Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
18. Derry yang lain


__ADS_3

"Hati hati, Nil! Jangan kelamaan di sana. Nanti malam harus udah balik sini loh!" tukas Dolmen sedikit memaksa.


"Insya Allah. Saya usahakan sebelum malam sudah kembali ke sini. Kalian jaga diri baik baik. Man, jaga teman teman."


"Iya. Gue usahakan."


Daniel pun melambaikan tangan begitu mobil berjalan pelan meninggalkan halaman rumah. Teman teman yang lain hanya melambaikan tangan melepas kepergian Daniel. Setidaknya mereka menaruh harapan besar pada Daniel agar bisa membawa seseorang yang akan membantu mereka menghadapi teror yang selama ini sangat mengganggu.


Pagi ini, mereka melakukan kegiatan seperti biasanya. Proker kelompok yang sudah berjalan sejak kemarin sudah dalam tahap 50% untuk proker penyediaan listrik bagi desa tersebut. Hari ini pengerjaan proker tersebut akan selesai. Sementara proker pembangunan sumur dan kamar mandi umum masih berjalan 40%. Wajar saja karena Pembangunan seperti itu akan memakan waktu lebih lama daripada pemasangan aliran listrik. Karena Daniel tidak ada di desa itu maka untuk mengawasi jalannya proker aliran listrik akan diwakilkan oleh teman-teman yang lain. Mereka sudah membagi tugas masing-masing. Sebagian lainnya juga meneruskan proker individu. Semua sudah berjalan dengan lancar sejauh ini. Bahkan Fendi yang semalam mengalami kesurupan hari ini bisa beraktivitas dengan baik tidak seperti hari-hari sebelumnya. Dia tampak segar dan bugar seperti tidak pernah terjadi apa-apa.


"Fen, lo ngawasin listrik aja, ya. Sekalian tanya sama pegawai listriknya Apa saja yang mereka butuhkan nanti terus ini uangnya lo kasihin ke mereka sebagai pelunasan pembayaran," ucap Armand sambil memberikan sebuah amplop coklat yang berisi uang.


" Berarti kemarin udah di DP dulu ya?"


"Iya. Kemarin Daniel udah dp waktu mereka ngundang pegawai PLN ke sini. Berarti nanti lo ke lokasi sama Khusnul terus Sule aja ya. Kalian berdua bisa kan ngawasin ke lokasi?" Tanya Arman kepada Sule dan Khusnul.


"Bisa. Proker ku bisa dikerjakan nanti kok. Soalnya orang yang mau bikinkan tempat sampai, lagi pergi. Baru balik ke desa sore nanti," ucap Sule.


"Lo, Nul?"


"Bisa. Pagi sama siang ini aku santai kok. Prokerku bisa dilakuin Nanti sore jadi bisa ikut ngawasin pemasangan listrik sama Fendi."


"Oke. Ya sudah. Yang penting kalian semua hati hati dalam menjalankan proker masing masing. Ingat kalau kalian sudah selesai dengan program individu coba untuk keliling dan memeriksa kegiatan yang lain. Siapa tahu ada yang membutuhkan bantuan. Walaupun ini proker individu tetapi tidak ada salahnya kalau kita saling bantu sesama teman demi kelancaran KKN kita di sini. Kalian pengen KKN kita berjalan dengan lancar dan selesai tepat waktu, kan?" tanya Armand.


"Iya, Man. Pasti. Kalau bisa mah Bulan depan kita udah balik ke rumah itu lebih bagus," sahut Cendol.


"Eh, jangan cepet cepet ih. Gue masih PDKT!" hardik Derry melirik Ike.


"Yee, Emangnya PDKT cuma bisa dilakuin di sini? Lo nggak bisa dekatin Ike pas kita pulang nanti? Main ke rumahnya kek,  atau gimana lah!" cetus Cendol.


"Iya, bisa. Cuma situasi di sini itu lebih mendukung tahu!"


"Dih, elo aja sono yang di sini. Kita mah pengen cepat-cepat pulang. Serem banget di sini mah!" cetus Dolmen.


"Aku juga pengen cepet pulang kok," sambar Ike.


"Oh gitu ya, Yang? Oke. Kalau gitu nanti aku pdkt-nya ke rumah kamu aja ya."


