Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
3. sosok di sungai


__ADS_3

Hari ini waktunya untuk PROKER (Program Kerja).


Aku berencana melakukan sosialisasi ke warga tentang pentingnya menabung dan berwirausaha kecil terutama untuk para ibu.


Sedangkan Nindi dan Indah akan ke balai desa untuk membuat dan merapikan database keuangan di sana. Lalu Feri akan mengajar pembuatan celengan dari tanah liat yang memang masih banyak kami temui di sini.


Ferli memberikan penyuluhan tentang pembuatan makanan yang berbahan sederhana pengganti daging, ikan dan lain lain.


Kami berpencar melakukan PROKER masing-masing. Namun jika salah 1 dari kami sudah selesai, maka akan membantu yang lain yang belum selesai.


Kebetulan aku ada di balai pertemuan warga yang berada di tengah desa bersama Ferli.


Selama beberapa jam aku melakukan PROKER ku sendiri. Aku senang melihat antusias warganya, mereka sangat welcome pada kami. Bahkan rasanya seperti aku berada di desaku sendiri. Karena sikap dan sifat mereka yang begitu terbuka, ramah dan baik pada kami.


Selesai PROKER, aku dan Ferli menghampiri Feri yang sedang membuat celengan dari tanah liat bersama anak-anak kecil di dekat sungai. Di sini memang masih ada sungai yang cukup jernih dan masih bersih. Berbeda dengan di kota yang sudah tercemar limbah dan bahkan sering menyebabkan banjir.


"Fer ... Gimana? Udah selesai?" tanyaku.


"Bentar lagi, Nis. Ni masih ngajarin anak-anak," katanya dengan peluh di keningnya karena terpapar sinar matahari. Dia juga aktif bergerak ke sana ke mari membantu anak-anak.


Aku dan Ferli akhirnya membantunya, karena melihatnya kerepotan. Kami berpencar untuk melihat anak anak yang sedang membuat celengan.


Mereka juga sama, terlihat antusias. Sesekali canda dan tawa mengiringi kegiatan ini.


Aku menyapu pandang ke sekeliling suami. Tiba-tiba pandanganku terpaku pada seorang anak kecil yang ada di seberang sungai, dia hanya menatap kami diam tanpa ekspresi.


Penasaran, aku mendekat ke arahnya.


Kenapa dia sendirian di sana? Dan kenapa tidak bergabung dengan yang lain membuat celengan di sini.


"Dek ... Sini, Dek. Yuk, ikut bikin celengan sama temen-temen yang lain," ajakku sedikit berteriak karena posisi kami yang cukup jauh.


Anehnya, dia malah berbalik dan lari ke hutan.


"Dek! Adek! "Aku berteriak lagi hingga membuat beberapa anak melihatku.


Feri pun mendekatiku.


"Heh! Elu ngomong sama siapa sih?" tanyanya berbisik.


"Itu, Fer. Ada anak yang ngeliatin aja. Aku ajakin malah dia lari ke sana. Kamu belum ngajak semua anak di desa ini?" tanyaku santai masih mencari di mana anak itu bersembunyi.


Feri malah menarik ku menjauhi sungai."Nggak usah mulai deh, Nis! Nggak ada anak kecil di sana. Orang gue liat, elu ngomong sendirian kaya orang gila tau! Lihat, anak-anak pada takut! Dikira gue bawa orang gila ke desa ini!" gerutu Feri sambil melirik kerumunan anak-anak di sana.


"Fer! Masa kamu nggak liat anak tadi?dia dari tadi berdiri di sana gitu lho. Ngeliatin kita terus. Kupanggil malah lari, jangan-jangan dia takut kali ya, Fer," tandasku masih yakin dengan apa yang kulihat barusan.

__ADS_1


Pletaakk


Feri malah menjitak kepalaku.


"Dibilangin di sana gak ada anak kecil lagi! Semua udah di sini! Udah gue data, Nisa! Gak ada yg terlewat. Lagian di desa ini anak kecilnya nggak banyak keleus! elu liat setan kali!!" kata Feri gemas.


Deg!!


Masa yang tadi itu setan?


Aku masih tidak percaya penuturan Feri. Mataku terus tertuju ke hutan tempat anak itu menghilang.


Kresek. kresek!


Kini aku malah mendengar suara, berisik di semak-semak. Dedaunan di sudut sana juga terlihat bergoyang-goyang seperti ada yang menyentuhnya.  Aku maju untuk memicingkan mata. Rasa penasaran membuatku ingin tau ada apa di sana. Jika itu hewan buas maka kami harus segera membawa anak-anak pergi dari sini.


