Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
21. kak yusuf and the genk


__ADS_3

Jatah masak hari ini adalah aku dan Wicak lagi. Aku sengaja memasak sayur asem, ikan asin, dan sambal terasi untuk Kak Yusuf. Kangen rasanya sama kakakku yang satu ini. Kabar Kak Yusuf yang akan datang ke sini merupakan angin segar bagiku dann yang lain. Setidaknya kami punya solusi atas masalah di tempat ini.


"Nis ... Kak Yusuf ...," teriak Indah dari depan. Aku langsung menatap Wicak yang sama-sama sedang menatapku, bibirku melebar mendengar nama itu disebut. Otomatis aku langsung berlari keluar rumah, dan benar saja, Kak Yusuf sedang duduk di teras bersama Feri.


"Kakak!" panggilku, senang. Aku lantas menyalaminya, dan mencium punggung tangannya. Walau hanya berbeda beberapa tahun saja, tetap dia adalah orang yang lebih tua dariku, dan sepantasnya aku hormati.


"Hei? Gimana kamu? Sehat, kan?" tanya Kak Yusuf. Wajahnya segar dan cerah, namun tetap terlihat tenang dan berwibawa. Kali ini Kak Yusuf tidak hanya berdua dengan Kak Arif. Tapi ada 3 orang lagi yang tentunya aku juga sudah pernah beberapa kali bertemu dengan mereka sebelumnya. Ada Kak Habibi, Kak Iman, dan Kak Aziz. Mereka teman-teman Kak Yusuf saat di pondok pesantren.


Indah ke belakang untuk membuatkan minuman untuk mereka. Tamu jauh yang benar0benar jauh, dan sengaja menyempatkan datang ke tempat ini demi mereka.


"Jauh juga ya, Nis," kata Kak Arif sambil melihat sekeliling rumah.


"Iya kak. Dapetnya di sini," sahutku menatap gelagat mereka yang mulai mengendus seperti polisi yang mendatangi TKP. Mereka berempat mulai mengelilingi rumah hingga ke pinggir jalan lalu kembali lagi.


"Kamu kuat, ya, Nis di sini?" tanya Kak Aziz.


"Ya dikuat-kuatin lah, kak. Mau gimana lagi coba?"


"Terus desanya mana, Nis? Jauh dari sini?" tanya Kak Iman seperti tidak sabaran.


"Mmm... Nggak jauh banget sih kak. Emang mau ke sana sekarang?" tanyaku.


"Makan dulu kali, Nis," ucap Feri menyela pembicaraan.


Kebetulan hari ini teman temanku banyak yg sudah pergi keluar. Jadi rumah memang sepi.


Setelah santap hidangan yg sudah kumasak tadi. Kami lalu sholat dhuhur berjamaah dulu.


Feri dan Wicak menjemput ustadz di rumahnya. Kami janjian bertemu di desa itu saja untuk mempersingkat waktu.


Sampai di depan desa itu, kami diam sejenak sembari menatap kondisi desa itu yg sungguh memprihatinkan.


Kak Aziz geleng geleng kepala sambil bersedekap. Kak Arif hanya diam menatap dingin ke dalam desa. Kak Iman berjalan mondar mandir di depan desa.


Kak Yusuf di sampingku sambil mengobrol dengan ku.


"Dapet kalung dari mana, Dek?" tanya kak Yusuf.


"Oh ini. dipinjemin Indra kemaren," jawabku sambil memegang kalung itu.


"Dia sering ke sini?"


"2 kali aja sih kak."


Kak Yusuf manggut manggut, lalu tak lama ustadz datang bersama Feri dan Wicak. Setelah ngobrol sebentar, mereka lantas beraksi.


"Kalian di sini aja," ucap kak Yusuf ke aku, Feri dan Wicak.


Kami mengangguk menuruti.


Emang males banget harus masuk sana.


Mereka bertujuh masuk. Ustadz membawa muridnya juga untuk membantu. Ada beberapa air zam zam yg dibawa masuk juga.


Kami bertiga menunggu di luar desa.


"Kira kira diapain ya?" Tanya Feri.


"Yg jelas didoain, Fer," jawab Wicak.


"Semoga ni desa udah gak horor lagi ya gaes, "kataku.


Mereka mengangguk setuju.


Butuh waktu sekitar satu jam. Lalu mereka bertujuh keluar dari desa dengan keringat yg berpeluh peluh dan nafas yg tersengal sengal. Mirip orang abis lari aja nih.


"Gimana kak?" tanyaku.


Mereka mengangguk.


