Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
Part 25 Aceh


__ADS_3

Aku sampai di Aceh dengan selamat. Langkahku terasa berat saat menginjakkan kaki di tempat ini. Kota ini telah merenggut seseorang yang aku cintai, Indra. Yang sampai sekarang masih aku harapkan dia masih hidup.


Seorang wanita yang sangat aku kenal, terlihat di ruangan tunggu. Ia melambaikan tangan ke arahku dengan senyum sumringah. Aku berlari kecil mendekat padanya.


"Wah, gila kamu, Nis! Baru balik dari Kalimantan sekarang langsung aja sampai Aceh." Aku langsung memeluknya tanpa menghiraukan ocehannya.


"Aku kangen tau!" jeritku, sambil mendekap erat tubuh Indah.


Kami langsung pergi menuju posko Indah dan yang lain. Menaiki sebuah mobil sewaan yang katanya dipakai mereka untuk transportasi selama berada di sini.


Tidak perlu membutuhkan waktu yang lama, kini kami sampai di sebuah tempat pengungsian dengan beberapa tenda yang berdiri di sepanjang jalan. Aku sedikit merasa aneh dengan tempat ini, mirip daerah konflik seperti yang ada di film film. Beberapa teman mulai kulihat di ujung sana. Semua berkumpul di sini.


Ferly, Feri, Nindi, Galih, Rizki, Vita, dan Reno. Huft! Kenapa aku masih kesal jika melihatnya, ya? Apa mungkin aku belum bisa memaafkan ke salah nya dulu.


"Nisa!" jerit mereka saat melihatku turun dari mobil, satu persatu dari mereka berlari dan berhambur memelukku. Semua terlihat bahagia, di tengah suasana kisruh ini. Kesedihan ku pun tidak lagi terasa dalam.


Setelah satu persatu mulai bersalaman denganku, bahkan pelukan hangat membuat diriku makin nyaman. Wajah mereka dan senyuman mereka bagai semangat baru buatku. Pria yang pernah berseteru denganku, kini melihatku nanar. Reno lalu mendekat. Kami sudah berdiri berhadapan. Aku tersenyum saat dia ada di depanku sekarang.


"Nisa ... Aku mau minta maaf. Sebenarnya aku pengen ngomong ini langsung sejak dari kemarin kemarin, tapi pas aku ke rumah kamu, katanya kamu lagi di pesantren."


"Oh iya, Ren. Aku ke pesantren terus ke Kalimantan. Jarang pulang ke rumah."


"Iya, Nis. Semoga kamu selalu baik baik aja. Aku seneng akhirnya bisa ketemu kamu lagi di sini." Aku hanya menanggapi dengan senyuman. Lalu segera masuk ke posko yang ada di sana. Indah membantuku meletakkan barang bawaanku dan kini bersama mereka mulai masuk ke reruntuhan bangunan. Mencoba mencari korban yang masih selamat.


Meskipun lelah, penuh resiko, tapi kami menjalani dengan sepenuh hati.


***


Sudah seminggu aku di sini.


Papah berkali kali menelepon menyuruhku pulang, tapi aku tidak mau. Aku sudah nyaman di sini bersama teman teman ku.


Aku pun sudah akrab dengan para korban.


Sekalipun keadaan masih belum stabil, tapi canda tawa masih bisa kami ciptakan agar suasana tidak terlalu menyedihkan, terutama untuk para korban yang selamat.


Kami merawat mereka dengan sebaik mungkin.


Selain tenaga medis, bantuan dari satuan kepolisian dan tentara pun datang.


Aku akan mengambil beberapa selimut di tenda persediaan bahan makanan. Lalu menabrak seseorang yang familiar.


Herman.


"Lho Nisa? kamu di sini juga?" tanyanya.


Herman ini teman Indra di Kepolisian dulu.


"Iya, Man. udah seminggu nih. Kamu juga tugas di sini? alhamdulillah kamu selamat ya, saat insiden dulu."


"Iya, Nis, alhamdulillah. Indra mana Nis?" tanyanya.


"Indra?"


"Iya, Indra. Kamu lupa sama Indra? kalian masih pacaran kan?" tanyanya lagi.


"Lho... Indra kan kena ledakan bom dulu. Dan nggak selamat, Man."


