
POV NISA
"Gimana, sayang? Kamu suka, kan tempatnya. Aku udah design sesuai keinginan kamu," ucap Indra saat kami berada di restoran yang nantinya akan menjadi bisnis baruku.
Kupandangi setiap detil tempat ini. Aku lalu mengangguk yakin.
Suasananya sungguh nyaman, dengan tema outdoor membuat restoran ini semakin sejuk. Ada banyak tanaman bahkan bunga yang membuat suasana lebih ramai, dan sudah mirip taman bunga jika diamati lagi.
Indra memelukku dari belakang.
"Makasih, ya, Ayah. Udah nyiapin semuanya. Konsepnya bunda suka," tuturku sambil mengelus kepalanya.
"Iya, apa aja aku lakuin buat kamu. Nggak nyangka ya kita bisa sampai dititik ini. Anak anak udah besar dan kita makin tua," ucap Indra dengan tawa khasnya.
"Iya. Makasih ya ayah. Selalu jadi imam yang baik buat kami. Walau sesibuk apa pun kamu, tetep selalu ada waktu buat kami. Dan, makasih selalu mencintai aku terus. Kamu selalu aja manjain aku. Kadang itu yg bikin aku merasa terus muda. Merasa kita kayak pacaran terus." aku tersenyum lalu berbalik menghadap pria yang hebat ini.
"Iyalah, harus dong. Ini rahasia kenapa hubungan kita awet terus sampai sekarang, Nda. Buat ayah, cuma bunda satu satunya wanita yg bisa bikin ayah selalu jatuh cinta lagi dan lagi." kami lalu berpelukan.
"Gombal!"
"Eh, iya, serius."
Seseorang berdeham, membuat perhatian kami teralihkan.
"Maaf, Pak, Bu. Anak anak sudah siap," ucap salah satu pegawai ku.
Aku melepaskan pelukan Indra lalu mengangguk padanya sambil tersenyum.
Ini adalah H-1 restoran ku.
Besok kami akan buka secara resmi. Indra sudah menyiapkan semuanya jauh jauh hari. Mulai dari tempat, konsep, dan beberapa koki serta pelayan nya.
Dan kami berdua yang membeli dan menata segala furniture dan hiasan bahkan lampu dan bunga bunga juga.
Kesibukan Indra sudah agak berkurang dalam beberapa bulan ini. Jadi dia punya banyak waktu untuk menemaniku menyiapkan restoran baru kami.
Aku menggandeng Indra menuju tempat di mana karyawan yang lain berkumpul.
Ada sekitar 20 orang pegawaiku di sini. Aku memberikan sedikit pembekalan untuk menjalankan restoran dengan baik. Customer service yang paling diutamakan di sini. Sikap ramah, sopan dan bersahabat selalu kutekankan pada mereka.
Dan besok, restoran ini resmi kami buka.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Aku sudah mengundang beberapa teman-temanku dan teman-teman Indra. Tidak lupa juga seluruh keluarga besar kami dan teman teman dekat Aretha dan Arden.
Hari ini semua bisa makan gratis sebagai syukuran restoran kami.
Pagi pagi sekali kami sekeluarga sudah ada di sini.
"Dek... Tuh Radit!" kataku ke Aretha yang sedang duduk diayunan taman. Dia hanya menoleh sebentar dan senyum ke Radit.
Aku tau, mereka dilema dengan hubungan mereka. Tapi biarlah, semua berjalan mengikuti arus. Toh, beginilah lika liku kehidupan anak remaja. Cinta monyet yang membuat mereka menjadi sejatinya remaja pada umumnya. Aku tidak melarang mereka menjalin hubungan dengan lawan jenis, asal kami tau siapa dan latar belakang keluarganya. Tentu mereka tetap harus dalam koridor peraturan dari kami. Tidak bebas melakukan apa yang mereka mau.
Radit mendekat padaku lalu salim seperti biasa. Dia memang anak yang sopan dan menyenangkan. Radit ini mengingatkanku pada Indra saat muda dulu.
"Pagi, Tante. Wah... Restonya keren banget deh," pujinya sambil melihat sekeliling.