"Besok saya akan bilang ke pak kades, agar desa ini dibersihkan dan dibenahi lagi. Agar kesan horor hilang sepenuhnya, "kata ustadz.


"Wah kami bakal bantu ustadz,"kata Wicak semangat.


"Serius, Nis? Udah aman?" tanya Feri berbisik padaku.


"Insha Allah aman," jawabku yakin.


Kami lalu kembali ke rumah. Ustadz juga langsung pamit pulang.


Sampai rumah, teman teman yg lain sudah ada yang pulang juga.


Mereka agak sungkan dengan kedatangan kak Yusuf dan yg lainnya. Sehingga polah tingkah mereka sedikit terjaga tidak seperti biasanya.


Kami lalu duduk di ruang tamu.


"Nginep kan kak?"tanyaku.


"Mmm, kayanya kakak gak bisa nginep dek. Yang lain juga ada urusan di tempat lain,"jelas kak Yusuf.


"Yah, masa gak nginep," rengekku.

__ADS_1


"Iya, lagian kamu seminggu lagi juga balik kan," tambah kak Yusuf..


"Iya sih. Tapi kan..."


"Udah ah.. Jangan gitu. Kakak ada urusan lagi. Nggak apa apa ya, "kata kak Yusuf.


Akhirnya aku pasrah.


Kak Arif berdiri lalu berjalan masuk ke dalam. Radar nya mulai jalan nih kak Arif pasti.


Wicak dan Feri mengikuti kak Arif. Karena penasaran, aku juga ikut. Hehehe.


Sampai di pintu belakang kak Arif membukanya dan sedikit mengerutkan kening.


Kak Arif hanya diam sambil memandang lurus ke depan, mulutnya menggumam sesuatu.


Tak lama kak Arif berbalik dan tersenyum melihat kami yg kepo ngintilin di belakangnya.


Kak Arif kembali ke depan.


"Pagerin, Suf. Rame, "kata kak Arif.


"Iya. Ayok, biar aku tenang ninggalin nisa di sini," jawab kak Yusuf.


"Banyak juga sih ya." kata kak Iman.


Walau aku gak diajak diskusi, aku yakin mereka lagi ngomongin penghuni di rumah ini.


Mereka lalu keluar dan melakukan pagar gaib mengelilingi rumah ini. Jadi jika kami di dalam rumah, para makhluk astral tidak akan bisa masuk ke dalam.


Alhamdulillah..


Walau di luar horor tapi kalau masuk ke rumah kan aman.


Saat sore, kak Yusuf dan kawan kawan pulang.


Aku, Feri dan Wicak mengantar sampai balai desa.


Kak Yusuf datang dengan naik mobilnya kak Iman. Mereka akan pergi kembali ke pondok pesantren karena ada beberapa keperluan.


Kupeluk kak Yusuf agak lama. Karena bagaimana pun aku rindu.


"Kamu hati hati di sini ya," ucap kak Yusuf.


"Iya kak. Makasih ya udah dateng.."kataku.


Kak Yusuf mengecup keningku lalu pamit juga ke Feri dan Wicak.


Akhirnya mereka pergi meninggalkan desa. Aku masih terdiam melihat ke tempat kak Yusuf pergi.


"Iya Fer. "


"Yuk balik, udah sore nih. Bentar lagi maghrib lho. " wicak benar juga. Nggak asik juga kan kalo maghrib masih berkeliaran di luar.


Tapi rencana tinggal angan saja. karena saat adzan maghrib berkumandang kami masih jauh dari posko kami.


Kami mempercepat langkah kami. namun, ada ibu ibu yg memanggil kami dari rumah nya.


"Orang bukan tuh, Nis?"tanya Feri.


"Gak tauu. gimana cak. samperin gak?"tanyaku meminta persetujuannya.


"Ayok ke sana dulu. sapa tau emang butuh bantuan kita, "ajak Wicak.


Sebenarnya aku ragu untuk ke sana, namun apa boleh buat.


"Ada apa ya bu?" tanya Wicak sopan.


"Mas tolongin saya sebentar ya,"kata ibu itu lalu mengajak wicak masuk ke dalam.


Kutahan tangannya dan menggeleng pelan. Perasaanku gak enak.


"Gak papa," kata wicak yakin.


Akhirnya kubiarkan dia masuk ke dalam.


Aku dan Feri menunggu di teras.


"Nis, seinget gue nih, emang ada rumah di daerah sini ya? kok gue baru tau ya?" tanya feri.


Bener juga ya. Selama bolak balik di desa ini, kami juga sudah puluhan kali lewat jalan ini dan setauku rumah di daerah ini hanya ada 3 dan semua ada di ujung sana, di tempat yg belum kami lewati.


