Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
Part 16 pengorbanan nenek


__ADS_3

"Kalian tidak menghargai saya ya, saya sudah capek - capek membuatkan makanan, dan kalian malah memasak makanan aneh itu," tunjuk Bu Heni, nada bicaranya mulai naik. Aku mulai cemas, apakah Bu Heni mulai menyadari kalau kami ternyata sudah tau semuanya.


"Saya tidak mau tau, kalian harus memakan makanan ini!"


Kami saling pandang, tidak tau lagi harus bagaimana menolak permintaannya. Aku menaikkan sebelah alisku ke mereka, meminta persetujuan tindakan apa yang harus kami lakukan sekarang. Jujur saja, aku tidak akan sudi makan makanan itu lagi sekarang. Tidak akan pernah. Bu Heni berjalan mendekat. Kakinya terseok, karena ternyata kaki sebelahnya lebih panjang dari kaki yang satunya. Penampilan Bu Heni yang jauh dari saat siang hari tadi, membuat aku bergidik ngeri. Bahkan dia jauh lebih terlihat tua dari nenek Siti. Mungkin karena ruh Bu Heni masih terjebak di dunia, bahkan kadang melupakan atau memang terlupa jika dia sudah meninggal sejak lama. Hal itu yang membuat penampilan Bu Heni jauh lebih mengerikan. Dia belum ikhlas terhadap dirinya dan kematiannya sendiri. Rambutnya keriting dengan panjang sampai pinggang. Warnanya dominan putih. Kulitnya keriput dan sangat kering. Sedikit gosong dan di beberapa bagian kulitnya mengelupas. Di sana timbul sesuatu yang bergerak - gerak. Bahkan kini benda itu tercecer di tiap lantai yang dia lewati. Benda itu sama seperti yang ada di dalam piring, menggeliat, berusaha keluar dari tempat makanan itu. Dan benda itu yang dia tawarkan pada kami.


"Apa yang kalian makan?" tanyanya, menatap ikan bakar yang belum sepenuhnya matang. Tangannya mulai menggaruk di leher hingga menimbulkan luka kemerahan. Anehnya sesuatu rontok di sana, bagian leher itu seolah menghasilkan belatung yang masih bergerak - gerak jika jatuh ke bawah. Kiki bergidik ngeri, lalu bersembunyi di balik bahuku. "Tha, aku pengen muntah!" bisiknya tegas. Tidak lagi mau berlama - lama menyaksikan pemandangan di depan kami sekarang. Aku mengelus punggungnya lembut. "Duduk sana aja, Ki," suruhku menunjuk kursi kayu yang ada di sudut ruangan.


Kiki menurut, dibantu oleh Doni.


"Kami makan ikan, Bu. Tadi kami memancing di sungai, ternyata di sana banyak ikan, bahkan baru sebentar kami sudah dapat ikan yang cukup," jelas Dedi.


"Apa warga desa tidak makan ikan, Bu? Seolah - olah ikan di sana tidak pernah tersentuh warga, ini saja ada ikan yang cukup besar. Di desa nenek saya saja, menemukan ikan sebesar telunjuk jari tangan cukup sulit. Apa mungkin warga desa tidak makan ikan, ya Bu?" tanya Radit dengan nada menyindir.


Bu Heni hanya diam, tanpa ekspresi. "Ya sudah, makan saja ini." Kembali dia menyodorkan makanan tersebut. Ah, bukan makanan, tapi belatung hidup yang bergerak - gerak di dalam piring atas nampan.


"Maaf, Bu, kami tidak mau dan tidak akan makan, makanan yang ibu berikan. Karena kami masih manusia, itu bukan makanan wajar yang biasa kami konsumsi," jelas Kak Arden.


"Maksud kalian apa? Ini bukan makanan manusia?" tanya Bu Heni sedikit menjerit.


"Bukan. Ibu lihat benda apa yang ibu tawarkan itu?" tanya Kak Arden lagi. Bu Heni kembali menatap apa yang ada di hadapannya. Diam dan terus memperhatikannya. Aku penasaran apa yang ada di kepala Bu Heni tersebut. Apakah dia sadar atas apa yang dia lakukan. Apakah dia tau kalau apa yang dia tawarkan, dan apa yang dia makan bukanlah sesuatu yang wajar dimakan oleh manusia pada umumnya.


