Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
8. warung bu Darsi


__ADS_3

Langkah Aretha lamban. Sambil menikmati pemandangan di sekitar, dia sesekali tersenyum. Rupanya tempat itu begitu indah. Sederhana namun terlihat sangat asri. Layaknya desa desa pada umumnya. Dia tidak menyesal ikut sang suami ke Alas Purwo. Aretha anggap ini adalah liburan baginya. Karena sejak Radit mulai bekerja, mereka sudah sangat jarang liburan. Saat Radit libur, biasanya mereka hanya habiskan di rumah. Jika ingin keluar, maka mereka hanya menghabiskan waktu menonton bioskop, atau sekedar makan di luar.


Kini wanita itu sudah sampai di area pemukiman penduduk. Dari apa yang dilihat, tempat ini lebih hidup dari pada daerah di dekat rumahnya. Banyak rumah rumah penduduk yang berdiri berdekatan. Sementara di dekat rumah yang ia tinggali hanya berdiri satu bangunan saja. Yaitu rumah yang sedang ia huni sekarang. Memang hanya rumahnya yang tampak mewah, dibandingkan rumah penduduk yang lain.


Rumah penduduk desa hampir keseluruhan sama. Sederhana. Semi permanen. Bahkan lantainya belum ada yang memakai keramik. Aretha terus menatap ke kanan dan kirinya. Di mana rumah rumah tersebut berdiri. Jendela serta pintunya dibuka lebar. Beberapa anak kecil bermain di luar. Menatapnya dengan tatapan heran. Aretha hanya menatap balik mereka diikuti senyum lebar. Sesekali ia menyapa salah satu anak yang sedang bermain. Walau tak mendapat tanggapan, Aretha tetap melakukannya dan tidak berharap mendapat balasan yang setimpal. Ia paham bagaimana watak anak kecil yang melihat dan bertemu orang asing. Sebagian besar pasti akan diam. Entah karena malu atau karena waspada. Yang jelas ia tau kalau anak kecil memiliki insting yang kuat kepada orang dewasa. Mereka bisa merasakan orang yang baik dan tulus, dengan orang yang tidak baik.


Salah satu anak kecil itu menyahut pertanyaan Aretha dengan malu malu. "Lagi mainan petak umpet, Kak." Gadis kecil itu bernama Nur. Walau hanya dia yang menanggapi Aretha, tapi tetap saja dia tampak malu malu, bahkan tidak berani menatap wajah Aretha secara langsung.


"Oh, mainan petak umpet. Banyak, ya, temennya. Oh iya, kalau warungnya Bu Darsi di mana, ya?" tanyanya basa basi. Padahal petunjuk dari Pak Slamet tadi cukup jelas, dan Aretha yakin bisa sampai ke tempat itu tanpa bertanya lagi. Hanya saja, dia memang pandai berbasa basi. Tujuannya tentu ingin berbaur dengan warga sekitar. Tidak pandang bulu, baik orang dewasa maupun anak anak tentunya.


"Di sana." Nur menunjuk ke arah yang tepat. Dan sebetulnya warung yang dimaksud itu sudah tampak dari tempat mereka berdiri. Terlihat dari toples tempat kerupuk tergantung di depannya.


"Oh di sana, ya? Terima kasih, Adek," ucap Aretha sambil mengelus kepala Nur lembut.


Gadis cilik tersebut lantas mendongak dan tersenyum, saat Aretha hendak meninggalkan nya. Dia berusaha ramah pada wanita dewasa itu, walau masih ada sedikit rasa malu di dirinya.


Aretha pun melanjutkan berjalan, sesekali ia pun menyapa warga desa yang ia lewati. Sampai akhirnya dia berada di warung Bu Darsi. Kondisi di tempat itu tidak begitu ramai. Hanya ada lima orang wanita dewasa, sedang berbelanja kebutuhan makanan. Memilah-milah sayur mayur yang masih segar, sambil mengobrol santai bersama. Pembicaraan mereka pun hanya berkutat seputar masakan apa yang hendak dibuat hari ini, perkembangan anak - anak mereka, hingga gosip yang beredar di desa. Bahkan hal yang sebenarnya sepele, akan tampak heboh saat dibicarakan bersama. Seperti Erlin, putri dari Pak Dasikun, yang baru saja membeli motor baru, padahal dia baru saja bekerja sebagai SPG sebuah produk susu bayi. Rumor lain menyebutkan hal yang tidak masuk akal, namun segera dipatahkan oleh Ibu - ibu lain yang berpikiran lebih logis. Dua kubu saling berdebat mengenai berapa gaji Erlin, sampai - sampai membawa bawa nama sang ayah yang hanya petani daun teh di desa.


