
"Heh! Yang bener kalau ngomong lo! Enak bener nyuruhnya," timpal Danu.
"Iya, serasa kita diajakin nyari jambu aja," sahut Dedi.
"Tha, nggak bisa nyari yang lain aja apa? Yang enak dilihat gitu loh," tambah Kiki
"Justru kita harus cari pocong itu. Gini, kalian mikir nggak, kenapa kita bisa ada di sini, di tahun ini?" tanya Aretha.
"Ya mana gue tahu, Tha," tutur Dion.
"Pasti ada alasan khusus sih. Yang jelas kita pasti bakalan menemukan alasan kenapa kita bisa ada di tahun ini," tukas Radit.
"Iya. Makanya itu kita harus cari tahu alasan kenapa kita ada di sini di tahun segini. Entah kenapa pas aku dengar tentang pocong yang meneror Desa ini rasanya agak-agak Mirip ya, sama kasus Ummu Sibyan di masa depan."
"Sama sama sudah ada teror di masa lalu dan masa depan. Duh, jangan jangan ini desa terkutuk!" pekik Ari.
"Hus! Sembarangan. Nggak ada tuh namanya desa terkutuk! Ngaco aja lo, Ri!" hardik Aretha.
"Ya bisa aja, Tha. Masa ini desa serem bahkan dari jaman dulu. Perasaan Desa nenek gue nggak begini-gini amat deh, walaupun Desa itu ada di daerah terpencil juga," tambah Ari.
"Atau mungkin, bukan desa terkutuk, tapi desa yang dikutuk!" pekik Dion.
"Ayo, cepat kita pergi cari pocong tadi," ajak Aretha.
Mereka lantas mulai bergerak meninggalkan tempat itu. Walau tidak ada tujuan pasti di mana letak tempat yang dimaksudkan, tetapi mereka sangat yakin kalau akan bisa menemukan makhluk tersebut.
"Jam berapa sih ini?" tanya Doni.
Mereka semua serentak menoleh ke pergelangan tangan masing-masing. Hanya saja tidak ada yang menjawab pertanyaan itu dengan jelas.
"10?"
"Sama, 10. Tapi dari tadi jam segini aja deh rasanya," tutur Dedi.
"Waktu di dunia ini nggak sama dengan waktu di dunia kita, jadi jam tangan nggak akan berguna," sahut Aretha.
"Tapi, yang bikin gue heran, kenapa Arden bisa nggak ada di antara kita," tukas Dedi.
"Hm, sepertinya Kak Arden nggak tidur seperti kita tadi," imbuh Aretha.
"Ah, iya. Bener juga, ya! Kita bisa ada di sini karena kita semua ketiduran tadi, kan?" tanya Dion
"Tapi emang ngantuk banget sih. Asli, nggak bisa ditahan," tutur Danu.
"Iya, sama. Gue juga," lanjut Ari.
"Sepertinya memang itu sebuah kesengajaan, agar kita masuk ke sini," sambung Doni.
"Tapi, kita bisa balik, kan?" tanya Kiki.
"Insya Allah bisa. Jangan khawatir. Kak Arden pasti akan mencari cara agar kita balik lagi. Makanya selagi menunggu, kita harus melakukan sesuatu," cakap Aretha.
Suasana desa terlihat normal dari banyaknya anak-anak kecil yang kini sedang bermain di halaman rumah. Mereka sedang melakukan permainan petak umpet yang memang dulu merupakan permainan favorit. Dengan permainan ini maka interaksi di antara anak anak akan menjadi erat. Berbeda sekali dengan zaman sekarang yang hanya berputar dengan gadget sekalipun Komunikasi tidak akan terputus dengan gadget tetapi rasanya masih lebih baik berinteraksi langsung di dunia nyata.
"Apa kita berpencar aja? Untuk mencari informasi lebih dalam?" tanya Aretha.
"Ya Tuhan, enggak mau ah. Masa berpencar. Lo tau sendiri kan hal itu adalah sesuatu yang sangat dilarang di tempat mengerikan seperti ini. Nanti kalau kita atau salah satu dari kita mengalami sesuatu gimana coba?" protes Dion.
