Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
Part 18 Arkana datang!


__ADS_3

Menaiki gerbang rumah Pak Yodie bukan perkara sulit bagi kami, terutama bagi aku dan Kiki. Karena kami sudah terbiasa memanjat pagar sekolah dulu, atau pagar rumah jika terlambat pulang. Aku dan Kiki juga bukan termasuk perempuan feminim, justru sebaliknya. Bahkan sering kali kami memanjat pohon jambu di rumah Kiki atau pohon mangga di belakang rumahku.


Barisan rumput liar yang tinggi hampir selutut, membuat aku sedikit waspada jikalau ada hewan melata yang bersembunyi di baliknya. Desir dedaunan tertiup angin, membuat kami terus memperhatikan sekitar. Suaranya yang terdengar samar, justru menjadikan teror sendiri bagi kami. Mungkin karena efek rumah yang merupakan icon rumah hantu di desa. Tempat yang nantinya akan menguak misteri lain yang sudah lama tumbuh subur di tempat ini. Tentu saja misteri di desa ini tidak hanya satu kisah, tapi banyak kisah yang terus terselubung rasa takut, dendam, dan kecurangan. Nama baru yang muncul tadi, menguak tabir lain tentang penguasa gelap yang bertanggung jawab pada semua kejadian aneh di desa ini. Nama asing yang ternyata nama seorang iblis, yang bertugas menyebarkan wabah penyakit, dan memang terbukti kehebatannya, dengan membunuh hampir semua penghuni desa dalam sekejap.


Jarak langkah kami terpencar, walau tidak terlalu jauh. Karena halaman rumah ini memang cukup besar, mencoba menelusuri tiap bagian ruas rumah dari depan sampai ke teras rumah besar itu. Kami terus memperhatikan tiap sudut rumah ini, dari halaman hingga semua titik yang memungkinkan adanya hal aneh atau janggal. Sejauh ini hanya ada hawa khas rumah kosong yang sudah sangat lama tidak berpenghuni. Yang pasti semua rumah yang ditinggalkan lama pemiliknya, atau dibiarkan kosong dalam jangka waktu yang lama, pasti ada makhluk lain yang mendiaminya. Keanehan lain, karena baik halaman mau pun bangunan di depan kami sekarang tidak pernah berubah, seperti rumah lain di desa ini. Hanya tempat ini yang tetap menunjukkan eksistensi kengerian sejak awal hingga akhir. Kemungkinan Keberadaan iblis pembawa bencana desa ini, memang sangat mungkin mendiami tempat ini. Karena hanya di sini lah aku merasakan hawa kosong, tidak adanya kehidupan dan sebuah perasaan hampa dan putus asa.


Kondisi teras tak jauh berbeda dengan halaman rumah. Kotor dan berantakan. Bahkan kursi kayunya juga sudah lapuk dimakan hewan pengerat atau karena tergerus waktu. Mungkin tempat ini sudah ditinggalkan lebih dari 20 tahun lalu. Sehingga tidak ada satu pun barang atau bagian rumah ini yang masih bagus dan utuh.


"Den!"


"Radit!"


"Dedi!"


Tiga nama itu terus kami ucapkan dengan lantang. Berharap salah satu dari mereka atau bahkan ketiganya akan segera muncul dari dalam dan menyambut kami, sekaligus membuat kegelisahan kami sirna saat ini juga.


"Ke mana ya, mereka?" tanya Danu menggumam, mengintip di kaca jendela yang kordennya sudah tersingkap sehingga dapat melihat keadaan di dalam yang gelap.


"Masuk saja, yuk," ajak Doni yang makin gelisah terus menatap belakang kami. Kemungkinan warga desa yang akan lewat di jalan akan semakin intens. Bagaimana pun juga desa ini memang sama seperti desa pada umumnya saat siang hari. Mereka masih aktif beraktivitas seperti biasa.


"YA udah buruan!" sosor Kiki, merangsek masuk dan membuka pintu itu sebelumnya, yang memang tidak terkunci. Kami bergantian memasuki lorong gelap rumah itu, namun saat sampai di ruang tengah, aku terperangah berjamaah. Ruang tengah yang awalnya akan sama seperti ruang tengah pada umumnya, justru terlihat berbeda. Tidak ada kursi, sofa, Tv, bufet atau lemari pada umumnya, tapi hutan belantara.


"Gila? Kita salah masuk apa gimana sih ini?" tanya Doni lalu menoleh ke belakang di mana ruang tamu masih terlihat di sana.


