
Aneka masakan seafood tersedia di meja makan. Ayah baru saja pulang dan sudah bergabung bersama kami. Kami berempat segera makan malam bersama. Kak Arden sedang menemani Mba Alya di rumah sakit, karena Mama Mba Alya masih belum sembuh dari sakitnya. Sehingga hanya kurang kak Arden saja sekarang. Ayah dan Pakde terlibat pembicaraan ringan tentang pekerjaan masing - masing juga pengalaman Pakde yang kerap berkunjung ke kota - kota lain yang ada di seluruh Indonesia. Banyak pengalaman yang Pakde Yusuf bawa dan diceritakan pada kami sekarang. Masakan Bunda tentu sangat menggugah selera, hingga aku mampu menambah nasi menjadi dua piring.
Kami juga salat isya berjamaah tadi. Jujur, suara Pakde Yusuf sangat merdu dan membuat aku sangat menghayati saat salat jamaah tadi.
"Tidur sana, sudah malam," kata Ayah saat aku sedang bergelayut manja di sampingnya, begitu melihat jam dinding menunjukkan angka 11 malam. Obrolan para orang tua ini ternyata tidak membosankan, Pakde Yusuf juga pribadi orang yang menyenangkan sebenarnya. Asal aku tidak nakal saja dan menurut tanpa membantah.
"Jangan lupa wudu sebelum tidur, Aretha," kata Pakde tanpa menatapku karena fokus pada minuman jahe buatan bunda.
"Oke, bos." Aku segera beranjak dan segera masuk ke kamar yang berada di sisi depan ruang tengah.
Pintu aku tutup, tanpa dikunci. Baru sadar kalau ternyata jendela kamarku belum aku tutup rapat entah sejak kapan. Karena korden sekarang sedang berkibar ditiup angin malam. Dingin dan membuat bulu tubuhku bergidik. Hujan baru saja mengguyur kotaku sejak azan magrib tadi. Bahkan sampai sekarang gerimis masih setia mengguyur halaman. Membuat rumput di sana basah dan kelopak mawar merah milik bunda rontok.
Aku menyilangkan tangan di depan, menutupi area kulit yang tidak tertutup pakaian, karena rupanya sangat berhasil membuatku bergidik karena sensasi dinginnya. Hujan malam ini sepertinya akan awet. Aku berharap begitu seterusnya sampai pagi esok. Aku suka hujan, sangat menyukainya. Bau tanah yang terguyur hujan pertama kali menenangkan dan seperti membawaku ke beberapa kejadian yang telah berlalu. Kembali membayangkan saat aku masih kecil, momen di mana aku mulai beranjak ABG, tentu kenangan saat SMA terus terngiang jelas di ingatan. Apalagi saat kuliah, karena harus berjauhan dengan ayah dan bunda, sering sekali aku merasa sendirian di kos, menikmati hujan dengan membuat secangkir matcha latte hangat. Aku pun sangat rindu teman - teman sekolah. Walau sekarang kami masih kerap bertemu, tapi aku merasa itu belum cukup untuk menggantikan waktu - waktu yang kami habisnya dengan kegiatan masing - masing saat saling berjauhan satu sama lain. Mereka adalah yang terbaik yang pernah aku punya, sahabat rasa saudara yang akan terus bersama - sama menghadapi roda kehidupan. Saling olok, justru yang paling aku rindukan.
Dalam lamunan ini, sambil senyum - senyum sendiri, aku terkejut saat ada yang melemparkan batu ke jendela, tepat di depanku. Netraku liar mencari keberadaan orang atau mungkin sosok yang melakukan hal itu. Halaman rumah yang temaram, karena beberapa lampu taman yang mati, belum diganti bohlamnya. Membuatku yakin kalau tidak mungkin ada manusia di luar sana, kecuali makhluk tak kasat mata yang memang kerap iseng selama ini. Segera saja aku menutup jendela kamar, dan menarik korden lalu menutupnya rapat - rapat.
Kembali suara lemparan batu terdengar, aku yang hendak kembali ke ranjang untuk tidur, justru berlari ke arah pintu. Hanya saja saat akan membuka gagang pintu, aku lantas mengurungkan niat.
"Ah, nanti malah diledekin Pakde ini. Dibilang 'masa gitu saja nggak berani'!" ujar ku berdiskusi sendiri. Akhirnya aku mengurungkan niatku dan berbalik dari pintu. Menatap ke jendela dengan ragu, tapi tetap optimis kalau mereka hanya menganggu dari luar halaman saja. Mereka tidak akan berani dan bisa masuk ke dalam, apalagi di rumah ada Pakde Yusuf.