"Dih, Emangnya bakalan terjadi apa sih. Lagian Desa ini beda sama desa sebelumnya. Lu sendiri dengarkan kalau di sini cuma ada teror pocong. Anak-anak Desa aja Masih pada bisa main-main tuh di luar rumah. Lo yang udah gede kayak gini masih takut sih," ejek Danu.
__ADS_1
"Iya. Sepertinya kita memang harus berbicara deh untuk mencari informasi yang lebih akurat. Gue rasa Desa ini jauh lebih luas daripada Desa Kalimati di masa depan. Lihat aja rumah-rumahnya lebih dekat dan jumlah penduduknya jauh lebih banyak," kilah Radit.
"Ya udah berpencar aja. Kayaknya tempat ini nggak terlalu seram deh," tukas Kiki.
"Tuh, Kiki aja berani!" tunjuk Dedi.
"Terserah deh ah!" ucap Dion yang akhirnya pasrah.
"Mau dibagi berapa kelompok nih?" tanya Aretha.
"Jangan kebanyakan, Areta. Dua atau tiga kelompok aja deh," saran Danu.
"Ya udah 2 kelompok. Silakan pilih kelompok masing-masing," kata Aretha yang langsung mepet ke Radit. Danu juga langsung mendekati Aretha dan Radit.
Sementara Kiki bersama Doni ditambah dengan Ari dan Dion.
"Lah gue sama siapa?" tanya Dedi.
"Terserah ih!" sahut Danu.
"Sama kalian aja deh," kata Dedi langsung merangkul Danu.
Mereka berdua sepakat untuk membagi menjadi dua tim dan pergi ke arah yang berlawanan. Karena jalan di desa itu memang tidak terlalu banyak dan mereka memutuskan untuk melewati jalan utama desa untuk menelusuri tempat-tempat lain di sekitarnya.
"Coba dekati kerumunan di sana," tunjuk Radit.
Mereka berempat tampak antusias. Berjalan tanpa beban mendekati warga yang ada di sekitar. Kali ini mereka menghampiri sebuah rumah yang tampak cukup ramai daripada rumah-rumah sebelumnya. Warga yang berada di dekat rumah itu sedang berdiskusi mengenai sesuatu yang penting.
"Pokoknya kita harus bertindak. Jangan sampai hal seperti ini terus-menerus meneror desa kita. Walaupun sosok itu tidak melukai kita tetapi tetap saja itu membahayakan."
"Tapi apa benar kalau sosok itu mirip dengan Sukarta?"
"Jangan-jangan benar kalau dia ingin membalas dendam!"
"Atau tali pocongnya memang belum dilepaskan saat dia dikubur dulu?"
"Tanya Darmin saja tuh. Dia itu orang yang ikut masuk ke dalam liang lahat Sukarta!"
Orang yang disinyalir bernama Darmin lantas menoleh. "Yah, memang benar aku ikut masuk. Seingatku semua tapi pocong nya sudah dilepaskan."
"Kalau begitu aneh sekali, kenapa pocong Sukarta justru berkeliaran!"
"Hei, dia kan dukun sakti. Mungkin saja selama ini mendalami ilmu tertentu yang akan bekerja Setelah dia mati."
"Jadi apa yang akan kita lakukan agar teror itu berhenti!"
"Aku akan meminta bantuan salah satu tempatku yang ada di pondok pesantren. Siapa tahu dia bisa menolong kita untuk menyingkirkan sosok pocong itu dari desa."
Para warga masih berdiskusi dengan berbagai hal dan spekulasi mengenai keberadaan pocong yang sudah meneror Desa mereka selama beberapa hari terakhir.
"Coba kita bisa berkomunikasi sama mereka. Aku pengen tahu, di mana rumah orang yang namanya Sukarta!" cetus Aretha.
"Rumah Karta itu memang mengerikan. Coba saja kalian lihat sendiri. Wajar saja kalau di sana mulai muncul penampakan makhluk-makhluk mengerikan. Seharusnya rupanya di alih fungsikan menjadi tempat ibadah atau semacamnya."
