
Fendi terus menjerit tetapi Kini dia tidak berdaya karena sudah diikat di tiang yang ada di teras rumah. Teman-teman yang lain hanya bisa menatap Fendi dari kejauhan. Sebagian lagi berusaha menolong Ike yang saat ini sudah tidak sadarkan diri. Derry langsung membawa tubuh Ike masuk ke dalam kamar dan berusaha melakukan pertolongan darurat.
"Ke! Bangun, Ke!" jerit Derry.
Mey, Indy, Rahma, dan Khusnul hanya melihat Derry yang benar benar tampak cemas melihat kondisi Ike. Semua orang sudah tahu kalau Ike dan Deri sedang dekat. Walaupun Ike selama ini berusaha untuk menghindari Derry tetapi Derry yang selalu agresif membuat Ike tetap tidak bisa jauh darinya. Semua pendekatan yang Dery lakukan juga terlihat jelas di mata teman-temannya. Hampir semuanya merestui apa yang terjadi di antara keduanya. Karena antara Dery dan Ike memang masih single dan belum memiliki hubungan spesial dengan siapapun terutama dengan teman-teman yang ada di kelompok KKN mereka.
Deri terus melakukan PCR hingga akhirnya setelah beberapa detik kemudian Ike batuk-batuk dan tersadar. Gadis itu langsung melihat ke arah Derry yang tepat berada di hadapannya. Ika langsung memeluk Derry dengan erat. Dia menangis sejadi-jadinya. Tentu saja apa yang telah Ia alami tadi merupakan sebuah kejadian yang sangat mengerikan karena bisa saja nyawanya melayang malam ini jika tidak segera diselamatkan.
"Udah, ya. Udah nggak papa kok, kamu yang tenang ya. Ada yang sakit nggak?" tanya Derry sambil merapikan rambut Ike.
Ike hanya menggeleng, walau tangannya memegangi lehernya terus karena di sanalah sumber rasa sakit yang sedang ia alami saat ini.
"Coba aku lihat," pinta Derry. Ike lantas melepaskan tangannya agar lehernya bisa dilihat dengan jelas oleh Derry. Saat dilihat dengan seksama ternyata ada bekas cap tangan yang kini menghiasi leher Ike. Warnanya merah dan jelas sekali terlihat.
"Pedih?" tanya Derry.
"Enggak kok, cuma masih pegal aja. Masih agak sakit. Eh, tapi, mana Fendi?" tanyanya sambil melihat ke luar.
"Di luar. Dia udah diikat di tiang teras. Jadi untuk saat ini dia sudah aman dan nggak akan lagi melukai kamu," ucap Derry dengan tenang. Matanya terus menatap ke arah Ike. Hal ini tentu membuat Ike sedikit tersipu malu, karena saat ini dia hanya berani menundukkan kepala menghindari tatapan mata dari Dery.
"Ke, minum dulu," kata Rahma yang ternyata pergi ke dapur untuk membuat teh manis hangat.
"Makasih, Ma."
"Gila! Kok bisa dia kumat lagi sih?" tanya Mey.
"Ya bisa aja. Kan tadi Pak Sobri udah bilang kalau apa yang menimpa Fendi itu agak berat daripada yang menimpa kamu," sahut Khusnul.
" Berarti ada kemungkinan kalau setiap malam Fendi bakalan kesurupan seperti itu ya," tukas Rahma.
"Bisa jadi banget. Duh, tambah serem aja. Masa kita nggak bisa tidur dengan nyenyak tiap malam sih. Ada aja yang ganggu. Huft," ucap Indy merajuk.
"Tapi sebenarnya apa yang terjadi tadi? Kenapa kamu bisa ada di luar kamar dan Fendi mencekik kamu?" tanya Derry.
"Jadi tadi kan aku kebangun karena haus, akhirnya aku keluar kamar buat ambil air. Tapi pas melewati kamar kalian, sekilas aku melihat ada orang yang lagi berdiri di tengah kamar. Aku takut kalau itu sosok hantu akhirnya aku pun balik buat periksa kamar mereka, ternyata itu Fendi. Pas aku tanya dia lagi ngapain, Dia kelihatan aneh. Ternyata benar kalau dia lagi kesurupan. Aku pikir Fendi emang pengen melukai kita," ucap Ike sambil menatap teman temannya bergantian.
