Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
Part 12 Menjemput Danu


__ADS_3

Azan berkumandang, aku yang mulai sadar lantas mengerjap, berusaha membuka mata walau rasanya sungguh berat. Hawa sekitar terasa asing bagiku, bahkan setelah membuka mata aku memang berada di tempat yang lain. Kamar yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Aku masih diam, mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi sebelumnya. Apalagi dengan suara Radit yang terdengar jelas di ruangan lain, aku makin yakin kalau sedang berada di mana. Desa Alas Ketonggo. Yah, aku ingat semuanya.


Segera keluar kamar, rupanya keadaan di luar cukup ramai. Beberapa orang warga desa berkumpul di ruang tamu. Bahkan ada orang - orang yang aku kenal, yang membuat aku terharu dan segera ingin memeluk mereka. Kak Arden, Doni, Kiki, dan Dedi. Aku segera berhambur memeluk Kak Arden lalu Kiki. "Kok kalian di sini? Radit yang kabarin, ya?" tanyaku meminta penjelasan Radit juga mereka semua. Rasanya hal ini akan sangat sulit terjadi, karena mereka selama ini cukup sibuk dengan pekerjaan masing - masing.


"Iya, Radit kabarin kami tadi. Kakak langsung ke sini, mereka juga ikut, khawatir sama keadaan kamu dan Danu, terutama. Dia masih terjebak di sana, kan?" tanya Kak Arden. Aku mengangguk cepat, berharap Danu segera ditolong.


"Tha, duduk dulu," ajak Radit.


"Jadi kami sudah diskusi, apa tindakan yang akan kita lakukan nanti," jelas Kak Arden. Begitu aku sudah duduk di sampingnya. Semua orang terlihat sangat serius di ruangan ini. Orang - orang yang aku temui di mushola tadi. Rumah ini rasanya milik ibu yang menolong ku tadi, foto - fotonya terpampang jelas di dinding. Aku hanya diam, menyimak pembicaraan yang sudah aku lewatkan entah sejak kapan. Bahkan aku tidak tau kalau sudah berapa lama pingsan, karena di luar sudah gelap.


"Jadi begini, Mba Aretha. Kalau kalian mau menolong teman kalian, Mas Danu, maka kalian harus kembali ke sana dan menjemputnya. Tapi maaf, kalau kami tidak bisa ikut masuk ke sana, karena ... pantang bagi kami masuk ke desa itu, kami juga dilarang berada di sana apa pun yang terjadi, peraturan ini sudah ada sejak orang tua kami terdahulu." Pak Tua yang berada di mushola tadi, yang pertama kali bertanya padaku dan Radit mulai angkat bicara.


"Jadi sebenarnya apa yang terjadi dengan desa itu, Pak?" tanyaku penasaran. Aku benar - benar tidak mengira akan begini. Semua terasa nyata, manusianya, bahkan kehidupan mereka di sana.


"Kami tidak begitu paham. Dulu ... kalau tidak salah dengar, karena saat itu saya masih kecil, ada sebuah kejadian yang cukup menghebohkan di sana. Saat itu orang tua saya sempat ikut melihat ke sana, karena banyaknya mobil polisi dan ambulance. Katanya ada pembunuhan di sana. Satu keluarga dibantai oleh kepala keluarganya, kalau tidak salah karena istrinya berselingkuh," jelas bapak tadi.


"Astaga. Itu saya juga mendengar kisahnya, karena rumah bekas pembantaian itu berada tepat di rumah tinggal saya sama Danu. Pemilik rumah menceritakan semuanya pada kami. Pak, apa benar kalau mereka semua sudah meninggal? Saya tidak habis pikir, karena semua warga di sana ... hidup."


"Iya, Mas Radit juga sudah menceritakannya, karena sudah mengalaminya sendiri. Jadi saya paham bagaimana kebingungan Mba Aretha."


"Lalu kalau kejadian pembunuhan itu terjadi hanya pada salah satu keluarga di desa itu, lantas ke mana warga desa lainnya, Pak?" tanya Kak Arden.


