
Pagi pagi sekali kami sudah siap untuk pulang. Pukul 06.00 kami sudah berkemas dan segera berjalan menuju balai desa. karena di sana kami akan dijemput oleh pihak kampus.
Kuhirup dalam dalam udara di desa ini,baunya khas pedesaan.
Pasti aku akan merindukan suasana seperti ini nanti.
Karena di kota tidak akan kami dapat kan hal seperti ini lagi.
Dalam perjalanan, sesekali kami menyapa warga yg kami lewati dan sekaligus berpamitan .
Mereka banyak yg menyayangkan kami cepat sekali kembali pulang. Bahkan ada yg membawakan pisang, ubi ubian, dan segala macam makanan sebagai oleh oleh dari mereka.
Sesampainya kami di balai desa, kami juga berpamitan dengan pak kades dan semua staf di sana.
Kami juga banyak mengucapkan terima kasih, jarena selama kami kkn di sini mereka banyak membantu kami.
Jemputan kami sudah datang.
Kali ini kami dijemput naik bus yg agak besar sekaligus ber ac.
Tumben nih. kata pak kades itu sebagai ucapan dari pak kades dan pihak kampus, karena selama sebulan ini kami banyak sekali membawa perubahan di desa ini.
Setelah berpamitan, kami segera masuk ke dalam bus.
Setelah bus berjalan, kami semua menoleh ke arah desa itu. Terlihat raut wajah teman temanku, mereka sepertinya sedih dan haru karena meninggalkan desa itu.
Setelah desa sudah tidak terlihat lagi, kami lalu duduk di kursi masing masing.
Karena bus lenggang, kami duduk sendiri sendiri dengan posisi di samping jendela.
Kami terdiam. sambil menatap keluar.
Deggg!!
Aku melihat anak kecil yg selalu kulihat di desa itu, anak pak Sentot.
Dia berdiri di pinggir jalan sambil memeluk boneka yg kemarin dan melambaikan tangan pada kami.
"Gaesssss.. Itu anak kayanya gue kenal deh," celetuk Feri.
"Iya, itu kaya anak kecil yg ada di desa itu ya,"sahut Faizal.
"Ngapain ya dia?" Tanya Lukman.
"Ngucapin selamat tinggal kali.."ujar Indah
Jadi semuanya melihat anak itu?
Bukan hanya aku saja.
Selamat jalan dek... Semoga kamu bahagia di sana..
Kuambil ponselku dan kunyalakan.
Beberapa pesan masuk ke ponselku. Dari papah, kak Adam, kak Yusuf dan Indra.
Mereka hampir menanyakan hal yg sama.
Kubalas satu persatu pesan mereka.
Setelah itu, ku ambil headset ku dan kunyalakan musik favoritku.
Kupejamkan mata sambil bersedekap.
Kucoba untuk tidur, karena perjalanan yg lumayan lama.
\=\=\=\=\=\=\=
"Nis..!! Bangun.."seseorang menggoyang goyangkan tubuhku.
Kupaksakan mataku untuk terbuka.
Dan ternyata kami sudah sampai di kampus.
"Udah nyampe, Fer? " tanyaku ke Ferli yg ternyata duduk di sampingku.
"Iyalah. Mau turun gak?? tuh babang mu udah nungguin di depan.."kata Ferli sambil menunjuk keluar.
Kutoleh ke sampingku, dan benar saja. Indra sedang berdiri di samping mobilnya dengan tangan yg dimasukan ke saku celana.
Dia memakai kaus polo berwarna putih dengan kaca mata hitam bertengger di hidungnya yg mancung. Dia tersenyum melihatku.
Aku pun segera turun dari bus mengikuti Ferli. Kuambil koper yg kusimpan di bagasi belakang bus.
Indra berlari kecil menghampiriku.
"Haiii.." sapanya sambil senyum lalu segera meraih koperku.
"Haii, udah lama ta?"tanyaku basa basi.
