Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
34 kembali ke dusun Kalimati


__ADS_3

"Kamu sudah makan, Li?" tanya Aretha.


Gadis kecil itu sejak tadi hanya diam saja. Dia tampak cemas dan putus asa karena memikirkan ibunya. Ia hanya menggeleng pelan tanpa berniat terlibat obrolan yang lebih jauh.


"Liya, mau tidur? Ayo, sama Kak Aretha," ajak Aretha lagi.


"Enggak, Kak. Liya mau sama Ibu." Gadis kecil itu justru terisak. Dia menutup wajahnya untuk menyembunyikan kesedihannya itu.


Aretha yang iba lantas memeluknya. Hendra dan Radit yang melihat adegan itu hanya bisa menarik nafas panjang.


"Liya ... Liya ... Kamu di mana, Nak? Ini Ibu," kata sebuah suara.


Liya yang awalnya masih berada di pelukan Aretha lantas menoleh ke sekitar. Tatapan matanya berubah drastis. Yang awalnya dia sedih, kini menjadi senang.


"Itu ibu!" pekik Liya bersemangat. "Ibu! Ibu!" Liya malah bangkit dan berjalan ke sekitar. Dia berusaha mencari sumber suara yang ia yakini adalah ibunya.


"Liya? Liya! Jangan pergi, Nak! Sini aja!" jerit Aretha.


Aretha menyusul Liya, begitu juga Radit dan Hendra. Rupanya dia pergi ke pintu depan. Dengan sigap, Radit menarik tangan anak kecil itu karena sudah siap memegang gagang pintu hendak membukanya.


"Lepasin, Om! Lepas! Itu Ibu! Liya mau sama Ibu!" jerit Liya terus meronta berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Radit.


"Liya, jangan! Itu bukan Ibu kamu!" kata Radit masih memegangi tangan Liya.


"Itu Ibu, Om! Itu Ibu! Liya mau sama Ibu!" Anak itu terus berteriak. Apalagi saat suara wanita di luar terus menggodanya sehingga membuat tangisan Liya semakin menjadi.


Aretha lantas mendekat ke pintu. Ia menempelkan telinga di belakang pintu untuk mendengar suara yang ada di luar. Dia memang mendengar suara seseorang. Tapi Aretha tidak berani membukanya.


"Ibu! Ibu!" Liya masih menjerit, lalu tiba tiba pegangan Radit terlepas. Tapi anehnya anak itu justru berlari ke dalam.


"Lah, ke mana itu bocah?" tanya Hendra. Ia langsung menyusul Liya diikuti Radit dan Aretha juga.


Naasnya, Liya ternyata membuka pintu belakang yang berada di dapur. Mereka bertiga terlambat, karena kini sosok di luar sudah tampak jelas di hadapan mereka. Ia terbang melayang sambil menarik tangan Liya hingga gadis itu kini berada di pelukannya.


"Liya!" jerit Aretha.


Dia berlari keluar, hendak meraih Liya. Namun Jin tersebut sudah terlanjur membawanya pergi. Aretha tidak berhenti sampai di situ, dia terus keluar rumah dan berusaha mengejar sosok Ummu Sibyan. Radit dan Hendra juga mengikutinya keluar. Jin tersebut terbang sambil membawa Liya.


"Aretha! Aretha! Berhenti!" cegah Radit. Begitu Radit berhasil meraih tangan Aretha, Aretha justru berontak.


"Lepas, Dit! Kita harus menolong Liya!" kata Aretha yang melepaskan tangan Radit dan kembali mengejar Ummu Sibyan.


"Tapi, Sayang!" Belum selesai dia mengatakan tujuannya, Aretha sudah kembali berlari.


"Ayo, Dit! Kejar!" ajak Hendra yang sudah berlari lebih dulu mengejar Aretha.


Alhasil Radit mengikuti mereka mengejar jin tadi. Sayangnya suasana di sekitar tampak sangat sepi. Padahal Hendra sejak tadi terus berteriak, memanggil Aretha, dan juga sosok Ummu Sibyan yang masih dapat terlihat oleh mereka. Warga desa tampaknya tidak mendengar mereka, atau justru bertingkah pengecut dengan tidak memedulikan apa yang terjadi di luar.


