
Pagi pagi sekali aku sudah berangkat ke kantor dengan membonceng kak Yusuf. Kak Yusuf akan keluar kota selama beberapa hari. Sampai di loby kantor. Aku terkejut dengan seseorang yang sedang duduk di sana.
"Mas Galih ?"
langsung aku berjalan cepat ke arahnya. Mas Galih ini terlihat lebih baik, penampilannya rapi dan terlihat lebih tenang.
"Nisa.. aku sengaja nunggu kamu disini."kata mas Galih.
Dia terlihat lain, tidak seperti kemarin saat aku menemuinya di Rumah Sakit.
"Lho.. mas Galih udah sehat?" tanyaku masih keheranan.
Bahkan aku menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Alhamdulillah. Aku ngikutin saran kamu kemarin. Hari ini aku mau ke pimpinan perusahaan, Aku mau mengakui semua kesalahanku. Aku juga udah pasrah kalau aku harus diPenjara. Aku udah ke Rumah Eka semalem. Aku udah minta maaf ke keluarganya."kata kata nya membuatku kaget.
Reaksinya bisa secepat itu? kupikir dia tidak mendengarku kemarin.
"Alhamdulillah.. Semoga jadi lebih baik ya mas kedepannya nanti."kataku.
"Iya Nis, makasih ya buat semuanya." Aku mengangguk senang.
Lega rasanya semua sudah berjalan dengan baik. Tinggal aku lihat hasilnya. Semoga mas Eka sudah tidak mengganggu karyawan disini lagi setelah ini. Aku masuk ke ruanganku, sudah ada Yuli dan Dimas.
"Pagiiii"sapaku ke mereka.
"Pagi Nis.. tumben pagi banget datengnya."
"Iya, tadi bareng kakakku soalnya"
Tak lama Anjar datang, sepertinya dari pantry karena membawa kopi agak banyak. Dia membuat kopi untuk kami. Tumben... batinku.
"Pagi Niss.. aku bikinin kopi nih," katanya sambil meletakan cangkir ke mejaku.
"Wah.. makasih. tumben nih bikinin kopi." cetusku heran.
"Iya, aku bawa kopi sendiri. Kemaren dapet kopi dari Brazil.. mamahku yang dapet. Biar kalian nyobain. Aku bikinin sekalian semuanya," terangnya.
Aku tidak menaruh curiga lagi lalu aku langsung meminumnya, agak aneh rasanya. Aku agak mengernyitkan kening sambil berfikir.
"Emang agak lain rasanya, Nis. Tapi kalau diminum agak banyakan pasti bikin fresh badan sama pikiran," kata Anjar.
Aku kemudian meminum lagi hingga setengah cangkir. Entah kenapa aku menurut saja, padahal sangat jelas rasanya aneh, mau diminum berliter liter rasanya juga sama. Tapi, bukannya badanku segar malah aku merasa pusing. Badanku terasa panas. Aku mencoba berjalan ke air minum pojok ruangan. Tapi seperti ringan sekali. Saat pak Dikin hendak masuk, pak Dikin menangkapku yang akan jatuh.
"Ya Allah mba Nisa.. kenapa mba?" tanyanya bingung.
"Niss. kamu nggak apa apa? kamu belum sarapan, ya?" tanya Anjar yang sekarang memegangiku.
Aku tidak mampu menjawabnya.
"Aku anter ke Puskesmas dulu aja ya, Nis." Aku dibawanya ke mobil Anjar.
Saat dimobil, Anjar memberikan ku air minum lagi. Kali ini air mineral, saat kupegang dingin sekali seperti habis dari dalam kulkas.
"Minum dulu, Nis, siapa tau jadi mendingan."
Aku menurut saja apa yang dikatakan Anjar. Anjar menjalankan mobilnya, aku masih pusing, kulihat puskesmas sudah dilewatinya.
"Kita mau ke mana, Njar?" aku bergumam.
Anjar diam saja, hapeku berdering. Aku tidak melihat layar langsung ku angkat telfonku.
"Halo..."
"Nisss... kamu udah nyampe kantor ya?" tanya suara pria dari seberang.
"Udah, ini siapa, ya?" tanyaku yang masih merasa pusing sekali.
"Lho, ini Indra, Nis. kamu masih ngantuk?"
"Indra siapa sih?"
Seakan akan aku tidak ingat dengan Indra. Anjar langsung mengambil hapeku dan mematikannya.
"Nggak usah ngobrol sama orang lain! aku di sini, Nis!"
Lalu menghentikan mobil di pinggir jalan.
"Sekarang kamu cuma dengerin kata kataku aja Nisa! Aku sayang kamu, Nis!"
"Iya, Anjar aku juga sayang sama kamu," kata ku makin ngelantur.
Hatiku sadar apa yang kukatakan tapi pikiranku seolah menolaknya. Aku menuruti saja yang Anjar katakan.
__ADS_1
Tiba tiba ada yang mengetuk pintu mobil Anjar, bahkan terkesan memukul mukul dengan keras.
