Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
15. Rencana Daniel


__ADS_3

"Kenapa lagi, Nul?" tanya Derry saat Khusnul dan Fendi tiba di rumah.


"Untunglah kalian sudah pada pulang. Aku kira nggak ada orang di rumah. Tolongin! Fendi kumat lagi! " kata Khusnul yang sedikit kesulitan memapah tubuh Fendi.


Sekalipun pemuda itu bisa berjalan, tapi dia tampak lemas dan harus ditopang agar tidak jatuh. Fendi dalam kondisi setengah sadar. Pikirannya belum sepenuhnya kembali. Dia bahkan masih tampak ketakutan entah kenapa. Fendi masih sering menatap sekitar dengan takut. Padahal tidak ada apa pun di sana.


Derry langsung mengambil alih Fendi dan meletakkan nya di kursi ruang tamu. Ike, Rahma, Armand, Cendol, dan Dolmen ikut mengerubungi Fendi.


"Dia kenapa memangnya? Daniel sama yang lain ke mana?" tanya Armand.


"Mereka masih mengawasi petugas listrik. Tadi waktu kita ada di pemakaman tiba-tiba Fendi mulai teriak-teriak lagi. Dia terus-menerus melihat ke arah patung batu sambil ketakutan. Tiba-tiba dia lari gitu aja. Akhirnya aku sama Sule tadi kejar dia. Kita sampai di rumah Pak Supri dan akhirnya Pak Sobri menolong Fendi."


"Jadi pengaruh makhluk itu masih ada sampai sekarang?" tanya Cendol


"Kalau menurut Pak Sobri kayaknya agak susah deh. Nggak semudah waktu kita menghadapi Mey yang kesurupan. Katanya sosok yang ada di tubuh Fendi itu marah besar. Bahkan Pak Sobri saja sepertinya sulit untuk membantu Fendi tapi alhamdulillah beliau mau mencoba diskusi sama makhluk itu," jelas Khusnul.


"Diskusi? Cih, ada ada aja." Armand tersenyum getir saat mendengar perkataan Khusnul.


"Kenapa ketawa lo?" tanya Derry.


"Lucu nggak sih menurut kalian?"


"Bagian mana yang lucu?" tanya Ike.


"Ya itu. Makhluk itu marah dan nggak bisa dikendalikan. Tapi Pak Sobri mau diskusi sama dia. Ini akibat punya pemahaman syirik. Menyekutukan Tuhan. Makanya takut sama begituan!" ujar Armand.


"Btw kalau soal takut, kita juga takut kali, Man. Iya, kan? Ngaku aja lo. Lo juga, kan, " tandas Derry.


"Kita takut karena musuh kita nggak kelihatan. Jadi kita nggak punya cara untuk melawan mereka. Tapi kita lupa, kalau kita punya Allah. Jadi seharusnya kita bisa lawan rasa takut itu. Menurut gue, makhluk halus punya sifat manipulatif. Mereka bisa membuat kita jatuh hanya dengan pikiran kita. Membuat kita takut, agar mental kita lemah. Jadi mudah bagi mereka untuk menghancurkan kita!"


"Terus menurutmu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Khusnul.


"Kita harus cari cara untuk melawan mereka. Tapi sebaiknya masalah seperti ini kita bahas sama sama. Tunggu sampai yang lain pulang nanti."


Ubi rebus tersaji di meja. Rahma membuat banyak camilan berbahan palawija untuk teman malam ini. Mereka memiliki banyak pekerjaan rumah, dan tidak bisa bersantai lagi. Setiap malam akan ada evaluasi dan laporan yang harus mereka tulis selama kegiatan pada hari itu. Semua orang sudah mandi dan berganti pakaian. Mereka sudah santai, walau tidak sepenuhnya demikian.


Fendi sudah tampak lebih baik dari sebelumnya. Bahkan senyum juga sudah terlihat di wajahnya. Dia sedang mengobrol bersama teman teman yang lain di ruang tamu.


"Man, menurut lo malam ini bakal aman nggak?" tanya Dolmen.


"Nggak tahu. Gue nggak bisa memastikan. Gue bukan Pak Sobri yang bisa ngobrol sama setan," tukas Armand yang masih fokus dengan laporan yang sedang ia buat.