"Mmm. Lumayan sejam lah nis.."jawabnya sambil menatap jam tangannya.
__ADS_1
Aku senyum.
Dia segera menggandeng tanganku menuju mobilnya.
Setelah koper ditaruh di bagasi belakang. Dia lalu membuka kan pintu penumpang untukku.
"Silahkan, Nona," katanya dengan senyum yg terus terukir di bibirnya.
Ku balas dengan senyum juga tanpa sepatah katapun keluar dari mulutku.
Lama nih gak duduk di sini. Semua masih sama. Gantungan mobil bergambar doraemon pemberianku pun masih ada di tempatnya.
Indra masuk dan duduk dibalik kemudi.
"Nona mau dianter ke mana?"tanyanya iseng.
Kucubit perutnya.
"Ke mana aja bang. Ke hatimu juga boleh bang," jawabku asal.
Dia malah tertawa.
"Kamu udah makan?"tanyanya.
"Belom .. Nanti aja.. Aku pengen pulang kos dulu ndra.. Capek. Pengen rebahan.."pintaku.
"Siiiap.. 86!!"jawabnya singkat.
Mobil meluncur ke kost ku yg lumayan jauh dari kampus.
Selama perjalanan Indra ngoceh ke sana ke mari. Aku pun dengan semangat menceritakan banyak hal selama beberapa hari kemarin kami di desa.
Tak terasa mobil Indra sudah masuk ke halaman kos ku.
Indra membantuku membawakan koperku ke kamar.
Sebenarnya aku bisa sendiri, namun dia terus memaksa, jadi apa boleh buat.
"Mampir dulu, Ndra??"tawarku.
"Mmm.. Nanti aja kali ya. Kamu istirahat dulu deh nis. Kayanya kamu capek banget.. Nanti aku balik lagi, sekalian bawain kamu makan,"katanya.
"Boleh deh." dia memang benar, aku memang lelah sekali.
Dan rasanya aku ingin tidur seharian ini. Bahkan aku melupakan rasa laparku. Karena mataku yg sudah berat melebihi berat badanku.
Aku lalu masuk dan menutup pintu kamar. Sengaja tidak ku kunci karena takutnya pas Indra dateng, aku belum bangun dan aku, nggak denger dia ketok ketok pintu.
Kuletakan koper di kamar begitu saja, dan segera aku meluncur ke ranjang kesayanganku ini.
Hmm... nyaman sekali.
Dalam hitungan detik, mataku sudah mulai bereaksi terhadap gravitasi kasur yg begitu kuat.
Kuraih guling yg biasanya kuletakan di atas kepalaku.
Namun...
Glekkk!!
Apa ini ya.. Ada sebuah benda berbulu halus, sepertinya boneka.
Tapi, perasaan semua boneka ku ,sudah ku tata rapi di bufet khusus boneka. Karena kapasitas bonekaku yg sudah overload
Akhirnya aku putuskan membeli bufet khusus untuk boneka boneka ku.
Lalu ini boneka yg mana? Aku tidak se-pikun itu karena lupa menaruhnya.
Seingatku, sebelum aku berangkat kkn, aku sudah merapikan kamarku dan sudah meletakan boneka ku di tempat nya.
Kubuka lebar mataku, dan kutoleh ke boneka yg kupegang tadi.
"Aaaaaaaaahhhhhhhh" aku teriak histeris.
Karena boneka milik anak itu kini ada di kamarku.
Karena panik dan takut, aku segera berlari keluar kamar, dan langsung keluar kos. Aku lari sambil teriak teriak.
Kebetulan teman teman kost ku tidak ada di kamar mereka.
Kebanyakan masih kkn juga, dan banyak yg mudik.
Sesampainya di halaman kost, aku menoleh ke kamarku yg terlihat dari bawah sini.
Boneka itu dan sosok anak pak sentot ada di sana. dia berdiri di dekat jendela.
Ku tutup mulutku dengan tangan kananku dan kutekan kepalaku dengan tangan kiriku.
