Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
HEI GADIS INDIGO SEASON 2 PART 1 MADU PERNIKAHAN


__ADS_3

Dering alarm ponsel ku membuatku terjaga.


Pukul 04.30.


Saat aku berbalik, aku menyentuh seseorang dan langsung kaget. terduduk lalu menatapnya.


"Astaga.. Indra.."


Aku hampir lupa, aku sudah menikah dengan nya.


Aku kembali menatap Indra yang masih terlelap tidur. Seperti nya dia sangat lelah karena pesta pernikahan kami kemarin. Aku terkekeh membayangkan kejadian semalam.


Malam pertama yang sudah menjadi agenda pengantin baru pada umum nya agak kacau karena tingkah ku.


#flash back


Setelah kami membereskan kado yang kami buka, Indra menggandengku ke Ranjang.


Aku sudah tau maksudnya apa.


Dadaku berdetak sangat cepat.


Antara takut, bingung, khawatir terus berkecamuk dalam pikiran ku.


Dia mulai membelai rambut ku sambil menatap ku dalam. Saat dia mau mencium ku, aku mundur.


"Ah iya... Aku lupa belum makan...," kataku sambil menepuk dahiku sendiri.


Indra mendengus sebal.


"Mau makan? Sekarang? " tanya Indra dengan menekankan kata 'sekarang'.


Aku mengangguk sambil senyum dan menampilkan 'puppy eyes' andalan ku. Yaitu jurus mata berkedip yang kata Indra sok imut.


Dia keluar kamar mengambilkan ku makan.


"Lhoo Ndra.. Kemana?" Terdengar suara Kak Adam diluar, karena pintu kamar tidak ditutup, aku bisa mendengar jelas percakapan mereka.


"Ini Kak ... Nisa ... laper..., "ucap Indra ragu.


"Walah, sempet- sempet nya makan di saat kaya gini ... Hahahaha" ledek Kak Adam.


Tak lama Indra masuk kamar lagi membawa sepiring nasi lengkap dengan lauk pauk nya.


Aku segera makan dengan sangat pelan. Kusengajakan memang.


Indra menopang dagu melihat ku makan tak kunjung selesai.


Sesekali dia nguap menahan kantuk.


Sebetulnya aku kasian. Hanya saja aku masih sedikit ragu.


"Nis ... kamu belum siap?" tanya Indra seolah tau isi pikiran ku.


Aku diam sejenak sambil menatap nya malu-malu. Aku tau maksud dari pertanyaan nya, bahwa setiap pengantin baru pasti akan melakukan malam pertama.


"Eum ... Aku ... takut, Ndra ...." kata ku pelan.


Indra senyum, dia membelai rambut ku pelan.


"Takut apa, sayang?" Tanya nya santai.


"Katanya ... Eum ... Sakit. " suara ku makin memelan.


Indra tertawa lebar sambil mengacak-acak rambut ku.


"Ya udah, besok lagi aja. " tutur Indra lalu membetulkan letak bantal dan berbaring sambil menghembuskan nafas pelan. "Sini sayang, bobok. " ajak Indra sambil menarik tangan ku agar ikut tidur di samping nya.


Dengan ragu, aku ikut merebahkan diri di sisi nya. Lalu menatap Indra yang sudah memejamkan mata. Indra lalu memiringkan tubuhnya mensejajari ku lalu memeluk ku erat.


"Yuk, tidur... Istirahat sayang, " tutur nya.


Flashback end


Kini pria yang selalu mengisi hari-hari ku selama ini, tengah terlelap tidur di samping ku.


Kusentuh wajahnya pelan. Kuraba inci demi inci. Dahi nya, hidung nya, pipi, bibir nya tak luput dari pergerakan jari ku.


Dia terbangun, dan dengan segera ku sembunyikan tangan ku di dalam selimut.


"Lagi dong. Aku suka...," ucap nya tanpa membuka mata dan tersenyum.


"Selamat pagi, Istriku...," sapa nya, dan terbuka lah mata indah nya.


"Selamat pagi, Suamiku...," sahut ku malu-malu.


Dia langsung menarik ku keatasnya. Aku pun gelagapan dibuat nya.