Malam sebenarnya terasa dingin, tapi tidak bagi mereka bertiga yang kini mulai masuk ke kebun kebun warga. Dan sayangnya Ummu Sibyan sudah tidak lagi terlihat. Aretha berhenti, begitu pun dengan Hendra dan Radit.


"Lah, hilang! Ke mana dia, Tha?" tanya Hendra.


"Nggak tahu, Hen. Tadi masih ada, tapi tiba tiba kok nggak kelihatan setelah ada pohon pohon di sini. Apa jangan jangan dia sembunyi di salah satu pohon, ya?"


"Yah, bisa aja sih. Sebaiknya kita coba cek satu satu deh. Mungkin dia masih ada di sekitar sini!" kata Hendra.


"Sayang, kamu jangan jauh jauh dari aku!" tukas Radit sambil memegangi tangan Aretha.


Mereka mulai bergerak mencari sosok Ummu Sibyan yang bersembunyi di sekitar. Suasana tempat ini berbeda dengan pemukiman penduduk sebelumnya. Di sini hanya ada kebun kebun palawija dan hutan hutan yang ada di sekitar. Sudah tidak ada lagi rumah penduduk, karena mereka sudah sampai di batas desa.


"Dit, ini kan tempat yang kita datangi pas joging, ya? Bener ini, kan?" tanya Aretha masih memperhatikan sekitar.


"Hem, iya. Ini sepertinya batas desa. Batu yang itu mana, ya?" tanya Radit lalu mengambil ponselnya dan menyalakan lampu flash.


"Batu apa, Dit?" tanya Aretha.


"Batu batas desa. Kamu ingat, kan, kita lihat Batu itu waktu datang ke sini."


"Batu batas desa? Emangnya kenapa lo cari itu batu?" tanya Hendra.

__ADS_1


"Ada tulisan di batu itu. Tulisan nama daerah yang ada di sebelah."


"Jadi maksud kamu kita ada di wilayah Dusun Kalimati?" tanya Aretha.


"Iya, Tha!" ucap Radit menatap istrinya dengan wajah tegang.


"Kenapa emangnya? Ada masalah?" tanya Hendra.


"Gue pernah cerita soal Aretha tinggal di desa orang mati?" tanya Radit.


"Oh yang itu, iya pernah. Eh, jadi maksud nya... Desa ini adalah desa yang lo ceritain waktu itu, Dit?"


"Iya."


"Yang manusianya udah mati semua tinggal satu nenek nenek doang?"


"Iya."


"Astaga! Yang bener aja!" pekik Hendra.


"Terus gimana? Kita lanjutin aja atau gimana? Aku rasa, Liya disembunyikan di desa itu, Dit. Apalagi sejarah tentang Dusun Kalimati kan, kita udah tahu banget. Bisa aja warga yang selama ini di sandera sengaja disembunyikan di sana. Apalagi tiap dicari, warga bahkan nggak pernah bisa menemukannya."


"Masuk akal sih. Kayaknya emang Liya dibawa ke desa itu. Cuma... Apa kita bener bener harus ke sana juga? Itu desa mati, kan?"


Radit menatap Aretha. Mereka bertiga diam beberapa saat. Sampai akhirnya Radit pun memutuskan. "Ya udah. Kita masuk aja ke desa itu. Mumpung Liya belum lama dibawa oleh makhluk itu. Setidaknya dia bisa kita selamatkan!" ucap Radit.


"Iya, ayo kita masuk ke sana. Lagian udah tanggung. Kita udah sampai di sini masa mau balik lagi?" tanya Aretha.


Radit dan Aretha lantas melanjutkan langkah memasuki batas desa Alas Purwo dan Kalimati. Walau ingatan mengenai kenangan mengerikan itu masih tergambar jelas, tetapi tidak menyurutkan niat mereka memasuki tempat itu lagi. Apalagi mereka memiliki tujuan yang jelas. Menyangkut nyawa seseorang yang harus diselamatkan.


"Duh, gimana nih? Kalau gue balik sendirian... Takut juga. Kalau lanjut... Ada setan itu! Ah, ya udah deh! Seenggaknya ada Radit sama Aretha! Hei, tunggu! Jangan cepet cepet jalannya!" jerit Hendra.


***


Begitu memasuki tempat itu, mereka langsung sampai di jalan yang pernah mereka lewati sebelumnya.


"Kalau ada lampu justru mencurigakan!" sahut Radit.


"Eum, iya juga, ya."


