Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
14. Fendi yang di teror terus menerus


__ADS_3

Mereka bergegas mendekat ke beberapa warga yang sudah bekerja sejak pagi tadi. Sambil basa basi memberikan alasan keterlambatan mereka, warga justru tampak tidak mempermasalahkan hal tersebut. Rupanya gosip sangat cepat beredar. Hampir semua warga desa mengetahui apa yang menimpa Fendi semalam. Mereka pun memberikan banyak nasehat ini dan itu. Sambil membantu para warga, suasana menyenangkan tercipta. Mereka tampak cepat berbaur dengan warga, terlihat dari tawa yang kerap terdengar saat mereka bekerja bersama sama.


Rahma dan Ike hanya bertugas menjadi pengawas saja. Mereka juga menyiapkan konsumsi untuk warga. Mulai dari teh, kopi, dan camilan. Dua jam berlalu tanpa terasa. Azan dhuhur mulai berkumandang. Mushola yang hanya satu satunya di desa itu, dapat menyuarakan azan dengan lantang. Bahkan suara tersebut bisa terdengar dari rumah posko mereka. Warga yang bekerja mulai beristirahat. Menikmati konsumsi yang sudah disiapkan oleh dua gadis kota tadi. Mereka duduk duduk di bawah pohon yang rindang sambil bercengkrama. Total warga yang ikut pembangunan ini ada sekitar 10 orang. Mereka tidak bekerja secara cuma-cuma karena kelompok Arman tentu sudah menyiapkan dana sebagai upah yang akan mereka bayarkan kepada warga desa semua. Sekalipun tempat tersebut nantinya akan dipakai bersama-sama oleh warga desa tetapi tentu saja Ide ini tetap berasal dari para mahasiswa. Tugas mereka selama KKN di tempat ini tentu tidak ingin merepotkan banyak orang. Mereka ingin membangun desa itu menjadi lebih baik lagi tanpa menjadikan beban kepada warga desa. Walau warga desa juga tetap membantu mahasiswa-mahasiswa itu tetap saja mereka tidak boleh merasa dirugikan secara tenaga. Setidaknya dengan kegiatan itu berlangsung warga desa yang ikut pembangunan bisa menghasilkan uang. Bentuk uang itu didapat dari iuran dari 12 mahasiswa yang KKN di desa itu.


" Ternyata kerja warga desa cukup cepat ya? Baru dua hari aja Toilet sudah berdiri setengahnya. Tinggal membuat atapnya saja," tukas Ike.


"Bukan cuma tinggal atap saja tetapi tembok juga belum di semen Kita juga harus mengecat seluruh tembok di tempat ini juga. Belum lagi pak Mahdi besar yang ada di depan toilet. Jadi masih cukup lama untuk menyelesaikan tugas ini," tukas Armand.


"Eh, kita pamit dulu, ya? Boleh, kan? Kami mau menyelesaikan proker kami. Lagi pula minuman serta camilan sudah dibuat. Jadi kalau nanti kalian Butuh makan atau minum tinggal ambil saja," kata Rahma.


"Oh, ya sudah. Nggak papa kalian tinggal saja. Kalian akan pergi berdua?" tanya Armand.


"Man, gue juga cabut nggak apa apa ya? Proker gue harus selesai satu hari ini. Nanti kalau proker gue udah kelar gue balik lagi ke sini deh bantuin," timpal Derry.


"Ya udah nggak apa apa. Kalian bertiga hati hati di jalan."


Udara terasa sejuk, walau matahari ada di atas kepala. Sayangnya, mereka tidak terlalu menikmati paparan sinar matahari itu, karena tertutup pepohonan sekitar. Hanya sesekali cahaya tersebut menerobos celah dedaunan hingga bisa sampai ke tanah.


Tiga mahasiswa tadi berjalan berdampingan. Rahma, Ike berada di tengah dan Derry di sampingnya.


"Ke, lo udah punya cowok belum?" tanya Derry tiba tiba.


Sontak kedua gadis itu langsung menatap Derry dengan tatapan aneh. Terutama Ike. Sementara Rahma berakhir dengan senyum senyum sambil menyenggol lengan Ike.


