Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
32. penyelamatan


__ADS_3

"Siapa di sana!" teriak pria itu.


Jantungku berdegup sangat cepat. Kalau saja dia tidak membawa golok sepertinya aku akan berani menghadapinya.


Kulihat ke samping kananku, dan ada  sosok anak kecil yang ada di ruang bawah tanah tadi. Dia mengisyaratkan ku untuk diam lalu menarik tangan ku pergi dari tempat ini.


Dan entah kenapa, aku menurut saja dan terus mengikutinya pergi.


Dia membawaku ke kebun belakang rumahnya lalu menunjuk ke sebuah pagar tanaman yg tertutup.


Dia lalu mengangguk sekali tanpa berkata apa pun.


"Maksudnya apa ni anak... aku suruh ngumpet di sini? Duh, kalau ada ulet ggimana, ya? Ah... Kakak! Radit... Gimana dong ini." Aku berdebat dengan diri sendiri.


Dengan ragu ragu aku pun jongkok dan melihat ke pagar itu. aku sedikit terkejut karena melihat ada sebuah pintu di dalam nya.


Saat aku menoleh ke anak itu dia sudah lenyap.


"Heii! Siapa kamu!" teriak seseorang.


Aku menoleh,dan ternyata pria itu sudah ada tak jauh dari ku.


Dia yg sedari tadi memakai masker untuk menutupi wajahnya, lalu berjalan cepat menuju ke arahku dengan golok di tangannya.


Mati aku!


Aku langsung masuk ke pintu kecil itu, dan saat kubuka, ternyata aku sudah ada di jalan raya yg sepi. Maklum lah ini sudah lewat tengah malam. Setidaknya aku bisa bernafas lega.


Dengan langkah seribu aku segera pergi dari sana menuju ke rumah.


Aku harus mencari pertolongan. Siapapun orangnya.


Karena aku juga khawatir dengan kak Arden dan yg lainnya, mereka juga harus segera ku tolong.


"Awas kamu!" teriak pria tadi yg ternyata berhasil menyusul ku.


Aku makin mempercepat lari, dan tak terasa aku menangis karena ketakutan.


Pria itu masih terus mengejarku.


Larinya sangat cepat.


Aku makin panik, dan sering sekali melihat ke belakang, takut sewaktu waktu dia sudah dekat dan berhasil menangkap ku. Tubuhku terasa sudah sangat lelah. Kakiku seolah mati rasa namun harus kupaksakan tetap berjalan. Semoga aku berhasil sampai ke rumah dengan selamat.


Kulirik jam tanganku, ternyata sudah pukul 02.00 dini hari. Aku tidak mungkin menjerit untuk meminta pertolongan.


Pasti sulit mendapatkan bantuan di jam seperti sekarang.


Sementara pria itu makin dekat, aku makin panik juga. Tapi karena panik dan putus asa, aku tidak dapat lagi membendung reaksi spontan ku, meminta tolong.


"Tolong! Tolong!" aku terus berteriak berharap ada seseorang yang mendengar ku.


"Hei!! Diam! Atau kubunuh kamu!!" jerit pria itu lantang sambil menunjukan goloknya padaku.


Aku makin nangis histeris. Dalam keadaan seperti ini, aku justru berfikir menghadapi makhluk tak kasat mata lebih melegakan. Setidaknya mereka tidak akan mendekat jika aku mengumandangkan doa doa.


Saat dekat pertigaan yg dekat dengan rumah om Wayan, aku mendengar ada suara mobil mendekat. Langkahku makin cepat, seolah mendapat semangat baru aku terus berusaha menemukan asal suara tersebut.


Bruuuggghhh!!!


Aku tertabrak dengan cukup keras karena tidak melihat datang nya mobil itu dari arah yg berlawanan denganku.


Aku jatuh terguling di jalan beraspal ini.


Mataku agak memburam, dan kulihat pria itu berhenti mengejar ku dan mundur mundur.


Lega rasanya.


Badanku lemas dan kurasakan sakit di sekujur tubuhku. Aku pasrah dengan tiduran saja di jalanan ini. Kututup mataku karena rasanya sangat lelah sekali.


Tak lama si empu nya mobil turun dan kudengar langkah kakinya mendekatiku.


"Masya Allah, Aretha? Kamu nggak apa apa?" tanya sebuah suara yg sangat ingin kudengar sedari tadi, dia kini muncul di hadapanku.


Kubuka mataku yg sedari tadi terpejam.


"Om Wayan...." aku menangis sambil memeluk om Wayan yg ada di depanku.


"Kamu ngapain di sini? Malem malem lagi?" tanya om Wayan bingung.


"Kak Arden... di sana. Tolongin om... Reta takut." tangisku makin pecah dan makin histeris saja.


