Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
39 yusuf


__ADS_3

"Gimana? apa yg kalian lihat?" tanyaku antusias.


"Di sana, kak. Di bawah jantung nya.."  tunjuk Aretha ke makhluk yg sedang bertarung dengan eyang Lestari.


Aku lantas mengangguk lalu mengeluarkan kalung milikku dan merubahnya menjadi pedang.


Srrriiinngggg!!!


Aku berlari mendekat ke eyang Lestari. Kini aku dan eyang berdiri berdampingan.


"Eyang, bawah jantungnya," bisikku.


Eyang mengangguk. Saat eyang akan mengangkat pedangnya, aku menahannya. Eyang melirik padaku dengan dahi berkerut.


"Biar Arden aja, Eyang," pintaku.


Eyang mengangguk lalu mundur.


Aku menatap tajam iblis di hadapanku ini, aku bahkan masih tidak habis pikir, bagaimana bisa Aretha dan Radit bisa bertikai dengan iblis seperti ini.


Kuacungkan pedang milikku, dan berjalan cepat mendekat padanya. Bahkan terkesan berlari kecil. Namun dia begitu tenang melihatku yg akan menyerangnya.


Tiba tiba tangan nya mengeluarkan api yg berkobar kobar. Saat aku mendekat, dia memukul dadaku dengan kepalan tangan nya.


Buuugg!!


Aku terpental jauh darinya. Dadaku sakit sekali. Bahkan bajuku hitam gosong karena terbakar. Aku batuk batuk, merasakan sesak di dada.


Dia tertawa puas melihatku kesakitan. Membuatku menatapnya sinis dan ingin segera membalas.


Aku mencoba bangkit kembali dengan bertumpu pada pedang milikku.


Tapi, rasanya sungguh sakit sekali, dadaku makin merasakan nyeri yg sangat hebat.


"Kamu tidak akan bertahan lebih lama, jika terlalu banyak bergerak.. Jantung mu akan hancur!! hahaha!!" tawa nya melengking keras.


Kuraba dadaku yg terkena pukulan nya. Perlahan tapi pasti nyeri di dadaku makin terasa. Rasanya seperti diremas hingga remuk.


Aku jatuh terkulai di tanah. Langit sungguh cerah malam ini.


Apakah ini adalah malam terakhir yg ku lihat?


"Kak!!" suara Aretha memekik tajam dan kurasakan dari ujung ekor mataku dia berlari ke arahku.


"Den!! Gak papa? Ya ampun, Den!" Radit sama khawatirnya seperti Aretha.


"Gimana dong ini. Ya Allah kak... Eyang..." rengek Aretha.


Eyang Lestari merobek bajuku.


"Masya Allah..." pekik eyang.


"Ya Tuhan! Elu diapain sih, Den. Bisa gini?" tanya Radit.


"Emang kenapa?" tanyaku.


"Dada kakak... Gosong kak. Sakit ya kak?" tanya Aretha menangis tersedu sedu sambil meraba dadaku.


"Ssh, kakak gak apa-apa kok," kataku mencoba menenangkan nya.


"Gak apa-apa apanya? Kakak parah banget tau.. Ya Allah eyang, gimana ini. Muka Kak Arden kok ikut gosong." Aretha makin tak terkendali.


Benarkah kondisiku separah itu?


Aku bahkan tidak sanggup menggerakkan jariku sendiri.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


POV ARETHA


Kulihat dada kak Arden menghitam seperti terbakar.


Tidak hanya itu, wajahnya juga makin lama menghitam. Seperti nya efek pukulan tadi sangat dahsyat.


Astaga, bagaimana ini.


Eyang Lestari berusaha menolong kak Arden. Aku benar benar marah kali ini. Aku muak dengan iblis ini.


Aku berdiri dengan dibantu Radit.


Ku ambil pedang milikku. Namun ditahan Radit, dia menggeleng pelan padaku.


"Please, Dit, aku harus... Nyawa kak Arden dalam bahaya. Aku gak mau kita semua celaka," kataku.


"Tapi bukan dengan cara mengorbankan diri kamu juga, Tha!! Kamu gak sadar, keadaan kamu juga gak lebih baik dari Arden. Biar aku aja!!" pintanya.


"Engga!!! Aku gak mau kamu Celaka!!"


"Aku pun sama!! Aku gak mau kamu celaka!!" mataku dan mata Radit saling beradu. Perdebatan ini seolah tidak menemukan titik temu


Iblis itu menggeram dan tiba tiba menyerang ku dan Radit, hingga membuat kami terpental jauh.


Iblis itu mendekat padaku, aku menarik tubuhku menjauh darinya. Aku pasrah, jika sekali lagi mendapat serangan darinya, mungkin aku tidak bisa selamat lagi.