"Cie, ada yang mau pdkt nih sepertinya," ucap Rahma lalu memalingkan wajahnya untuk memberi ruang pada dua orang temannya itu.


"Kenapa emangnya?" tanya Ike menatap Derry heran.


"Ya jawab dulu dong. Kan gue tanya, masa pertanyaan di jawab dengan pertanyaan."


"Hem, belum. Belum punya pacar."


"Tapi udah pernah pacaran?"


"Ya pernah dulu."


"Oh oke."


"Kok Oke?"


"Ya jadi gue mau pdkt nih, sesuai kata kata Rahma tadi. Nah, alasan gue tanya itu, biar lo agak sedikit peka, kalau gue lagi pdkt ke lo. Jadi nggak terlalu cuek atau dingin."


"Dih, kok gitu. Namanya pdkt itu, harus bisa sampai gue nya tertarik juga. Masa gue harus mengerti sinyal pdkt lo!"


"Eh, kayaknya lebih enak obrolan ini diganti dengan kata aku kamu, deh. Iya, kan, Ma? Setuju nggak lo?" tanya Derry beralih ke Rahma.


"Ih tanggung. Kenapa nggak sekalian 'Yang' aja?" tanya Rahma lalu di akhiri dengan tawa


"Ye, kan belum jadian, Ma. Atau kita jadian aja, Ke? Jadi ide Rahma bisa kita pakai sekarang?" tanya Derry dan berhasil membuat Rahma tertawa lepas, sementara Ike tersenyum malu malu.


"Derry sinting!" ejek Ike.


"Nggak apa apa sinting, si sinting ini juga sayang kok sama lo."


"Cieeeeee!" ejek Rahma.


"Hahahaha."


"Gelo!"


Sepanjang jalan Derry terus saja mencandai Ike. Sementara Rahma menjadi kompor dari hubungan mereka berdua. Sampai di desa mereka segera melakukan proker masing masing. Kebetulan proker yang mereka lakukan hampir sama. Mereka mengumpulkan anak anak kecil serta beberapa orang tua yang akan diajari mengenai baca tulis, dan berhitung. Derry memang bagian memberantas buta huruf bagi orang orang dewasa. Sementara Rahma dan Ike mengajari anak anak kecil yang belum sekolah. Kebanyakan anak anak di sini akan bersekolah setelah berumur lebih dari 7 tahun, yakni masuk ke sekolah dasar. Anak anak yang umurnya dibawah itu, tidak merasakan jenjang pendidikan apapun. Yang biasanya akan ditemukan banyak taman kanak kanak, di desa itu tidak ada sama sekali. Sehingga Ike dan Rahma akan mengajari anak anak balita tadi calistung.


Sebuah bangunan kayu yang cukup luas menjadi tempat mereka mengajar. Tentu dengan dipisah menggunakan sekat triplek agar satu sama lain tidak saling terganggu. Dua jam lamanya mereka sudah mengajar, anak anak sudah dipulangkan semua karena belajar hari ini sudah selesai. Tidak perlu menggunakan waktu yang lama, tetapi yang penting rutin. Sehingga apa yang sudah diajarkan oleh Rahma dan Ike bisa diingat oleh anak anak tersebut.


"Aku mau balik ke rumah dulu ya. Mau siapin makan buat nanti," kata Rahma.


"Eh, bareng dong."


"Jangan. Kamu di sini aja. Bantuin Derry tuh. Dia belum selesai Proker. Lagian aku bisa kok belanja dan masak sendiri, jadi nanti kalau kalian udah pada pulang semua, masakan udah siap, tinggal makan deh," kata Rahma.


"Hm, yakin nggak mau aku bantu?"


"Nggak usah, Ke. Kamu bantu Derry aja tuh. Kasihan. Dia muridnya banyak. Sepertinya dia agak kesulitan," kata Rahma.

__ADS_1


Sepertinya dia berniat memberikan peluang agar Ike dan Derry bisa lebih sering bersama sama. Akhirnya dengan segala pertimbangan dan bujukan Rahma, Ike pun menurut.


"Mengerti, ya, Pak, Bu?" tanya Derry di tengah tengah warga desa yang kini beralih menjadi muridnya.