"Arden? kalian habis dari mana sih?" tanya om Wayan sambil melihat ke arah yg ku tunjuk barusan.


"Rumah itu, Om.. Rumah kosong yg di sana. Ada orang jahat, kak Arden om.. Radit. Yang lainnya masih terjebak di sana. Tolongin om. cepet!!" rengekku sambil memegangi tangan om Wayan.


Om Wayan diam sejenak.


"Kok bisa sih kalian ke sana malem malem gini???"


Kuceritakan awal mula kami bisa ada di rumah itu, dari awal Dedi menghilang hingga saat kami terjebak di ruang bawah tanah tadi.


"Masya Allah.. Ya udah, bentar ya.. Om cari bantuan dulu." lalu om Wayan mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


Setelah selesai, om wayan kembali mendekatiku.


"Om anter kamu pulang dulu ya. Biar om aja yg ke sana," kata om Wayan.


Aku menggeleng.


"Enggak!! Reta gak mau pulang. Reta ikut om!!"


"Tapi, Tha... Terlalu berbahaya. Yg kita hadapi manusia lho! Bukan makhluk astral," tolak om Wayan.


"Enggak mau!! Pokoknya aku ikut. Lagian om Wayan nggak tau kan di mana ruang bawah tanah itu," timpalku.


Om Wayan diam sejenak lalu menarik nafas panjang seraya mengangguk.


"Ya udah yuk, masuk mobil. Kita ke sana," ajak om Wayan.


"Om, jangan naik mobil. Nanti orangnya tau kalo kita dateng. Jalan kaki aja!" saranku.


"Bener juga ya. Tapi, kamu gimana?kamu gak papa? keras lho tadi ketabrak nya?" tanya om Wayan sambil memperhatikanku dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Gak papa om. nyeri doang dikit. ya udh yuk cepetan," ajakku.


Akhirnya kami berdua berjalan kaki kembali ke rumah itu. Dengan langkah yg kuseret sedikit karena nyeri yg kurasakan di kakiku ini, aku terus berjalan bersama om Wayan.


Aku benar benar mencemaskan keadaan mereka di sana.


Semoga tidak terjadi hal buruk pada mereka.


Hingga kami sampai di rumah itu, aku dan om Wayan jongkok menuju pintu rahasia yg tadi kugunakan untuk keluar dari halaman rumah ini.


Om Wayan duluan masuk untuk melihat situasi di dalam.


"Aman, Tha," ucap om Wayan pelan.


Aku kemudian menyusul om Wayan masuk dan setelah itu, kami segera mengendap endap menuju ke dapur.


Sampai dekat dapur, om Wayan menarikku untuk bersembunyi.

__ADS_1


"Kenapa om?" tanyaku berbisik pelan.


"Ssttttt... Dia ada di situ." om Wayan memberi isyarat agar aku diam.


Kami mengatur nafas sebentar.


Dari dalam terdengar suara ribut. Om wayan mengintip sedikit dan kembali bersembunyi lagi bersamaku.


"Wah, parah, Tha.. Kita harus bergerak. Dia mau bakar rumah ini!" kata om Wayan sambil celingukan ke sana ke mari.


"Kita harus ngapain nih om?" tanyaku.


"Biar om aja yg masuk buat mancing dia keluar. kamu bantuin Arden sama yg lainnya biar mereka bisa bebas," kata om Wayan.


"Tapi dia bawa golok, Om!" ucapku panik.


"Tenang aja, Tha!! Golok doang mah kecil," sahut om Wayan yakin.


Serius? Golok doang kecil?


Waw... keren kalo gitu..


Om Wayan mempelajari debus kali ya.


Om Wayan lalu berdiri dan berjalan ke depan pintu dapur. Kareba ketauan, pria tadi langsung melempar korek api ke dalam ruang bawah tanah itu, dan langsung ada kobaran api dari sana.


Setelah melempar korek api, dia lalu pergi. Om Wayan mengejarnya, sementara aku masuk.


"Ya ampun.. Kkk! Radit! Kalian gak papa??" teriakku.


Api mulai berkobar di tangga penghubung dapur dan ruang bawah tanah.


Tidak ada sahutan dari sana.


"Ya Allah. gimana dong!!"


Kuambil gayung terdekat dan kuisi dengan air. Aku terus berusaha memadamkan api ini.


Namun rasanya sia sia karena api tidak kunjung padam malah makin membesar.


Kutekan kepalaku dengan kedua tangan, aku benar benar frustasi kali ini.


Apa yg hrs kulakukan?di sini tidak ada alat untuk memadamkan api.


Kain!!


Iya betul.


Kutarik korden yg kain yg masih ada di sini. Kubasahi dengan air lalu kgunakan untuk memadamkan api di lorong itu.


