Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
9. masuk desa keramat


__ADS_3

Kami berjalan menyusuri desa terlarang ini. Jika bukan karena solidaritas sesama kawan, nggak bakal deh mau.


Desa ini cukup luas. Beberapa rumah penduduk masih berdiri tegak, walau sudah dipenuhi sarang laba laba dan debu di mana mana. bahkan banyak yang sudah rusak.


Itu sudah jelas karena lama tidak ditempati dan pernah terjadi insiden mengerikan di desa ini.


Ada beberapa bercak darah yang kutemukan di dinding setiap rumah di sini.


Wah, menyeramkan sekali jika sampai aku membayangkan apa yang terjadi dulu di sini.


Pembantaian massal dilakukan oleh seorang pria yang punya gangguan jiwa pasti.


Mana ada orang waras bisa setega itu membantai 1 desa.


"Kita nyarinya gimana nih? Berpencar aja? Biar cepat ketemu," saran wicak.


"Tunggu." Faizal tiba-tiba muncul menyusul kami.


"Lhaa ... Kirain elu mau nerusin PROKER aja, Zal?" tanya Feri.


"Nggak," jawabnya datar.


"Ya udah, kita berpencar aja!" Indra menegaskan.


Aku dan Indra berjalan lurus ke depan. Wicak dan Acong belok ke kanan, lalu Faizal dan Feri belok kiri.


Sekitar setengah jam lagi kami akan berkumpul lagi di tempat awal kami berpisah, begitulah rencana kami.


Saat masuk desa ini, aku merasa seperti ada di dalam film horor. Suasana nya benar benar mencekam. Beberapa kali aku melihat dan merasakan ada pasang mata yang mengintip kami. Mungkin karena jarangnya manusia datang ke tempat ini membuat perhatian mereka langsung tertuju pada kedatangan tamu tak diundang seperti kami sekarang.


"Yola!" panggilku dengan menjerit lantang. Berharapan Yola mendengar panggilanku dan kami dapat secepatnya menemukan Yola dan tentu segera pergi dari tempat ini.


Suara renyah ranting pohon yang terinjak, membuat Indra merentangkan kedua tangannya. Otomatis aku berhenti berjalan, dan makin waspada seperti Indra.


"Ssstt," desis Indra.


"Kenapa?" tanyaku berbisik.


"Ada yang mengawasi kita!"


Aku makin mendekatkan diri ke Indra. Jujur aku takut kalau ada kemunculan mereka yang biasanya terkesan mendadak. Tetapi jika ada di dekat Indra, makhluk astral pasti akan segera lenyap setelah aku memegang lengan Indra.


"Kenapa?" tanya Indra berhenti dari langkahnya sambil menatapku yang memegangi lengannya.


"Mm ... Nggak apa - apa," kataku sambil melihat sekelilingku.


"Takut?"


"Mm ... Dikit. Hehe."


Indra tersenyum geli, namun kembali suara itu terdengar.


Apakah binatang buas?


Ini bisa aja terjadi karena kami ada di daerah yang masih dikelilingi hutan. Tetapi jika macan pasti tidak ada. Aku yakin itu.


"Di sini udah gak ada macan, kan, ya Ndra?" tanyaku. Indra menaikkan alisnya lalu tersenyum.

__ADS_1


"Insha Allah udah nggak ada." Pernyataan Indra berhasil membuatku bernafas lega. Setidaknya kami aman dari binatang buas.


"Tapi kalo ular masih banyak," katanya membuatku kembali mendekat ke Indra. Dia malah tertawa lagi. Indra maju perlahan.


Sementara aku terus mengekor di belakangnya.


Saat sampai di samping sebuah rumah berwarna coklat, Indra berhenti. Aku mengintip dari punggung Indra, mencari tau alasan kenapa dia berhenti tiba - tiba.


Kami mendapati Yola sedang jongkok dengan posisi membelakangi kami. Ia seperti sedang memakan sesuatu.


Namun karena posisinya seperti itu, maka kami tidak bisa melihatnya dengan jelas.


Indra menatapku dalam.


"Yola!" panggilku pelan.


Dia diam lalu menoleh ke belakang.


Betapa terkejutnya kami, melihat apa yang sedang yola makan. Terdapat bercak merah di sekitar mulut hingga hidungnya. Tangannya juga berlumuran darah yang masih menetes. Dia memakan ayam mentah, sehingga bulu dan darah nya saja masih menempel di bibir dan wajahnya.


Aku langsung mual dan menatap ke arah lain sambil menekan kepalaku.


Indra mendekat lalu merampas ayam itu dari tangan Yola.


Yola menggeram. Lalu dalam sekejap dia menyerang Indra.


Namun saat Indra menghalangi tangan Yola yang akan menyerangnya, Yola langsung pingsan dan langsung ditangkap Indra.


Indra membopongnya dengan kepayahan, tubuhnya memang berisi, walau tidak terlalu gemuk.


"Ayo, Nis. Kita bawa pulang," kata Indra. Aku mengangguk dan mengikutinya. Aku bersyukur kalau Yola akhirnya ketemu, dan kami segera pergi dari desa angker ini.


Aku berhenti sebentar untuk memastikannya. Apakah yang kulihat memang mereka atau bukan.


"Nisa!" Indra menjerit memanggilku karena menyadari aku tidak mengikutinya lagi, malah diam terpaku menatap ke arah belakang.