Ike berdiri di ujung dekat dekat tripleks yang menutupi tempat itu dari sekitar. Derry yang melihat gadis itu lantas mengedipkan sebelah matanya. Ike yang terkejut dengan sikap Derry lantas menunjukkan sikap tidak suka dengan mengerucutkan bibir. Tapi Derry langsung tersenyum, dan melambaikan tangannya agar gadis itu mendekat. sekalipun Ike kerap kesal dengan sikap Derry yang terkadang suka seenaknya, tetapi dia mau menuruti Derry dengan mendekati pemuda itu yang sedang berdiri di depan, dan ditonton oleh puluhan warga desa.


"Kenapa?" tanya Derry sambil berbisik.


"Butuh bantuan nggak? Gue udah kosong ini," kata Ike.


"Duh, kamu perhatian banget sih, Yang," kata Derry mulai mencandai Ike.


"Heh! Yang yang yang! Enak aja manggilnya gitu!" pekik Ike.


"Loh nggak apa apa kan, Yang? Sekalian latihan. Jadi kalau nanti pas kamu nerima cinta aku, jadinya aku udah fasih manggil sayangnya," kata Derry lagi.


"Derry ah! Udah ih! Hayu lanjutin ngajarnya, jangan bercanda. Atau gue balik nih," ancam Ike.


"Ih, yang bercanda juga siapa? AkuĀ  serius kok."


"Bodo ah!" kata Ike agak kesal.


Tapi Derry tidak pantang menyerah. Masih mencoba merayu Ike sambil tetap menyelesaikan proker itu.


Hari sudah sore saat Derry dan Ike berjalan pulang. Mereka memutuskan pergi ke tempat pembuatan sumur untuk memeriksa sampai sejauh mana perkembangan di sana.


"Tempat ini sebenarnya enak, ya? Coba kalau nggak horor aja. Betah gue lama lama di sini," ujar Ike saat mereka berjalan menyusuri jalan desa.


"Iya. Enak, adem, sejuk. Tapi aku tetep suka sih di sini. Karena ada kamu," tutur Derry sambil senyum senyum.


"Gombal!"


"Serius ih!"


"Iya iya. Serius! Tapi, Der, kira kira malam ini apa bakal ada kejadian kejadian kayak sebelumnya? Kok serem, ya, bayangin itu. Apalagi kata Armand patung di mata air bisa jalan jalan sendiri. Eh, itu lo beneran lihat patung itu jalan?" tanya Ike antusias.


"Iya. Lihat beneran. Awalnya juga agak aneh, kalau dibilang setan, setan apa itu. Kayaknya tuh, jenisnya nggak ada di buku panduan makhluk halus Indonesia. Tapi kalau dibilang manusia, itu juga nggak mungkin, karena bentuknya aneh."


"Memang bentuknya gimana sih?"


"Iya. Tapi kok aneh sih, gimana patung bisa jalan jalan sendiri."


"Menurutku sih, bisa aja kalau ternyata sosok leluhur yang warga desa sembah, yang mereka bilang titisan dewa atau apalah itu, adalah patung itu."


"Masa dewa jadi patung?"


"Nah, itu. Mungkin mereka punya kepercayaan lain. Kan, nggak semua warga desa ini muslim. Malah ada yang nggak beragama. Mereka memeluk kepercayaan nenek moyang. Mungkin orang orang itulah yang menyembah dewa patung itu."


"Wah, jadi patung itu dewa bagi mereka, ya? Terus kemampuan dia sebagai dewa apa?"


"Ya mana gue tahu, Sayang! Kan gue nggak sembah patung itu!" omel Derry.


"Ih, katanya mau manggil aku kamu, kok ganti lagi?"


"Ye itu mah karena kamunya nyebelin. Eh, tapi... Suka, ya? Dipanggil aku kamu gini? Kalau suka, kamu juga dong gantian manggil gitu," pintar Derry dengan wajah manis yang dibuat buat.


"Ngimpi!" seru Ike lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Derry. Pemuda itu terus memanggil nama Ike sambil mengekor padanya hingga sampai ke lokasi tadi.