Aku langsung naik ke atas ranjang, menarik selimut hingga menutup tubuhku rapat. Kedua bola mata terus menatap ke arah jendela yang sudah tertutup rapat. Hanya saja, aku masih berusaha waspada. Apalagi aku merasa kalau mereka masih ada di sana.
Lampu kumatikan. Menarik nafas dalam - dalam sambil mencoba untuk tertidur karena hari sudah larut malam. Hanya ada suara rintik hujan yang perlahan kembali deras. Ini lebih baik, daripada aku harus tidur dengan hawa kesunyian. Tanpa ada suara apa pun yang biasanya akan muncul suara aneh lainnya.
Perlahan aku mulai terbawa rasa kantuk yang mulai kuat kurasakan, bahkan bayangan makhluk di luar tidak lagi menjadi soal. Aku lelah, dan suasana malam ini sungguh menyenangkan untuk memanjakan mata.
Selimut yang sejak tadi menutupi hampir semua tubuhku, kecuali kepala mendadak ditarik dengan cepat. Aku yang sedang tidur merasakan, karena gerakan itu benar - benar terasa kasar, dan membuatku terperanjat sampai - sampai duduk di kasur sambil menatap liar ke sekitar. Mataku lekat menatap ke bagian bawah ranjang.
Aku sangat yakin kalau ada sesuatu di bawah sana, bahkan selimut yang kupakai kini sudah berada di lantai bagian bawah kakiku. Tubuhku membeku, rasanya tidak bisa bergerak sesuai dengan keinginan. Dalam gelapnya kamar, aku merasa ada sesuatu yang melintas di langit - langit. Merayap bagai cicak, tapi terasa terlalu besar jika disebut cicak. Suara seperti tangan yang menepuk di tembok, makin intens kudengar. Di sudut gelap kamarku, mulai terlihat pergerakan yang mencurigakan. Aku menyipitkan mata, mencoba melihat lekat - lekat siapa yang ada di sana. Bayangan hitam mulai terlihat jelas di sana. Seseorang yang sedang menempel di langit - langit membuatku teringat pada sosok yang aku temui di Dusun Kalimati tempo hari. Ummu Sibyan. Tapi tidak mungkin jika dia kembali ke sini. Bukannya dia sudah musnah kemarin. Atau ... Ternyata belum. Aku mulai takut, tapi untuk berteriak aku tidak sanggup. Sosok itu masih terlihat seperti bayangan gelap, aku belum bisa melihat seperti apa wujud aslinya. Aku melirik ke lampu yang ada di atas meja nakas, ingin menyalakan benda itu agar dapat melihat wujudnya secara gamblang. Tapi lagi - lagi aku tidak bisa bergerak. Badanku kaku, hanya bisa menggerakkan kedua bola mataku. Sosok di atas mulai berjalan mendekat, aku menggeram berharap suaraku dapat di dengar Bunda, ayah, atau Pakde.
Kain hitam yang menjuntai hingga setengah ruangan terlihat basah dengan meninggalkan bekas tetesan cairan kental berwarna hitam. Aroma busuk mulai tercium di pangkal hidung. Tubuhku terus menegang, makin tidak bisa di gerakan. Dia menjulurkan tangan makin dekat padaku. Kini bahkan sudah berada di depan wajah, dan siap untuk meraih tiap inci wajahku.
__ADS_1
Sontak dia langsung mencekik leher, membuatku sulit bernafas. Tubuhku terangkat tinggi - tinggi sehingga kakiku meronta mencari pijakan. Aku mulai bisa memukul tangan hitam legam yang terus mencengkeram ku kuat. Berharap tangan itu dapat terlepas dari leher dan aku bisa terbebas dari semua rasa sakit ini. Tangan satunya berusaha masuk ke jantung, seolah ingin menembusnya tapi anehnya, tubuhku justru terlihat bersinar. Seperti ada selubung cahaya yang melapisinya.
Pintu dibuka kasar. Tiba - tiba aku jatuh ke kasur yang berada di bawahku. Batuk - batuk sambil menarik nafas dalam - dalam guna mengisi paru - paru ku yang sempat kosong beberapa detik lalu. Pakde muncul bersama Bunda dan Ayah, masuk ke kamar, dan mendekat padaku. Bunda memeriksa kondisiku, Pakde Yusuf justru menuju jendela kamar yang terlihat masih terbuka. Padahal aku ingat betul kalau sudah menutup dan menguncinya tadi.