"Tunggu, kamu lihat Fendi berdiri di kamar? Dia lagi ngapain?" tanya Khusnul.
"Dia Lagi ngeliatin kalian berdua, kamu sama Mey. Masa katanya tadi dia bilang gini, kalian itu lebih cantik Kalau nggak bernafas. Lah kan itu serem banget kan. Udah pasti nih kalau Fendi bakalan melakukan hal buruk ke kalian berdua. Tapi terus tiba-tiba dia malah balik nyerang gue. Dan kalimatnya sama seperti apa yang dia bilang waktu ngeliatin Mei sama Khusnul."
" kalau kamu lebih cantik saat tidak bernafas?" tanya Derry. Ike pun mengangguk, membenarkan perkataan Derry.
"Ini bener-bener nggak bisa dibiarin. Kalau terlalu lama Fendy dibiarkan kayak gitu, Bisa aja dia bakalan ngebunuh kita semua suatu saat nanti!" tukas Indy.
"Ya, kan kita udah berencana kalau besok Daniel bakalan minta tolong sama teman-teman pesantrennya," sahut Dery.
"Der, mau tahu kan kalau salah satu dari kita pergi ke kota itu bakalan berapa lama? Paling nggak Mereka bakalan nginep satu malam dan balik keesokan harinya. Jadi kalau Daniel besok pergi ke kota buat jemput temennya bisa aja dia balik ke sini besok paginya. Terus besok malam gimana nasib kita?" tanya Indy.
"Huft, iya sih. Lagi pulang jarak tempat ini ke kota emang jauh banget. Wajar aja kalau Daniel nginep satu malam di sana. Kecuali kalau kita pergi dari sini pakai kendaraan pribadi. Jadi bisa menyingkat waktu," tutur Derry.
"Emangnya ada kendaraan pribadi? Ngaco aja lo."
__ADS_1
"Ya kan misalnya."
"Bisa. Gue telepon orang tua gue buat kirim mobil ke sini. Jadi besok Daniel bisa pergi pagi pagi banget, dan balik sebelum malam," sahut Armand yang ternyata mendengar obrolan mereka di depan pintu.
***
"Gimana kalau kita ke rumah Pak Sobri aja? Buat minta tolong. Kasihan juga Fendi kayak gitu sampai pagi," kata Sule.
"Hem, lo aja deh, Le. Minta ditemenin siapa gitu. Gue males ke sana sekarang," ucap Armand.
Semakin hari Arman semakin membenci Pak Sobri. Sebenarnya bukan membenci pribadi Pak Sobri Tetapi dia tidak suka dengan apa yang terjadi di Desa ini dan yang menimpa teman-temannya. Sementara Pak Sobri, orang satu-satunya yang bisa diandalkan, justru tampak tidak berani melawan penghuni di desa ini. Dia hanya bersembunyi di balik kalimat, ' mereka tidak akan mengganggu, Kalau kalian tidak mengganggu lebih dulu.'
Jadi seolah-olah, apa yang menimpa mereka adalah akibat dari kesalahan mereka sendiri. Pak Sobri tidak ingin ikut campur terlalu dalam, dan seakan akan ingin lepas tangan dari semuanya. Sehingga pertolongan yang diberikan oleh bank Sobri tidak akan bisa membantu mereka sepenuhnya. Saya menahan sementara waktu agar para penghuni di desa ini tidak bertindak brutal. Tetap saja mereka akan kembali keesokan harinya. Jadi seakan-akan semua itu percuma.
"Ya sudah biar sama saya saja, Le. Tapi... Apa tidak apa apa kalau kita datang ke sana malam malam begini? Ini kan, sudah hampir pagi?" tanya Daniel sambil melihat jam dinding.
"Iya, ganggu banget sih. Nggak enak ah. Kasihan kalau Pak Sobri lagi tidur," sahut Mey.
"Terus kita biarin aja Fendi kayak gitu sampai pagi?" tanya Sule.