"Benar. Dari sini saja aku sudah ngeri melihatnya," kata warga lain sambil menoleh ke sebuah rumah kosong yang berada di seberang jalan tak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.
"Sepertinya doa lo terkabulkan. Itu rumahnya," tunjuk Dedi.
Mereka berempat pun ikut menatap ke rumah tersebut. Sebuah tempat yang memang tampak mengerikan bahkan saat dilihat dari kejauhan. Rumah itu tidaklah pantas disebut sebagai rumah karena lebih mirip gubuk reyot yang hampir roboh. Bangunan sampai permanen itu tidak memiliki penerangan sama sekali dengan halaman rumahnya yang penuh dengan ilalang. Beberapa atap sudah jatuh bahkan menggantung begitu saja. Benar-benar mirip seperti rumah hantu yang ada di film-film.
__ADS_1
"Ayo, ke sana," ajak Aretha yang memilih berjalan lebih dulu.
Mereka bertiga pun mengekor Areta menuju ke rumah tersebut. Kedua bola mata terus menatap bagian rumah itu inci demi inci. Kereta penasaran terhadap sosok yang mungkin sedang bersembunyi di sudut gelap rumah itu. Karena dia merasa kalau rumah itu memang memiliki aura gelap yang menyeramkan. Mereka kini berdiri di depan rumah itu.
"Masuk nih?" tanya Danu.
"Nggak usah, di sini aja sampai subuh! Ya masuk lah!" hardik Dedi.
"Serem tapi, Ded!"
"Yaiya sih. Tapi masa kita mau diem aja. Gimana, Tha, Dit?"
"Ya masuklah. Iya, kan, Sayang?" tanya Radit.
Areta hanya mengangguk menanggapi pertanyaan teman-temannya. Kini dia berjalan lebih dulu memasuki halaman rumah kosong milik Sukarta. Sejauh ini belum terlihat adanya penampakan aneh dan menyeramkan seperti yang disebutkan oleh warga desa. Begitu sudah berada di halaman rumah tersebut mereka berempat pun langsung berpencar untuk memeriksa sekeliling.
"Tha, gue sama Danu periksa ke belakang rumah," jerit Dedi sambil menunjukkan alamat samping rumah tersebut yang pastinya terhubung dengan bagian belakang rumah itu. Areta hanya mengangguk dan mempercayakan semuanya kepada dua orang temannya itu. Agar apa yang mereka cari segera ditemukan maka memang mereka harus berpencar. Karena Desa ini cukup luas dan sekalipun mereka sudah menemukan rumah yang disinyalir memiliki Aura hitam dan gelap, tidak dipungkiri kalau makhluk itu pasti tidak akan mudah di temukan.
"Kita masuk ke dalam?" tanya Radit.
"Ayo, Dit. Senter dong," pinta Aretha.
Radit langsung mengeluarkan ponselnya dan menyalakan lampu flash. Dengan begitu, maka ruang tamu rumah itu semakin jelas terlihat. Bagian depan dan dalam rumah memiliki pemandangan yang sama. Kacau dan berantakan. Sebenarnya rumah itu akan langsung ambruk hanya dengan sekali sapuan angin besar.
Suara cicit hewan pengerat tidak membuat Aretha gentar. Dia bahkan sepertinya sudah terbiasa dengan situasi semacam itu. Radit tentu tetap berada di dekatnya. Mereka berjalan terus memasuki rumah itu. Memeriksa tiap sudut rumah di semua ruangan.
Beberapa kali Aretha batuk batuk saat menghirup udara yang penuh debu. Dia pun mengibas tangan di depan wajah agar indera penciumannya bisa berfungsi sebagaimana mestinya.
"Hihihi!" Tawa suara anak kecil tiba tiba lewat di belakang mereka. Alhasil Radit dan Aretha langsung menoleh ke belakang. Namun tidak ditemukan apa pun di sana. Hanya ruang kosong dengan sudut gelap saja.
Mereka saling tatap dengan berbagai pikiran yang menggelayut di otak mereka. Ingin langsung mendiskusikan nya tapi mereka merasa ini bukan waktu dan tempat yang tepat. Membicarakan hal mistis di tempat mistis terkadang menjadi sebuah larangan di tempat tempat tertentu. Alangkah lebih baiknya, hal yang mereka alami dan pikirkan di bahas setelah mereka keluar dari tempat itu.