"Der! Nah, kebetulan! Gantian sini lo! Gue udah capek!" kata Cendol.


"Yah, baru juga nyampe. Udah disuruh kerja rodi aja," hardik Derry malas malasan. Tetapi Cendol terus memaksa hingga akhirnya perdebatan pun terjadi. Tapi walaupun demikian, Derry akhirnya mau turun ke lapangan guna membantu teman temannya.


Armand baru saja beristirahat setelah membantu mengaduk semen untuk pembangunan tembok. Mereka memang tidak memiliki kemampuan dasar bangunan, sehingga mereka hanya bisa membantu sebisanya saja.


Sambil menikmati kopi yang sudah dingin, Armand menatap sekitar. Suasana riuh membuat pikirannya sedikit lebih tenang. Berbagai masalah yang sejak kemarin membuat dia dan teman teman kalang kabut, seolah olah menguar sebentar sore ini.


Apalagi antusias warga desa turut membuat semangat Armand bangkit. Mereka yang tidak ikut membangun sumur, hanya menonton di pinggir jalan. Di antara kerumunan itu ada seseorang yang tampak asing. Armand terus memperhatikan orang tadi. Ada perasaan aneh saat dia beradu tatap dengan pria itu.


"Man! Balik yuk," kata Cendol menepuk bahu Armand.


Armand terkejut, lalu menoleh ke arah temannya. "Iya, ayo." Namun saat Armand kembali menatap ke tempat pria tadi, dia sudah tidak ada di sana. Azan magrib baru saja berkumandang. Warga mulai meninggalkan tempat konstruksi bangunan. Begitu juga dengan Armand dan kawan kawan.


***

__ADS_1


"Kalian yakin mau bangun listrik di sini?" tanya salah satu pegawai listrik tersebut sambil memperhatikan sekitar. Tatapannya sedikit aneh. Tapi Daniel berusaha bersikap wajar.


"Iya, Pak. Kami sedang kkn di sini, dan ini adalah salah satu program kerja kelompok kami," jelas Daniel.


"Hm, ya sudah. Yang penting hati hati saja. Oh iya, Jadi nanti akan dipasang sekitar 10 tiang listrik di desa, Mas. Setelah kami memeriksa seluruh desa ini tadi, " kata Petugas PLN.


"Oh begitu, ya, Pak. Baiklah. Wilayahnya mana saja, Pak, kalau boleh tahu?" tanya Daniel.


"Memutar di seluruh wilayah desa ini, Mas. Supaya tempat ini merata kebagian listrik."


"Berarti area hutan juga?" tanya Sule.


"Iya, Mas. Hutan juga. Karena kita kan tidak tahu di desa ini akan ada pengembangan apa nanti ke depannya. Jadi supaya tidak kerja dua kali, kami memasang tiang listrik di seluruh wilayah desa ini, hingga hutan sekitar juga."


Untuk pemasangan listrik memang mereka tidak campur lebih dalam. Karena hal seperti ini hanya bisa dilakukan oleh tenaga ahli saja. Paling paling mereka hanya ikut mengawasi jalannya proyek tersebut. Warga yang antusias, tampak menonton dari kejauhan. Hal ini bagai hiburan baru bagi warga desa sekitar.


Daniel terus mengawasi dari awal hingga akhir proker ini. Fendi yang sejak semalam tidak tidur, terlihat pucat dan beberapa kali menguap. Teman-teman yang lainnya terlihat iba melihat apa yang menimpa Fendi. Hanya saja mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa memberikan perhatian-perhatian kecil agar Fendi tidak merasa sendirian menghadapi semua ini.


Mereka sampai di area pemakaman. Beberapa warga yang awalnya terus mengikuti pemasangan instalasi listrik ini mulai berkurang saat mereka sudah sampai di area pemakaman. Suasana menjadi sangat sepi hanya ada satu dua orang warga saja yang masih bertahan.


"Aneh nggak sih? Seolah-olah kayak warga tuh nggak mau datang ke tempat ini?" tanya Indi berbisik.


"Iya bener. Buktinya mereka semua pulang pas kita mau datang ke tempat ini. Jangan-jangan Emang tempat ini angker banget makanya warga desa pada nggak mau datang ke sini," tambah Mey.


