Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
18. Buket bunga


__ADS_3

"Oke. Berarti udah sekitar 70% proker kita finish, dan tinggal 2 minggu lagi kita di sini. Gimana? Ada masalah selama kalian di sini? Mungkin bisa kita sharing bareng, " kata Wicak mengawali brifing malam.


"Ya paling masalah sama makhluk tak kasat mata aja sih, Cak, sejauh ini. Yang lain mah woles aja. Gue gak ada kendala apa apa, " kata Feri santai.


"Iya, lagian warga juga selalu dukung kita, banyak bantu juga, " ucap Indah.


"Moga aja sih nggak ada masalah lagi yg aneh aneh kayak kemaren, " sahut Ferli sambil bersandar di lengan Feri.


Beeett!!


Tiba tiba lampu mati. Tentu semua orang panik dan menjerit.


"Yah! Kenapa nih!" Teriak Nadia panik dengan suara yang paling kencang.


"Biar kuliat meteran di depan," kata Acong lalu mengambil ponselnya dan menyalakan senter.


Acong keluar teras bersama Lukman juga. "Wah, mati listrik nih!!!" teriak Acong di luar.


"Waduh! Gak asik banget sih! di tempat gini pakai mati listrik segala!" rengek Nindi.


"Iya, ada apaan sih? PLN ngapain coba matiin listrik di sini? Desa lain aja napa!!" Yola pun ikut berkomentar.


Yah, semua pasti kesal jika berada di posisi seperti ini. Apalagi saat malam malam begini, malah listrik mati. Apalagi tempatnya horor.


Untung Wicak mempunyai lilin, dan kini suasana menjadi temaram hanya diterangi oleh lilin saja.


"Hp ntar aja dipake nya kalo lilin mati. Buat jaga jaga, " saran Wicak. "Takutnya hal ini berlanjut sampai tengah malam bahkan pagi."


Suasana menjadi lebih hening.


"Mending tidur aja yuk," saranku ke mereka.


"Iya tuh. Bener banget." Faizal setuju.


Akhirnya beberapa dari kami mulai beranjak dengan berbekal sinar ponsel dan masuk ke kamar masing masing.


'Dugg dugg dugg'


Rasanya ada yg mengetuk jendela kamar ku. Padahal baru saja kami masuk kamar. Ferli yg menyadarinya juga seketika berlari ke ranjangku.


"Siapa tuh, Nis?" Tanyanya sambil berbisik, namun wajahnya sudah pucat karena takut.


"Mmm.. Aku liat dulu coba. Mungkin hewan kali," kataku mencoba menghibur diriku sendiri.


Perlahan aku mulai mendekati jendela, dan mengintip sedikit dibalik korden.


Namun apa yg kulihat di luar membuatku lemas.


Sekalipun listrik sedang mati, namun sinar bulan tetap membuat apa yg ada di luar jelas terlihat. Apa lagi dengan kostumnya yang putih kusam.


Aku langsung menutup korden lalu menarik tangan Ferli keluar kamar.


Kalau yg ini mah aku takut banget sumpah. Katanya kalau diludahin 'dia' baunya bakalan susah ilang.


Dan bisa juga mengakibatkan korengan yang susah sembuh.


Bahaya banget kan?


"Nis, kamu lihat apa sih?" Ferli terus ngoceh dengan pertanyaan sama karena aku tidak kunjung menjawabnya dan hanya menyeretnya keluar kamar.


Di ruang tamu masih ada Wicak, Acong dan Feri.


"Kenapa sih ini? Pake gandengan kayak truk aja!" Feri menyeletuk dengan tatapan heran melihat kami keluar kamar buru buru.


"Tau nih Nisa. Habis liat apaan tadi!" Ferli lalu duduk di samping Feri.


"Kamu kok belom tidur sih, Yang?''tanya Feri ke Ferli.


"Tadi di kamar ada yg ketuk ketuk, terus Nisa liat ke jendela. Eh malah aku ditarik keluar," kata Ferli agak sebal karena aku tak kunjung menjawabnya.