"Ini kita masih di dunia kita atau udah masuk dunia lain, Tha? sambut Danu dengan pertanyaan sejenis. Kiki hanya melongo sambil berdecak kagum. Keadaan di dalam rumah ini memang patut diacungi jempol. Karena ternyata teras serta ruang tamu yang kami lihat di depan, hanyalah kamuflase saja untuk menutupi keadaan di dalam yang lebih mirip hutan rimba.


"Pantas saja, Kak Arden, Radit, sama Dedi nggak balik - balik."


'Terus kita harus cari mereka ke mana, Tha?" tanya Kiki, mulai cemas.


"Hm... Aku juga nggak tau." Aku menggumam menekan kepala yang makin berat. Di tempat seluas ini akan sulit untuk mencari mereka bertiga. Kalau berpencar akan banyak kemungkinan untuk menemukan mereka, tapi aku ragu jika harus membagi kelompok kami lagi. Kami bahkan tidak tau ada apa di dalam hutan sana. Apalagi keberadaan iblis itu memang di sini, bisa jadi dia bersembunyi di tempat yang kami tidak sadari. Atau malah dia sedang mengamati kami sejak tadi.


Aku menggenggam liontin yang ada di leher. Model pedang perak kecil ini selalu menemaniku ke mana pun aku pergi. Tapi kali ini aku tidak bisa menggunakannya. Sepertinya ada kekuatan besar yang menutupi, sehingga aku pun tidak bisa mengirim sinyal ke luar, sekedar meminta pertolongan Pak de Yusuf, atau ... Arkana.


Sejak aku lulus kuliah, keberadaan Arkana mulai jarang terlihat. Kata Pakde Yusuf, Arkana memang ditugaskan menjagaku selama ini, tapi tidak dalam jangka waktu lama atau bahkan selamanya. Mungkin semakin aku beranjak dewasa, maka saat itu juga Arkana akan mulai pergi. Ketika bertanya ke bunda, Kak Arden, atau bahkan Pakde, mereka hanya bilang kalau aku sudah cukup mampu menjaga diriku sendiri. Aku bahkan tidak tau di mana Arkana sekarang.


Dengung serangga mulai terdengar samar, aku mencari keberadaan hewan tersebut di atas. Seperti suara tawon yang berkerumun. Merasa itu sebuah ancaman, aku mengajak mereka meneruskan perjalanan. "Ke sana saja."


"Yakin lu?"


'Insya Allah." Kami mulai memasuki pepohonan tinggi di depan. Melangkahkan kaki dengan hati - hati sambil memeriksa sekitar.


"Gaes, aneh nggak sih, rumah yang kita pikir rumah biasa, justru malah ada hutan belantara di dalamnya, dan anehnya lagi, kita sama sekali nggak menyadarinya."


"Ki, namanya misteri kehidupan kan kita memang nggak bakal tau. Udah sering juga, kan, kita menghadapi hal aneh macam gini."


"Iya, bener tuh kata Aretha. Kalian tuh, kemarin bukannya mengeluh, kangen sama momen di saat kita bertualang cari hantu. Sekarang giliran dikabulin, malah keok," sindir Danu. Percakapan itu memang sangat jelas di ingatanku. Sebelum kami terjebak di sini, ada satu peristiwa di mana kami justru bosan dengan kehidupan kami yang monoton. Bekerja, pulang ke rumah, dan kembali ke kantor. Beberapa dari kami memang sependapat, kalau kehidupan kami saat SMU itu jauh lebih menyenangkan. Semua hal yang kami alami tak lantas membuat kami putus asa, apalagi bosan. Tapi sekarang, di saat situasinya seperti ini, kami justru merindukan kehidupan normal.


"Gaes, itu apa?" tanya Doni, menghentikan langkahnya dan menunjuk ke sudut gelap di depan kami. Rimbunnya pepohonan di sekitar, membuat suasana jauh lebih redup. Namun hari belum beranjak malam, tapi pandangan kami semakin terbatas seiring kami makin masuk ke dalam hutan ini.


"Apa sih, Don?" Danu berdiri di samping Doni, ikut menatap ke tempat yang dia tunjuk.


"Jangan nakut - nakutin dong, Yang," rengek Kiki, memeluk tangan dan terus menempel padaku.

__ADS_1


"Kamu lihat apa sih, Don?"