"Ndra... Sholat subuh dulu...," elak ku sambil berusaha lepas dari pelukan nya.

__ADS_1


"Hmmm ... Okeee...," kata nya lalu melepaskan ku.


Aku berjalan ke kamar mandi untuk mandi dan berwudhu.


Lalu kami sholat subuh berjamaah.


\=\=\=\=\=\=


Aku mendapat cuti seminggu, terhitung dari sebelum kami menikah. Dan hari ini, hari ke 3 ku cuti. Sedangkan Indra mendapat cuti hanya 4 hari, terhitung dari kemarin saat pesta pernikahan kami di gelar, jadi sisa 3 hari lagi.


Kami keluar kamar menuju ruang tengah. Aku menggandeng tangan Indra, lalu duduk didepan TV bersama Papah dan Kak Adam yang sedang menikmati kopi sambil menonton acara berita di TV.


"Cie pengantin baru... Gandengan mulu kaya truk... " canda Kak Adam sambil senyum - senyum garing.


Aku melempar nya dengan bantal yang ku pegang. Bug! Tepat mengenai wajah Kak Adam.


Indra dan Papah hanya tersenyum melihat tingkah kami


"Eh, gimana... Tadi malem... Lancar jaya kan," canda Kak Adam lagi sambil mengedip kan mata nya berkali- kali.


Aku hanya melirik.


"Kepo..., " balas ku sinis.


"Yaelah... Nis... Jutek amat pagi- pagi." Ungkap Kak Adam.


"Aku bikinin kopi dulu ya, Ndra...." kata ku tak menghiraukan kata-kata Kak Adam.


Aku berjalan menuju Dapur.


Mamah sudah pergi sedari pagi.


Kak Shinta ternyata sedang di Dapur membuat susu untuk Aim.


"Pagi Kak..., " Sapa ku.


"Haiii ... Gimana penganten baru?" Tukas Kak Shinta setengah mencandai ku.


"Apa nya yang gimana? " tanya ku sambil meracik kopi untuk Indra.


"Kok apa nya yang gimana? Eh ... Nis, Kakak jadi inget waktu malam pertama Kakak dulu. Tau nggak, ada kejadian lucu malam itu." Terang Kak Shinta antusias.


"Apaan kak?" aku penasaran.


"Masa ranjang nya sampai ambles, Nis... Padahal kita belum ngapa- ngapain ... hahhaha ..." tawa Kak Shinta enteng.


"Kok bisa Kak?" Tanya ku yang makin bersemangat.


Glek!


Aku menelan ludah sambil melirik Kak Shinta.


"Eum... Nggak lancar... hehe." kata ku malu.


" Lho kok bisa..? "


"Aku ... Aku takut ... Jadi semalem Indra cuma nungguin aku makan. Terus kita tidur ...," Ungkap ku.


Rasanya semua perasaan berkecamuk menjadi satu. Malu, bingung, tidak enak memenuhi kepala ku sekarang.


Kak Shinta malah ngakak.


"Wajar sih, Nis... Santai aja lah...,"katanya sambil menepuk bahu ku lalu pergi ke Kamar nya.


Selesai membuat kopi, aku mengantar nya ke Ruang Tamu.


Kulihat mereka bertiga sedang ngobrol sambil ketawa ketiwi.


Saat aku datang, semua kompak diam.


"Sabar Ndra... Pelan- pelan aja. " kata Kak Adam sambil melirik ku.


" Nis... Papah punya hadiah buat kalian." kata Papah serius.


" Apaan? " Jawab ku ketus.


" 2 tiket bulan madu ke Bali dan berangkat siang nanti." Ungkap Papah sambil menunjukan sebuah amplop.


Segera ku ambil dan kubuka.


Aku melongo sambil menutup mulut dengan tangan kanan ku.


"Serius Pah..? Asiiiik...! Makasih papaaaah.... " teriak ku.


Lalu berhambur memeluk Papah.


"Ya udah, sana siap- siap." Suruh Kak Adam, "jangan sampai gagal lagi yak...." Bisik Kak Adam ke Indra sambil cekikikan.


"Beres kak..., " jawab Indra santai.

__ADS_1


Aku hanya melirik mereka berdua bergantian.