"Hah? enggak ah, Nis. Indra nggak kena ledakan bom kok. Aku inget banget. Bahkan aku masih inget aku ketemu dia beberapa bulan lalu."


Deg!!


Jantungku seraya berhenti berdetak.


"Apa? kamu ketemu Indra ? di mana, man ? di mana?" tanyaku penasaran.


"Di Kalimantan, Nis. Agak aneh sih. Soalnya Indra nggak ngenalin aku. Waktu itu aku ke rumah saudaraku di Kalimantan, aku ketemu Indra di Bandara."


Ah, mungkin yang dia maksud Firman.


"Bukan kali, Man. Orang lain." Aku sudah kecewa lagi.


"Enggak Nisa! Indra! Saat kerusuhan itu ada beberapa anggota kami yang ditangkap sama ******* terus dibawa sebagai sandera. aku inget banget, kalau Indra salah 1 nya. Aku yakin yang aku temui di Kalimantan itu Indra! Dia ada bekas luka di lehernya, aku tau karena luka itu akibat berantem sama aku dulu. Mungkin Indra hilang ingatan, Nis. jadi dia lupa sama aku. Itu yang aku pikir saat itu."


Badan ku lemas sekali. Jadi Firman itu beneran Indra?


Ya Allah. rasanya kakiku lemas.


air mataku tumpah ruah.


"Kamu nggak apa apa, Nis? aku pikir Indra udah balik ke rumahnya." Herman membuatku tambah menangis kencang.

__ADS_1


Ponselku berbunyi. Kak Yusuf menghubungiku.


"Assalamualaikum kak,"suaraku parau.


"Wa alaikum salam, Nisa. Kamu gimana kabar? ah iya kakak mau ngabarin..m kalau Anggie akan menikah besok. Dia minta kamu dateng. Kamu bisa, kan dateng?"


Aku menjatuhkan ponselku. Besok? Indra akan menikahi Anggie besok.


Aku segera berlari ke Posko ku. Di sana teman temanku sudah berkumpul. Mereka melihatku heran. Karena aku menangis terus.


"Nisa, kenapa?" tanya Indah.


"Aku mau ke Kalimantan sekarang Ndah," kataku sambil membereskan barang barang ku.


Indah menarik tanganku.


"Ada apa sih? ceritain dulu!!"


Aku menceritakan tentang Firman dan pertemuanku dengan Herman tadi.


Mereka pun kaget.


"Ya udah, aku ikut!!"Indah angkat bicara.


"Aku juga!!" ucap Ferli, Feri, Nindi bersamaan.  Kami segera bergegas ke Bandara. Aku tidak ingin terlambat sampai Kalimantan. Firman atau Indra adalah orang yang sama!


***


Kami sudah sampai di Bandara dan sebentar lagi naik ke pesawat.  Aku tidak ingin makan, minum bahkan berbicara. Yang aku inginkan hanyalah bertemu Indra saat ini juga.  Di Pesawat kusempatkan tidur sejenak. Aku merasa tenagaku terkuras habis. 


Beberapa jam kemudian kami sampai di Kalimantan.  Saat itu hari sudah sore. Aku segera menyewa mobil di sekitar Bandara. Feri menyetir berbekal google maps agar sampai di pesantren. Karena aku masih terlihat linglung. Jadi dia takut nyasar.  Tak berapa lama. Kami sampai lah di pesantren. Kak Yusuf kaget melihatku datang, aku tidak menemuinya, namun langsung berlari ke rumah Mita. 


"Nisa! tunggu, Nis!!" teriak indah.


Aku tidak peduli lagi. Aku tetap berlari.  Sampailah aku di halaman rumah Mita. Ibu Mita sedang menyapu di halaman, kaget melihatku datang dengan kacau. Mataku sembab karena terus menangis selama beberapa jam ini. Jilbab ku juga sudah berantakan. 


"Assalamualaikum, Bu."


"Wa alaikum salam, mba Nisa." 


"Firman mana, bu?" tanyaku tanpa tendeng aling aling.


"Firman, pergi mba."


"Bukan! bukan ke rumah Anggie. Tapi ke Aceh!!" 


"Apa? Aceh?"


Badan ku lemas untuk kesekian kalinya. Aku menyusulnya ke sini. Tapi dia malah ke Aceh??


"Maafkan ibu ya mba.. ibu yang membuat keadaan kacau. Firman memang bukan anak ibu."