"Ih, Man. Jangan gitu kenapa sih? Menurut lo. Gue cuma nanya menurut lo. Pertanyaan ini bukan sesuatu yang membutuhkan jawaban pasti."


Armand menarik nafas panjang, tumpukan kertas yang ada di hadapannya tadi, kini dibiarkan begitu saja tergeletak di meja. Pena yang sejak tadi ya genggam juga dilaporkan asal di atas tumpukan kertas tersebut. Reaksinya cukup membuat teman-teman yang melihat kejadian itu sedikit was-was. Karena Armand merupakan tipe Pemuda yang emosinya tidak bisa ditebak. Dia bisa saja marah dalam waktu sekejap hanya karena masalah sepele dan Bahkan dia bisa bersikap manis beberapa detik setelah dia marah marah. Begitulah karakter Arman dan teman-temannya sudah hafal mengenai wataknya itu.


" Kalau menurut gue sebagai orang awam, kemungkinan malam ini bakal ada drama lagi. Mengingat tempat ini yang memang masih kental dengan hal-hal mistis, ditambah dengan kelakuan kita, gue nggak menyudutkan satu orang aja ya. Karena ku yakin kita semua juga pasti pernah melakukan kesalahan yang seharusnya nggak dilakukan di tempat ini. Walau mungkin itu masih dalam kategori remeh nggak separah seperti yang Fendi lakukan. Tapi mengingat beberapa malam yang udah kita lewati di tempat ini, gue rasa kita harus semakin Siap dengan kemungkinan buruk yang mungkin bisa saja terjadi nanti terutama malam ini."


"Terus gimana? Katanya lo mau bahas masalah ini rame-rame. Soal rencana kita ke depannya?" tanya Ike.


"Iya, tapi nggak usah semua deh. Terutama Fendy nggak perlu ikut. Mungkin perwakilan aja. Yang jelas Daniel harus ikut dalam diskusi ini karena dia penanggung jawab kelompok kita selama KKN di sini."


" Ya udah kalau kita tunggu yang lainnya tidur aja," ucap Sule.


"Eh, aku diajak dong!" rengek Ike.


"Iya, Yang, iya. Aku ajakin kok. Kamu sini aja ya sama aku," sambar Derry


"What? Kenapa kalian?" tanya Armand kebingungan sampai menatap Ike dan Deri bergantian. Apalagi posisi mereka duduk berada di depan Arman.

__ADS_1


"Tahu nih, mereka dari tadi mulai aneh," ucap Dolmen.


"Cinta lokasi kali. Ehem," tambah Sule.


"Ih, apaan sih! Enggak ih! Itu si Derry aja gelo!" maki Ike.


Tapi sayangnya Derry tidak terpancing dengan emosi yang berlebihan ia justru hanya tersenyum sambil terus menatap Ike dan menjawab pertanyaan teman-temannya dengan antusias. Karena terus menerus digoda akhirnya Ike pun masuk ke dalam rumah sambil mengerucutkan bibirnya.


"Men, mendingan coba lo alihkan perhatian yang lain. Terutama Fendi, supaya dia tidak mendengar diskusi yang akan kita lakukan nanti," pinta Armand.


"Gitu, ya? Hem, Oke sebentar biar gue coba," kata Dolmen yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah dan tampak mengobrol dengan beberapa teman yang lain.


Fendy memang saat ini tidak sendirian dan memang tidak disarankan untuk sendirian. Di ruang tamu ada beberapa teman-teman yang masih sibuk dengan kegiatan masing-masing. Bahkan mereka semuanya berkumpul di dua tempat. Teras dan ruang tamu. Seakan-akan kelompok itu terbagi menjadi dua kubu.


Dolmen bisik bisik dengan Mey. Raut wajah mereka berdua tampak Serius. Lalu diskusi itu berakhir dengan sebuah anggukan kepala Mey.


"Fen, proker lo gimana?"


"Tadi gagal, Mey. Mungkin mau nyoba besok."


"Tapi udah oke, kan? Tinggal eksekusi aja gitu maksudnya?"


"Sebenarnya gue masih belum bikin laporan. Dari kemarin mau bikin tapi nggak bisa bisa. Mana sekarang ngantuk," tukas Fendi.


