Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
12. Fendi


__ADS_3

"Kalian baik baik saja, kan? Tadi teman teman kalian mendatangi rumah saya lalu menceritakan semua. Jadi saya membawa warga untuk mencari kalian semua," jelas Pak Sobri.


"Kami baik baik saja, Pak. Tadi ... Teman kami kesurupan. Ternyata dia ada di sini," tukas Daniel sambil menunjuk Fendi yang masih tampak lemas dan kini sedang dipapah oleh Cendol dan Sule.


"Pak, tadi banyak sekali setan di sini," tutur Cendol.


"Setan? Hehehe. Ya jelas ada, Mas. Kan kalian ada di makam."


"Oh iya, Pak. Bisa tolong periksa kondisi teman kami?" tanya Armand.


"Tentu saja. Mari kita pulang lebih dahulu," ajak Pak Sobri.


Mereka pun akhirnya segera meninggalkan tempat itu bersama sama warga desa yang lain.


"Gimana? Fendi kenapa?" tanya Khusnul tampak panik saat melihat teman temannya membawa tubuh Fendi yang tak berdaya ke dalam rumah. 


Sejak Armand pergi keluar untuk mencari Fendi, Dolmen dan Derry lantas membangunkan yang lain untuk memberitahukan hal ini. 


"Kok pada bangun semua?" tanya Armand heran. 


"Kita bangunin. Habisnya kondisi genting kayak gini masa mereka disuruh enak enakan tidur sih!" sindir Derry. 


"Lagipula kami juga diteror di rumah tahu!" ucap Dolmen berbisik. 


"Apa?"


"Tunggu, nggak enak ada warga desa."


Beberapa dari warga desa masuk ke dalam rumah untuk menenangkan mereka. Beberapa patah kata terucap dari mulut Pak RT, selaku wakil dari perangkat desa. Mereka tidak bisa selalu mengganggu waktu Pak Kades untuk hal hal seperti ini. Jadi Pak Rt akan menggantikan Pak Kades jika mereka menghadapi kesulitan di luar KKN. 


"Kalau begitu kami pamit dulu. Kalian istirahat saja. Ini masih malam, setidaknya masih ada waktu untuk tidur sebelum pagi datang," kata Pak RT setelah memberikan wejangan mengenai peristiwa yang tadi mereka alami. 


"Baik, Pak RT. Terima kasih banyak bantuannya," sahut Daniel. 

__ADS_1


"Iya, sama sama, Mas. Mulai sekarang kalian sebaiknya tidak terlalu sering mendekati tempat tempat yang saya sebutkan tadi. Bagaimana pun juga kalian kan masih dua bulan lebih di sini. Untuk menghindari hal hal yang tidak mengenakan nantinya."


"Baik, Pak. Kami ingat pesan Bapak. Sekali lagi Terima kasih atas bantuannya tadi."


"Sama sama, Mas. Kalau begitu kami pergi sekarang supaya kalian bisa istirahat. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Langkah para warga masih tampak jelas di jendela rumah. Armand masih berdiri di dekat pintu, sementara yang lain berusaha membangunkan Fendi. 


"Ini udah aman, kan? Fendinya?" tanya Mey. 


"Semoga aman. Toh, tadi kata Pak Sobri udah nggak ada lagi yang menempel di tubuhnya," sahut Sule. 


"Tapi kalau tiba tiba dia kumat lagi gimana?" tanya Indy. 


"Gue rasa nggak akan. Kalian lihat sekarang jam berapa?" tanya Armand. 


"Kejadian yang kerasukan biasanya di bawah jam 3 pagi. Atau antara tengah malam sampai jam segini. Kalian ingat waktu Mey kesurupan, kan? Waktu kejadiannya itu sama seperti Fendi, kan?" 


"Eh, iya. Bener juga. Jadi apakah makhluk makhluk ini cuma bisa masuk ke tubuh kita di jam jam tertentu aja?" tanya Ike. 


"Mungkin aja."


"Tapi gue pernah baca di buku, eksistensi keberadaan makhluk makhluk itu memang kuat di jam segitu. Kekuatan mereka akan mulai melemah saat masuk pagi, atau biasanya subuh," jelas Derry. 