Mereka kini berdiri di luar area pemakaman karena tiang listrik yang dibangun berada di dalam tempat pemakaman itu. Tepatnya ada di depan mata air. Tentu tempat itu menjadi perhatian khusus bagi mereka. Terutama patung batu yang masih berada di tempatnya. Tiba tiba Fendi yang awalnya tenang dan baik baik saja, mendadak histeris.


"Jangan! Jangan! Jangan dekati saya! Pergi kamu! Pergi!" teriaknya panik. Fendi langsung berlari meninggalkan tempat itu.


"Le, tolong kamu kejar dia!" perintah Daniel.


"Siap!"


"Le, ikut!" pinta Khusnul.


Mereka berdua lantas berlari mengejar Fendi yang pergi entah ke mana. Sementara itu pegawai PLN tampak kebingungan melihat situasi ini. Hanya saja tidak dengan pria yang tadi berbicara dengan Daniel sebelumnya.


'Sepertinya dia mengetahui sesuatu,' batin Daniel.


Sule dan Khusnul berlari mengejar Fendi. Hingga akhirnya dia di cegat oleh Pak Sobri yang kebetulan berpapasan dengan mereka.


"Lho, kenapa ini?" tanya beliau sambil memperhatikan raut wajah Fendi. "Ayo, ikut saya saja," kata Pak Sobri.


Sule dan Khusnul lantas mengangguk dan mengikuti Pak Sobri pulang bersama Fendi yang terus digandeng oleh keduanya. Mereka takut jika Fendi bersikap tidak terkendali lagi.


"Sebenarnya teman kalian itu agak berat. Saya lihat dia masih dikelilingi aura hitam sejak kejadian semalam," kata Pak Sobri.


"Duh, terus gimana ya, Pak? Apakah nggak ada cara untuk menolongnya seperti Mey dulu?" tanya Khusnul.


"Kalau Mbak yang kemarin itu, ringan. Hanya ditempeli saja. Jadi saya mudah untuk mengusirnya. Tetapi ini seakan akan menempel dan tidak mau lepas."


Fendi hanya bisa menunduk lesu. Dia tidak mampu berkata kata lagi.


"Tapi masa nggak ada cara, Pak? Kasihan teman kami. Bahkan di mimpinya juga dia diganggu. Permintaan maaf mungkin bisa mengurangi teror itu?" tanya Sule.


"Hm, nanti saya coba datangi makhluk itu untuk meminta maaf. Untuk sementara ... Minum ini selama kamu ada di sini. Jika air ini hampir habis, isi lagi dengan air minum di rumah. Tapi jangan sampai habis dan tidak diisi."


"Oh jadi terus diisi ulang sebelum habis, ya, Pak?" tanya Khusnul.


"Iya benar. Ini hanya untuk sementara saja. Sampai saya menemukan jalan keluar lain. Saya juga kasihan melihat teman kalian. Semoga dia kuat, ya."


Mereka bertiga pun akhirnya berpamitan pulang ke rumah. "Nul, kamu pulang dulu sama Fendi, ya. Aku lapor Daniel dulu, takutnya dia cemas," tukas Sule.


"Oh iya iya. Ya sudah, aku pulang sama Fendi. Tapi nanti kamu langsung pulang ke rumah, ya. Aku takut yang lain belum sampai rumah. Masa aku berdua aja sama Fendi."


"Iya, tenang aja. Aku nanti langsung balik ke rumah habis pamitan sama Daniel."


"Oke. Hati hati, Le."


"Kamu juga."


Mereka pun berpisah di persimpangan rumah Pak Sobri yang menuju ke rumah posko dan kembali ke pemakaman. Sule berjalan seorang diri, sampai di rumah kosong yang pernah menjadi buah bibir mereka, Sule melirik sambil memegangi tengkuknya. "Sial! Jangan sampai kamu macam macam juga. Kami sudah capek menghadapi makhluk itu!" kata Sule.


Tapi Sule sadari, ada sepasang mata merah yang ada di kegelapan rumah kosong itu. Dia menyeringai.

__ADS_1


P


__ADS_2