"Mereka terkena penyakit menular, dan tidak bisa bertahan. Kemudian mereka meninggal, bahkan bersama dokter yang menanganinya."


"Dokter Daniel!"


"Kamu ketemu dokternya, Tha?" tanya Kiki. Aku menatapnya lalu mengangguk. Kini semakin jelas, aku mulai memahami kejadian malam itu. Keanehan itu.


"Kalau kita kapan kita ke sana, Kak? Kasihan Danu. Aku takut dia kenapa - kenapa!"


"Iya, kita berangkat sekarang."


___________


Malam ini juga kami berangkat kembali ke desa itu. Kini ada dua kendaraan yang akan membawa aku dan teman - teman ke sana. Kami juga sudah dibekali dengan makanan dari Ibu Sari, pemilik rumah ini. Katanya sebisa mungkin kami tidak boleh makan, makanan dari desa itu. Jika aku bayangkan, entah apa yang sudah beberapa hari ini aku makan dengan Danu. Setidaknya pisang goreng dari rumah Dokter Daniel tidak kusentuh.


Perjalanan ke desa itu memang tidak dekat, aku khawatir kami akan sampai di sana saat hampir tengah malam. Tapi keberanianku seolah naik berkali kali lipat, karena kedatangan mereka. Kami semua diam, dengan pikiran masing - masing. "Pantes aja, mobil gue mogok, nggak tau kenapa," cetus Radit tak lama setelah aku berpikir semua keanehan - keanehan di desa itu.


"Ah, paling mesin mobil lu belum di cek," tukas Dedi.


"Astaga, Ded! Sebelum gue ke sini, udah gue service. Baru keluar bengkel ini mobil. Lagian ini mobil kesayangan gue, nggak bakal gue sia - siain. Rajin gue rawat!" jelas Radit.

__ADS_1


"Terus mobil Danu juga katanya mogok?"


"Iya, ini sparepartnya gue bawain yang baru, untung bapak tadi punya bengkel, nggak usah jauh - jauh nyarinya," tunjuknya ke belakang mobil, samping Dedi. Mobil ini hanya ada kami bertiga, Dedi, Radit dan aku. Sementara mobil Doni ada Kiki dan Kak Arden.


"Kenapa, ya, aku nggak bisa merasakan keanehan itu. Kalau selama beberapa hari ini aku tinggal sama para makhluk halus? Aku bahkan ada di sekitar mereka, ngobrol, dan makan bareng mereka!" tandasku yang benar - benar tidak habis pikir. h, Tha, lu pernah denger setan yang bisa memanipulasi keadaan nggak? Bisa jadi itu alasannya. KAlian kan nggak tau sejarah desa itu, dan mereka seolah - olah membuat desa itu terlihat seperti desa pada umumnya." Dedi memberikan penjelasan menurut pandangan pribadinya.


"Atau bisa jadi, mereka juga nggak sadar kalau udah meninggal? May be? Kan nggak jarang juga kita ketemu setan yang nggak tau kalau dirinya sudah meninggal? Iya, kan?" tanya Radit, membuat spekulasi lain.


"Hm ... semua kemungkinan itu masuk akal juga. Semoga Danu baik - baik aja, ya."


"Pasti, Tha. Danu itu kuat, udah berapa lama dia hidup di tengah dedemit dan kroconya? Apalagi sejak kenal elu sama Arden."


"Semoga Danu nggak aneh- aneh, nurut dulu sama peraturan yang ada di sana. Nggak usah keluar rumah kalau udah malam, gitu kan?" tanya Radit lagi.


"Iya, semoga dia nggak pergi ke mana - mana lagi."


Selama hampir menempuh perjalanan beberapa jam di jalan, kami mulai memasuki gapura desa yang sama seperti yang aku lihat pertama kali. Mobil Radit melaju lebih dulu, diikuti mobil Doni di belakang kami. Suasana desa sama seperti sebelumnya, sepi. Yah, mirip desa tak berpenghuni memang jika malam begini. Aku menatap jam di pergelangan tangan. Sudah pukul 22.30. Hanya satu yang ada di pikiranku saat ini, keselamatan Danu.