"Tadi ada bayangan lewat, Tha!" terang Doni tanpa mengalihkan pandangannya dari spot yang ia curigai. Aku sendiri tidak terlalu yakin, karena memang tidak melihat apa pun sejak tadi. Apalagi melihat keadaan sekitar yang cukup teduh. Seolah - olah sinar matahari enggan masuk ke dalam hutan ini.


Tapi suara gerisik semak - semak sekitar membuat pernyataan Doni mulai masuk akal. Kami menjadi waspada sambil terus memperhatikan tiap gerakan aneh yang ada di sekitar. Suara orang berdecak terdengar nyaring, kami berempat mulai memasang gerakan saling memunggungi sesama, dengan membentuk lingkaran, agar dapat melihat keadaan sekitar yang mulai tampak keanehannya.


"Siapa kamu!" jerit Danu lantang.


Orang itu lantas mulai menampakkan dirinya. Pria itu berjalan keluar dari salah satu pohon paling besar di depanku dan Danu. Kini dia berdiri di depan kami dengan jarak 5 meter saja. Kulitnya sehitam eboni, apalagi dengan pakaiannya yang juga berwarna senada. Dia menyeringai menampilkan bonggol - bonggol gosong yang membuatku berpikir kalau dia adalah Pak Yodie. Ingatanku masih tercetak jelas kala dia mencekik leher Nek Siti. Postur tubuhnya, sama. Bahkan aura gelap itu juga terasa sama. Tidak hanya sampai di situ saja, karena suara lain kembali terdengar di telinga.


"Duh, kalau ini udah jelas, si kunti bakal ikut nongol," gumam Danu yang sudah hafal tanda kedatangan makhluk tersebut. Suara anak ayam yang bercicit nyaring seolah sudah menjadi hal wajib pertanda kedatangan makhluk berjenis kuntilanak di desa ini. Kami hanya tinggal menunggu makhluk itu muncul seperti Pak Yodie di depan.


"Ya ampun! Itu apa?!" jerit Kiki menunjuk ke sudut gelap lain di hadapannya. Otomatis itu juga menarik perhatian kami, dan ikut melihat makhluk apa yang dia tunjuk tersebut. Seseorang sedang berjalan naik ke batang pohon, kadang berpindah dari satu pohon ke pohon berikutnya.


"Ummu Sibyan!" gumamku spontan.


Kini ketiga makhluk yang memang menjadi ciri khas penghuni desa sudah mulai bermunculan, dan tentu sudah pernah aku jumpai dengan Danu sebelumnya. Sejak awal mereka adalah serdadu yang ditugaskan meneror desa, bahkan cukup berhasil membuat aku dan Danu ketakutan kemarin.


"Apa yang harus kita lakukan, Tha?" tanya Doni, mulai frustrasi.


"Coba untuk terus berzikir."


Lantunan zikir mulai menggema dari mulut kami. Aku benar - benar sudah berada di titik terendah untuk melawan. Karena Ummu Sibyan itu justru mengikuti lantunan zikir yang kami ucapkan. Dia lantas tertawa kencang sambil terus berjalan seperti hewan melata yang biasa aku temui. Aku menggenggam liontin di leherku, terus meminta pertolongan pada Tuhan - Sang pencipta alam semesta.


Ummu Sibyan kini makin dekat dengan kami, dia selalu berjalan merangkak dari satu pohon ke pohon lainnya. Kini dia sudah berada di depanku, tersenyum mengerikan. Akhirnya aku sudah pasrah apa pun yang akan terjadi nanti. Tangannya mulai terulur hendak mendekat ke wajahku, aku yang ketakutan lantas memejamkan mata.


"Gimana dong ini," rengek Kiki


Tapi tiba - tiba, auman keras terdengar jelas di telinga. Aku sontak membuka mata dan melihat seekor harimau muncul entah dari mana dan sedang bergelut dengan Ummu Sibyan.


"Daebak!" gumam Kiki yang terpana melihat benda berkilau itu ada di tanganku.


"Kalian diam di sini!" Aku mulai maju, dan mengarahkan pedang ini ke Yodhie. Dia berhasil menangkisnya, terus melawan walau dengan tangan kosong. Tapi anehnya suara bagai pedang yang saling beradu terdengar jelas. Mungkinkan tangannya terbuat dari besi?