"Kita ke mana nih?" tanya Aretha sambil tengak tengok sekitar. Namun fokus nya justru menatap sebuah rumah yang tidak asing sama sekali. Rumah Nek Siti.


"Yang jelas, gue nggak mau berpencar di sini, " tandas Hendra.


"Aretha, kenapa?" Tanya Radit yang menyadari kalau istrinya yang sejak masuk desa ini lebih banyak diam.


"Itu, aku jadi ingat sama Nek Siti," sahut Areta sambil menunjuk ke bangunan tua yang tak jauh di dekat mereka.


Sebagian besar bangunan di sini sudah roboh. Hanya menyisakan beberapa bangunan saja yang masih berdiri walau sebenarnya juga tidak aman untuk dihuni.


"Bukannya kata kalian tempat ini bakalan dijadikan tempat wisata? Kok nggak ada tanda-tanda pembangunan wisata seperti itu ya?" tanya Hendra.


"Kalau menurut salah satu warga di desa Alas Purwo pembangunan objek wisata di sini terhenti karena beberapa hal. Makanya kondisinya belum sepenuhnya berubah. Masih banyak tempat yang belum di robohkan," jelas Radit.


"Oh pantes. Hem, padahal udah bagus kalau dijadikan tempat wisata. Biar gak jadi sarang setan," sahut Hendra.


"Heh! Jangan sembarangan kalau ngomong di sini!" timpal Radit.


"Eh, iya! Lupa," ucap Hendra sambil menutup mulutnya dengan tangan.


"Tapi di sini sepi banget," kata Aretha.


"Iya kalau ramai mah pasar malam kali, Tha," sahut Hendra.


"Apa kita coba periksa di rumah rumah sekitar yang masih utuh, ya? Siapa tahu ada di salah satu bangunan itu?" tanya Radit.


"Iya, ide yang bagus. Ayo," ajak Aretha.


Mereka lantas berjalan menuju ke sebuah bangunan yang paling dekat. Dari sejauh mata memandang, hanya ada sekitar 5 rumah yang masih berdiri lengkap, dan 3 rumah yang sudah setengah roboh.

__ADS_1


"Emang bener kata orang orang, kalau alat beratnya aja sampai ditinggal di sini," tutur Radit.


"Kenapa ditinggal, Dit?" tanya Hendra.


"Enggak tahu juga sih. Cuma emang tempat ini mangkrak, dan pihak pengelola pergi gitu aja. Gue juga heran, kalau pun mau stop ya harusnya kan alat berat nya di bawa. Bahan material aja masih banyak di sini," cetus Radit.


"Jangan jangan diganggu sama penunggu sini kali. Makanya mereka nggak berani buat ambil alat berat yang tertinggal."


"Hem, entahlah."


Aretha melongok ke jendela yang tidak memiliki korden lagi. Karena tempat tersebut tidak memiliki penerangan sama sekali, alhasil mereka pun mulai menyalakan lampu flash di ponsel masing masing.


Saat menyorot ke dalam, hanya ada ruangan kotor penuh debu. Tidak ada tanda tanda kehidupan sejauh ini. Aretha lantas memegang gagang pintu.


"Mau ngapain?" tanya Radit yang langsung menahan tangan Aretha.


"Mau cek ke dalam," sahut Aretha.


"Tapi...."


"Kalau cuma lihat dari luar, kita nggak bisa tahu kalau ternyata Ummu Sibyan sembunyi di dalam sini, kan?"


"Hem, iya sih."


Akhirnya Radit melepaskan tangan Aretha dan membiarkannya masuk ke dalam. Namun, Radit tetap mengekor di belakang Aretha, dan Hendra terus membuntuti Radit.


Begitu masuk mereka langsung berjalan ke dalam, menuju ke ruangan berikutnya. Karena ruang tamu masih terpantau aman. Hanya ada dua kamar di rumah tersebut yang tidak memiliki apa pun lagi di dalamnya. Perabotan di rumah itu sudah lenyap. Hanya menyisakan bangunan yang siap roboh kapan saja.


Tiba tiba mereka mendengar jeritan di luar. Ketiganya sontak saling pandang dan bergegas lari keluar. Saat sampai di teras, mereka melihat sebuah kaki seorang gadis kecil yang di seret masuk ke rumah yang ada di samping.