Dan seingatku rumah ini kosong. Tidak berpenghuni. Terus tadi siapa dong??


Tak lama terdengar suara dari atap suaranya berisik sekali.


"Apaan tuh nis? tikus??"tanya Feri sambil mendongak ke atas.


Tiba tiba badanku terasa panas dan telingaku berdenging.


Lalu..

__ADS_1


Ada sesuatu yg jatuh dari atap dan menggelinding seperti buah kelapa.


"Perasaan gak ada pohon kelapa ya,"celetuk Feri penasaran. Dia lalu berdiri melihat apa yg tadi jatuh.


Betapa terkejutnya kami setelah melihat apa yg menggelinding di depan kami.


Sebuah kepala dengan mata menyala lalu tertawa meringis.


"Nis! apaan tuh???!!"teriak Feri panik.


"Gundul pringis!!' kataku.


Aku mundur bersama Feri yg sama sama takut.


Glundung Pringis merupakan sosok makhluk astral golongan jin yang dekat dengan golongan manusia seperti layaknya kuntilanak dan pocong.


Hantu ini berwujud sebuah kepala gundul tanpa badan, bertaring dan menyeramkan. Glundung yang artinya menggelinding dan Pringis yang artinya meringis atau tertawa. biasanya banyak ada di pulau Jawa.


"Cakkk!! Wicaaaakkk!!!"teriak feri.


"Wicak ke mana sih? Lama banget ?"kataku yg makin lama makin ngeri.


"Liat yuk nis. Jangan jangan dia lagi sate sama ibu tadi. gue yakin tadi bukan manusia!!"kata Feri.


Akhirnya kami masuk ke dalam rumah itu.


Keadaan gelap. berbeda dengan tadi.


Kuambil senter yg ku simpan disaku celanaku.


Rumah ini sudah rusak. Berdebu dan seperti lama tidak berpenghuni.


"Cak! wicaaakkk!!"panggil ku.


"Nisss!! Itu wicak!! "kata feri sambil menunjuk wicak yg tergeletak di lantai.


Kami lalu menghampirinya.


Kutepuk tepuk pipinya agar dia sadar.


"Cak... wicak!! Bangun cakkk!!!"bahkan kutampar keras.


Perlahan wicak bergerak.


"Cak... kok bisa tidur di sini sih??"tanya Feri setelah wicak sudah membuka matanya.


"Yuk kita keluar aja deh. cepet"wicak ngotot berdiri padahal dia masih sempoyongan.


Feri memapah wicak hingga keluar rumah ini.


Ku amati halaman depan, memastikan gundul pringis itu sudah tidak ada di sana.


"Aman fer. yuk buruan pulang. Belum sholat maghrib lagi,"ajakku.


Kami berdua memapah wicak yg sepertinya lemas tidak bertenaga.


Sampai di posko, wicak duduk di kursi sambil meringis.


"Kalian lama banget sih! " kata Ferli bete.


"Kita habis dikerjain, Yang. Elu kenapa cak? bisa pingsan gitu?"tanya feri penasaran.


"Tadi pas aku ngikutin tu ibu ke dalem. Ibu nya ternyata lagi masak gaess. Dia minta tolong mindahin wajan yg guedeee banget. Kupikir karena berat ya, jadi aku gak mikir aneh aneh. eh pas aku angkat tu wajan. Tau gak apa yg ada di dalemnya?"tanya wicak sambil menatap kami satu persatu.


Kami menggeleng pelan.


"Jari tangan manusia, bahkan ada mata, kuping, hidungnya juga!!"kata nya sambil menekan kepalanya.


Aku yakin dia trauma berat nih.


Ferli dan Nindi saja langsung mual dan muntah muntah di belakang.


"Lagian udah dibilangin jangan masuk, elu masih aja nekad cak!!"gerutu Feri kesal.


"Ya kupikir nolongin orang, Fer. Kasian kan."


"Kita juga ketemu penampakan tau!!" kata Feri.


"Apaan???" tanya mereka serempak.


"Gundul nginyisss!" kata Feri lupa nama hantu nya.


Plakkk


Kutabok lengannya.


"Gundul pringissss bego!!"kataku membenarkan nya.


"Huuuu.. Nginyisss? Ngarang!!!"kata Faizal ikut kesal pada Feri.


Yg lain malah pada ngakak.

__ADS_1


Kami semua berkumpul di ruang tamu dan mendengarkan cerita dari wicak dan Feri. aku hanya diam. males bahas lagi.


Rasanya kejadian tadi sudah hampir membuat jantungku copot.


__ADS_2