"Udah ih, kalian malah pacaran aja di sini!" sindir Dolmen.


"Ye, bilang aja iri!" tukas Derry.


Obrolan itu berakhir dengan saling ejek antara Derry dan Dolmen. Akhirnya mereka melanjutkan untuk Melakukan tugas dan tanggung jawab masing-masing untuk menyelesaikan proker.


Armand berjalan keliling desa guna memeriksa tiang listrik yang sudah dipasang kemarin oleh petugas. Dia mendapatkan mandat khusus dari Daniel agar memeriksa secara langsung lokasi dan pemasangan tersebut Apakah sudah sesuai dengan apa yang sudah dijanjikan sejak awal. Alhasil Armand izin tidak ikut pembangunan sumur dan akan ikut bergabung setelah tugasnya selesai. Daniel sengaja menyuruh Armand yang melakukannya, karena bagi Daniel hanya Armand yang bisa dia andalkan selama kkn di desa tersebut. Bukan berarti Daniel tidak mempercayai teman-teman yang lain, tetapi Armand adalah sosok yang patut dijadikan pemimpin karena karakternya yang kuat.


Dia berjalan seorang diri mengelilingi desa. Bermula dari Gerbang Desa di mana balai desa dan beberapa rumah penduduk terdiri. Sambil memegang sebuah kertas dan pena, Arman juga menghitung banyaknya tiang listrik yang dibangun di sekitarnya. Dia ingin mencocokkan dengan catatan yang diberikan oleh Daniel sebelumnya. Sejauh ini tiang listrik memang berdiri di tempatnya sesuai dengan yang ada dalam catatan itu. Dia terus berjalan hingga akhirnya masuk ke bagian yang jarang dijamah oleh warga desa. Terutama bagian hutan-hutan yang ada di sekitar Desa. Mereka beranggapan kalau Desa ini suatu saat nanti akan berkembang dan memiliki penduduk yang lebih banyak daripada sekarang Sehingga pemasangan tiang listrik harus dilakukan secara merata.


"Eh, ini di mana, ya? Kok gue kayaknya baru pernah ke sini deh," ucap Armand berbicara sendiri.


Dia kini berada di seberang sungai, karena Arman melihat adanya tiang listrik yang dibangun di seberang sungai tersebut. Ia merasa tiang listrik itu seperti keluar dari jalur maka dia ingin memeriksanya sendiri. Untungnya sungai itu tidak terlalu dalam dan terdapat banyak batu-batu yang bisa dijadikan pijakan untuk menyeberang.


" bukannya batas Desa itu sebelum sungai ini? Kenapa tiang listrik itu dibangun di seberang desa? Aneh!" ucapnya.


Dia lantas berjalan untuk menuju ke tempat tersebut. Tingginya tiang listrik bisa dilihat dari kejauhan, sehingga Arman yakin betul kalau Apa yang dia lihat adalah tiang listrik yang sedang ia periksa.


Dia harus masuk ke hutan-hutan kecil. Berjalan menuju arah yang sudah ia Tentukan sebelumnya. Hanya saja setelah berjalan merasa sedikit aneh karena dia tidak juga sampai ke tempat tiang listrik tadi.


"Di mana sih? Perasaan tadi ada di sekitar sini?"  Lagi-lagi dia bertanya pada dirinya sendiri sambil memeriksa sekitar.


Tapi tiba-tiba dia melihat seseorang sedang berjalan diantara rerimbunan pohon yang ada di depannya. Entah mengapa Armand justru bersembunyi. Karena orang yang ia lihat seperti yang sangat tidak asing baginya. Arman terus mengintip di balik pohon besar. Hingga akhirnya dia pun meyakini kalau orang yang ada di hadapannya adalah Pak Sobri.


"Ngapain Pak Sobri ada di sini? Bukannya kebun Pak Sobri ada di dekat rumahnya?" Arman terus mengikuti pria tua itu hingga akhirnya dia sampai di sebuah goa.


Pak Sobri tampak tengok-tengok untuk memeriksa sekitar. Seolah-olah Apa yang dilakukan nya tidak ingin diketahui oleh orang lain. Hal ini membuat Arman semakin curiga.