Dia kembali mengeluarkan api dari tangan nya, saat dia hendak memukulku, aku menutup mataku. Seolah sudah siap menerima ajal ku yang sudah ada di depan mata.


Buuggg!!!


Kubuka mataku karena mendengar suara berdebum di tanah.

__ADS_1


"Pakde?!" pekik ku dengan mata berbinar melihat pakde Yusuf kini berdiri di hadapanku. Iblis tadi terdorong cukup keras karena serangan Pakde yang tiba-tiba.


Beliau telah memukul mundur iblis itu, kemudian beliau jongkok di depanku.


"Kamu gak apa-apa, nduk??"


Aku mengangguk senang, mataku berkaca kaca. Entah kenapa, kali ini aku senang sekali melihat pakde Yusuf ada di sini sekarang.


Pakde adalah harapan satu satu nya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


POV YUSUF (FLASH BACK)


Selepas aku salat maghrib, perasaanku tidak nyaman. Ada rasa mengganjal di hatiku yg aku tidak tau karena apa.


Kini aku sedang duduk di teras ditemani secangkir kopi buatan Aisyah.


"Abi, abi kenapa? ada yg pikirkan?" tanya Rahma, istriku.


Aku menarik nafas dalam dalam, lalu menatap Rahma yg kini duduk di sampingku.


"Aku juga gak tau kenapa, umi. Rasanya ada sesuatu yg akan terjadi. Tapi aku belum tau apa itu," sahutku.


"Oh iya, Abi. Tadi Nisa chat umi, nanyain Aretha. Dikiranya pergi sama Aisyah. Katanya pergi dari pagi, tapi belum pulang dan hp nya gak aktif, makanya Nisa cemas banget tuh," terang Rahma.


Aretha?


Apakah terjadi sesuatu dengan nya?


Tidak biasanya Nisa se-cemas itu saat anak itu pergi.


Berisik daun kering yang terinjak sesuatu membuat perhatianku teralih. Aku memincingkan mataku melihat siapa gerangan yang datang.


Eyang Prabumulih?


Aku melihat eyang bersembunyi di balik pohon dengan tatapan tajam padaku.


Ada apa, ya?


Kutundukan kepala sambil memejamkan mata.


Pasti ada yg tidak beres, mungkin ini berhubungan dengan Aretha.


Terlihat siluet sebuah pertarungan, antara Eyang dan seorang iblis.


Iblis ini? Sepertinya tidak asing.


Dan...


Aretha?


Aku tidak bisa tinggal diam.


"Umi, abi pergi sebentar..." lalu aku masuk ke dalam untuk mengambil kunci motorku dan jaket.


Rahma hanya diam namun dia terus mengikuti ku ke dalam.


Dia sangat paham dengan keadaanku jika aku sudah bersikap seperti ini.


\=\=\=\=


Sebelum aku pergi,ku rapalkan doa dalam hati sambil kupejamkan mataku. Kemudian kutekan pelipisku.


Setelah itu, kuikuti benang merah yg akan menuntunku ketempat Aretha dan eyang berada.


Aku yakin itu tempat itu sudah diselimuti ilmu hitam karena aku tidak bisa melacak nya dengan cara biasa.


Tak sampai 40 menit, aku sampai di tempat ini.


Setelah ku standarkan motor milikku, aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling, itu dia mereka!


Astaga!!


Aku berlari menuju Aretha yg sudah lemah tidak berdaya.


Kulayangkan tendangan ku ke iblis itu.


Buggh!!


Dia terpental jauh.


"Kamu nggak apa- apa, nduk?" tanyaku ke Aretha.


Kuperhatikan lekat lekat Aretha, walau kondisinya agak kacau tapi dia tidak apa apa.


Hanya beberapa luka lebam, lecet dan lengan nya dibalut perban.


"Kak Arden, Pakde...." dia menunjuk Arden yg terkapar di sana dan sedang ditolong eyang Lestari.


Eyang menatapku kemudian tersenyum dan mengangguk.


Itu pertanda Arden sudah tidak apa-apa.


Baiklah, kini giliran ku untuk melawan iblis sialan ini.


Bagaimana bisa mereka mengecoh ku dengan mencelakai keponakan keponakan ku. Harusnya sudah ku musnahkan dari dulu.


Ku keluarkan kalung milikku dan ku ubah menjadi pedang seperti milik Arden dan Aretha yg tergeletak begitu saja di tanah.

__ADS_1


Pedang milikku hampir sama dengan milik eyang.


Dan, benda ini sudah sangat lama tidak kugunakan.


Tanpa basa basi lagi ku tantang iblis di hadapanku ini.


"Kalian beraninya mencelakai keluargaku! " aku benar benar tersulut emosi, namun masih dapat ku tahan.