"Iya, dia Indra! saya tau bu!" kataku sedikit membentak. Rasa hormatku ke Ibu Mita hilang sekejap. Ibu Mita menangis menyesali semuanya.  Mita lalu keluar dari rumah. Dia juga kaget melihatku. 


"Kak Nisa? kak Firman nyusul kak Nisa ke Aceh."


"Astagfiruloh haladzim." Kalimatku bergetar. 


"Kak Firman udah inget semua kak.. Makanya tadi pagi langsung nyusul kakak," terang Mita 


"Anggie bukannya mau nikah, Mit?"tanyaku bingung.


"Iya, tapi bukan sama kak Firman. Setelah kak Nisa pergi. kak Firman membatalkan pernikahan sama kak Anggie. Semakin hari, kak Firman ingat semuanya. kenangan sama kak Nisa. Kak firman ingat, kalau dia memang Indra." Mita menjelaskan sambil menangis.


Dia pun terlihat menyesal telah merahasiakan jati diri Indra sebenarnya kepadaku.  Kak Yusuf sudah ada di sini juga. Lalu meraih tanganku, sambil memeluk tubuh lemahku.


"Nis, udah. kita ke pesantren dulu, ya. Ayok." kak Yusuf menggandengku.


Badanku terasa ringan sekali. Aku terjatuh, pingsan. Aku sangat lelah, pikiran, badan energiku serasa terkuras habis.


*** 


Aku tersadar sesaat setelah bayangan Olive datang di mimpiku. Dia hanya tersenyum kepadaku lalu menghilang. Aneh. Saat mataku terbuka sepenuhnya, sudah ada infus menempel di tanganku. Aku melihat Indah dan teman teman ku di sini.


  "Aku pingsan lagi, ya?" tanyaku.


"Nisa... Kamu itu nggak makan dari kemaren. makanya gini. Sekarang makan, ya," bujuk Indah sambil mengambil makanan di mejaku.


"Nggak mau, Ndah. aku nggak mau makan itu. nggak enak," kataku menolak.


"Nis... Dikit aja, biar ada tenaga," bujuk Indah lagi.

__ADS_1


Aku tetap diam. Memalingkan wajahku ke jendela kamar ini. 


"Bener, kan, Ndah. dia nggak akan nyentuh makanan itu. Makanya aku beli makanan di luar," kata seseorang dari balik pintu.


Suara ini... Indra!! Dia muncul di balik teman temanku.


Astaga. dia Indra.. Aku menampar wajahku sendiri, memastikan ini bukan mimpi. Indra berjalan mendekat. 


"Jangan sakiti diri kamu lagi Niss," kata Indra sambil menahan tanganku.


Aku langsung berhambur ke pelukannya. Menangis sejadi jadinya.


"Kamu jahat, Ndra!! jahat!! kamu ninggalin aku lama banget!! Kamu bahkan nggak ngenalin aku!! jahat! " aku memukuli dadanya bertubi tubi. 


Indra lebih mengeratkan pelukannya.  "Pukul semaumu, Nis. aku rela. maafin aku, aku udah nyiksa kamu terus. maaf, pukul aja pukul," katanya masih memelukku. 


Suasana penuh haru di ruangan ini. Semua datang, para kakakku, Papah, kak Arif, Anggie dengan kak Ahmad. Mereka menangis melihat kami.


"Aku udah bilang, kan? sekalipun aku pergi dari kamu, aku bakal kembali lagi, Nis. Aku tepatin janjiku," katanya lagi.


Iya, dia Indraku, dia benar benar Indra.  Terima kasih ya Allah telah mengembalikan dia lagi.  Aku melepaskan pelukkan ku. Menatapnya lekat lekat.


"Aku laper," kataku pelan memecah tawa kami di ruangan ini.


"Buset ni anak. Baru ngerasa laper yah. Dari kemaren aku jejelin makanan mingkem aja tuh, Ndra," kata Indah agak kesal tapi dia juga ikut menangis melihatku.


Indra tersenyum.


Dan Anggie, ia kulihat hanya diam sejak tadi. Namun saat aku menatapnya, dia mendekat. "Nisa.. maafin aku ya. aku nggak tau kalau Firman itu Indra. semoga kalian tidak akan terpisah lagi sekarang."  Aku memeluk Anggie juga. Bagaimana pun juga, dia tidak bersalah. Ini semua sudah suratan takdir.