Alhasil mereka bertiga pun segera berlari ke rumah tersebut. Tapi saat hendak masuk ke dalam, Aretha berhenti sejenak. Dia memperhatikan rumah itu dari depan. Tapi Hendra langsung masuk dan memanggilnya untuk turut serta.


Aretha menyusul Hendra dan Radit yang susah masuk lebih dulu. Namun langkahnya pelan saat memasuki rumah tersebut. Dia langsung teringat Danu. Karena di tempat itu, dia dan Danu pertama kali berada. Yah, rumah Nek Siti.


Radit dan Hendra mulai memeriksa semua tempat. Aretha pun melakukan hal yang sama. Dia membuka pintu kamar pertama, di mana dia pernah tidur di sana dalam waktu yang cukup lama. Kenangan itu masih sangat membekas di dalam hatinya. Lalu Aretha pindah ke kamar selanjutnya, di mana Danu menempatinya dulu. Aretha jadi rindu dengan manusia satu itu. Sayangnya dia tidak berada di sini bersamanya.


Ia kembali melangkah dan sampai di kamar Nek Siti. Perabotan di rumah ini masih utuh. Tidak seperti rumah sebelumnya. Dia pun membuka pintu kamar tersebut. Derit pintu terdengar nyaring. Namun, betapa terkejutnya Aretha saat mendapati ada sosok jin Ummu Sibyan di sana. Makhluk itu sedang duduk di pinggir ranjang sambil menatap jendela yang terbuka di luar. Saat Aretha berdiri di depan pintu, sosok itu menoleh dengan gerakan pelan. Dia menyeringai, lalu dalam sekejap melompat menabrak tubuh Aretha.


"Arrg!" jerit Aretha sambil menutup wajahnya. Tubuhnya tiba tiba terasa dingin. Seperti ada angin kencang yang menerpa tubuh serta wajahnya.


Saat Aretha membuka mata, tiba tiba suasana di sekitarnya berubah. Tempat yang awalnya gelap gulita kini berubah terang. Dia tengak tengok sekitar sambil berteriak memanggil nama Radit.


"Aretha? Aretha!" sahut Radit lalu muncul dari belakang bersama Hendra. "Kamu nggak apa apa, kan?" tanya Radit sambil memeriksa tubuh Aretha. Hendra yang berada di belakang Radit ngos ngosan seperti habis berlari jauh.


"Nggak apa apa. Tapi ini... Kenapa ini?" tanya Aretha sambil menatap sekitar.


"Iya, aku sama Hendra juga bingung. Tiba tiba semua terang. Makanya kami langsung keluar cari kamu!" tukas Radit.


"Tapi ini kenapa, Tha? Kok jadi gini. Padahal tadi masih malam, kan?" tanya Hendra kebingungan.


"Aku juga nggak tahu. Tapi tadi ada Ummu Sibyan di sini, di kamar ini," tunjuk Aretha.


"Yang bener? Terus ke mana dia? Kamu diapain?" tanya Radit cemas.


"Nggak tahu. Dia cuma duduk aja di sana. Tapi dia lihat aku. Karena takut aku tutup mata, dan pas aku buka mata ternyata udah gini. Aku juga bingung!" jelas Aretha.


"Apa ini cuma ilusi aja, ya?" tanya Hendra.


Pintu berderit. Tak lama seseorang menyapa dari arah depan. Suara seorang wanita yang tidak asing bagi Aretha. Dia yakin pernah mendengar suara tersebut walau sudah lama berlalu.


"Loh, Mbak Aretha? Sudah lama?" tanya Bu Heni lalu meletakkan belanjaannya di meja makan.


Aretha melotot dan bahkan mundur perlahan saat melihat sosok wanita tersebut nyata di depannya. Radit yang berada di belakangnya lantas menarik tangan Aretha dan menyembunyikan istri nya di belakang tubuh.


"Oh, sama Mas Radit juga, ya? Eh, ada teman satu lagi? Wah, suatu kehormatan. Kami kedatangan tamu. Pak Karjo di mana? Sudah ketemu?" tanya Bu Heni lalu berjalan masuk ke dalam sambil memanggil nama suaminya itu.


Radit menatap Aretha begitu pun sebaliknya. "Ini apa sih, Dit? Kenapa mereka muncul lagi?" tanya Aretha.


"Kenapa sih? Mereka siapa? Itu siapa tadi?" tanya Hendra.

__ADS_1


__ADS_2