"Kamu nggak apa - apa, sayang?" tanya Bunda panik. Memeriksa bagian leher karena terus aku pegangi. Aku langsung mengangguk, walau masih merasakan sakit di area tersebut. Tapi setidaknya aku masih hidup sekarang.
"Kak, siapa yang masuk? Kok kita bisa kecolongan?!" pekik Ayah yang berdiri di samping Pakde, ikut melihat keluar halaman.
"Pasti dia sudah mengincar Aretha sejak lama. Atau sosok ini mengenal Aretha." Pakde Yusuf terus memberikan asumsi yang dia ketahui.
"Mungkin dia ... Yang waktu itu ada dusun Kalimati, Pakde," jelas ku yang makin yakin atas perkiraan kejadian barusan.
"Dusun Kalimati?" tanya Pakde mendekat padaku.
"Yang itu loh, Kak, pas kemarin anak - anak terjebak di tempat kerja Aretha sebelumnya." Bunda membantu menjelaskan perihal tersebut.
Pakde Yusuf diam sambil menatap langit - langit, mungkin berusaha mengingat hal tersebut. Wajar saya, banyak yang dialami Pakde sekarang, tentu masalah ini sepele baginya. Sehingga bukan sesuatu yang berkesan, padahal kejadian itu justru hal yang paling mengerikan kala itu.
"Oh di sana?" Pandangan mata Pakde terlihat aneh, seperti tidak sedang menatap ke arah depannya, justru terlihat kosong, Bagai raga yang tak berjiwa.
Pakde menarik nafas dalam. "Belum. Dia tetap ada, dan selalu mengamati, sekaligus mencari celah. Sepertinya kamu sudah ditandai, Tha. Karena telah menghancurkan kerajaannya."
"Kak, terus apa yang harus kita lakukan. Dia mau apa ke sini lagi. Waktu itu aja, aku nggak bisa menemukan Aretha dan Arden. Jangan sampai mereka hilang lagi, Kak." Ayah terlihat cemas.
"Yah, sudah jelas, mau membawa Aretha."
"Ke mana, Pakde?"
"Entahlah. Kamu berhati - hati saja mulai sekarang."
"Memangnya nggak bisa kakak tangkap sekarang dan bunuh saja, Kak?" Bunda terlihat sangat cemas.
__ADS_1
"Gerakannya cepat sekali, Nis. Tapi pasti ketemu di mana sarangnya. Jangan khawatir."
Pukul 03.00 dini hari, kami memutuskan salat malam terlebih dahulu sebelum kembali tidur. Aku akhirnya tidur ditemani Bunda, sementara Ayah tidur di kamarnya. Tetapi Pakde Yusuf memutuskan tetap terjaga. Ada yang harus dilakukan katanya.
_______
Kembali hujan mengguyur kota kami. Rumput, serta pot di halaman rumah sudah mulai tergenang air. Rasanya cuaca ini akan awet bahkan sampai siang atau mungkin sore.
Pakde akan pulang ke rumahnya, sekaligus menjemput Bude Rahma dan Kak Aisyah di stasiun kota. Sarapan sudah tersedia di meja makan, aku membantu Bunda membuat nasi goreng untuk sarapan pagi ini. Bunda kehabisan stok sayur mayur, dan berencana akan pergi ke swalayan nanti bersama ayah.
"Kamu nggak apa - apa di rumah sendiri, Tha?" tanya ayah sambil menyuap nasi goreng ke mulutnya.
"Nggak apa - apa kok, Ayah. Kalau siang sih aku nggak apa - apa misal ditinggal di rumah sendirian."
"Ya sudah. Kalau ada apa - apa langsung kabarin Ayah sama Bunda. Paling Kakakmu sebentar lagi pulang."
Setelah semua sarapan, tugasku adalah mencuci piring. Ayah, Bunda dan Pakde sudah pergi sepuluh menit yang lalu. Hujan masih saja turun dengan derasnya. Ponsel aku nyalakan dengan memutar musik cukup kencang. Agar menyamarkan suara derasnya air hujan yang makin lama membuat suasana agak menyeramkan. Hingga saat lagu terakhir di putar, bersamaan dengan piring terakhir yang selesai kubilas. Aku mulai merasakan hawa aneh di rumahku sendiri, tapi masih merasa yakin kalau itu hanya perasaanku saja. Karena Pakde pasti sudah membuat pagar gaib di rumah apalagi setelah kejadian semalam.
