Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
5 Melapor Pak Kades


__ADS_3

Arman menguap, dia merentangkan tangan ke kanan dan ke kiri. Saat bangun pemuda itu langsung melihat cahaya terang yang berasal dari jendela. Korden tipis yang menutupinya, membuat cahaya dari luar bisa dilihat dengan jelas.


"Ya Allah!" pekik Arman.


Dia yang baru saja sadar, lantas membangunkan seluruh teman-temannya yang sedang tertidur di lantai. Sejak kejadian Mei kesurupan semalam, mereka semua menunggu Mey sadar di luar kamar dan rupanya semua orang tertidur di ruang tamu. Ada yang tidur sambil duduk di kursi, sambil bersandar pada tembok, bahkan terlentang di kasur lantai sambil memeluk selimut.


"Bangun! Wey! Bangun buruan!" teriak Arman.


"Ah, apa sih, Man. Gue masih ngantuk!" erang Cendol.


"Man, gue baru merem ini," tambah Dollmen.


"Mey gimana! Mey! Kok sepi?" tanya Armand masih berusaha membangunkan teman temannya.


"Oh iya! Jangan jangan itu anak mati!" pekik Dollmen lalu segera beranjak begitu membuka mata.


Keributan ini membuat teman teman yang lain ikut terbangun. Mereka semua lantas bergegas ke kamar di mana Mey berada semalam. Begitu pintu kamar dibuka, rupanya Mey sedang tertidur dengan kedua tangan dan kaki yang masih terikat. Mereka ragu untuk mendekat, karena tidak mengetahui apa yang terjadi pada Mey.


"Cek dulu, masih hidup nggak!" kata Dolmen.


"Heh! Sembarangan lo!" pekik Indy.


Akhirnya Armand mendekat dan memeriksa kondisi Mey yang masih tampak tidak berdaya. Armand memeriksa nafas, serta denyut nadi Mey, sampai akhirnya dia menoleh ke arah teman temannya.


"Iya, dia cuma tidur. Atau mungkin pingsan."


Mendengar hal itu, semua orang pun berani mendekat, dan ikut memeriksa kondisi Mey sambil terus menatap gadis itu iba.


"Terus gimana, Man?" tanya Cendol.


"Paling kita harus lapor Pak Kades dulu aja. Siapa tahu di sekitar sini ada 'orang pintar'. Bagaimana pun juga kita harus pastikan kondisi Mey sudah baik baik aja, atau belum."


"Iya, bener. Terus kita biarin aja dia kayak gini?" tanya Dollmen.


"Eum .... " Armand yang belum bisa memberikan keputusan hanya bisa menatap Mey. Tentu dia harus memberikan keputusan terbaik untuk kondisi saat ini.

__ADS_1


Tiba tiba Mey yang mereka anggap sedang pingsan, mulai bergerak layaknya orang yang habis tidur nyenyak. Dia menggeliat sambil menguap dengan gerakan sangat alami. Mereka awalnya diam, lalu mundur selangkah guna menghindari kejadian susulan seperti semalam. Tapi setelah ditunggu rupanya Mey tidak melakukan tindakan berbahaya seperti sebelumnya.


"Kenapa kalian di sini semua?" tanya Mey saat melihat semua teman temannya kini sedang menatapnya intens.


"Mey? Lo baik baik aja?" tanya Indy agak ragu ragu.


"Baik baik aja. Kenapa emang?" tanya Mey dengan tampak polos bagai tidak tahu apa pun atas apa yang terjadi pada dirinya.


"Pian, nggak inget soal kejadian semalam?" tanya Khusnul dengan panggilan khas dari tanah kelahiran mereka.


"Kejadian semalam? Memangnya ada apa? Setahuku semalam kita semua langsung tidur habis duduk-duduk di teras dan lihat bayangan di rumah hantu itu."


"Terus setelahnya lo nggak ingat, Mey?"


"Setelahnya? Hm... Enggak. Sepertinya gue tidur terlalu nyenyak tadi malam, sampai-sampai nggak inget kejadian apapun. Memangnya ada kejadian apa sih?" tanyanya penasaran.


Mendengar penuturan Mey teman-temannya kini saling tatap. Mereka juga bingung atas apa yang sebenarnya terjadi karena tiba-tiba saja Mei sama sekali tidak teringat dengan kejadian itu.


"Heh! Kalian kenapa sih, sebenarnya ada kejadian apa semalam?" tanya Mey dengan terus mendesak teman temannya yang justru sejak tadi hanya diam.


"Hah? Kesurupan? Masa sih? Kok bisa!" pekik Mey dengan berbagai pertanyaan.


"Heh! Harusnya kita yang tanya begitu! Kok bisa lo kesurupan sampai sampai hampir mau nge-bunuh gue!" ucap Dolmen sambil mengusap lehernya.


"Eh, yang bener? Ini serius? Emangnya apa yang terjadi?" tanya nya mulai serius. Apalagi saat mengetahui kalau apa yang terjadi semalam hampir merenggut nyawa Dolmen.


Akhirnya mereka pun menceritakan semua kejadian itu secara rinci tanpa ada yang ditambahkan atau dikurangi. Mendengar penjelasan teman temannya, Mey tampak terkejut dan sempat bengong beberapa saat.