Kami melewati banyak rumah penduduk. Semua bangunannya berbeda dengan yang pertama kali aku lihat. Seolah mataku sudah terbuka akan keadaan asli tempat ini, yang ada hanya rumah - rumah penduduk yang sudah usang, reot, bahkan hampir roboh di mana - mana.


"Pas pertama kali ke sini, elu nggak curiga apa pun, Tha?" Dedi memperhatikan keadaan di sekitar, aku yakin apa yang kami lihat sekarang, sama. Bukan pemandangan desa yang layak huni seperti biasanya.


"Hm, enggak, Ded. Bahkan yang aku lihat ya, rumah - rumah penduduknya masih baik. Nggak gini," jelasku terus memperhatikan sekitar.


"Ya sama kayak Aretha. Mungkin bener, kalau setan penghuni desa bisa memanipulasi pandangan kita."


"Hm, itu masuk akal banget sih. Bahkan seorang Aretha, Ratu penakluk hantu bisa terkecoh." Entah Dedi sedang memuji atau menghina, semua terasa sama saja bagiku. Tidak menanggapi ocehannya aku malah fokus pada seseorang yang berlari ke salah satu rumah kosong di kiri kami. "Dit, berhenti!" pintaku. Radit menghentikan mobilnya mendadak.


"Kenapa?"


"Itu ada orang lari ke sana. Kalian lihat nggak?" tanyaku sambil menunjuk ke rumah tadi.


"Ah, yang bener, Tha? Nggak salah lihat lu?"


"Bener, Ded. Pakai baju warna cokelat."


"Hantu kali!"


"Nggak tau." Aku malah membuka pintu mobil dan turun. Tidak menghiraukan panggilan Radit dan Dedi yang masih berada di dalam mobil. Dari dekat mobil aku terus memperhatikan rumah tersebut, berharap benar - benar menemukan sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk.


"Dek, kenapa?" tanya Kak Arden sambil mendekat padaku. Teman - teman yang lain ikut menyusul, kecuali Doni yang masih berada di belakang kemudi.

__ADS_1


"Aku lihat sesuatu, Kak. Kita cek, yuk, " ajakku.


"Dek, jangan! Kita nggak tau ada apa di sana, lebih baik kita cepat balik ke rumah Bu Heni itu, kasihan Danu. Nanti kalau kita berhasil bawa Danu pergi, kita cek ke rumah ini."


Perkataan Kak Arden ada benarnya juga. Sekarang prioritas kami adalah Danu, bukan yang lain. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan, rumah Bu Heni tinggal beberapa meter lagi. Sampai akhirnya mobil Danu terlihat di sana.


Semua orang turun, menatap sekitar terutama kondisi rumah Bu Heni di depan kami. "Gila, perasaan tadi nggak gini," gumam Radit yang sepemikiran denganku. Apa yang ada di hadapan kami berbeda dengan yang kami lihat tadi siang, dan yang aku lihat beberapa hari ini. Rumah ini terlihat rusak, terutama bagian atapnya. Banyak sampah daun berserakan di halaman dan teras. Jendela sudah berlubang dan keropos.


"Dan! Danu!" jeritku sambil memukul - mukul pintu. Korden membuat aku tidak bisa melihat ke dalam.


Tidak hanya aku, Radit, Dedi, Doni dan Kiki juga ikut memanggil Danu. Pintu akhirnya dibuka, wajah yang kami khawatirkan muncul dari dalam. Dia menguap sambil garung - garuk kepala. "Berisik banget sih! Lah, kenapa elu bawa pasukan kurawa ke sini, Tha?" tanya Danu terkejut melihat teman -teman kami.


"Kamu nggak apa - apa, kan?" tanyaku cemas. Danu menatapku dan teman - teman lain bergantian. "Santai. Aman kok. Gue nggak ke mana - mana pas magrib tadi. Di dalam rumah bantuin Nenek ganti perban, terus makan, nyiapin bahan buat besok, eh tidur. Lama banget baru balik? Ke rumah dulu?"


"Enggak, cuma ke desa sebelumnya."