Aku hendak kembali ke kamar, namun saat berjalan di ruang tengah dahiku berkerut melihat lantai di bawah menampilkan tapak kaki seseorang. Jejak kaki yang terlihat basah dan kotor, seperti lumpur di luar rumah. Yang ada di pikiranku justru ada pencuri yang masuk ke dalam rumah. Aku mulai waspada dan mencoba melihat ke sekitar, jika memang ada suara atau pergerakan yang mencurigakan.
Satu persatu ruangan di rumah aku periksa, dapur, kamar mandi, dapur, bahkan halaman belakang menjadi incaranku juga. Karena telapak kaki ini berasal dari pintu belakang. Namun saat aku periksa pintu belakang masih terkunci rapat. Aku mulai curiga jika telapak kaki ini bukan berasal dari pencuri, melainkan 'mereka'.
"Perasaan belum ada setan yang berhasil masuk ke rumah, biasanya sih begitu," gumam ku dalam hati. "Terus ini jejak kaki siapa, ya?" Aku terus mengikuti jejak ini hingga berakhir di kamarku sendiri. Diam sejenak, menatap papan kayu dengan ukiran bunga di depanku. Ragu untuk mendorong pintu ini, walau rasa penasaran sangat membuncah di dada. Aku terus diam, kini aku beranikan menguping di depan pintu. Mencari suara yang mungkin ada di dalam sana. Tidak puas sampai di situ, aku mulai menurunkan tubuh, memeriksa lubang kunci.
Sekelebat bayangan lewat. Bahkan mondar mandir di dalam. Hanya saja aku tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang ada di dalam kamarku. Masih penasaran, aku terus mengintip di lubang kunci. Namun, seketika aku jatuh karena terkejut hingga terjungkal ke belakang. Saat sepasang bola mata berwarna merah muncul di balik lubang kunci di dalam kamar.
Perlahan pintu dibuka, derit pintu kamarku terdengar nyaring. Sebuah bayangan mulai merangkak keluar, membuatku melotot dan mulai menarik tubuhku mundur dan menjauh. Seorang wanita yang lebih pantas disebut nenek - nenek, keluar dari pintu, merangkak, dengan gerak tubuh seperti patah - patah. Kepalanya digerak - gerakan sambil menyeringai dengan tatapan mengerikan. Aku berusaha bangkit, walau rasanya tubuhku lemas sekali. Saat sudah mampu berdiri tegak, aku segera berlari ke arah pintu depan. Namun pintu yang tadinya terbuka, mendadak tertutup dengan kencang, seperti dibanting kasar.
Aku berusaha membuka gagang pintu namun anehnya terkunci. Aku mulai panik, dan menjerit minta tolong. Menoleh ke belakang dan mulai melihat bayangan wanita tadi yang makin dekat. "Aaah! Pergi kamu! Mau apa kamu!" jeritku mepet ke sudut ruang tamu. Wanita itu berdiri perlahan, aku yang sudah tidak punya tempat untuk kabur, hanya bisa pasrah. Dia berjalan dengan tertatih, tapi anehnya gerakan makhluk ini terasa sangat cepat, karena hanya dalam hitungan detik dia sudah berdiri di depanku. Dia mengulurkan tangannya ke leher, mencekikku dengan erat dan mengangkat tubuhku tinggi - tinggi. Aku mulai kehabisan udara hanya dalam hitungan lima detik, tubuhku mulai lemas. Sampai akhirnya ada sebuah cahaya dari pintu rumah, suara Radit menggema memanggil namaku. Makhluk ini hilang dan tubuhku jatuh ke lantai.
"Aretha! Kamu kenapa?! Arden! Den!" jerit Radit, dia langsung membopongku dan membawa ke kamar. RAdit meletakkan tubuhku di atas kasur, memeriksa tubuhku dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih. Aku masih sadar, tapi tidak bisa merespons apa yang Radit tanyakan. Radit terus memanggil nama Kak Arden sambil menoleh ke arah pintu kamar. Saat Kak Arden muncul, di belakangnya ada makhluk tadi. Dia berlari mendekat padaku, dan langsung menarik tanganku.
__ADS_1
Aku menoleh karena melihat Kak Arden hanya melewatiku begitu saja. Rupanya tubuhku masih ada di atas kasur, bersama Radit yang masih panik, terus memanggil namaku. "Den, Aretha kenapa ini?!"
Aku menatap ke depan, tanganku masih digenggam erat makhluk ini, terus menuntunku keluar rumah. Menembus derasnya hujan yang masih mengguyur kota.