Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
Part 4 Anak ayam di tengah malam


__ADS_3

"Wah, heran deh! Di mana-mana kok selalu ada hal aneh sih. Seolah 'mereka' itu mengikuti kita terus. Iya nggak sih, Tha?!" tanya Danu mondar mandir di kamarnya, sementara aku hanya duduk di kursi depan jendela dan menatap lurus ke depan. Rumah Pak Yodhi.


"Tha! Kok diem aja sih!" Dia mulai merajuk karena tidak mendapat respon dariku.


"Terus aku harus gimana, Danu? Hal seperti ini 'kan memang nggak bisa kita prediksi. Yah, kebetulan aja pas kita di sini, eh ketemu lagi sama rumah misteri, dan ... Sebelahan juga."


"Asli deh, Tha. Kalau tau gini, gue mending terima tawaran Dion kemarin, kerja di perusahaan dia!"


"Hust! Nggak boleh gitu. Kita di sini kan niatnya bukan kerja, tapi membantu warga. Anak-anak yang kurang pendidikannya. Kamu denger sendiri 'kan, Om Feri bilang kalau tenaga pengajar di sini nggak ada. Jarang banget ada orang yang mau jauh-jauh datang ke sini. Udah lah, Dan. Niatkan buat ibadah juga, ya."


"..."


"Lagian kita itu udah berapa kali sih, Dan, ngalamin atau ketemu hal-hal aneh? Bukan sekali dua kali loh."


"Ya nggak bisa dianggap kebiasaan juga kali, Aretha! Huh." Danu terlihat sangat frustrasi, bahkan uring-uringan. Tapi aku terus membujuknya untuk tidak terlalu memikirkan hal ini. "Asal kita nggak masuk ke rumah itu, aman. Itu kata Pak Karjo, kan?"

__ADS_1


"Iya, Tha. Tapi berapa kali kita selalu melanggar untuk berkunjung ke tempat terlarang? Inget pas KKN dulu?" tanyanya membuat ingatan kami kembali ke belakang. kejadian itu memang tidak akan mudah dilupakan. tapi aku juga tidak mungkin ikut terbawa arus dan menyetujui pendapat serta kecemasan Danu.


"Hm, iya. Ya udah. Mendingan kita siapin materi buat besok. Anak-anak pasti udah nunggu kita," sahutku berusaha menghindari diskusi ini. Sungguh lucu, saat awalnya Danu yang antusias, kini malah dia tidak bersemangat, dan aku yang awalnya ragu justru malah menjadi yakin.


Malam semakin larut, udara semakin dingin. Aku masih berkutat dengan materi-materi untuk pembelajaran anak-anak esok hari. Menurut penjelasan Pak Kades, di desa ini menyediakan dua buah ruang kelas. Di mana anak-anak akan di bagi menjadi dua kelompok, usia 5-12 tahun dan 12-17 tahun. Jadi aku dan Danu akan bertugas di dua kelas tersebut.


Rasa kantuk mulai melanda. Berkali-kali aku menguap sambil berusaha tetap terjaga. Akhirnya aku menyerah dan ingin segera tidur saja sekarang. Agar esok bangun dengan segar dan siap menjalani hari pertama mengajar di desa ini.


Aku sempatkan melirik ke ponsel yang sengaja kuletakkan di atas meja. Berharap layarnya menunjukan sebuah notifikasi pesan atau panggilan masuk. Namun ternyata sinyal tetap saja tanda x, dan itu menunjukkan kalau benda ini tidak bisa kugunakan di sini.


Bunyi anak ayam terdengar bercicitan di luar. Aku lantas menoleh ke arah jendela, sebagai satu satunya akses ke luar paling dekat. Rasanya aneh jika ada anak ayam yang berkeliaran di malam malam begini. Apalagi ini sudah hampir tengah malam. Ayam siapa, ya? Apa Bu Heni memelihara ayam dan lepas dari kandang?