Pria tua itu tampak lebih seperti pencuri yang hendak masuk ke rumah targetnya. Goa yang baru pertama kali dilihat oleh Armand menjadi tempat aneh yang ingin sekali diketahui olehnya. Pak Sobri lantas masuk ke dalam goa. Setelah memastikan Kalau pria tua itu tidak akan keluar dalam waktu dekat, Arman bergegas mendekati goa tersebut. Dari mulut goa, tempat itu tampak gelap. Armand ragu-ragu untuk masuk ke dalam. Pikirannya sudah bermacam-macam dengan berbagai spekulasi negatif. Dia yakin kalau tempat itu bukanlah tempat yang normal untuk didatangi oleh manusia. Setelah berdiskusi dengan dirinya sendiri, Akhirnya dia pun memberanikan diri melangkahkan kaki memasuki goa tersebut. Arman tidak membawa satupun lampu penerangan. Dengan percaya diri dia terus masuk ke dalam goa tersebut. Aroma busuk mulai tercium. Dia berjalan sambil berpegangan pada dinding sekitarnya.


' Kalau Pak Sobri masuk ke sini pasti ada jalan keluar. Gue harus menemukan apapun yang sedang Pak Sobri lakukan di sini!' batin Armand.


Dan benar saja hanya dalam beberapa langkah dia berjalan, akhirnya dia melihat ada secercah sinar di ujung goa. Dengan semangat Arman segera mendekat ke cahaya tersebut.

__ADS_1


Suara seseorang terdengar samar-samar. Arman langsung yakin kalau suara tersebut adalah milik Pak Sobri. Tapi anehnya Arman tidak mengetahui apa yang Pak Sobri katakan. Karena kalimat yang terdengar terasa aneh dan belum pernah ia dengar sebelumnya. Seakan akan apa yang dibaca olehnya adalah sebuah mantra.


Kaki Armand mendadak lemas, bahkan saat dia belum sampai ke sumber cahaya itu. Dia berusaha menggerakkan kakinya. Tapi sayangnya hanya bergeser beberapa mili saja. Tiba-tiba Dia teringat dengan kalimat ayahnya.


'Ingat! Kamu itu jangan lupakan leluhurmu. Dunia kita itu berdampingan dengan dunia mereka. Bisa saja sewaktu-waktu kamu akan celaka dengan hal-hal yang tidak masuk logikamu. Jika suatu saat nanti kamu membutuhkan bantuan, baca kalimat ini!'


Kalimat itu adalah nasehat dari ayah Armand. Beliau mengatakan hal itu saat dirinya dan putranya sedang mengobrol santai di teras rumah saat Armand masih duduk di bangku SMA. Kala itu Arman pulang ke rumah dalam keadaan babak belur. Dia mengaku habis berkelahi dengan teman sebayanya di sekolah, tapi Arman kesal karena dirinya kalah. Padahal Arman sudah berlatih ilmu beladiri sejak dirinya masih kecil dan dia belum pernah dikalahkan oleh siapapun.


Di saat seperti ini dia justru teringat dengan kalimat itu. Akhirnya dia pun mengucapkannya.


"Bismillahirrohmanirrohim. Gelapo songo gelapo sewu suaraku. Macan Putih ono ing dadaku Yo aku macan Allah. lailahailallah muhammadarrasulullah La haula wala quwwatailabilahilaliyiladzim!" Kalimat itu ia baca sebanyak tiga kali.


Tiba-tiba ada angin kencang yang masuk ke dalam goa dan tubuh Arman tiba-tiba bisa bergerak. Hal aneh lainnya ada seekor Macan Putih yang masuk ke dalam goa melewati Arman begitu saja. Setelah sampai di pintu yang bercahaya tadi, Macan Putih tersebut menoleh ke arah Arman. Nyarinya yang tadi sangat besar dengan rasa penasaran yang cukup tinggi mendadak lenyap. Arman kini justru menjadi seorang penakut yang lebih memilih untuk meninggalkan tempat tersebut.


Setelah keluar dari goa, Arman bergegas berlari meninggalkan tempat tersebut kembali ke desa. Dia tidak peduli lagi dengan tugas yang diberikan oleh Daniel. Yang ingin dia lakukan sekarang adalah menyelamatkan diri. Dia yakin kalau saat ini dia sedang berada di tempat yang tidak aman.


