Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
6. Bu Jum


__ADS_3

Sarapan roti bakar sudah menjadi menu klasik bagi mereka berdua. Terkadang jika Aretha tidak bisa memasak untuk sarapan, maka roti bakar saja sudah cukup bagi Radit. Karena Radit pun yang tidak terbiasa sarapan makanan berat, akan lebih nyaman hanya diganjal dengan beberapa tangkup roti bakar selai cokelat buatan Aretha.


Kali ini pun sama. Apalagi karena mereka baru saja pindah, dan beberapa barang belum ditata sebagaimana mestinya.


"Rencananya kamu mau ngapain aja, sayang?"


"Eum, beres - beres rumah sih. Sama lihat - lihat sekitar rumah. Mau cari warung, siapa tau ada yang deket sini. Kalau kamu kerja dan aku butuh sesuatu kan jadi enak, Dit."


"Iya, sayang. Nanti aku suruh Pak Irawan antar mobil ke sini, ya. Siapa tau kamu butuh."


"Mobil siapa?"


"Mobilku. Nanti biar aku yang pakai mobil inventaris kantor."


"Memangnya ada?"


"Ada. Cuma kan kita ada mobil, jadi buat apa aku pakai. Tapi sekarang kondisinya kan lain. Aku lihat, kamu sekarang butuh mobil juga. Siapa tau kamu mau jalan - jalan sendiri kalau suntuk, atau mau ke kota beli sesuatu. Karena aku nggak bisa nemenin kamu 24 jam, Sayang. Pasti aku bakal sibuk, banyak kerjaan. Maaf, ya."


"Iya, nggak apa - apa kok, Dit. Aku ngerti. Kamu nggak usah khawatirin aku. Aku bisa jaga diri kok. Kamu fokus aja sama kerjaan kamu, ya."


"Iya, sayang. Tapi kalau ada apa - apa kamu kasih tau aku, ya. Kabarin terus."


"Pasti."


Radit telah selesai menghabiskan sarapannya. Kopi hitam pun sudah habis dia minum. Ia akan segera pergi bekerja. Sementara Aretha mengambilkan jaket untuk sang suami, pintu rumah mereka diketuk seseorang.

__ADS_1


Radit yang bisa menebak tamu pagi itu, lantas berjalan ke depan untuk membuka pintu. Dan benar saja kalau ternyata yang datang adalah Pak Slamet, bersama seorang wanita paruh baya.


"Oh, Pak Slamet," sapa Radit basa basi.


"Betul, Pak. Perkenalkan ini istri saya. Namanya Juminah."


"Oh ini Ibu Juminah?" Radit mengulurkan tangan pada wanita di samping Pak Slamet.


Tak lama Aretha juga keluarga dengan memeluk jaket cokelat milik sang suami di lengannya. "Pak Slamet? Sudah datang?"


"Sudah, Bu. Ini istri saya," kata Pak Slamet mengulangi lagi perkenalan sang istri pada pasangan muda tersebut. Pak Slamet merupakan sosok pria desa pada umumnya. Penuh sopan santun, walau sosok pria yang berdiri di hadapannya berumur jauh lebih muda darinya. Beberapa kali dia selalu menunduk atau membungkukkan tubuhnya sedikit sebagai bentuk rasa hormatnya.


Tentu saja Radit juga melakukan hal yang sama. Sekalipun Pak Slamet adalah salah satu pekerja di proyek yang sedang ia bangun, tapi tetap saja, dia bukan tipe orang yang akan berbuat semena-mena pada bawahannya. Radit tetap menunjukkan sikap ramah dan sopan yang selalu dia jaga sejak dulu.


"Saya Juminah, Pak, Bu. Panggil saja


"Saya Radit, Bu. Ini istri saya, Aretha. Saya minta tolong, bantu istri saya di rumah, ya, Bu. Soalnya kami baru pindah, masih repot sekali."


"Baik, Pak Radit. Kebetulan saya dulu juga sering bantu - bantu di sini. Jadi sudah hafal seluk beluk rumah ini."


"Oh, Jadi ibu sudah pernah bekerja di sini juga sebelumnya?" tanya Aretha.