Aku bolak balik memadamkan api dengan cara ini.


"Kak! Radit!" teriakku panik.


Tangis ku kembali pecah, aku sudah sangat lelah sekali.


"Ta!!" tiba tiba ada yg menepuk bahuku.


"Doni!!!"ucapku.


"Sini, biar gue aja.. Elo capek tau. Istirahat gih," katanya.


Kiki pun ada di sini, dia langsung memelukku dengan raut wajah yg cemas.


"Kok kalian bisa di sini?" tanyaku.


"Tadi om Wayan ngabarin, jadi kita langsung ke sini. mba Alya sama pak Nyoman lg jalan ke sini bawa ambulan," jelas Kiki.


"Ya Allah..."pekik kami hampir berbarengan.


Mereka sudah tergeletak di lantai. Mungkin kehabisan udara karena asap kebakaran tadi.


Aku langsung berlari menghampiri kak Arden.


"Ya Allah, kakak! Bangun kak!" teriakku.


Di samping kak Arden ada Radit juga.


"Dit! Radit! Bangun, Dit!!" kugoyang goyangkan tubuhnya agar cepat sadar.


Doni dan Kiki juga berusaha membangunkan yg lain.


"Masya Allah!!" om Wayan dan mba Alya sudah ikut masuk juga rupanya.


"Ambulance nya gimana, mba?"tanya Kiki ke mba Alya.


"Udah, 5 menit lagi kok. Mereka gimana?" tanya mba Alya ikut panik lalu mendekat padaku.


"Arden gimana, Tha??"


"Gak tau mba.. Mungkin mereka pingsan aja. Nadi nya masih ada," jelasku.


Mba Alya mencoba membangunkan kak Arden aku akhirnya beralih ke Radit.


"Dit.. Radit!! Bangun dong, Dit!!!" aku tepuk tepuk pipinya.


Awalnya pelan, namun karena aku tidak sabat, aku pukul agak keras.


"Duh, Aretha.. Sakit. Banguninnya jangan gitu dong. Dicium kek, malah digampar.." Radit sadar sambil mengelus pipinya.


"Kamu! Nyari kesempatan ya!! Bangun ah!!" paksaku sambil kutarik tangannya.


"Pelan dong, Tha. Kamu gak ada romantisnya deh. aku sakit tau.."dia merajuk padaku.


"Eh.. mana yg sakit, Diit??" tanyaku sambil ku amati wajah dan tubuhnya lekat lekat.


"Di sini, Tha. Sakit banget," katanya sambil menekan dadanya.


Kak Arden dan yg lainnya juga mulai tersadar juga.


"Mana, Diit? Kamu luka? Kena apanya? Berdarah gak?" tanyaku cemas sambil melihat yg Radit tunjuk.


"Eh eh eh.. Jaga jarak aman!! Ngapain coba elu, Diit!!"kak Arden yg baru bangun langsung ngomel.


"Yah, bodyguardnya keburu bangun deh," gumamnya.


"Eh, apaan? ngomong apa tadi??ulangi coba!!'' kata kak Arden menyelidik.


"Enggak, Den.. Gerah banget. Keluar yuk. Panas banget di sini. Hampir aja jadi manusia panggang," ajak Radit.


Ku bantu dia berdiri, dan kami pun keluar dari ruangan ini dan juga rumah ini.


Sampai di halaman ternyata sudah ramai, banyak warga yg datang. Ada mobil polisi dan ambulance juga.


Om Wayan sedang berbicara dengan pak polisi dan juga ada beberapa orang di sana. Mungkin pemuka masyarakat di sini.


"Om, gimana? Ketangkep gak org nya tadi?" aku sampai lupa menanyakan hal ini tadi. Karena terlalu mencemaskan kak Arden dan Radit.


"Lepas, Tha!! Gesit banget dia. huft.."kata om Wayan frustasi.


"Nanti kami bantu cari mba. pasti ketemu,"ucap seorang bapak yg ikut bicara dengan pak polisi itu.

__ADS_1


Tunggu!!


Aku dan Radit saling lempar pandangan, dahi kami berkerut.


Aku yakin Radit memikirkan hal yg sama sepertiku.


Karena dia juga melihat siluet yg kami lihat bersama tadi.


"Gak perlu!! Saya sudah menemukan orangnya," ucap Radit lantang.


Mereka langsung menoleh ke Radit.


"Siapa, Dit? mana??" tanya om Wayan celingukan.


"Dia!!" tunjuk Radit ke bapak yg bersama om Wayan.


Mereka semua kaget dengan penuturan Radit. Bapak yg ditunjuk Radit juga melotot.


"Ngomong apa sih? kok jadi saya yg dituduh!!" dia terlihat tidak terima.