Bu Heni lantas mencomot belatung tersebut. " Ini yang kalian bilang bukan makanan manusia?" tanyanya menunjukkan apa yang ada di ujung jarinya, menggeliat, jatuh, terkadang ada pula yang melompat. Bu Heni lantas memasukkan hewan tersebut ke dalam mulutnya. Mengunyah, menggigit dan menelannya mentah - mentah. Tidak hanya sampai di situ, ujung jemarinya dia kecup seolah habis merasakan makanan lezat. Bu Heni melempar nampan tersebut ke arah kami. Sontak kami mundur berusaha menghindarinya. Bu Heni kembali menggaruk tubuhnya. Kali ini ia memilih bagian lengan kirinya. Matanya tajam menatap sesuatu yang berhasil muncul dari balik kulitnya yang tergaruk tadi. Ia menyeringai, kembali mengambil hewan itu dan menunjukkan nya pada kami. "Lihat! Ada lagi. Kalian tidak tau ini sangat lezat," gumamnya kembali memasukkan belatung ke dalam mulutnya. Mengunyahnya kasar seolah itu adalah makanan yang memang sangat lezat bagi dirinya.


Kiki langsung muntah saat itu juga, aku meliriknya sekilas, dan bernafas lega saat tau Doni masih setia bersamanya. Kembali menatap setan di depanku. Kini opiniku berubah, ah, tidak. Justru aku mulai menemukan jawaban atas pertanyaan yang terus memenuhi kepalaku.


"Anda sebenarnya sudah tau kan kenyataannya?" tanyaku lantang. Bu Heni menatapku tajam, kepalanya miring dengan senyum mengerikan. "Apa maksudmu, Bu guru?" Suara Bu Heni serak, berat dan membuat bulu kudukku meremang.


"Kalau Bu Heni, Pak Karjo dan semua penduduk desa sudah ... mati!"


Bu Heni melotot, tak lama tertawa keras. Melengking dan sedikit membuat hatiku gentar. Sikapnya sangat jauh berbeda dengan Bu Heni yang selama ini aku kenal. "Memangnya kenapa kalau kami sudah mati? Toh, kalian juga akan menjadi bagian dari kami," katanya dan mampu membuat kami menelan ludah masing - masing. Menatapnya was - was, dan mulai bersiap akan berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Rupanya dia memang sudah menyadari akan kondisi dirinya sendiri. Dia juga tau kalau kami berbeda, dan ternyata dia sengaja ini membuat kami menjadi bagian dari dirinya dan warga desa.


"Kami akan menjadi bagian dari kalian? Hah, jangan mimpi!" tukas Radit lantang. Gemerincing suara logam terdengar samar, tapi makin lama makin jelas dan menuju kemari. Seseorang terlihat di balik pintu. Pak Karjo muncul dengan sebuah golok di tangan kanannya. Tajam dan panjang.


"Pak, sudah saatnya mereka menjadi bagian dari kita. Lakukan sekarang saja, Pak." Bu Heni seperti mengomando. Pak Karjo tersenyum lantas mengangkat golok di tangannya. Radit mendekat padaku, dan berdiri di depanku.

__ADS_1


"Gila!" Semua orang berkumpul menjadi satu. Ancaman ini bukan sekedar peringatan, tapi memang sebuah tindakan yang akan segera dia lakukan.


"Gimana ini?" tanya Dedi, yang sudah siaga jika ada tindakan berbahaya dari Pak Karjo.


"Kabur saja," kata Kak Arden melirik ke pintu belakang yang terbuka.


"Hah? Kabur? Yang bener lu?!" tanya Radit tidak percaya pada perkataan Kak Arden.


"Yakin. Dia berbahaya, jangan sampai salah satu dari kita terluka. Itu malah akan membuat jalan kita sulit. Sekarang kita harus kabur dan mencari tempat bersembunyi. Karena kita sekarang adalah satu satu buronan mereka, seperti Bu Lulu."


