniel. Aku perhatikan pemilik rumah ini, tidak ada yang aneh padanya. Atau memang hanya aku saja yang melihat keanehan pada pisang goreng tersebut?
"Dan, mending kita pulang aja, yuk. Takutnya Bu Heni sama Pak Karjo udah pulang, nanti mereka panik kita semua nggak di rumah," desakku.
"Eum, ya udah deh. Lagian udah malam juga. Dokter pasti juga mau istirahat."
Danu membawa Nenek kembali ke kursi rodanya. Tapi sorot mata Nenek terlihat ketakutan saat melihat sekitar ruangan ini. Hal ini makin membuatku cemas, mungkin ada makhluk lain di rumah ini. Atau makhluk tadi mengikuti kami. Tidak ingin membuat dokter Daniel celaka, kami segera pamit.
Jalanan ini kembali kami susuri. Leher Nenek sudah diperban, dan harus dibuka besok pagi. Obat juga sudah kami bawa. Rasanya kami akan terbiasa dengan kesunyian malam desa Alas Ketonggo. Berharap tidak lagi ada yang melempar dengan bola mata manusia.
"Tha, kamu kenapa tadi sih? Aneh banget!" kata Danu sambil fokus mendorong kursi roda.
"Hm, nggak tau, mungkin aku cuma halusinasi aja, Dan." Panggilan aku kamu dan elu gue akan silih berganti dari mulut kami. Saat emosi, maka kami lebih nyaman memanggil elu gue, dan jika keadaan biasa saja, maka kembali aku kamu. Mirip orang pacaran? Oh tidak! Danu bukan tipeku. Dia juga tidak tertarik padaku, selain karena aku pacar Radit, Danu juga tidak suka wanita bar - bar katanya.
"Kagak. Bilang coba," paksanya. Aku menarik nafas panjang. Seaneh apa pun hal yang aku ceritakan memang tidak akan terdengar aneh jika Danu yang kuajak ngobrol seperti sekarang. Kami sudah banyak melewati hal aneh sebelumnya. Hanya saja, aku takut reaksinya nanti. Karena ini hal menjijikkan.
"Jadi tadi, aku lihat belatung ada di pisang goreng yang mau kamu makan," gumamku lirik. Danu menghentikan langkahnya, tangannya tetap memegang erat pegangan kursi roda.
"Apa lu bilang? Coba ulangi lagi!"
"Aku lihat ada belatung hidup di pisang goreng tadi. Banyak, bergerak, menggeliat dan menjijikkan."
"****!" Dia langsung berlari ke pinggir jalan dan memuntahkan semua isi perutnya. Aku mendekat dan memeriksa kondisinya. Dia baik - baik saja, hanya terkejut. Yah, wajar jika dia sejijik itu. Karena memang menjijikkan. "Jadi kita dikerjain setan lagi nih?" tanyanya dengan wajah pucat.
"Entahlah. Bisa jadi. Makanya mending kita buruan pulang. Jangan sampai mereka mengikuti kita lagi!" Danu mengangguk lalu kami kembali melanjutkan perjalanan pulang.
Desa Alas Ketonggo, sungguh unik kehidupan di sini. Aku harus mulai membiasakan diri lagi dengan hal - hal tidak masuk akal lainnya. Tentu aku harus waspada dengan bahaya yang mungkin mengintai. Apalagi mengingat ruh yang menyakiti Nek Siti, dia benar - benar bisa melukai manusia. Sementara di sini tidak ada Kak Arden atau Radit. Beruntung masih ada Danu. Setidaknya hanya dia yang bisa aku percayai sekarang.
__ADS_1