"Bukaaaa!!! atau aku pecahin nih kaca!! "katanya.
Anjar membuka pintu mobil di sebelahku. Aku ditarik paksa oleh laki laki itu.
"Kamu apain adikku?!!
bukannya ini jam kantor??!! kenapa kelayapan di sini sih??"
dia masih membentak bentak Anjar.
Aku diam saja, tapi badanku masih lemas.
"Pergi kamu!! sampai Nisa kenapa napa, aku bakal habisin kamu! denger!!?" ancamnya.
Lalu dia membawaku masuk ke mobilnya.
"Kamu siapa sih? marah marah mulu.. aku mau sama Anjar.. bukaaa!!" kataku sambil memukul mukul pintu mobil.
"Nisa.. ini kak Adam, Nis! kamu diapain sih sama dia. Bisa lupa sama kakak?? kita pulang!!"
Karena aku berontak kak Adam mengikat tangan dan kakiku. Sampai di rumah, kak Shinta kaget melihatku diikat oleh kak Adam.
"Ya ampun, mas.. Nisa kenapa? kok diiket gini?"
"Tau nih..dia jadi aneh!!" Lalu kudengar kak Adam menelfon beberapa orang.
aku mual, aku muntah muntah di ruang tengah.
"Astagfiruloh haladzim..." teriak kak Shinta.
Terlihat muntahanku agak kehitaman. Kak Shinta ketakutan melihatku. Indra barusan datang.
"Kak... gimana Nisa? Dia kenapa sih kak?" tanya Indra.
"Tadi aku ambil dia dari mobil Anjar.. udah kayak gitu. Nggak tau diapain sama Anjar. Brengsek!!" umpatnya.
Indra mendekatiku lalu memelukku.
"Nis.. ini aku Nis.. badan nya panas banget kak," kata Indra.
Tiba tiba aku dorong Indra menjauh, aku kembali histeris tak terkendali.
Indra memelukku erat, aku dorong lagi, bahkan aku tampar dia. Aku makin liar tak terkendali seperti aku dikendalikan sesuatu yang aku tidak tau apa.
"Udah!! Iket lagi aja Ndra. kita tunggu Yusuf pulang! aku udah nyuruh dia pulang cepet.."kata kak Adam.
Kemudian mereka mengikatku, agar aku tidak pergi kemana mana, aku juga diikat diatas ranjangku. Aku masih saja berteriak, lalu mulutku ditutup kain dan diikat juga. Semua orang sudah dirumah papah dan mamah yang tadi sudah pergi kerja, kemudian pulang lagi karena mendengar kabarku.
"Anjar yang nglakuin ini kak?" Indra terlihat sangat marah Hendak pergi tapi ditahan kak Adam.
"Udah Ndra.. nanti aja.. kita urus dulu Nisa. Baru kita bikin perhitungan sama dia!"kak Adam tak kalah marahnya.
1 jam kemudian kak Yusuf datang dengan kak Arif.
"Nisa gimana kak?"tanya kak Yusuf lalu masuk ke kamarku disusul kak Arif.
Aku masih saja berontak berusaha melepaskan diri.
"Astagfirullohhaladzim.."itu yang pertama kali diucapkan kak Yusuf saat melihatku.
"Gimana, Suf.. Nisa kenapa sih?"
"Nisa kena ilmu hitam, sejenis pelet kak. Tapi reaksinya cepet banget ya. Yang aku liat, ini belum lama." Kak Yusuf pasti heran.
Karena tadi pagi aku masih normal tidak seperti ini.
"Udah Suf.. yuk kita coba hilangin"kata kak Arif.
Kak Yusuf& kak Arif melakukan rukiyah kepadaku, dengan dibacakan ayat suci Alquran aku meronta ronta dan menangis histeris.
"Buka ikatan yang dimulut kak" Saat dibuka aku kembali muntah muntah dengan warna yang sama seperti saat pertama aku muntah.
Sekitar 1 jam kemudian aku mulai lemas, aku sudah tidak berteriak lagi dan menangis lagi.
"Kak..."
itu kata yang kuucap pertama kali saat melihat kak Yusuf duduk di dekatku masih membaca ayat ayat Alquran.
"Alhamdulillah... Nisa.. kamu udah sadar?" tanya kak Adam.
"Ada apa sih ini? rame banget.. kok aku diiket?" kataku yang masih bingung.
__ADS_1
Indra mendekat. "Nis... Kamu inget aku?" tanyanya
"Ya ingetlah, Indra... Kenapa? kok kamu nanya gitu?" kataku.
Indra memelukku."aku khawatir banget waktu kamu nggak kenalin aku Nis.." katanya berbisik di telingaku.
"Sakit.. lepasin iketannya.." pintaku.
Lalu ikatan tangan dan kaki dilepaskan. Aku pun diantar mamah ke kamar mandi untuk membersihkan diri akibat muntahan tadi.
Indra juga ke kamar mandi belakang berganti pakaian dengan yang lebih bersih lagi, karena tadi memelukku dan terkena muntahan ku juga.