"Eh iya. Bentar," kataku lalu ikut pergi meninggalkan anak itu.


"Wicak! Feri!" panggil Indra lantang. Desa ini memang tidak begitu besar, sehingga memudahkan kami saling berkomunikasi walau berjauhan, dengan berteriak. Hanya butuh beberapa menit, kami sudah berkumpul bersama.


"Ketemu di mana?" tanya Wicak.


"Udah, ayok cepetan pergi dari sini, perasaanku gak enak," kata Indra sambil terus membopong Yola keluar dengan langkah cepat.


"Yola habis ngapain, Nis? Kok gitu bentuknya?" tanya Feri yang berjalan di belakang Indra bersamaku.


"Makan ayam. Ayam hidup. Hiii," jawabku dengan bergidik ngeri. Feri melotot sambil menunjukkan ekspresi ingin muntah. Sementara Wicak dan Acong sudah berjalan di depan bersama Indra.


Faizal berjalan lambat di belakangku dan Feri. Bulu kudukku meremang. Sambil kutekan tengkuk, aku juga menoleh ke belakang. Namun aku tidak melihat sesuatu yang aneh.


"Kenapa?" tanya Faizal dingin.


"Gak apa-apa," kataku lalu melihat ke depan lagi.


Sampai di gerbang desa, kami melihat teman teman yang masih melakukan PROKER.


Dan jantungku seolah berhenti berdetak, aku melihat faizal ada di sana bersama Lukman sedang minum bersama. Feri pun sama, dia mendadak diam, sambil melirikku dengan mata melotot.

__ADS_1


"Nis, gue halusinasi apa kagak, ya?" tanyanya berbisik.


"Jangan bahas. Please," pintaku.


Aku tau dia akan membahas Faizal.


Kami saling lempar pandangan lalu langsung melihat ke belakang kami.


Di sana masih ada Faizal yang sedang berjalan mengikuti kami. Namun wajahnya pucat, jalannya terus menunduk. Tak lama dia menyeringai sambil menatap kami. Ia menggeram dengan suara berat.


Kakiku sudah lemas, namun Feri menarik tanganku agar dapat berlari menyusul yang lain. Kami berdua berteriak, dan otomatis membuat yang lain melihat kami yang lari terbirit birit karena takut.


"Nisa! Kenapa?" tanya Ferli yang baru saja kulewati.


Namun aku tidak menjawabnya, malah terus berlari dan melepaskan tangan Feri. Indra langsung menangkapku yang sudah agak di luar kendali.


"Hei... Nisa!! tenang!" katanya sambil mendekap ku erat.


Nafasku tersengal sengal, jantungku berdegup lebih cepat. Kurasakan tanganku sudah dingin, hingga membuat tubuhku bergetar.


Namun, belaian tangan Indra di kepalaku membuat semua itu perlahan memudar.


Aku berusaha kembali tenang, dan  mencoba berfikir jernih. Netraku menyapu ke sekitar, sebagian orang melihat ke arahku dengan tatapan bermacam- macam.


"Ada apa, Nis?" tanya Indra seraya memandang wajahku sambil menyibak anak rambut yang menutupinya.


"Faizal ...." Hanya kata itu yang sanggup ku katakan sambil menunjuk ke arah desa tadi.


Indra melihat ke sana dan sedikit terkejut juga karena Faizal yang asli justru sedang makan cemilan bersama Lukman.


"Ya udah, kita balik aja ke rumah gimana?" katanya.


Aku mengangguk, masih ada sedikit ketakutan di wajahku.


"Cak! Aku balik dulu, ya, anter Nisa," jeritnya ke Wicak.


"Iya, Ndra. Aku juga harus anter Yola nih," kata Wicak sedang memeriksa kondisi Yola yang sedang berbaring di tikar.


Akhirnya Wicak dan Nadia pun ikut pulang. Perjalanan yang lumayan jauh, membuat kami beberapa kali berhenti karena Indra dan Wicak harus saling bergantian membopong Yola yang masih pingsan. Sepertinya Yola terlihat berat.


Sampai di rumah, kami segera masuk ke kamar Yola. Nadia mengambil air untuk membersihkan sisa sisa darah di wajah dan tangan Yola.


Kami masih di dalam kamar untuk memastikan Yola baik baik saja.


Tak lama, Yola bergerak. Dia mulai membuka mata perlahan dan menggeliat.


"Yola?" panggil Wicak ragu.


"Hm, kalian ngapain di sini?" tanya Yola balik. Saat ia menjawab itu, kami langsung menarik nafas lega.


"Alhamdulillah. Kamu udah sadar,  Yol?" tanya Nadia yang duduk di sampingnya.


"Aku kenapa?" tanyanya sambil melihat sekitar.


"Kamu pingsan," jawab Wicak.


"Perutku mual banget. Aku pengen muntah," katanya lalu dia berusaha beranjak dan berjalan dengan tertatih keluar kamar, Nadia mengejarnya.

__ADS_1


Aku menelan ludah, membayangkan apa yang tadi Yola makan. Wajar saja dia mual.


Karena Yola sepertinya sudah membaik, maka aku berani untuk meninggalkannya hanya bersama Nadia saja. Aku lantas menuju ruang tamu dan duduk di sana bersama Indra dan Wicak.


__ADS_2