"Lah ini bocah ketemu di mana?" tanyanya menunjuk teman - teman yang lain. "Eh tunggu. Kalian kenapa sih pucet banget mukanya?" tanya Danu yang mulai menyadari sikap kami. Hanya saja, baik aku dan teman - teman lain bingung harus menjelaskan hal ini dari mana dan bagaimana.


Tiba - tiba seseorang keluar dari dalam, Pak Karjo. Dia terlihat menyeramkan, rupanya beginilah bentuk asli sosok Pak Karjo. Kepalanya terdapat benjolan - benjolan seperti nanah. Berdarah di bagian belakang kepala, bahkan salah satu matanya hampir jatuh karena tidak berada lagi di rongga matanya. Pasti Danu melihat Pak Karjo dengan bentuk yang baik. Tidak seperti kami yang sudah mengetahui tentang desa ini.


"Loh, baru pulang, Mba Aretha?" tanya Pak Karjo dengan suara pelan dan membuat bulu kudukku meremang hebat. Aku diam, terpaku bercampur takut. Tapi Dedi akhirnya menyenggolku yang memang berdiri di samping kananku persis.


"Eh, eum ... iya, Pak. Maaf kemalaman."


"Iya, loh sama siapa?" Entah kenapa cara bicara Pak Karjo mendadak berubah. Pelan seperti kesulitan berbicara.


"Eum maaf Pak, teman - teman kami mau menginap di sini malam ini, boleh?" tanya Radit menggantikanku. Pak Karjo menatap mereka satu persatu. Ia lantas menyeringai dan mengangguk. Dia mempersilakan kami masuk, Kiki menarik tanganku, memaksa menunjukkan di mana kamar yang biasa aku pakai selama ini. "Buruan, Tha. Serem banget!" bisiknya bersembunyi di samping tubuhku. Aku langsung membawanya masuk ke kamarku.


"Hei, kalian!" panggil Pak Karjo. Kami berhenti, tubuh kami menegang dan cukup ketakutan sekarang.


"Iya, Pak? Ada apa?" tanya RAdit berusaha bersikap wajar.


"Saya punya kasur lantai dan tikar di dapur, kalau kalian mau memakainya." Pak Karjo lantas berjalan melewati kami dan kembali ke belakang. Kami semua langsung menghembuskan nafas lega. Aku sampai menekan dadaku karena rasa ngilu di jantung, Dedi bergidik ngeri, begitu pula reaksi teman - teman yang lain. Hingga membuat Danu kebingungan. "Kenapa sih kalian?"


"Dan, sadar! Dia bukan manusia!" bisik Dedi menarik Danu menjauh dari koridor ruang tengah. Danu diam, tapi tak lama tertawa keras. Dedi menutup mulutnya dan kami kompak berdesis agar dia bisa mengatur nada bicaranya tadi.


"Nggak usah bercanda deh. Dosa tau, ngatain orang setan. Nuduh kalian loh!"


"Dan, percaya sama kita. Dia setan! Tuh, lu tanya Aretha yang udah di sini bareng lu. Tanya RAdit juga," timpal Doni ikut menjelaskan. Kak Arden lalu menarik tangan Danu dan mengajaknya duduk di ruang tamu. Kursi kayu di sini penuh dengan debu, Kak Arden meniupnya dulu, dan membuat Danu kebingungan. Aku yakin apa yang dia lihat sama seperti aku sebelumnya. Kursi ini bersih, bahkan debu sedikit saja, tidak ada di sana. Tapi kenyataannya, kursi ini penuh debu tebal dan sarang laba - laba.


Kami ikut duduk di kursi itu, Kak Arden lalu menjelaskan semua hal yang kami tau. Tiap detailnya dan tiap kemungkinannya. "Nggak mungkin! Gila! Pasti gue udah gila!" ungkap Danu geleng - geleng kepala dengan mata yang kosong. KAk Arden lalu menutup mata Danu sambil menggumamkan doa. Saat dia membuka mata ... dia menjerit. "Ya Allah!"

__ADS_1


"SSTT!"


__ADS_2