"Ya mau gimana lagi. Toh kita semua nggak ada yang bisa melakukan apapun. Tapi kita nggak cuma membiarkan Fendi begitu aja. Tetap harus kita Pantau. Karena takutnya dia bisa kabur atau mungkin malah balik masuk ke rumah buat nyerang kita lagi," tukas Armand.
"Ya udah, kalian tidur semua. Biar aku yang jaga. Udah nggak bisa tidur lagi nih," sahut Sule.
"Gue temenin, Le. Gue juga udah nggak ngantuk. Gila, kaget banget tadi. Sampai kantuk gue ikut kabur," tukas Cendol.
"Ngomong omong gue juga nggak ngantuk. Huft, sial! Padahal masih 2 jam lagi subuh. Lumayan nih kalau dibawa tidur." Dolmen menambahi.
"Dibilang udah nggak ngantuk, Mey! Gimana bisa tidur gue!" hardik Dolmen.
"Ya sudah. Bagi yang mau tidur, silakan tidur. Kalau yang udah sulit tidur, bisa ikut jaga Fendi. Sambil minum kopi biar seger. Rahma? Bisa minta tolong, ya," timpal Daniel.
"Kopi? Berapa? Siap lah. Ubi sama jagung rebus juga masih. Biar aku hangatkan dulu." Rahma lantas berjalan ke dapur.
"Ma, aku bantu," timpal Khusnul yang berlari mengikutinya.
Akhirnya mereka semua justru bergadang dengan kopi dan camilan buatan Rahma dan Khusnul. Mereka duduk di ruang tamu, sambil terus mengawasi Fendi dari dalam.
Ike yang masih trauma dengan kejadian tadi, hanya diam di kamar, masih ditemani Derry. Derry terus membuat lelucon hingga tawa Ike kembali. Rupanya Derry termasuk orang yang pintar mencairkan suasana. Walau terkesan kalimat yang ia lontarkan kerap menyebalkan tapi tetap lucu jika didengar.
30 menit berlalu, mereka masih asyik mengobrol ringan mengenai kehidupan pribadi, atau kuliah yang tinggal sebentar lagi selesai. Tanpa mereka sadari, Fendi yang ditinggalkan di luar kini sedang didatangi sesosok makhluk.
Makhluk itu mendekat, dan kini berada tepat di depan Fendi. Fendi yang telah tenang setelah diikat di tiang, lantas melotot melihat kedatangan sosok tersebut.
"Ma——mau a—apa ka—mu," ucap Fendi dengan nafas yang pendek pendek. Dia tampak kelelahan setelah kesurupan. Tapi ternyata teman temannya tidak tahu, kalau Fendi sudah sadar.
Makhluk itu hanya menatap Fendi. Tangannya menjulur ke kening Fendi. Warna kulit abu abu tampak kontrak dengan kulit Fendi yang kuning langsat. Yah, Fendi memang memiliki kulit yang tampak bersih dan seperti kulit wanita. Dia memang jarang sekali berada di bawah sinar matahari, dan selalu menjaga kesehatan kulitnya dengan memakai lotion setiap hari. Ditambah dengan garis keturunan dari Ibunya yang merupakan tionghoa. Membuat Fendi terlihat berbeda dari yang lainnya. Wajar saja, banyak teman kampus yang tertarik dengan pesonanya.
Kening Fendi di tekan hingga kepalanya mendongak ke atas. Tiba tiba makhluk itu seakan akan masuk ke dalam mulutnya. Hingga seluruh bagian tubuh sosok tadi hilang dan menjadi satu dengan tubuh Fendi.
Hening.
__ADS_1
Suasana kembali hening. Fendi kembali menunduk, dengan mata tertutup. Dia tidak lagi berontak. Suara tawa teman temannya membuat tidurnya semakin nyenyak.
***
Azan subuh berkumandang. Mereka justru tertidur di ruang tamu. Sebagian ada di kamar, sebagian tidur begitu saja di kasur lantai dan tikar. Bahkan kursi juga ada.