"Duh, kok bisa gitu sih!" ucapnya mulai merengek dengan kondisinya semalam.


"Makanya pagi ini, kita ke rumah Pak Kades deh. Buat bahas masalah ini," kata Armand.


"Iya, mendingan cepetan ke sana. Sebelum Pak Kades berangkat ke balai desa. Takutnya lo bisa kambuh lagi kayak semalem. Nyeremin tahu!" pekik Dolmen.


"Ya udah. Siap siap aja lo, Mey. Kita berdua ke rumah Pak Kades sekarang. Eh jangan berdua. Nul, temenin kita. Yang lain di sini aja, persiapin proker kalian untuk hari ini. Inget! Kita di sini cuma sebentar, jadi jangan sia siakan waktu untuk bersantai," kata Armand.

__ADS_1


"Oke."


Setelah cuci muka dan gosok gigi, mereka bertiga lantas pergi ke rumah Pak Kades. Sengaja pergi pagi pagi sekali agar saat sampai di sana, mereka masih punya banyak waktu untuk mengobrol.


"Jadi begitu ceritanya," ucap Pak Kades setelah mereka berdua, Khusnul dan Armand menceritakan apa yang telah terjadi pada mereka semalam.


"Iya, Pak. Sebenarnya apakah hal seperti ini sering terjadi sebelumnya? Mengingat di sekitar desa ini masih banyak sesaji yang selalu warga berikan pada penunggu tempat ini?" tanya Armand.


Pak Kades tersenyum.


"Kegiatan memberikan sesaji memang sudah ada jauh saat nenek moyang kami hidup. Hanya saja menurut penuturan mereka, sesaji ini diberikan bukan untuk penunggu desa, melainkan untuk dewa dewa yang bersemayam di sini. Mereka sudah hidup lama sekali, bahkan sebelum desa ini ada."


"Masa sih, Pak? Bagaimana bapak bisa yakin tentang hal itu? Dewa? Dewa apa, Pak? Memangnya warga di sini memeluk agama apa, Pak? Mengingat saya lihat hanya ada mushola di desa ini. Dan yang saya tahu, di agama islam tidak ada istilah dewa dewa yang harus di sembah dan diberikan sesaji."


Khusnul berkali kali menyenggol kaki Armand karena telah lancang menanyakan hal sensitif pada Kepala Desa. Hanya saja, Armand seakan akan tidak mengetahui bahasa isyarat yang Khusnul berikan arah sebenarnya dia tahu tapi tidak mau tahu?


Bukannya marah, tetapi Pak Kades justru kembali tersenyum.


"Saya senang dengan pertanyaan Mas Armand tadi. Memang sebagian besar warga desa memeluk agama islam. Hanya saja, banyak orang yang tidak menjalankan syariat agama islam itu sendiri. Walau mereka tetap menjalankan ibadah salat, tetapi mereka tetap mengikuti ajaran yang sudah turun temurun diberikan oleh nenek moyang. Salah satunya dengan sesaji itu."


"Maaf, ya, Pak. Temen saya terlalu lancang mengatakan hal itu," kata Khusnul segera mengajukan permintaan maaf, karena dia sendiri pun merasa kalau apa yang Armand katakan sudah sedikit kelewatan. Apalagi mereka adalah tamu di desa itu.


"Tidak apa apa, Mbak. Wajar kok kalau Mas Arman beranggapan seperti tadi. Saya maklum."


"Pak, Maaf. Kalau boleh saya tahu, memangnya rumah yang dekat kami itu, rumah yang bapak bilang bekas bunuh diri sering memunculkan hal hal aneh atau seram, ya? Apakah setan yang masuk ke dalam tubuh saya berasal dari sana? Mengingat kami duduk duduk di teras kemarin malam sebelum saya kesurupan."


"Hahahaha. Yah, sebenarnya memang benar. Di sana memang sering tampak bayangan bayangan. Saya pikir itu hanya jin qorin saja. Kalian tahu sendiri kan, kalau jin qorin dari manusia yang sudah meninggal akan terus berada di tempat tinggal orang itu dan menyerupai manusia itu sendiri. Apalagi kasus kematian penghuni rumah itu adalah bunuh diri. Setahu saya, orang yang meninggal karena bunuh diri, jin qorin nya akan terus melakukan kejadian semasa dia meninggal berulang kali hingga dunia berakhir. Itu sih yang saya tahu."


"Berarti semalam memang sosok jin tersebut ya, Pak?" tanya Mey.


"Sepertinya begitu. Nah, kalian bisa mendatangi rumah Pak Sobri. Dia bisa menyembuhkan orang yang kesurupan. Coba periksa saja di sana, Mbak. Dia akan tahu apa yang menimpa Mbak kemarin."


"Rumahnya di mana, Pak?" tanya Khusnul.


"Itu, yang ada di dekat hutan. Nggak jauh dari rumah kalian. Kalian sudah pernah ke sana belum, ya?"

__ADS_1


"Oh, saya tahu, Pak. Saya pernah lihat rumah itu," ucap Armand.


__ADS_2