"Ya udah biar gue bantuin. Di kamar aja yuk. Biar lo bisa rebahan. Lo pasti masih belum fit, kan? Si Khusnul juga di kamar. Jadi sekalian minta bantuan dia aja nanti. Kan kalau dikerjain bareng jadi lebih gampang nanti."


"Emangnya nggak apa apa kalau gue di kamar? Nanti kalau gue ketiduran gimana?"


"Ya nggak apa apa. Lagian kalau cuma tidur kan nggak masalah. Emangnya kita ngapain di kamar? Nil, Fendi gue ajak ke kamar aja ya. Kelarin laporan," pamit  Mey.


"Kamar? Kenapa di kamar?" tanya Daniel sedikit keberatan.


Tapi Dolmen segera mendekat dan dapat mencubit lengan Daniel sambil berkedip.


"Udah sih, bolehin aja kenapa!" tukas Dolmen sambil melotot ke Daniel yang bermaksud sesuatu.


Alhasil Daniel pun membolehkan hal itu. Walau dengan wajah kebingungan. Begitu Fendi sudah masuk ke dalam kamar bersama Mey, dan pintu ditutup, Dolmen segera berbisik. "Armand mau bahas soal Fendi di luar. Makanya Fendi suruh ke kamar dulu biar dia nggak dengar!"


"Oalah. Kenapa nggak ngomong aja dari tadi?"


"Biar dia jadi tau rencana kita gitu? Please deh, Dan," sanggah Dolmen.


"Hahahaha. Ya udah yuk, keluar," ajak Daniel.


Mereka sudah berkumpul di teras rumah. Kali ini memang tidak semua orang ada di teras, karena sebagian justru ada di kamar menemani Fendi. Armand, Daniel, Dolmen, Sule, Derry, dan Cendol. Yah, hanya para pria saja yang ada di teras.


"Jadi gimana?" tanya Daniel begitu dia duduk di kursi kayu teras.


"Nih, Armand mau bahas masalah ini," tukas Derry.


"Oke. Gimana, Man?"


"Kalian tahu, kan, kalau kondisi Fendi itu  mungkin bakal kambuh lagi. Entah malam ini, atau besok, bahkan lusa. Atau bisa saja setiap malam. Jadi kita harus mempersiapkan diri untuk semua kemungkinan yang bisa saja terjadi nanti."


"Caranya? Kan yang kita hadapi makhluk tak kasat mata, Man," tutur Cendol.


"Iya. Menurut gue pribadi, sumber dari gangguan yang dialami Fendi adalah patung di mata air. Kalian setuju, nggak?"


"Iya, setuju."

__ADS_1


"Terus gimana? Nggak mungkin, kan, kalau kita hancurkan patung itu?" tanya Derry.


"Iya ih! Jangan cari masalah gitu, Man. Jangan pakai cara bar bar, please," tutur Dolmen.


"Boleh juga idenya. Tapi itu bakal kita lakukan kalau semua usaha kita gagal. Yah, anggap aja itu senjata terakhir," kata Armand dengan percaya diri.


"Terus? Rencana lo apa dong?" tanya Derry.


"Gue sebenernya nggak begitu paham soal dunia mistis gini. Cuma menurut gue, patung itu bukan patung sembarangan deh. Buktinya dia bisa jalan jalan semaunya. Walau kita nggak lihat secara langsung proses dia jalan, ya. Tapi gue sama Derry udah lihat dia bisa jalan jalan di desa ini. Yang artinya kita nggak bisa sembarangan meremehkan benda itu."


"Iya, benar. Aku rasa juga demikian. Bahkan pertama kali lihat patung itu, aku merasa nggak nyaman. Seakan akan patung itu selalu mengawasi orang orang di sekitarnya. Aku yakin, kalau apa yang kalian katakan memang benar, berarti kita harus cari tahu dulu tentang patung itu. Apa kita harus tanya tanya ke warga atau pak Kades sekalian?" tanya Sule.


"Tanya sama warga? Hem, boleh juga. Tapi gue sih nggak yakin, kalau warga bakal bilang sesuai yang kita ingin tahu," tambah Dolmen.


"Pak Sobri! Kenapa nggak tanya Pak Sobri aja? Bukannya dia adalah orang yang paling mengetahui seluk belum makhluk halus di desa ini?" tanya Cendol.