Craaash! Tangan kirinya putus karena pedang milikku, menggelepar bagai ikan yang terlalu lama berada di daratan. Darah mengalir deras dengan warna hitam pekat. Kini aku berhasil mendaratkan tumitku di atas dadanya. Dia menatapku dengan penuh dendam di bawah sana, tanpa basa basi lagi aku segera menghunus jantungnya dengan pedang. Pak Yodhi menjerit, matanya melotot dengan tubuh yang menegang kaku. Perlahan ujung kakinya mulai hancur, terus merembet ke atas hingga akhirnya seluruh tubuhnya hilang bagai debu.


Kuntilanak yang biasa meneror kami, sudah dilumpuhkan oleh Danu dan Doni. Mereka membacakan doa - doa sambil mengikatnya di sebuah lingkaran berwarna putih dengan serbuk tebal mengelilinginya.


"Dari mana kalian dapat garam sebanyak itu?" tanyaku ke Kiki yang hanya diam menatap pertempuran kekasihnya di depan.


"Itu, Tha!" Kiki menunjuk sebuah gentong kayu besar yang berada di samping sebuah pohon. Tidak mau melanjutkan rasa penasaran, aku segera menghampiri Arkana yang telah berhasil membelah makhluk yang dia lawan tadi menjadi dua bagian.


"Kamu ... kok bisa di sini?" tanyaku lantang.


"Karena doa mu. Sebaiknya kalian susul Arden di sana!" Arkana menunjuk gua yang ada di dekat rimbunan pagar rumput setinggi dada. Tapi belum sempat kami ke sana, Kak Arden muncul bersama yang lain. Kondisi mereka tidak lebih baik dari kami. Hingga aku pun berlari menjemput mereka.


"Kalian kenapa?" tanyaku menatap wajah mereka satu persatu. Lebam dan luka gores ada di beberapa sudut wajah mereka. Tangan RAdit juga mengucurkan darah segar, sementara Dedi terluka di bagian kaki kanannya. Sementara Kak Arden terus memegangi dadanya.


"Kakak nggak apa - apa. Sebentar juga pulih. Loh, ada Arkana?" tanya Kak Arden menatap pria yang berdiri di tempatnya sejak tadi, tanpa bergeser sedikit pun.


"Iya, dia datang."


Kak Arden lantas mendekat ke Arkana, Dedi di bantu Danu dan Doni duduk di bawah pohon untuk memeriksa lukanya. Aku segera mendekat ke Radit dan langsung memeluknya. "Kalian kenapa bisa begini?"

__ADS_1


Radit masih sempat membelai kepalaku, tersenyum dan terus menatapku lekat - lekat. "Kami menemukan Merihim."


'Terus!"


"Ya Arden, aku dan Dedi melawan dia, dibantu Anggaraksa. Tapi makhluk itu cukup kuat, Tha. Sampai kami luka - luka gini. Tapi akhirnya, dia berhasil dilumpuhkan. Kami berhasil membunuhnya. Ternyata dia dalang di balik semua kejadian yang menimpa desa ini. Dia juga yang menutup penglihatan kita dan mengalihkan semua perhatian kita selama ini. Dia menjebak semua ruh warga desa, dan membuat mereka melakukan permainnya, memperbudak manusia, membuatnya bertahan di tempat ini untuk memakan jiwa manusia itu sendiri."


"Lalu sekarang di mana mereka? Warga desa?"


"Mereka sudah bebas dan kembali ke alamnya. Jadi kita nggak akan bertemu makhluk - makhluk itu lagi. Pak Karjo, Bu Heni atau yang lainnya."


"Nenek?"


"Iya, nenek juga. Justru nenek yang mengantar kami menemui iblis itu." Aku segera berhambur memeluk Radit erat. Terisak karena merasa lega sekaligus sedih dengan akhir dari kisah ini. Aku lega karena akhirnya kami sudah mengakhiri teror desa ini, tapi sedih karena tidak ada warga desa yang dapat kami selamatkan. Terutama nenek Siti.


Dari penjelasan Radit, selama ini nek Siti adalah manusia yang paling tanggung dan disegani oleh iblis bernama Merihim tersebut. Nenek tidak mudah ditaklukkan, karena dulunya, nenek yang menjaga desa ini. Nenek adalah dukun yang biasa mengurus warganya, mengobati, memijat bayi yang baru lahir, bahkan menolong orang yang kesurupan. Dia baik karena masih melakukan itu atas dasar kemanusiaan dan ingat akan Tuhan. Hanya nenek saja yang bertahan dari guna - guna ilmu hitam yang disebar di desa.