"Yah, semoga saja Fendi ataupun kita semua malam ini aman. Jadi bisa istirahat. Ingat, besok jadwal kita padat," ungkap Daniel. 


"Ngomong omong, gue tahu apa yang Fendi ikuti tadi," timpal Armand. 


Sontak teman-temannya yang awalnya hendak kembali tidur, kini tertarik dengan perkataan Armand. 


"Eh, siapa, Man?" tanya Derry yang lebih antusias ketimbang yang lain. Karena mereka adalah saksi mata saat Fendi kesurupan tadi. 

__ADS_1


"Patung itu."


"Patung? Patung apa maksud lo?" tanya Derry. 


"Patung batu. Kalian ingatkan kalau di mata air yang ada di area pemakaman panda sebuah patung batu yang bentuknya mirip orang sedang semedi. Tadi siang pas gue lewat sana patung itu nggak ada. Nah tadi sewaktu kami menemukan Fendi, kalian tahu kami temukan dia di mana?"


"Di makam?"


"Ya, di makam. Dengan posisi seperti sedang bersujud dan di depan mata air. Lalu patung itu justru ada di sana di posisi semula."


"Tunggu dulu! Jadi maksudmu Fendy pergi karena dibawa oleh patung batu yang ada di mata air makam? Lalu dia mengikuti patung itu? Bagaimana sih, saya bingung. Bisa kalian jelaskan lebih rinci kepada kami?" tanya Daniel. 


"Jadi, tadi malem waktu kita semua lagi tidur, tiba-tiba gue lihat si Arman ini lagi berdiri di depan pintu. Terus pas gue deketin ternyata di teras ada Fendi yang lagi duduk sendirian. Gue rasa dia emang udah daerah suka sama setan deh. Nah, anehnya. Kita berdua melihat ada satu sosok yang melintasi jalan depan rumah. Bentuknya agak aneh tapi memang terkesan familiar. Gue ingat banget kalau warna dari makhluk itu abu-abu. Ternyata itu memang warna batu. Jadi, makhluk tadi memang batu itu ya?" tanya Derry. 


"Iya. Setelah gue lihat patung batu itu, Gue bener-bener yakin kalau makhluk yang tadi dikejar sama Fendi adalah dia." 


" jadi maksud kalian patung batu yang ada di makam jalan-jalan sendiri dan Fendi mengikutinya?" tanya Khusnul. 


"Gila! Serem banget sih kalau bener. Gue nggak sangka kalau patung batu bisa jalan sendiri keliling desa! Pasti itu bukan patung sembarangan!!" timpal Cendol. 


"Pasti. Mungkin setelah ini kita harus benar-benar waspada dengan makhluk itu. Bisa saja kalau selama ini ternyata dia sering memantau kita," tambah Sule. 


"Tapi bagaimana bisa ada patung batu yang bisa berjalan. Apakah patung bisa kerasukan?" tanya Mey. 


"Ah, bisa aja itu sesuatu yang lain. Seperti jelmaan, atau memang benda keramat yang sudah ada di desa ini sejak lama. Mengingat kalau di desa ini masih banyak sekali adat yang dianut oleh warga dan semua itu merupakan sesuatu yang mistis."


" sepertinya kita harus mencari tahu tentang benda itu."


"Yah, benar. Kalau begitu sekarang lebih baik kita istirahat saja dulu. Sebentar lagi pagi tapi kalau kita tidak tidur bisa saja besok kita tidak bisa melakukan proker kita dengan baik," kata Daniel. 


"Iya benar."


Mereka segera tidur untuk memulihkan tenaga. Sejak pulang tadi Fendi terus saja memejamkan mata. Tidak ada yang tahu pasti apakah Fendi sedang tidur atau pingsan. Yang jelas dia sudah tenang dan tidak lagi melakukan aktivitas yang membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain. Setelah beberapa menit berlalu mereka semua Langsung tertidur dengan nyenyak. Walau hanya bisa tidur selama beberapa jam saja tapi setidaknya mereka tetap harus tidur malam ini.

__ADS_1


__ADS_2