"Insya Allah, Dit.m. Semoga pelanggan betah di sini, ya. "
"Pastilah, tante. Tempatnya enak kok, asik. Radit pasti bakal sering ke sini," katanya lagi. Dia menoleh ke Aretha yang masih asik main ayunan. Terkadang putriku itu memang masih memiliki sifat kekanak-kanakan.
"Dah sana, temuin Aretha. Kalau mau pesan makanan atau minuman, bilang aja, ya."
"Iya, tante..m Eh, Arden mana? Kok nggak kelihatan?" tanya Radit sambil celingukan.
__ADS_1
"Tante suruh jemput siapa itu, ck.. Alya. Iya, Alya. Tante juga pengen kenal dong sama Alya."
"Oh iya iya. Bener juga tuh. Eum.ya udah, Radit ke Aretha dulu, ya, tante," ucapnya pamit.
Aku pun mengangguk.
Tak lama aku juga melihat beberapa rombongan yang sangat kutunggu.
Aku berjalan dengan semangat ke depan. Indra kebetulan sudah ada di depan dan menyambut mereka duluan.
"Hai ... Dateng juga! Barengan nih?" tanya ku ke mereka.
"Iya, Nis. Udah janjian dari kemaren. Tapi nungguin nih bocah lama banget," ucap Dimas sambil menunjuk Fitra. Mereka datang bertiga. Dimas, Fitra dan Dani.
"Kamu gimana kabar, Nis?" tanya Dani.
"Alhamdulillah sehat. Lah, nyonya mana, Dan? Nggak ikut?" tanyaku karena tidak melihat istri Dani.
"Lagi mudik. Jadi bujangan dulu deh. Jadi puas godain kamu," guraunya padaku.
"Eh ... Awas ya macem-macem.. Bini gue nih." Imdra lalu merangkul ku. Seolah menunjukan sikap protektif berlebihan.
"Becanda kali, Ndra. Hahahaha," kata Dani lantas tertawa puas
Indra memang agak cemburu dengan Dani dari dulu. Tapi dia justru lebih sering menyuruh Dani menemaniku. Jika dia sibuk dengan pekerjaannya. Aneh memang.
Aku mempersilahkan mereka duduk di tempat yang masih kosong. Belum lama kami duduk, datang lagi Mia dan Wisnu.
"Lho anak-anak nggak ikut, Mi??" tanyaku menyambutnya sambil saling menempelkan pipi masing-masing.
"Enggak, Nis. Sama nenek nya. Lagi demam," katanya.
"Ya Allah. Ya udah, duduk dulu deh," ajakku sambil menggandeng Mia duduk bersama Dani dan yang lainnya.
"Nu, tambah item aja. Elu udah berpetualang ke mana aja?" ledek Fitra.
Dandanan Fitra ini mirip anime. Rambutnya disisir ke depan sehingga menghalangi pandangan mata. Ini orang makin berumur makin aneh saja kelakuannya.
"Iya nih, sebelum negara api diserang," jawabnya nggak nyambung sama sekali sambil meraba poninya.
Plaaakkk!!
"Kumat! Nis, cariin cewek nih! Biar sembuh," umpat Dimas.
"Elu pikir gue gila? Elu aja jomblo, ngatain gue segala," Fitrs membela diri.
Mereka berdua ini tidak banyak berubah, masih sama seperti dulu. sering berkelahi
"Udah ah. Berisik banget tau. Pesan makan yuk. Kalian rese kalau lagi lapar!" potong Dani.
"Ide bagus. Nis, pesen banyak boleh ya. Hehe," canda Fitra.
"Iya boleh."
Lama sekali kami tidak berkumpul seperti ini. Kadang aku merindukan saat-saat aku bersama mereka.
Datang lagi Ferli, Feri, Indah dan Nindi bersama-sama.
Aku beranjak dan menyambut kedatangan mereka, begitu juga dengan Indra. Kami berpelukan dan menanyakan kabar masing masing.
Ku ajak mereka bergabung dengan Mia dan lainnya juga.