Segera aku berkemas memasukan beberapa potong pakaian ku dan Indra ke koper kecil.


Kami hanya membawa barang sedikit. Karena hanya 3 hari disana.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah selesai kami akan di antar Kak Adam ke Bandara untuk segera terbang ke Bali.


Hmm... Ini kali pertama kali nya aku ke Bali.


Selama ini aku hanya mendengar tentang keindahan Pulau itu dan hanya melihat di televisi saja.


Kami di antar Kak Adam dan Kak Shinta. Bersama Aim juga.


Kak Yusuf yang baru saja datang menatapku dengan keheranan.


"Mau kemana, Dek?" tanya Kak Yusuf.


"Ke Bali Kak... Honey moon. Hehe. " Jawab ku.


"Bali?" Ekspresi Kak Yusuf sedikit aneh. Kerutan di kening nya menunjukan ada sesuatu yang dia pikirkan.


"Iya kak.. Kenapa?" Tanya ku.


Indra sedang memasukan tas dan koper kami ke mobil.


"Eum... Hati hati aja, Nis... Oh iya... Kamu kabarin Mang Ude yang tinggal disana." saran Kak Yusuf.


Mang Ude adalah saudara sepupu Papah. Dia juga indigo.


"Tapi aku udah booking hotel, Kak.." kata ku sambil menunjukan tiket ku ke Kak Yusuf.


Papah memang sudah menyiapkan semua.


"Iya, gpp.. Maksudnya ngabarin aja.. Lama juga kan kamu gak ketemu mang ude.." entah kenapa aku merasakan kegelisahan kak yusuf yg mengetahui aku dan indra akan ke bali.


Aku memang pernah mendengar beberapa cerita mistis tentang bali.tapi aku tidak terlalu ambil pusing. karena disemua tempat pasti ada cerita misteri tersendiri.


"Iya kak.. Nanti nisa hubungin mang Ude.. Ya udh, nisa berangkat ya.." kataku sambil memeluk kak yusuf.


Kak yusuf mencium keningku lembut.


"Kak..kita berangkat ya.. " Pamit indra ke kak yusuf.


"Oke..hati2 ndra..ada apa apa kabarin ya" kata kak yusuf.


Indra mengerutkan keningnya, seperti nya indra juga menyadari kegelisahan kak yusuf.


"Pasti kak.. Indra bakal jagain nisa.." kata indra sebelum pergi.


Kami segera masuk mobil untuk menuju bandara. kak yusuf tidak ikut. karena ingin bertemu dengan papah.


Sampai di bandara.. setelah pamit kak adam& kak shinta, kami segera naik ke pesawat.


Aku duduk di samping jendela.


Di sampingku ada indra sambil menggenggam tanganku erat.


"Ndra..." kataku masih menatap jendela di sampingku.


"Iya sayang.."


"Kak yusuf kenapa ya? kok kaya khawatir gitu sama kita??" tanyaku. aku ingin tau pendapat indra.


"Eum..iya sih,agak aneh gitu tadi.. Kamu udh pernah ke bali sebelumnya?" tanya indra serius.


Aku menggeleng. sambil menatap indra.


Dia tersenyum. lalu mengecup keningku lembut.


"Udh.. gak usah terlalu dipikirin ya.. kita kan mau liburan ke sana.. Bismiillah aja. smoga kita dijauhkan dari hal hal buruk selama di sana" nasehat Indra.


Dalam perjalanan ke Bali, aku bergelayut manja di lengan indra.


Mengobrol ini itu agar tidak jenuh selama dipesawat.


Setelah menikah indra masih mengijinkan ku bekerja.


Dia bukan tipe suami yg over protectif.


Dia selalu memberi kebebasan untuk ku,asal aku bisa tau batas batas mana yg boleh dan tidak..


Kami juga memutuskan tinggal di rumahku,kadang saat weekend kami menginap di rumah mamah papah indra.


Indra menawariku membeli rumah untuk kami tempati.. tapi aku menolak. karena jujur,aku belum berani jika di rumah hanya berdua saja dengan nya.


Apalagi dgn pekerjaan indra, yg kdng malam pun dia harus dinas. dia bukan pegawai kantoran sepertiku ,yg punya jam kerja yg tetap.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2