"Ini? Fotonya?" tanya Radit yang memungut sebuah pigura dengan gambar seorang pria yang memakai Surjan, pakaian adat Jawa. Surjan adalah bentuk pakaian adat Jawa yang identik dengan motif lurik. Biasanya dikenakan bagi kaum pria sebagai acara adat atau kebudayaan tertentu. Motif dasar Surjan utamanya adalah lurik, meskipun dapat pula bahan bermotif kembang-kembang.
"Sepertinya ini yang namanya Sukarta," ucap Aretha berasumsi.
"Kalau yang mereka bilang ini rumah Sukarta, sepertinya jelas kalau pria di foto ini adalah pemilik rumah, karena aku lihat nggak ada foto lain selain dia," jelas Radit.
"Jadi dia dukun? Kalau dukun, artinya dia punya tempat untuk ritual atau semacamnya dong, ya?" tanya Aretha.
"Yah, seharusnya memang ada. Biar aku periksa tempat lain," kata Radit lalu pergi meninggalkan Aretha.
Saat Aretha masih fokus memperhatikan foto di tangannya, tiba tiba dia merasa ada sekelebat bayangan yang lewat di belakangnya. Aretha sontak langsung menoleh ke belakang. Seperti biasanya, tidak ada apa pun dan siapapun di belakang dan sekitarnya. Hanya saja tak lama mulai tercium aroma wangi yang tidak terlalu menyengat.
Aretha lantas berjalan kembali, mencari sesuatu yang mungkin sedang ia cari dan berada tak jauh darinya. Walau sebenarnya Aretha sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ia cari. Dia berhenti di sebuah ruangan yang merupakan kamar tidur karena ada sebuah ranjang tua dengan kasur kapuk yang sudah tidak berbentuk lagi karena sudah lapuk di makan rayap. Aretha masuk ke dalam. Entah mengapa dia tertarik pada ruangan itu. Aretha menatap sekitar. Kamar tidur itu memiliki sebuah lemari kayu tua yang cukup besar. Aretha mendekat dan membuka pintu lemari. Namun hanya ada ruang kosong di dalam lemari itu. Aretha pun kembali menutupnya. Tidak ada apa pun yang ia temukan di kamar tersebut. Akhirnya Aretha memutuskan keluar mencari Radit.
Tetapi baru beberapa langkah dia menjauh dari lemari, tiba tiba bulu kuduk nya meremang. Bahkan dia mendengar ada suara nafas seseorang di belakangnya. Aretha pun kembali menoleh ke belakang.
"Hm, ada apa sama lemari ini. Kenapa aku merasakan ada yang aneh, tapi apa, ya?" tanyanya bergumam.
Pintu lemari yang masih tertutup, hendak diraih oleh Aretha. Perlahan tangannya menjulur ke pintu lemari. Tapi tiba tiba pintu itu justru terbuka dengan cepat dan hal lain yang ada di dalamnya membuat Aretha menjerit ketakutan.
"AAAAAAAA!" jerit Aretha sambil menutupi wajahnya. Di dalam lemari itu ada sebuah penampakan yang cukup mengerikan. Sosok pocong yang digadang gadang telah meneror warga desa ditemukan oleh Aretha. Tidak hanya berdiri diam di dalam lemari. Karena tiba tiba makhluk itu langsung melompat ke tubuh Aretha. Tentu saja Aretha langsung menjerit karena terkejut sekaligus ketakutan.
Dari luar Radit bergegas masuk ke dalam kamar itu dan menemukan Aretha sedang jatuh terduduk di lantai sambil menutupi wajahnya dengan Kedua telapak tangan.
"Sayang! Sayang kamu kenapa?" tanya Radit ikut panik.
"Itu di sana! Di sana!" tunjuk Aretha tanpa menatap ke arah yang ia tunjuk.
__ADS_1
"Di sana nggak ada apa-apa, Sayang. Coba kamu lihat sendiri," perintah Radit.