Setelah sprei diganti, aku disuruh tidur di kamar saja. Badanku lemas sekali, seakan tidak ada tenaga. Indra menemaniku dikamar dengan kak Shinta.
"Nis, kamu dikasih apa sama Anjar?"tanya kak Yusuf saat masuk kekamarku.
"Anjar? Mmm.. tadi pagi dia bikinin kita kopi kak, katanya kopi Brazil, cuma pas aku minum agak aneh sih rasanya.
Habis itu aku pusing.. aku nggak begitu inget lagi.." kataku yang masih memegangi kepalaku.
"Untung kakak belum jauh tadi, mampir rumah Arif dulu. Jadi bisa langsung pulang lagi" kata kak Yusuf. Indra masih setia di sampingku.
"Lho Ndra, kamu nggak kerja? sana berangkat aja.. Aku udah nggak kenapa napa kok." pintaku.
"Nggak, aku ijin tadi begitu aku telfon kamu trus kamu ngomongnya ngelantur." katanya masih khawatir.
"Aku kenapa sih kak.. perutku juga masih nggak enak banget."
"Kamu dipelet sama Anjar.. tapi udah kakak buang semua, Insha Allah udah nggak apa apa. Kamu lagi haid, ya?" tanya kak Yusuf.
Aku mengangguk. "Memang lebih gampang saat haid Nis.. karena kamu nggak sholat dan sedang dalam keadaan kotor, mungkin karena itu juga efeknya bisa sampai kayak gini."
" Nekad banget sih tu anak," kataku sebal.
"Makanya nggak usah deket deket lagi sama dia, jangan mau nerima apapun dari dia, kalau perlu kamu resign aja Nis!!" saran kak Adam.
"Resign?"
"Iya, daripada dia bikin kamu kayak gini lagi, untung tadi kakak pas lagi ada perlu didaerah situ, ngliat kamu dimobil bareng Anjar perasaan kakak udah nggak enak banget... habis itu Indra BBM kakak katanya kamu aneh. Ya udah kakak tarik aja kamu keluar dari mobil dia." Kak Adam masih kesal.
"Ya udah, lebih baik Nisa suruh istirahat dulu, biar cepet sehat. Nis, ini air diminum ya, sampai habis. Biar sisa sisa yang masih diperut cepet ilang juga," kata kak Arif sambil memberikan 1 botol besar air mineral.
Bisa kembung nih aku minum sebanyak ini. Aku hanya mengangguk.
Satu persatu mereka meninggalkan kamarku, hanya tinggal Indra saja.
"Aku juga keluar aja ya Nis, kamu istirahat. Kalau ada apa apa panggil aku aja," katanya.
****
Pusing dan mual masih kurasakan. Aku keluar kamar hendak mengambil makanan. Rasanya aku lapar, walau aku masih mual. Aku berjalan masih sempoyongan keluar kamar. Semua orang yang ada diruang tengah menatapku iba.
"Nis, mau kemana?" tanya mamah yang beranjak menghampiriku.
"Laper mah, mau ambil roti tawa," kataku sambil berjalan menuju dapur.
Mamah mengikutiku karena khawatir. Kak Shinta yang ada didapur sedang memasak melihatku sedih. Bau aroma dapur membuatku makin mual. Aku pun muntah muntah lagi dan pingsan. Segera aku dibawa Rumah Sakit oleh keluargaku. Muntahanku masih berwarna hitam.
Sampai di Rumah Sakit aku dirawat setelah dokter memeriksa kondisiku. HB ku sangat rendah hanya 3. Wajahku pucat bibirku membiru. Indra dan kak Adam pergi entah kemana, disini hanya ada papah, kak Yusuf dan kak Arif saja. Mamah dirumah menemani kak Shinta.
***
Aku sadar saat mendengar kumandang adzan maghrib yang entah dari mana.
"Nis, Gimana? apa yang sakit?" tanya papah khawatir.
Aku hanya menggeleng lemas.
"Mau makan Nis?" tanya kak Yusuf.
Aku masih menggeleng.
"Rif, Nisa gimana nih? udah nggak apa apa kan?" tanya kak Yusuf memandang kak Arif yang sedari tadi menatapku lekat lekat.
Seperti meneliti setiap inci dari ku.
"Nggak apa apa kok, Suf. Tinggal pemulihan aja. Wajar Nisa kaya gini, dia kan muntah muntah terus tadi. Diminumin air doa aja. Inshaa Allah cepet pulih," kata kak Arif.
***
Aku dirawat hingga 4 hari, sampai kondisi benar benar fit.
Indra, kak Yusuf, kak Adam berjaga bergantian setiap hari. Indra setiap malam tidur di Rumah Sakit menemaniku. Walau sudah ada kak Adam atau kak Yusuf yang menjaga. Akhirnya hari ke 5 aku sudah bisa pulang, wajahku sudah segar, aku pun sudah tidak muntah muntah lagi. Dan yang pasti aku sudah tidak ingat Anjar lagi.
__ADS_1