Aku berusaha mengacuhkan hal tersebut. Merebahkan tubuh yang sudah lelah dan mengantuk, berharap dapat cepat tidur dan bangun saat subuh nanti.


Lampu kumatikan. Tetapi suasana kamar tidak terlalu gelap, karena sinar bulan dan lampu di samping rumah menyala setiap malam. Rupanya Pak Karjo sengaja membuat rumah dan sekitarnya terang. Karena begitulah yang kulihat di sekitar rumah ini.

__ADS_1


Aku memejamkan mata. Berusaha memasuki alam mimpi yang sejak tadi sudah menggapai rasa kantuk yang teramat sangat. Namun entah mengapa saat malam begini adalah saat di mana aku akan mengalami banyak pikiran. Tentang semua peristiwa hari ini, mau pun semua hal yang sudah kualami. Sekarang aku justru mengingat perkataan Bu Heni saat azan maghrib berkumandang sore tadi.


"Mba ... Jangan keluar rumah kalau sandekala! Nggak baik." Saat itu memang aku harus ke warung terdekat karena keperluan membeli pembalut. Ini hari pertama aku haid dan sedang banyak-banyak nya. Tentu aku harus mempersiapkan stok pembalut. "Besok saja belinya. Ibu ada kok."


Sandekala atau senja kala adalah waktu pergantian siang ke malam atau Magrib. ... Biasanya, itu adalah saat makhluk halus berkeliaran. Tak hanya itu, Bu Heni kulihat sibuk menabur garam kasar di sekitar rumah. Terutama area bawah pintu dan jendela di bagian luar.


Apakah di desa ini masih kental dengan budaya dan kebiasaan yang turun temurun dilakukan? Aku hanya memperhatikan semua kebiasaan yang dilakukan Bu Heni dan mencoba memahaminya.


Anak ayam di luar sungguh berisik. Mungkin salah satu alasan aku tidak bisa tidur sekarang karena suara anak ayam di luar. Padahal aku sudah sangat mengantuk sekarang. Aku putuskan beranjak dan melihat ke luar. Jendela kubuka, pemandangan malam terlihat menyeramkan saat jendela ini terbuka. Apalagi berbatasan langsung dengan rumah yang konon bekas pembantaian satu keluarga. Aku berusaha mengabaikan, dan mencari di mana anak ayam yang sejak tadi mengganggu tidurku. Bagian bawah jendela sudah berkali kali ku periksa. Tapi anehnya hewan berbulu mini tersebut tidak kunjung kutemukan.


"Perasaan suaranya deket. Kirain di depan kamar kok tadi," gumamku berbicara sendiri.


Suara itu masih ada, tapi keberadaan anak ayam itu belum juga terlihat di kedua bola mataku. Aku bahkan sampai memincingkan mata dan menyapu pandangan ke segala tempat. Hingga akhirnya aku berakhir ke rumah kosong di depanku. Sesuatu terlihat berkibar di atas pohon sana. Sesuatu yang tidak biasa, dan membuat jantungku seolah berhenti berdetak. "Kunti bukan, ya?" tanyaku pada diriku sendiri. Aku terus menatap sosok di depan. Memang hanya terlihat sekelebat kain yang berkibar tertiup angin. Tapi anehnya kenapa berada di atas pohon. Dahan pohon yang paling besar. "Ah, iya! Itu mah kunti!" aku lantas segera menutup jendela dan menguncinya. Naik ke atas ranjang dan menarik selimut lalu menempel ke tembok sambil waspada.


"Tunggu! Anak ayam? Malam-malam? Oh, bodohnya, Aretha!" kataku memukul kepalaku sendiri.

__ADS_1


Aku baru ingat, kalau suara kuntilanak tidak selalu melengking dengan tawa khas. Karena mereka memiliki kamuflase lain dalam mengecoh manusia. Salah satunya dengan suara anak ayam.


__ADS_2