Kejadian itu terjadi tepat setelah Pak Yodie membantai keluarganya. Merihim menjadikan hal itu keuntungan dengan melakukan teror di semua sudut desa. Menempatkan keroconya dan membuat suasana tegang. Saat dia menebar ilmu hitam dengan menyebarkan wabah penyakit, hanya nenek yang masih hidup, karena nenek mampu menghalau aura jahat itu. Hanya saja dia tetap kalah, dan menjadi lumpuh. Nenek berusaha melawan, dan karena alasan itu, nenek sering menjadi korban pengikut Merihim. Berusaha menjebak nek Siti agar tunduk pada iblis tersebut. 20 tahun lebih nenek bertahan, hingga akhirnya beliau menyerah dan merelakan nyawanya hanya untuk menyelamatkan kami.


Kami keluar halaman rumah ini. Senja mulai tampak di langit. Tubuh terasa lemah tak berdaya. Keadaan desa kembali seperti semula. Tidak ada lagi yang menutupi kondisi tempat in lagi. Bahkan apa yang kami lihat lebih parah dari yang kami lihat sebelumnya.


"Jadi kita bisa pulang?" tanyaku.


Arkana sudah pergi beberapa saat lalu setelah mengobati luka dalam Kak Arden. "Iya, kita pulang."


'Tapi, Den, mobil nggak bisa jalan sama sekali. Mesin mobil kita sengaja dirusak, pasti sama si Lulu itu!" hardik Doni, kesal.


"Kalian rela nggak kalau kita tinggalkan dulu mobil di sini, kita coba jalan kaki ke desa Alas Ketonggo, karena cuma tempat itu yang paling dekat dari sini?"


"Kak, aku nggak mau tidur di sini lagi. Aku lebih baik jalan kaki ke sana, atau setidaknya kita keluar dulu dari tempat ini."


Kak Arden mengecup keningku sambil tersenyum. "Ded, bisa jalan?"


"Bisa, Den. Pelan -pelan."


'Eh, kursi roda nenek kan masih ada!" tukas Danu semangat. "Biar gue ambil!" Dia segera berlari masuk ke dalam rumah Bu Heni dan tak lama kembali dengan mendorong kursi roda milik Nek Siti.


Kami meninggalkan mobil, serta barang - barang di sana. Rasanya aku hanya ingin bisa menghirup udara luar desa ini. Walau sebenarnya desa ini sudah aman, tapi trauma akan kejadian di sini belum juga hilang.


Jalanan berbatu ini mengingatkanku pada malam saat kami mengantar nenek Siti ke rumah dokter Daniel, aku dan Danu kembali membahas hal itu, dan mendapat tawa dari teman - teman saat momen di mana Danu muntah - muntah.


Kaki ini terus berjalan mengikuti arah tujuan di depan. Desa sudah mulai kami tinggalkan, dan gapura mulai terlihat di depan sana.


"Arden! Danu! Aretha! Radit! Hei kalian!" jerit seseorang di depan sana. Saat kami memicingkan mata, Dion dan Ari terlihat melambaikan tangan di depan, ditemani beberapa orang lain yang cukup banyak menunggu kami di sana.


"Kita nggak halusinasi, kan? Itu beneran Dion sama Ari?" tanya Dedi hampir tidak percaya.


"Nanti lu pukul saja mereka, kalau teriak, berarti beneran manusia, Ded," timpal Danu lalu kami tertawa bersama.


Mereka mulai berlari mendekat. Sirine mobil ambulance dan polisi mulai terdengar mendekati desa. Tidak hanya ada Dion dan Ari di sana, warga desa Alas Ketonggo juga terlihat, dan yang paling membuatku berkaca - kaca adalah penampakan ayah di sana. Aku berlari tidak sabaran untuk bisa segera memeluk ayah. Ayah masih memakai seragam polisi ikut menyambutku.


"Kalian baik -baik aja, kan?" tanya Ayah, aku meraung di pelukannya. Menumpahkan segala emosi dan rasa yang selama ini ku rasakan. "Papa sudah tiga hari mencari kalian, tapi nggak ketemu juga. Syukurlah kalau kalian baik - baik saja."


"Bunda mana?"

__ADS_1


"Di rumah, sama Pakde. Kita pulang, ya sayang." Ayah lantas menyambut kedatangan Kak Arden, membawa kami masuk ke dalam mobil, dan akhirnya kami pulang ke rumah.


__ADS_2