Dia ini kepo nya minta ampun pokoknya. Tapi penakutnya luar biasa.


"Kamu liat apa, Nis?"tanya Wicak.


"Pocong," jawabku dengan malas malasan.


Aku duduk di kursi sebelah Wicak. Ferli makin mepet ke Feri. Feri yang dapat kesempatan itu langsung meluk Ferli yg ketakutan


"Duh, kenapa sih kudu di kamar kita ya, Nis?" tanyanya.


"Mana ku tau," Sahutku sambil aku tengak tengok memperhatikan luar rumah.


"Cak!! Korden kenapa gak ditutup sih?" aku makin paranoid nih.

__ADS_1


"Mmm.. Tadinya biar cahaya bulan bisa masuk ke dalam. Jadi rada terang, " katanya.


"Tutup ah. Tar ada yg ngintipin kita gimana coba?"


"Iya, Nis. Oke." ucap Wicak lalu berdiri dan menutup korden.


Namun saat akan menutup korden, dia berhenti sebentar dan seperti fokus melihat keluar jendela.


"Shiiittt!!" pekik nya lalu dengan cepat menutup korden dan kembali duduk.


Wajahnya pucat.


"Kenapa?" tanyaku pura pura tidak tau.


"Pake nanya lagi. Ya itu pocong sekarang di depan lah," katanya.


"Ih, gimana donk, Yang. Masa tiap hari kita mesti gini sih. Perasaan masalah pak Slamet udah kelar. Ini apa lagi coba? " Ferli makin heboh.


Aku jadi pusing kalau denger dia ngoceh di saat kaya gini. Kutekan kepalaku dengan kedua tanganku sambil menunduk.


"Fer, berisik tau. Tuh nisa pusing, " kata Acong sok perhatian.


"Ih suka suka kali. Lagian Nisa gak kenapa napa kok. Ya kan Nis?" tanyanya padaku.


Tiba tiba...


"Aaaaaaaaahhhhhhh"


Ada orang memekik dengan suara melengking. Sepertinya ini suara Nindi dan Indah.


"Tolonggggg!!!! Bukaaaaaa!!"


Kami yang ada di ruang tamu lalu saling pandang serius dan bergegas menuju kamar mereka.


"Nin, Ndah. Kenapa?!!" tanyaku teriak.


"Nis!!! Tolongin !!! Ada setan!!!"kata Nindi sambil menangis.


"Duh, malah ke kamar mereka tuh. Mana di kunci lagi! " Feri bingung.


"Dobrak aja cak!!" pintaku.


Wicak mengangguk lalu bersama Acong dan Feri mereka mendobrak kamar Indah.


Braaak!!


"Udah gak papa. Aku ambilin minum ya, " kataku.


Mereka hanya diam dengan sisa sisa air mata yg ada di mata.


Ferli lalu mengajak mereka ke ruang tamu.


Kubuatkan mereka semua teh hangat, agar lebih tenang.


"Nih, diminum dulu. Mumpung masih anget," kataku.


Satu persatu mengambil cangkir yg kubawa tadi.


"Kalian liat apa tadi?" tanya Acong setelah menyesap teh yg ada di tangannya.


"Kita liat pocong. Dia bahkan masuk ke kamar. Ya ampun serem banget. Sumpah!!" Kata Indah semangat banget ceritanya.


"Itu pocong dateng dari mana ya?perasaan kemaren kemaren gak ada deh, " ucap Feri sambil mikir.


"lihat sendiri kan sekeliling kita.pohon di mana mana. Banyak pohon pisang pula. Ya wajar aja dia nongol," kataku.


"Iya juga ya.. Huft. " kudengar Feri mendengus sebal.


"Terus gimana nih? Kita tidur di mana dong?"rengek nindi.


"Ya di kamar kalian lah. Apa mau pindah kamar belakang tuh. Masih kosong 2," Kata Acong memberi pilihan.


"Ogah!" kata mereka bersamaan.