" sebaiknya jangan. Menurutku Pak Sobri tidak akan memberitahukan secara rinci mengenai patung itu. Tadi aku sama Khusnul aja coba cari tahu, Tapi jawabannya masih abu abu. Dia cuma meyakinkan kami kalau dia akan mengurus semuanya dengan baik," tutur Sule.


"Cih, mengurus semuanya dengan baik? Apanya yang baik? Semakin hari teror yang menimpa kita semakin parah. Jadi apa yang dia bilang mengurus semuanya dengan baik? Omong kosong," timpal Armand.


"Eh, besok kan saya harus ke kota lagi," kata Daniel.


"Mau ngapain lagi lo?" tanya Dolmen.


"Nih, dosen kita mau ke sini. Mau periksa soal proyek kita. Tadi sore telepon gue," jelas Armand.


"Iya, benar. Mumpung saya ke kota untuk jemput dosen, saya berniat mampir ke pondok pesantren saya, untuk meminta bantuan beberapa teman saya di sana. Siapa tahu dia bisa membantu," tambah Daniel.


"Temen? Yakin dia bisa bantu, Nil?"


"Insya Allah. Yang penting kita sudah berusaha. Tinggal semua keputusan ada di Allah."


"Nil, kenapa nggak lo aja yang ngurus. Kan lo juga lulusan pondok pesantren?" tanya Derry.


"Wah itu bukan kapasitas saya, Der. Beda jurusan. Tapi waktu saya di pesantren dulu, memang ada beberapa ust yang bisa dan paham mengenai hal hal yang berhubungan dengan makhluk halus. Bahkan ada yang khusus mendalami praktik rukiyah. Biasanya mereka diberikan ijazah, semacam amalan dari kyai nya. Tapi waktu saya kemarin, saya nggak mau mempelajarinya."


"Kenapa nggak mau, Nil?"


"Enggak deh. Saya penakut soalnya."


"Masa sih lo penakut."


"Iya. Aslinya saya penakut. Cuma sok berani aja."


"Oke, jadi besok lo mau ketemu temen pesantren lo ya, Nil? Tapi bukannya alangkah lebih baik, kalau dia dibawa ke sini aja? Buat lihat langsung kondisi di sini?"


"Iya, Man. Nanti saya coba bilang sama dia. Semoga dia bisa datang ke sini. Bismillah."


Rencana mereka mengundang teman Daniel dari pondok pesantren merupakan pilihan yang terbaik saat ini. Bagaimanapun tidak ada satupun dari mereka yang mengerti dan memahami mengenai apa yang sedang terjadi di desa tersebut. Bahkan tidak ada dari mereka yang bisa menangani masalah ini sendirian. Sekalipun mereka hafal doa-doa yang seharusnya bisa diucapkan saat bertemu makhluk halus, tetapi jika keyakinan mereka tidak kuat maka doa itu tidak akan mempan.


Malam ini setelah mereka menyelesaikan laporan, semua kembali masuk ke dalam dan bersiap untuk tidur. Hari esok masih panjang, dan mereka masih memiliki banyak sekali tugas dan tanggung jawab.


"Ke, Fendi di mana?" tanya Derry saat Ike baru saja keluar dari kamar membawa cangkir kosong miliknya.


Dia memang akan selalu mengisi cangkir dengan air minum sebelum tidur. Karena Ike adalah tipe orang yang akan sering kehausan saat tengah malam.


"Tuh, tidur dia di kamar. Digelarin tikar sama Khusnul. Katanya biar aja suruh di kamar," jelas Ike lalu kembali berjalan ke dapur dengan sempoyongan.


"Tidur di kamar?" tanya Daniel.

__ADS_1


"Bentar, gue cek dulu coba."


Dolmen lantas berjalan ke kamar di mana Fendi berada. Saat sampai pintu yang memang kondisinya terbuka lebar, rupanya Fendi sudah tidur di lantai memakai tikar, sendirian. Karena teman teman yang lain sudah tidur di atas ranjang. Hanya Fendi sendirian yang tidur di lantai. Posisi pintu juga dibuka lebar oleh mereka. Sehingga tidak menimbulkan fitnah nanti. Mereka pun akhirnya ikut tidur juga. Berharap malam ini akan dilewati dengan baik tanpa ada gangguan apa pun.


__ADS_2