Jangan sampai salah satu dari kami terluka, atau jalan kami akan lebih sulit nantinya. Yah, itu memang benar. Aku pun setuju dengan perkataan Kak Arden. Kami harus menyelamatkan diri terlebih dahulu.


"Oke, hitungan ketiga kalian lari keluar pintu belakang. Gue alihkan perhatian dia!" kata Radit. Aku menoleh lantas menggeleng cepat. " Kita harus pergi sama - sama!" cegahku.


"Biar kakak sama Radit yang menahan dia sebentar. Kalian pergi. Cari tempat tinggal Lulu, kita kumpul di sana. Dedi udah tau di mana tempatnya."


"Tapi, Kak!"


"Percaya kami, Aretha. Kakak sama Radit pasti menyusul kalian," bisik Kak Arden penuh keyakinan.


"Satu ...." Radit mengambil balok kayu besar yang ada di bawah, memberikannya satu pada Kak Arden. "Dua ...." Dia lalu mengecup keningku sambil tersenyum getir. "Tiga!"


Dedi memimpin rombongan. Kami terus berlari menuju hutan yang ada di depan rumah. Beberapa kali aku terus menatap ke belakang, berharap Kak Arden dan RAdit sudah menyusul kami sekarang. Namun kenyataannya hanya ada sudut gelap kosong di sana.


Kembali, suara anak ayam mulai terdengar nyaring. Danu menggeram kesal. " Hah, please jangan nongol sekarang kenapa sih!" hardiknya sambil terus memperhatikan sekitar. Tangan kanannya tidak pernah melepaskan tanganku. Kiki dan Doni berlari di depan kami. Dedi terus menuntun kami ke tempat tinggal Lulu.


Sampai akhirnya, Dedi berhenti di sebuah tenda kain lusuh. Bekas pembakaran masih terlihat baru dipadamkan, asapnya masih mengepul ringan. Dia terus mencari sesuatu. "Ini?" tanya Doni dengan nafas terengah - engah masih menggandeng Kiki.


"Iya, di sini. Tapi ke mana dia? Harusnya masih di sini."


"Mungkin lagi ke mana gitu, Ded?"


"Nggak mungkin, Dan, dia bilang sendiri kalau malam dia nggak akan pergi ke mana pun. Malam adalah waktu yang berbahaya untuk dirinya sendiri, dan mungkin sekarang untuk kita!"


"Semoga saja dia baik - baik saja," sahutku, pasrah. Aku bahkan masih mencemaskan RAdit dan Kak Arden.

__ADS_1


"Iya, kita berdoa saja seperti itu. Lebih baik sekarang kita masuk ke dalam, menghindari ancaman lain. Soalnya suara anak ayam tadi masih jauh. Jangan sampai dia menemukan kita."


Kami masuk ke dalam tenda. Tenda kain buatan Lulu cukup besar untuk kami semua. Di dalam sini beberapa barang miliknya tertata rapi di sudut tenda. Beberapa potong pakaian, selimut, seprei dan makanan kaleng yang entah dia dapatkan dari mana. Uniknya tenda ini juga bisa melindungi dari hujan lebat. Tenda ditutup. Bersembunyi adalah cara kami untuk bertahan sementara.


Kiki sudah berbaring di pangkuan Doni, Danu dan Dedi menempati sisi lain dan hanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Suara anak ayam yang awalnya terasa keras dan kencang, kini mulai terdengar samar. Justru hal ini menjadi momok mengerikan lainnya bagi kami. Karena makhluk itu semakin mendekat. Aku yang duduk paling dekat dengan pintu, cukup waspada. Sekalipun suasana di luar tidak terlihat, karena kain penutup ini, tapi kain di depanku bukanlah penutup yang cukup dapat kami andalkan. Karena kain ini tidak memiliki keamanan cukup. Lebih mirip korden yang dapat disibak dengan mudah.


Berisik daun kering terdengar diinjak sesuatu atau seseorang. Jantungku berpacu lebih cepat dari semula. Tanganku gemeteran, dan sedikit gugup. Kejadian di rumah Bu Heni masih terasa sampai sekarang. Tidak hanya Kak Arden dan Radit saja yang aku khawatirkan, tetapi juga keselamatan Nenek. Seharusnya kami tidak meninggalkan nenek begitu saja. Tapi kami juga tidak mungkin membawanya bersama kami.