"Eh, Man? Kenapa? Kayak habis dikejar setan aja!" ucap Derry saat dia melihat Armand pulang dengan kondisi wajah pucat dan nafas terengah engah.


"Minum! Ambilin minum!" pintanya sambil menunjuk ke arah dapur.


"Eh, serius? Lo habis dikejar setan? Tunggu bentar! Gue ambilin dulu!" kata Derry yang bergegas pergi ke belakang mengambil segelas air.


Air minum itu bahkan sampai tandas. Armand tidak meninggalkan setetes pun di dalam gelas itu. Bunyi gelas yang beradu dengan meja kayu terdengar menggema.


"Gimana? Udah tenang lo?" tanya Derry.


"Lo kok udah di rumah sih? Bukannya Kelarin itu sumur!" ucap Armand yang malah membahas hal lain.


"Udah beres. Lo kenapa sih? Cerita dong!" tukas Derry memaksa.


"Gue nggak apa apa. Cuma kaget aja tadi."


"Kaget kenapa?"


" tadi kan gue keliling Desa buat periksa pemasangan instalasi listrik. Gue itung-itung tiang listrik yang ada di desa ini. Sambil cek di mana aja tiang listriknya itu berdiri."


"Terus?"


"Anehnya ada satu tiang listrik yang dipasang di seberang sungai. Gue bingung dong, kenapa bisa ditaruh di sana sementara daerah situ kan bukan bagian dari Desa ini. Tiba-tiba gue ngeliat sesuatu! Lo tahu nggak gue lihat apaan?"


"Bukan setan!"


"Terus?"


"Pak Sobri ada di seberang sungai!"


"Weh, ngapain dia di sana? Ngecek tiang listrik juga?"


"Bukan, dodol!"


"Terus ngapain?"


"Dia masuk ke sebuah goa. Di tengah hutan itu ada goa."


"Lah, ngapain tu orang? Terus lo masuk juga?"


"Iya!"


"Ada apa di sana?"


"Nggak tahu. Gue nggak sempat lihat apapun karena tiba-tiba kaki gue kaku nggak bisa digerakin. Untung aja gue bisa kabur dari sana. Kalau nggak, entahlah apa jadinya. Tapi aneh nggak sih menurut lo? Ngapain coba Pak Sobri ke tempat kayak gitu?"


"Mau ritual kali, Man."


"Kayak dukun aja!"


"Ya kan, bisa aja."


"Hm, nggak tahu ah! Males gue mikir ginian. Huft! Oh iya, lo sendirian? Yang lain belum balik?"


"Belum. Masih proker semua. Gue balik duluan."

__ADS_1


"Ngapain lo balik duluan? Mojok lo ya, sama Ike? Mana Ike?" tanya Armand sambil tengak tengok.


"Mana ada! Gue sendiri kok. Lagi males aja, pengen balik."


"Hm, dasar pemalas! Gue lanjutin lagi deh. Nanti Daniel balik bisa ngomel!" kata Armand lalu kembali beranjak.


"Iya udah sana. Hati hati lo."


"Eh, lupa! Gue mau ambil laporan gue dulu. Mau ketemu Pak Kades. Lo mau di rumah aja? Nggak proker lo?" tanya Armand sambil berjalan masuk mencari tas yang ia letakkan di salah satu kamar.


"Enggak. Males gue. Besok aja deh."


"Hati hati lo! Nanti nggak kelar kelar proker nya!" desak Armand sambil mencari kertas yang ada di dalam tas ranselnya.


"Santai. Eh, ngomong omong macan lo itu udah berapa lama ikut keluarga lo?" tanya Derry.


Tiba tiba Armand menghentikan gerakan tangannya. Keringat dingin mengucur di dahinya. Tangan Armand gemetaran. Perlahan dia menoleh ke belakang untuk melihat keberadaan Derry. Armand menarik nafas lega karena Derry tidak ada di dekatnya. Dia pun beranjak dari duduk dan berjalan dengan pelan ke arah pintu. Tiba tiba Derry justru muncul di hadapannya.


"Astaga!" jerit Armand terkejut.