"Yo harusnya dia itu ngaca! Lah wong buat makan aja susah, kenapa pakai gaya-gayaan kredit motor segala! Kan nyusahin orang tua saja!" kata Bu Eli dengan nada sinis.


"Eh, nggak boleh begitu loh, Yu. Siapa tau gajinya Erlin itu memang besar. Lagi hak dia to, mau buat apa uangnya. Kenapa situ yang heboh. Ndak boleh loh, dengki ke tetangga gitu. Dosa. Ingat, ceramah ustadzah Maryam kemarin."


"Bu, saya itu tau gaji SpG itu berapa. Belum lagi kebutuhan dia di kota sana. Bayar kosan, buat makan, ah mana cukup!"


Aretha yang berbaur dengan mereka tampak hanya menjadi pendengar saja. Sambil melihat - lihat bayam yang masih segar. Dia berniat membuat sayur beningĀ  untuk makan siangnya dan Pak Slamet juga Bu Jum. Dia tentu memikirkan orang - orang yang bekerja dengannya hari ini.

__ADS_1


"Bu, ada ikan?" tanya Aretha pada Bu Darsi, pemilik warung. Walau ini pertama kali dia datang ke warung, tapi melihat para pembeli membayarkan uang pada wanita berperawakan tambun di dekat etalase, menjadikannya yakin kalau dia adalah sang empunya warung, alias Bu Darsi. Nama nya terpampang jelas di spanduk panjang yang berkibar di depan. Wanita itu memakai selendang untuk menutup kepala yang biasa dipakai wanita di pedesaan.


"Ikan? Ada, Mba. Itu di sebelah sana. Masih lengkap. Ada ikan air laut sama ikan air tawar. Ayam juga ada," jelas Bu Darsi dengan ramah pada pembelinya.


Hal ini membuat ibu - ibu yang lain mengalihkan perhatian pada Aretha. Dia memang tampak mencolok berdiri di antara para wanita itu. Dari pakaian, cara bicara, wajahnya yang bersih terawat, sangat kontras dengan ibu ibu desa pada umumnya.


"Mba ... Orang mana?" tanya Bu Tia, yang sedari tadi diam, tidak ikut campur acara ghibah bersama tentang Erlin.


"Oh, saya baru saja pindah, Bu. Di rumah itu," tunjuk Aretha ke posisi rumahnya yang sebenarnya sudah tidak terlihat lagi dari tempat tersebut.


Mereka tampak saling pandang seolah olah sedang menebak maksud dari penjelasan Aretha tersebut.


"Rumahnya Pak Ibrahim?" tanya Bu Wati, langsung paham.


"Dari mana, Mba?"


"Dari Jakarta."


"Wah, jauh ya."


"Betah? Tinggal di sana?"


"Ada yang ganggu ndak?" tanya yang lainnya mulai mendetil.


Aretha berusaha terlihat santai, walau dalam hati kecilnya dia ingin menceritakan insiden subuh tadi.

__ADS_1


"Alhamdulillah, betah. Oh iya, perkenalkan saya Aretha, suami saya bernama Radit. Mohon bimbingannya ibu ibu. Kami masih baru di sini."


Satu persatu mereka pun berkenalan dan mulai terjadi obrolan basa basi.


"Mba Aretha, sebaiknya adakan pengajian di rumah. Biar setannya pada kabur. Takutnya nanti kalian diganggu terus," cerocos Bu Wati dengan tampang serius.


"Oh iya, Bu. Rencana nya memang begitu. Mungkin besok malam. Saya harap ibu sekalian hadir. "


Acara berbelanja menjadi lebih hidup dengan kedatangan Aretha. Tak terasa sudah satu jam lamanya dia berada di warung Bu Darsi. Akhirnya dia undur diri untuk pulang, karena dia harus memasak makan siang.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Bu. Sudah siang, mau masak dulu."


"Oh iya, Mba. Hati hati di jalan."


"Permisi, Ibu Ibu."


Aretha pun meninggalkan warung dan berjalan pelan sambil menperhatikan kantung belanjanya.


"Mba Aretha!" panggil salah satu wanita di sana. Merasa dipanggil dia pun menoleh.


"Iya, Bu? Kenapa?"


"Putrinya nggak diajak pulang?"


Pertanyaan itu membuat senyum Aretha pudar. Dia mengernyitkan kening dan menatap ke arah yang ditunjuk Ibu tadi.

__ADS_1


__ADS_2