"Woi, bangun! Lepasin gue. Man, Nil, Le! Udah siang! Kalian nggak proker?!" jerit Fendi di luar.
Berkali-kali Fendi berteriak Memanggil nama teman-temannya. Hingga setelah satu jam lamanya, satu persatu mulai bangun. Rupanya mereka ketiduran saat berjaga.
"Astagfirullah! Saya belum salat subuh!" pekik Daniel lalu beranjak dari tidurnya dan bergegas untuk mengambil air wudu. Dia menyempatkan sholat subuh lebih dulu begitu membuka mata walau tahu kalau matahari sudah mulai naik dan waktu subuh sudah lewat. Tetapi Apa yang dilakukan Daniel masih diperbolehkan dalam hukum Islam. Asal begitu membuka mata langsung menyegerakan salat subuh maka itu masih dianggap sah.
Beberapa dari mereka masih terlihat santai-santai di atas pembaringan. Armand lantas keluar rumah untuk memeriksa kondisi Fendi. Di temani Sule dan Cendol. Begitu pintu dibuka udara di luar mulai masuk ke dalam rumah yang terasa menyejukkan. Mereka bertiga meregangkan tubuh agar rasa kantuk bisa hilang sekaligus melenturkan otot otot yang kaku.
Armand memperhatikan wajah Fendi. Dia menatap wajah serta semua bagian tubuh Fendi lekat lekat.
"Siapa lo?" tanya Armand tegas.
"Ya gue! Fendi, siapa lagi?" tanya Fendi balik.
"Yakin? Fendi ala demit?" tanya Armand lagi.
"Ya Allah, Man. Gue Fendi. Apa perlu gue baca ayat kursi biar lo percaya?" tanyanya.
"Hem? Boleh juga. Coba baca. Bisa nggak lo!"
Untuk meyakinkan Armand, penipuan membaca ayat Kursi dengan fasih. Hingga akhirnya Arman percaya dan melepaskan ikatan yang menjerat Fendi.
"Gue kenapa lagi? Kesurupan lagi, ya?" tanya Fendi.
"Iya. Lo mau bunuh Ike semalem," tukas Cendol.
"Hah? Yang bener! Ya ampun. Gue sama sekali nggak ingat apa-apa! Terus kondisi Ike kayak gimana sekarang?"
"Kayaknya nggak apa apa. Masih selamat. Untung kami bangun, jadi bisa selamatin Ike," sahut Dolmen yang tiba tiba muncul dari dalam dengan sebatang rokok.
"Hm, gimana sih ini. Kenapa tiap malam begini. Padahal semalem gue tidur nyenyak banget. Gue juga sebenernya curiga kenapa tadi malam gue sama sekali nggak mimpi atau didatangi makhluk itu. Karena gue bisa tidur dengan nyenyak. Tapi pas tadi pagi gua bangun gue kaget kenapa tiba-tiba gua ada di teras dengan posisi diikat. Berarti ada kejadian semalam. Rupanya gue kumat lagi."
"Ya udah nggak apa apa. Nanti kita pikirkan lagi caranya," kata Armand sambil menepuk bahu Fendi.
"Pak Sobri belum bisa memastikan apapun, kan?"
"Emangnya pertolongan cuma lewat pak Sobri aja ya? Kita bisa minta tolong sama orang lain."
" bukan minta tolong sama orang lain. Kita tetap harus minta tolong sama Allah lewat perantara orang lain," sambar Daniel yang sudah rapi dengan tas ransel di punggungnya. "Mobil datang jam berapa, Man? Kata kamu subuh udah sampai? Ini udah lewat subuh loh."
"Coba gue telepon dulu."
Arman lantas menjauh dari teman-temannya, berjalan menuju ke jalan yang ada di depan rumah sambil menghubungi seseorang lewat telepon genggamnya. Setelah menunggu beberapa menit Arman tampak sedang berbincang dengan seseorang yang artinya kalau panggilan dia sudah ditanggapi oleh orang yang bersangkutan. Setelah selesai berbicara ditelepon Armand kembali lagi ke teras.
"Udah deket. Katanya udah masuk gerbang desa. Siap siap aja."
__ADS_1
"Oke."