"Kenapa? Kaget gitu lo?"


"Ya... Lo ngagetin gue! Nga—ngapain lo di situ!" kata Armand berusaha tampak normal.


"Nyari lo. Siapa tahu butuh bantuan," kata Derry. Nada kalimatnya tampak berbeda dari sebelumnya. Membuat Armand berkali kali menelan saliva nya.


"Enggak! Gue nggak apa apa. Ya udah, gue pergi dulu ya. Takut kesiangan." Armand berjalan begitu saja keluar dari kamar. Dengan langkah cepat dia segera keluar dari rumah. Dia benar benar ketakutan sekarang. Hal yang ingin dia lakukan adalah segera pergi meninggalkan rumah sejauh mungkin.


"Man! Laporan lo gimana?" tanya Derry sambil menunjukkan tumpukan kertas di tangannya.


Armand tidak menanggapinya, dia hanya terus berjalan pergi hingga kini sudah sampai di halaman rumah. Dia mempercepat langkahnya bahkan terkesan setengah berlari. Begitu sampai di rumah kosong dekat posko, dia menoleh ke belakang. Memeriksa apakah Derry masih berada di rumah itu. Rupanya benar, Derry masih berdiri di teras dengan kertas laporan milik Armand. Dia menyeringai dan berhasil membuat Armand berlari lebih kencang.


Begitu sampai di proker pembuatan sumur, Arman baru bisa bernafas lega. Dia langsung duduk begitu saja di rerumputan, di mana teman temannya sedang berkumpul di sana.


"Kenapa lo?" tanya Ike.


"Gue... Gue nggak apa apa!" sahut Armand dengan nafas yang hampir habis.


"Bohong! Habis ketemu setan?" tanya Khusnul.


"Udah deh, jangan bahas dulu! Nanti aja!"


"Ya udah, makan dulu, Man. Aku sengaja bawa makan siang kita ke sini. Biar nggak perlu balik rumah, jadi menyingkat waktu," tutur Rahma lalu membuka bekal yang sudah ia siapkan. "Ni tinggal buat kamu. Yang lain udah makan tadi."


"Makasih ya, Ma."


Dari kejauhan datang dua orang. Derry dan Cendol. Begitu melihat teman temannya duduk di bawah pohon, mereka sudah antusias, terutama Derry.


Tapi tidak dengan Armand. Dia justru kembali tegang saat melihat Derry datang.


"Wah, kalian di sini! Eh, Man, udah makan aja lo!" kata Derry sambil menepuk bahu Armand.


Sontak Armand terkejut dan menyingkir dari teman temannya. Semua orang ikut bingung dengan sikap Armand. Bahkan Derry yang biasanya bercanda dengannya kini menatap Armand dengan raut wajah kebingungan.


"Lo kenapa? Kok kaget gitu?" tanya Derry.


"Siapa lo!" tanya Armand setengah menjerit di tambah wajah yang serius.


"Lah, ya gue Derry. Lupa? Lo kenapa sih? Amnesia?" tanya Derry lalu berjalan mendekat.


Tapi Armand justru semakin menjauh. Dia menghindari kontak langsung dengan Derry.


"Man? Lo kenapa?" tanya Derry semakin bingung.


"Gue tanya sekali lagi! Lo siapa!" jerit Armand yang mulai tidak terkendali. Sehingga warga desa yang ada di sekitar menatap mereka.


"Man? Lo kenapa? Ini gue! Derry! Sadar lo!" jerit Derry yang ikut terbawa suasana saat melihat Armand yang bersikap aneh tanpa sebab.


"Gue, tadi pulang ke rumah dan ada lo di sana! Tapi tiba tiba lo ngomong sesuatu yang bikin gue yakin, kalau itu bukan lo! Jadi gue pengen tahu, lo itu siapa!" jerit Armand.


"Gue Derry! Dari tadi gue sama Cendol terus buat proker!"

__ADS_1


"Iya, Man. Dari tadi dia sama gue terus. Dan kami belum pulang ke rumah sama sekali!" tambah Cendol.


"Man, ada apa sih? Ngobrol baik baik, yuk," ajak Khusnul. Dia menggandeng Armand agar mau duduk dan membahas masalah ini bersama.


__ADS_2