Karena malam makin larut, dan keadaan sepertinya aman. Kami memutuskan untuk kembali ke kamar untuk istirahat.


Kurebahkan diriku di atas ranjang yg selama 2 minggu ini selalu bersamaku.


Sedikit keras dari milikku di rumah, namun inilah satu satu nya yg bisa kupakai.


Aku pun tertidur.


\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


"Haaaaahhhh!!! Apaan tuh!!"teriakku bangun dari tidur langsung duduk di ranjang.


Kurasakan dibalik selimut, seperti ada yg menarik kaki ku.


Kusingkap selimutku, namun tidak kutemui apapun. Karena takut kubuang jauh jauh selimut itu.


Biar lah, aku tidur tanpa selimut.


Sebelum tidur, kusempatkan berdoa. Namun doanya aku panjangin lagi. Bukan cuma doa mau tidur. Aku tambahkan surat al fatihah, ayat kursi, surat an nas, surat al falaq ,dan al ikhlas. Tak lupa dua ayat terakhir surat al baqarah.


Dan kali ini tidak ada gangguan lagi sampai aku terbangun di pagi hari.


Kuraih handuk ku lalu berjalan gontai ke kamar mandi.


Rasanya aku pusing, karena kurang tidur semalam. Setelah mandi, aku ambil sarapan sekalian, dan duduk di ruang tamu bersama yg lain.


Lalu dari arah luar, ada seseorang yg datang, seperti kurir, dan membawa sebuket bunga dan berjalan ke posko.


"Buat siapa ya? Seneng banget dapet bunga?" celetuk Indah.


Feri yg ada di teras, bicara sebentar dengan kurir itu lalu melihat ke dalam.


"Nis... nisaaaa!!"panggil Feri.


Aku??


"Cie dapet bunga. Indra romantis banget sih," ledek Nindi.


Aku segera berjalan keluar. Setelah menandatangani bukti terima, ku amati bunga ini dan kucium sekali.


bunga mawar merah?


Namun tumben Indra memberiku mawar merah, biasanya dia memberi mawar putih. Karena dia tau kalau aku suka mawar putih. Senyum mengembang di bibirku.


Indra benar benar romantis, jauh jauh mengirimiku bunga.


"Eh nis.. Ada kertas ucapannya tuh," kata Feri.


Ah iya, ada kertas ucapannya yg agak masuk diantara tangkai bunga.


Ku baca isi nya, dan isinya cukup membuat ku melotot kaget.


  


   I miss you so much..


             Burhan


Deggg!!!


Langsung ku lempar bunga itu. Aku panik, takut dan bingung.


Bagaimana bisa Burhan tau aku di sini?jadi dia benar benar kuliah di kampus yg sama denganku?


"Lho, Nis!! Kok dibuang??" tanya Feri dengan dahi berkerut.


Aku tidak menghiraukan pertanyaan nya, lalu masuk ke dalam rumah.


Aku langsung menuju kamar Wicak.


"Cak. Wicaaaakkk!!!" panggilku


Pintu dibuka dan Wicak muncul dengan ekspresi bingung.


"Kenapa?"tanyanya.


Kulirik ke kamar nya, ada Acong. Jadi kutarik dia keluar menuju dapur yg sepertinya sepi.


"Apa sih nis?" tanyanya bingung.


"Ini.."ku berikan kertas tadi.


Wicak membacanya dengan dahi berkerut.


"Kamu dapet dari mana?"


"Tadi ada kurir kirim bunga, dan itu dari Burhan, " kataku cemas sambil berjalan mondar mandir, kujambak rambutku sendiri karena frustasi.


Wicak seperti berfikir keras.


"Berarti bener ya kalo Burhan kuliah bareng kita. Tapi gak ada jejak nya Nis!!" kata Wicak serius.


Aku mendengus sebal.

__ADS_1


"Ya udah cak. Viar aja lah. Kalau dia mau nemuin aku, silahkan aja. Aku gak takut lagi," kataku yakin.


"Tenang aja, Nis. ku bakal bantuin kamu," kata Wicak.


__ADS_2