"Dit!! Dia pak RT di sini lho. Kamu jangan ngaco deh, "bela om wayan.


"Aku gak ngaco om.. Dia yg kulihat di bayanganku tadi. Iya kan, Tha??" tanya Radit padaku.


"Iya om.. BApak ini pelakunya.."aku pun sependapat dengan Radit.


"Jangan fitnah ya.. Kalian bisa saya laporkan atas pencemaran nama baik!!" dia masih saja mengelak.


"Kalo anda msh mengelak, boleh saya melihat telapak tangan bapak!! Telapak tangan kanan bapak luka. Karena pintu di halaman tadi, soalnya saya pun juga sama." lalu kutunjukan luka di telapak tanganku.


Pak polisi dan om Wayan menatap bapak itu tajam.


"Maaf pak, bisa tunjukan telapak tangan bapak?" pinta pak polisi serius.


Bapak itu diam, dia terus menunduk. Ini sudah sangat membuktikan bahwa pernyataan ku dan Radit itu benar.


Dia mundur mundur.


Pak polisi maju sambil mengeluarkan senjatanya.


"Tunjukan tangan bapak!!"perintah pak polisi itu lagi.


Saat dia hendak lari...


Doooor!!


Dia ditembak di bagian kakinya oleh polisi lainnya yg memang sudah diberikan isyarat oleh pak polisi yg tadi ngobrol dengan om Wayan.


Dia tersungkur di tanah.


Dan segera diamankan oleh polisi.


Fyuuuuuhh


Akhirnya tertangkap juga orang ini.


Kami juga dapat bernafas lega sekarang.


Setelah mendapat perawatan sekedarnya dari medis yg sengaja dipanggil kemari, kami lalu pulang ke rumah om Wayan diantar mobil polisi.


Banyak sekali warga yg melihat kejadian ini, dan polisi pun juga mengurus jenazah anak itu. Rumah ini diberi garis batas oleh polisi untuk penyelidikan lebih lanjut.


Dan ternyata bapak itu menganggap anak itu adalah anaknya. Karena wajah mereka yg agak mirip .


Bapak itu, yg tidak lain adalah pak RT di sini pernah kehilangan anak dan istrinya dulu karena kebakaran.


Dan sejak saat itu, sikapnya sedikit tertutup.


Semua warga sampai tidak menyangka apa yg sudah di lakukan pak RT. Karena pak RT dikenal sebagai sosok yg baik selama ini.


Kematian tidak akan terlambat sedetikpun untuk menyapa kita.


Namun, sikap pak RT yg demikian malah menyakiti dirinya sendiri dan orang lain.


\=\=\=\=\=


Kami sampai di rumah.


Kupapah Radit sampai kamarnya. Karena jalannya agak terseret, kasihan aku melihatnya.


Kak Arden sudah dibantu mba Alya tadi.


Sampai di kamar Rqdit ku bantu dia duduk di ranjang.


"Makasih ya, Tha.. Aku lega, kamu baik baik aja.. Awalnya aku khawatir banget.." raut wajahnya berubah. Yang tadinya tengil, kini sendu sekali.


"Aku gak papa kok, Dit.. Kamu gimana? ada yg luka?" tanya ku lembut.


"Luka ku gak seberapa kok. Asal liat kamu juga nanti sembuh sendiri." katanya mulai gombal.


Kupukul lengan nya pelan.


Dia malah ketawa.


"Ya udah, istirahat, Dit. aku juga mau balik kamar. Aku capek banget, pusing," kataku.


"Iya, Tha.. Kamu istirahat juga ya.."


Aku kembali ke kamarku dan memutuskan untuk tidur.


Kulirik jam yg ada di pergelangan tanganku.


"Ya ampun, jam 4 pagi!! Aku ga tidur semaleman..."kataku berbicara sendiri.


Ku pejamkan mataku.


Wuuussshh..


Terasa semilir angin menerbangkan anak rambutku.


Terpaksa kubuka lagi mataku.


Glek!


Sosok anak itu kini berdiri di dekat jendela kamar.


Sialnya aku sedang sendirian, mba Alya dan Kiki sedang di luar bersama yg lain.


Bukan takut, tapi aku capek banget, pingin istirahat.


Aku duduk kembali ,dan menatapnya, dan dia mendekat padaku. Aku sedikit mundur. Saat sudah dekatx dia tersenyum lalu membelai wajahku dan keningku.


Hangat..


Aku bahkan sampai memejamkan mata karena merasa nyaman.


Dan seketika rasa sakit di kepalaku hilang.


Kubuka kembali mataku namun sosok anak itu hilang.


Ku edarkan pandanganku ke sekeliling. Namun, dia benar benar hilang.

__ADS_1


Semoga kamu sekarang bisa tenang dek..


__ADS_2