"Nis! Nisa! Kenapa lagi?" tanya Feri setengah berteriak. Kali ini Ferli ikut mendekat, mengikuti ku.


Semakin aku melihat ke arah tersebut, maka semakin jelas aku melihat kalau ada seseorang yang sedang bersembunyi dibalik semak semak itu. Seperti bayangan, namun bukan anak kecil, melainkan orang dewasa.


Bayangan itu makin jelas terlihat karena dia pun bergerak keluar dari semak semak itu.


Dan kali ini, kaki ku lemas, badanku terasa ringan, keringat dingin keluar saat aku melihat nya dengan jelas. Seorang pria setengah baya dengan kepala yang hampir putus, badannya berlumuran darah, dan di tangannya tengah memegang sebilah celurit yang tajam. Kilaunya tampak jelas d terpantul cahaya dari tempatku melihat.


Aku berteriak sambil menutup mata, kemudian jatuh terduduk di tempatku berdiri.


Mereka mendekatiku yang sedang berteriak histeris sambil menangis.


Anak-anak yang ada di sana pun bingung melihatku. Beberapa dari mereka bisik-bisik bahkan ada yang berlari pergi dari sana.


"Kenapa sih, Nis? Lihat apa?" tanya Feri.


"Itu! Itu, Fer. Kita harus pergi dari sini. Ayok cepet!" ajakku dengan berusaha bangkit dari posisiku sekarang.


Feri mencoba melihat ke arah yang kutunjuk tadi, sedangkan Ferli membantuku berdiri.


"Astaga! Lari! Cepet lari!" jerit Feri memberikan instruksi pada kami.


Anak anak yang awalnya bengong lalu tersadar dan berlari meninggalkan celengan yang sedang mereka buat tadi.


Kami berlari ke perkampungan terdekat.


"Ya ampun ada apa ini?" tanya seorang wanita yang sedang menjemur padi di depan rumahnya.


Beliau heran melihat kami berlari bersamaan.

__ADS_1


"Setan!!" teriak seorang anak kecil lalu dia masuk ke rumah ibu itu.


Sepertinya itu anak si ibu.


"Lho lho! Kenapa toh mas? Mba?" tanya ibu itu.


"Tadi ada setan, Bu, di deket sungai. Ih sumpah serem banget," jelas Feri dengan nafas tersengal-sengal karena berlari tadi.


"Oalah ... Ya sudah, bentar saya ambilkan minum dulu, ya.


Anak anak pada pulang dulu aja. Lanjutkan besok," perintah ibu itu ke gerombolan anak-anak yang tadi ikut berlari bersama kami. Mereka juga terlihat ketakutan.


Kami lalu disuruh duduk di teras, dan tak berapa lama ibu tadi membawakan minum untuk kami.


"Diminum dulu. Di sini biasa dengan kejadian seperti ini," kata ibu itu.


Tanpa disuruh lagi, kami langsung meraih gelas tadi dan meminumnya sampai habis.


"Eh, kalian tuh liat apaan sih?" tanya Ferli, sambil berbisik.


Aku dan Feri menatap ferli yang masih bingung. Jadi dia tadi cuma ngikut lari, tanpa tau alasannya?


Astaga!


"Kamu nggak liat tadi di seberang sungai, Yang?" tanya Feri.


Ferli menggeleng pelan dengan tampah bingung.


"Aku mau liat, eh kamu udah narik tanganku duluan. Ya udah aku ikut lari tanpa liat apa-apa. Emang liat apa? Aku penasaran. Jadi kalian semua liat?"


"Mending gak usah liat. Bakal gak bisa tidur kamu nanti malem," kataku.


Ferli manyun kecewa.


Aku yakin dia akan lebih panik dari kami kalau tadi dia melihat juga.


Ibu itu bilang,hal seperti tadi sudah biasa ditemui di desa ini. Hanya muncul saja. Tidak berani mendekat. Mereka hanya ingin menunjukan keberadaan mereka kepada kami semua.


Dan katanya memang itu arwah penasaran dari warga desa tetangga.


Mungkin karena kematian yang tragis seperti itu, membuat mereka tidak tenang dan sering menghantui orang di sekitarnya.


Padahal ada ustaz di sini, namun sepertinya itu tidak membawa pengaruh banyak.


Semoga mereka tidak membahayakan.

__ADS_1


"Asal kalian jangan berani masuk ke desa sebelah. Itu sudah cukup," kata ibu itu serius.


__ADS_2