"Tha," guna Danu, mengisyaratkan aku untuk menjauh dari pintu. Aku yang dilarang seperti itu, justru ingin lebih mendekat, dan mengintip dari celah pintu yang dapat kubuka dengan mudah.


Seketika kain penutup itu terbuka kasar. Kami semua terkejut dengan kejadian yang tiba - tiba tersebut. Namun, yang muncul dari balik pintu, justru wajah - wajah orang yang sudah aku tunggu. Segera aku meraih Radit dan menariknya dalam pelukanku. Kak Arden menyusul dan masuk ke dalam.


Dia kembali menutup pintu dan memeriksa terlebih dahulu suasana di luar sana.


Radit duduk di samping ku, aku memperhatikan wajahnya lekat - lekat. Berharap dia datang dengan kondisi yang baik - baik saja, tidak terluka. "Aku baik - baik aja. Kami berhasil lolos dari Pak Karjo dan Bu Heni," jelasnya seolah tau kecemasanku.


"Bagaimana caranya kalian lolos?"


"Nenek membantu kami."


"Apa?"


Keduanya terdiam, wajah mereka menunduk dengan raut wajah yang tak berdaya.


"Maaf, kami nggak bisa menyelamatkan nenek. Nenek mengorbankan dirinya agar aku sama Arden selamat."


Langit terasa runtuh. Aku tidak tau apakah harus senang atau sedih mendengar kabar ini. Di satu sisi aku bahagia karena Radit dan Kak Arden kembali. Tapi di sisi lain, aku sedih, tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada nenek di sana.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Danu antusias.


Radit menatap Kak Arden, sementara Kak Arden tak langsung menjawabnya. Berkali kali aku melihatnya menelan ludah.


"Kak!" panggilku sedikit menaikkan nada bicara.


"Jadi ... Setelah kalian pergi, kami mulai menghindari serangan Pak Karjo. Awalnya kami mau langsung pergi menyusul kalian, tapi dia terus menghalangi jalan kami. Berkali - kali dia menyabetkan goloknya, nyaris saja kami mati. Bu Heni juga ikut menyerang kami. Lalu, di pintu, nenek muncul. Duduk di atas kursi rodanya. Dia mengacungkan pisau, lalu bilang kalau nenek mau ikut mereka. Asal mereka melepaskan kami. Kalian tau, dapur itu roboh. Seperti ada angin topan, dan terakhir kalinya kami melihat nenek. Kakak sama Radit pergi dari sana. Karena rumah itu perlahan mulai roboh."

__ADS_1


"Ya Allah." Hatiku sakit mendengarnya. Aku menangis se jadi - jadinya. Radit segera mendekapku ke dalam pelukannya. Nenek, yang awalnya sangat mengerikan bagiku, justru adalah orang yang sangat baik. Aku tidak tau, bagaimana dia bisa bertahan sampai sejauh ini. Kalimatnya yang mengatakan kalau akan mengikuti mereka, itu seolah sudah rela mengikhlaskan kematiannya sendiri. Bagaimana bisa nenek hidup dengan setan - setan itu selama bertahun - tahun. Ingin rasanya aku kembali ke sana, melihat apakah nenek masih bisa diselamatkan. Siapa tau, kami masih sempat. Tapi, lagi - lagi aku tidak boleh bertindak sembarangan. Karena aku juga tidak ingin kehilangan teman - temanku yang lain. Aku tidak mau kehilangan lagi. Malam terasa makin sunyi, suara hewan malam seolah menjadi pengantar tidur bagi kami.


Lulu, tidak tau pergi ke mana. Kami berharap dia baik - baik saja. Entah dia sedang bersembunyi atau mencari perbekalan di tempat lain, atau bahkan mungkin dia sudah berhasil keluar dari desa ini. Walau itu hal yang sangat mustahil. Aku berharap, ini hanya mimpi buruk. Dan saat aku membuka mata esok hari, keadaan kembali seperti semula. Baik - baik saja. Rasanya aku rindu rumah. Bunda. Ayah. Apakah mereka tau kalau kami tidak baik - baik saja di sini. pak de. Arkana.


__ADS_2