Ternyata Anggie menikah dengan kak Ahmad. 


"Sekarang kamu makan. aku suapin," kata Indra duduk di depanku sambil membuka bungkusan makanan, nasi padang.


  "Jangan protes kalau kurang pedes!!aku nggak nambahin sambel," katanya sambil menyuapiku.


Dia memang Indra, dia kembali lagi. Suap demi suap aku terima dari tangan nya.  Canda dan tawa mulai menghiasi ruangan ini. Celotehan teman teman dan kak Adam membuat tawa kami makin ramai.


"Kita pulang ke rumah lusa ya, Nis. Habis itu aku ke rumahmu bawa orang tuaku. Aku mau melamar kamu," katanya. 


"Ciee ... akhirnya!" seru mereka semua bersamaan. 


"Gimana, Om?" Indra menoleh ke Papah yang dari tadi hanya diam dan tersenyum.


"Ya harus! Sampai kamu ninggalin anak om lagi, bikin dia nangis, Om bikin perkedel kamu," ancam Papah.


"Jangan gitu ke Indra, Pah. " rengekku sambil memeluk Indra.


Papah malah tertawa dengan mata berkaca kaca.


*** 


Kali ini aku hanya semalam di Rumah Sakit. Kami lalu pulang ke pesantren dahulu. Aku duduk di ayunan dekat pesantren. Indra duduk juga di sebelahku.


"Sebenernya apa yang terjadi, Ndra? waktu kerusuhan dulu?" 


"Aku sama beberapa timku dibawa *******, sebagai tawanan. Mereka membawaku ke Kalimantan. Tapi jauh dari sini. Saat mereka lengah, aku kabur. Habis itu aku udah nggak inget apa apa lagi. Yang aku tau, kalau aku ini Firman dan menjalani hariku di sini." 


"Kenapa ibu nya Mita merahasiakan kamu, Ndra? Seharusnya dari awal dia bilang jujur ke aku, pas aku tanya foto kecil Firman." 


"Itu demi kebaikanku, Nis. ******* itu masih terus mencariku. jadi ibunya Mita dan Mita mengakui aku sebagai keluarga nya, misal bilang kalau aku ini orang asing, aku bakal ditangkap lagi, Nis," jelasnya


  "Oohh gitu.."aku sudah mengerti.


"Memang aneh, Nis. Walau aku nggak inget kamu, tapi rasa nyaman jika deket kamu selalu aku rasakan. Saat ketemu kamu pertama kali, saat kita deket.. aku sadar, kalau aku sayang ke kamu. Berbeda dengan perasaanku ke Anggie. Saat kamu ke Aceh, hatiku juga sedih. aku langsung membatalkan pernikahan ku sama Anggie. Lama kelamaan aku ingat semuanya. Langsung nyusul kamu ke Aceh, di sana aku ketemu temen temen kamu, mereka bilang kamu pergi ke Kalimantan. Langsung saat itu juga aku balik ke Kalimantan." 


"Aku ketemu Herman di Aceh. dia bilang kalau kamu masih hidup, aku baru sadar kalau Firman itu kamu." 


"Nggak sangka ya, Nis. Kita udah ngelewatin semua ini. Yang penting sekarang kita udah sama sama lagi." Indra mengecup keningku.


 "Aku kangen banget sama kamu, Ndra," kataku seraya memeluknya.


"Aku juga kangen banget sama kamu, sayang." Indra membalas pelukanku lebih erat lagi.


"Heh.. pada pacaran dimari.. malu noh banyak anak kecil ngeliatin! belum halal ! Belum halal! ayo lepas!!" kak Adam tiba tiba muncul, merusak suasana.


"Ih, kakak! nyebelin!" aku lalu pergi masuk ke dalam.


 "Eh ngambek. Sini napa, Niss!" teriak kak Adam.  "Ogah! ngantuk!!"aku tetap masuk ke dalam. Kudengar kak Adam tertawa puas karena berhasil membuatku angkat kaki dari sisi Indra.


  *** 

__ADS_1


Aku tertidur memeluk bonekaku. Samar samar aku melihat Indra masuk kamarku.  Dia mengecup keningku.


"Mimpi indah, sayang. Aku sayang kamu"


__ADS_2