Kini lengkap sudah sahabatku. Mereka semua berkumpul di sini.
Masing masing menceritakan kehidupan mereka setelah kami terpisah. Kadang membuatku tertawa hingga sakit perut jika mendengarnya. Mereka tidak banyak berubah, walau penampilan mereka sudah makin berbeda. Sesuai dengan umur kami sekarang. Yah, kami tidak muda lagi.
__ADS_1
"Nis, siapa tuh anak? Pacar Aretha?" tanya Dimas sambil melihat Radit.
"Oh. Temen sekolah," jawabku santai.
"Anaknya Wirawan, kan tuh," terka nya lagi.
"Iya."
"Aretha tuh mirip banget Nisa. Beuh, gue yang jadi wali kelas nya kewalahan, gaes. Kalau bukan anak elu, udah gue jitak dia!" umpat Feri geram.
Aku dan Indra saling pandang dan tertawa.
"Maaf, Pak guru. Mohon bimbingan nya, ya," rayu Indra.
"Heran gue. Emak sama anak sama aja. huh!!"
"Kalau Arden mirip Indra ya?" tanya Mia.
"Iya, Arden mirip Indra tuh. Cuma cuek nya naudzubillah. Dia itu ganteng loh, dan banyak cewek yang naksir dia. Eh tapi katanya dia lagi deket sama anak kakak kelas nya, Nis. Kalian udah tau?" tanya Feri pada kami.
"Udah dong," jawab Indra santai.
Ya beginilah kami, kalau sudah berkumpul yang dibahas nggak jauh soal anak.
Dan yang kami bicarakan pun muncul.
Arden dan seorang anak gadis yg anggun. Dalam sekali lihat saja aku sudah bisa menilai.
Pantas Arden suka padanya. Dia memang lain. Aura nya bersih.
Arden lalu mendekat dan salim ke aku, Indra dan yang lainnya.
"Bun, ini Alya," kata Arden memperkenalkan nya pada kami.
"Oh ini yang bikin anak ayah sering ninggalin adik nya pulang sendiri?" sindir Indra.
Dan langsung kusikut dia seketika. Karena kulihat Alya dan Arden tampak malu malu dengan perkataan Indra barusan.
"Oh ini yang namanya alya?" dia senyum dan mengangguk. "Cantik sekali."
"Iya tante, saya Alya. Salam kenal."
"Ya udah, tuh Radit sama yang lain udah di sana. Kalian ke sana aja. Mau makan apa pesan saja ya Alya. Jangan malu-malu," kataku.
"Iya tante."
"Ya udah, Bun. Arden ke sana ya." Mereka lalu berkumpul dengan teman teman mereka yang sudah datang sedari tadi.
"Nis, bentar lagi elu punya mantu ya," ledek Fitra.
"Eh, Fit, Nisa aja mau punya mantu. Masa elu masih jomblo. Haduh. payah!" ledek Feri.
"Diem lu, guru gila!" umpat Fitra.
"Udah, udah. Ayok, dimakan dulu."
Rasanya hidupku sempurna, aku selalu dikelilingi orang orang yg menyayangiku seperti mereka.
Indra, laki laki yang selalu mencintaiku dengan segala hal yg aku punya, kini makin lama makin tampan jika dilihat. Dia makin berwibawa. Pesonanya mampu membuat wanita mana pun tergila gila padanya. Tak jarang aku sering kesal jika melihat ponsel Indra yang penuh chat dari perempuan lain. Namun, Indra tidak menggubris mereka. Buktinya dia tidak pernah membalas satu pun pesan - pesan itu.
Dia tidak pernah malu untuk menunjukan keromantisannya di depan banyak orang.
Seperti sekarang, dia menggenggam tanganku sambil ngobrol dengan yang lain. Dia selalu mengerti apa yang kurasakan dan yang kumau. Aku begitu beruntung mendapatkannya.
Persahabatan itu bagai sekotak crayon yang beraneka warna. Namun coba jika mereka dipadukan, pasti menghasilkan pelangi yang indah. Begitupula dengan persahabatan kami.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=