Dia terlihat mundur selangkah dengan raut kecemasan di wajahnya.


Aku berlari ke arahnya dengan melayangkan pedang milikku langsung ke bawah jantungnya.


Sleeebbb!!


Dia terdiam, matanya melotot dan roboh seketika.


Selama ini aku selalu memberikan kesempatan untuk mereka berubah, dengan syarat mereka tidak boleh berbuat jahat lagi.


Tapi ternyata, aku salah dengan memberikan kesempatan itu.


Dan, dia!!


Besok akan ku buat perhitungan dengan nya. Tidak akan ku maafkan kali ini perbuatan nya telah mencelakai keluargaku.


Kulihat eyang Prabumulih juga sudah melumpuhkan iblis yg satunya, dan kini mendekat padaku.


"Mereka lagi, le...,"gumam eyang Prabumulih sambil menatap iblis itu yg sudah kami lumpuhkan.


"Iya, Eyang. Kali ini Yusuf tidak akan memberi ampun," sahutku datar.


"Eyang yakin, kamu tau apa yg harus dilakukan." Eyang menepuk bahuku lalu berlalu meninggalkanku yg masih terpaku di sini.


"Pakde!" teriak Aretha.


Aku menoleh padanya, kini Arden sedang dipapah Radit dan Aretha.


Aku menghampiri mereka.


"Gimana? Kalian gak papa kan?" tanyaku pada mereka bertiga.


"Gak papa pak de," jawab Arden.


Dari ketiga anak ini, Arden yg kulihat agak parah. Pasti dia terkena pukulan mematikan dari iblis itu. Untung segera mendapat pertolongan dari eyang Lestari tadi. Terlambat sedikit saja, dia tidak akan selamat.


Kuajak mereka pergi dari tempat ini. Menghancurkan portal gaib yang membutakan mata manusia biasa.


\=\=\=\=\=\=\=


Sampai rumah Nisa, kubantu Arden berjalan bersama Radit juga.


Aretha langsung berlari ke dalam rumah dan langsung memeluk Indra yg tengah menunggu di teras.


Sepertinya Indra hendak pergi. Dilihat dari pakaian nya sekarang.


"Ya ampun. Kalian dari mana aja??Ayah nungguin, ini ayah baru mau berangkat nyari kalian," kata Indra sambil memeluk Aretha yg sedang menangis.


"Udah, Ndra. Suruh mereka istirahat dulu. Mereka luka, tapi udah nggak papa kok," jawabku.


"Iya kak. Ya udah masuk yuk.m. Radit, masuk juga," suruh Indra.


Radit mengangguk.


Kami lalu masuk ke dalam.


Dan sudah pasti, Nisa panik melihat kondisi anak anaknya yg kacau.


Mereka segera di obati oleh Nisa, diselingi pertanyaan yang macam macam.


"Dek, nanti kakak jelasin. Kamu urus dulu anak anak kamu, habis itu, suruh mereka istirahat, dan kamu Radit..." aku menoleh ke Radit yg duduk di sampingku.


"Eh iya pakde?"


"Kamu nginep sini, nemenin aarden. Dia harus ditungguin. kalau ada apa apa, kabarin saya," pintaku.


"Oh, siap pakde," katanya semangat.


Setelah Nisa mengobati anak anaknya, kami berkumpul di ruang keluarga.


"Jadi, mereka kenapa kak? Kok bisa kayak gini?'' tanya Nisa tidak sabaran.


Kutarik nafas panjang dan kuhembus kan perlahan, kutatap satu persatu wajah mereka.


"Jadi, dua iblis tadi... Itu suruhan orang," kataku memulai pembicaraan.


"Hah? suruhan? Siapa pakde??" tanya Arden penasaran.


"Emang iblis bisa disuruh orang pakde?" Radit ikut bingung juga.


"Tunggu, mereka melawan iblis, kak??kok bisa?" Nisa ikut kaget.


"Hm... Ini salah kakak, Nis. Mereka sebenarnya ingin menghancurkan kakak, karena mereka tidak bisa melawan kakak, maka mereka mengincar Arden dan Aretha. Tapi kamu gak usah khawatir, mereka sudah kakak musnahkan dengan eyang tadi," terang ku panjang lebar.


"Ada eyang juga??" tanya Indra.


"Eyang lestari juga ada," sahut Aretha.


"Tapi kak, siapa yg nyuruh? Memangnya kakak punya musuh?" tanya anisa.


"Dia... Teman saat di pesantren dulu. Tapi dia berubah, kini dia bersekutu dengan iblis karena rasa iri dengki nya."

__ADS_1


Aku memang sudah tau siapa pelaku nya. Lihat saja besok, kamu tidak akan ku lepaskan.


__ADS_2