Aku berjalan mundur, aku benar benar stres. Mau istirahat dengan tenang saja tidak bisa.
Bugg!!
__ADS_1
Ada seseorang berdiri di belakangku.
Siapa lagi ini. Please jangan 'mereka ' lagi.
Cukup sudah, aku capek. Sumpah beneran capek.
"Nis.." panggilnya.
Setelah aku menoleh, ternyata dia Indra.
"Lho ndra. Kok kamu masih di sini?" tanyaku heran.
"Iya, tadi aku habis nerima telfon dari mamah. Biasa lah, mamah kalo telfon kan lama banget. Kamu sendiri kenapa keluar??"
"Ii... itu... tadi... ada..."jawabku tergagap sambil menunjuk ke arah kamarku di atas.
"Ada apa nis??" Indra mulai cemas.
"Boneka yg aku ceritain, Ndra.. Tau tau ada di kamar,"jawabku.
Aku jongkok di depan Indra sambil menjambak rambutku sendiri.
Aku benar benar frustasi.
Indra mensejajariku.
"Ya udah, kita ke kost ku aja yuk."dia langsung menarik tanganku menuju mobilnya.
Aku pasrah saja.
Sepanjang perjalanan aku banyak diam. mungkin sesekali aku perlu pergi ke psikolog.
Sampai di kost indra. aku berjalan mengikutinya menuju kamarnya.
"Ya udah, kamu bobo dulu sana. aku di sini inih.. Kalo ada apa apa, aku di luar ya.." katanya sambil membelai kepalaku.
Tanpa disuruh dua kali aku langsung masuk kamar Indra tanpa menutup pintu.
Lalu segera tenggelam dalam selimutnya.
Bau parfum indra menempel di bantal, guling dan kasurnya.
Hmm.. Rasanya lebih tenang, tau Indra ada di sini. Semoga aku bisa tidur nyenyak kali ini.
\=\=\=\=\=\=\=
Samar samar kudengar suara dua orang pria di luar. Indra dan sepertinya Herman.
Kulirik jam wekker di meja nakas sampingku.
Astaga!!
Sudah pukul 20.00 .aku tidur lama banget. ngebo!
Gak tau diri banget. Udah numpang, tidurnya juga gak kira kira lagi.
Ah,bodo ah..
Kuputuskan keluar kamar Indra. Karena rasanya aku sudah cukup lama tertidur.
Saat di depan kamar, Indra dan Herman menoleh ke arahku.
"Eh ada Nisa, Ndra? Sory aku ganggu nih.."kata Herman sungkan.
"Nggak papa kok, Man. Aku numpang tidur di sini. eh malah kebablasan."jawabku lalu ikut duduk bersama mereka.
"Ya gak papa lah nis.. Tapi sorry banget lho. Elu kagak bilang kalo ada nisa!!" runtuk Herman ke Indra.
"Lah ya gak papa kali.."sahut Indra santai.
"Iya, kalian lanjutin aja ngobrolnya," kataku.
Aku berjalan ke dapur. hendak mengambil segelas air.
"Niss, kamu udah laper?? Mau aku pesenin sesuatu?"tanya Indra sedikit teriak.
"Mmm... Apa ya..aku lagi males makan. perutku rasanya lg gak enak ndra, "jawabku lalu kembali duduk bersama mereka.
"Trus mau makan apa?"
"Pizza aja!!" saran Herman.
"Gimana nis?"tanya indra meminta pendapatku.
"Mmm.. Boleh deh "aku menyetujuinya juga.
Akhirnya malam ini kami bertiga makan pizza bersama sama.
Herman juga di sini sampai pukul 23.00.
Lalu dia pamit karena harus menjemput tunangan nya di stasiun.
__ADS_1
Indra menyuruhku menginap di kost nya. Aku pun setuju. Karena aku takut jika kembali ke kost ku. Perlu lapor kak Yusuf nih kalo gini terus. Aku stress!!