"Iya, Bu. Sewaktu Pak Ibrahim masih di sini. Saya sering bantu - bantu." Bu Jum tampak sama seperti suaminya. Sopan dan segan pada majikan. Saat berbicara pada Aretha dan Radit, Bu Jum tidak mau menatap langsung mata majikannya. Hanya sesekali saja, dan sisanya ia tundukkan pandangan.


"Wah, kebetulan kalau begitu. Oh iya, Pak Slamet. Gimana? Soal kamar mandi lantai dua? Ini istri saya nggak mau nempati kamar itu katanya. Jadi kalau Pak Slamet ada pekerjaan di ladang, kamar mandinya dibiarkan saja. Nggak usah di perbaiki. Lagipula proyek kita kan, memang belum jalan, jadi Pak Slamet bisa mengurus ladang saja dulu."

__ADS_1


"Anu ... Soal itu, kebetulan sekali saya mau bicarakan dengan Pak Radit." Gelagat Pak Slamet seperti tidak enak saat hendak mengatakan maksud tujuannya selain mengantarkan sang istri.


"Oh, kenapa memangnya, Pak? Kalau gitu kita duduk dulu saja. Mari," ajak Radit lalu mempersilakan pasangan suami istri tersebut singgah ke ruang tamu. Aretha pun ikut duduk bersama Radit, karena rasa penasaran terhadap tujuan Pak Slamet tadi.


"Jadi begini, Pak Radit." Kalimat awalan itu terdengar dari mulut Pak Slamet. Dia bukannya meneruskan kata - kata itu, justru malah berhenti dan menatap sang istri. Keduanya malah terlibat sebuah percakapan menggunakan bahasa isyarat yang hanya mereka berdua yang tau. Pak Slamet dan Bu Jum justru saling lempar untuk meneruskan kalimat tersebut.


"Loh kenapa ini? Kok malah pada debat gitu," cetus Radit sambil tersenyum.


"Eum, begini Pak Radit. Suami saya ini kan sudah tua. Jadi ... Sudah tidak bisa kerja kasar lagi. Dia juga akhir - akhir ini sering sakit - sakitan. Jadi ... Kalau misalnya posisi suami saya digantikan anak sulung kami, apakah boleh?" tanya Bu Jum yang mewakili sang suami. Pak Slamet hanya menunduk dengan gurat wajah yang tidak nyaman. Bagaimana pun juga, dia adalah seorang pekerja keras. Sudah sering ikut proyek di sana sini. Tapi makin lama, umur yang sudah tua tentu tenaga Pak Slamet tidak lagi seperti dulu. Dia mulai renta dan tidak kuat lagi untuk mengangkat besi, atau memanggul semen.


"Oh jadi begitu. Kenapa Pak Slamet nggak bilang dari kemarin? Tentu saja boleh. Malah bagus itu. Anak Bapak dan Ibu yang bekerja sama saya. Tenaga anak muda biasanya jauh lebih kuat. Betul, kan, Sayang?" tanya Radit kali ini menoleh pada sang istri meminta persetujuan.


"Iya betul. Memangnya umur anak Pak Slamet berapa? Masih sekolah atau memang sudah lulus?"


"Baru lulus kemarin, Bu Aretha. Yah, belum berpengalaman kerja sama sekali. Daripada dia ngotot merantau jauh jauh, lebih baik kan, dia bekerja di sini saja. Toh, kalau kerja jauh pun, ujung ujung sama, jadi kuli," jelas Pak Slamet merendah.


"Nggak apa - apa, Pak. Saya tidak keberatan kok. Terus Pak Slamet mau di rumah saja?"


"Eum, sebenarnya tidak begitu, Pak. Karena saya pasti akan tetap bekerja. Cuma saya akan memilih pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan saya."


"Kalau begitu ... Bapak di sini saja, ya. Bantu Aretha di sini. Halaman rumah ini, kan, besar sekali. Saya jelas tidak bisa membersihkan sendiri. Hehe."


"Saya, Pak? Apa tidak apa - apa?"


"Loh memangnya kenapa? Jadinya kan, Bapak dan Ibu, bisa kerja bareng di sini. Saya yakin istri saya setuju. Iya, kan, sayang?"

__ADS_1


"Iya betul, Pak. Bapak di sini saja. Saya juga berniat menanam beberapa tanaman nanti. Jadi saya bisa minta bantuan Bapak untuk mengurus taman."


"Alhamdulillah. Terima kasih, Bu, Pak."


__ADS_2