Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
42. ngikut


__ADS_3

"Dek, bunda mana sih?" tanyaku ke Aretha.


Dia bengong sebentar.


"Mm ... Lagi ke rumah kakek. Aku susulin aja apa gimana, Kak?" tanyanya dengan menunjukan raut kecemasan di wajah.


"Iya deh, sana susulin."


Retha dan Radit lalu ke rumah kakek. Untung rumah kakek hanya beberapa meter saja dari rumah kami, sehingga tidak butuh waktu lama, Retha kembali bersama bunda dan ayah.


Dion, aku dan Alya masih terdiam di kamarku. Tidak banyak obrolan dari kami. Hingga saat bunda datang, bunda langsung menatap tajam Dion.


"Kamu habis dari mana??" tanya bunda menyelidik.


"Dari mana apanya tante? Dari rumah," sahutnya dengan kebingungan.


Bunda memutar bola matanya.


"Maksudnya, kamu mulai ngerasa ada yg aneh-aneh itu kapan? Pasti ada penyebab nya."


Dion terlihat berfikir sambil menatap ke langit langit.


"Kayanya sejak kemaren motorku mogok di rumah kosong yang di jalan Adyaksa," jelasnya.


"Loe ngapain sih ke sana sana?" tanya Radit.


"Lagi jalan jalan sama si Dedi. Eh tau tau mogok, pas banget di rumah itu."


"Ih, bisa bisanya sih, Yon. Elu bego apa stupid sih? Bisa-bisanya lewat depan rumah itu?" tanya Radit sambil bergidik ngeri.


"Ya ampun, Dit. Kan kagak sengaja lewat!" serunya.


"Emang kenapa sih? Sama rumah itu?" tanya Alya polos.


Semua menatap Alya, bingung harus menjawab seperti apa, dan ujung ujungnya, aku juga yg disuruh jawab. huft.


\=\=\=\=


Flashback Dion.


Malam itu, aku dan Dedi baru saja pulang hang out bersama. Kami habis NOBAR pertandingan bola di cafe Bagus, sepupu Dedi.


Saat itu sudah pukul 23.00


Jalanan sudah sepi, dan hanya menyisakan beberapa kendaraan saja yg lewat. Kami naik motor sendiri sendiri, karena arah rumah kami tidak searah.


Dengan santainya aku dan Dedi naik motor beriringan sambil sesekali kami berceloteh seperti biasa.


Tiba tiba motorku berhenti mendadak. Dedi yg awalnya masih terus berjalan, akhirnya menghentikan laju motornya dan menoleh padaku.


Ku periksa motorku, bensin masih banyak. Mesin barangkali ya.


Akhirnya aku turun dari motor dan mencoba melihat apa yg salah dengan motorku ini.


Dedi berbalik arah dan kini memarkirkan motornya di depan motorku.


"Lah, kenapa sih ,bro??" tanyanya.


"Tau nih, Ded. Apa nya yah?" tanyaku balik, sambil ku garuk garuk kepala.


Dia ikut jongkok di sampingku sambil ikut memeriksa kondisi mesin motorku.


Perasaan, baru seminggu kemaren di service. Masa iya mogok?


Dedi berdiri sambil berkacak pinggang. Dia tengak tengok ke sana kemari.


"Ded! Gimana nih? Bantuin!! Malah bengong aja," gerutuku.


Namun Dedi hanya diam saja.


"Yon, kok baru sadar. Kenapa kita malah berhenti di sini ya? Wah, nggak beres nih," celetuk Dedi sambil tengak tengok makin panik.


"Yah, Mana ku tau. Bodo amat deh, yg penting motor nih, nyala dulu," sahutku yg masih tidak peduli keadaan sekitar.


"Heh!! Bego.. Lihat nih kita lagi di mana!! Malah mikirin motor mulu!!" timpal Dedi.


Akhirnya aku ikut berdiri dan melihat sekeliling kami.


"Hah?! Lho, iya ya, Ded! Waduh gawat nih. Jangan jangan ..."


"Husss!! mending cepet dibenerin deh!!" pinta Dedi.


"Lah gimana? Nggak ngerti nih soal mesin ginian. Elu aja napa!! Kan elu lebih jago!!"


Dedi diam sambil menatap motorku.


"Dorong aja deh, mendingan! Males banget nih, kalau kelamaan di sini.. Mana makin malem, Yon, udah buruan. Dorong. Dorong," suruh Dedi.


Kami memang berhenti di sebuah jalan yg terkenal angker di kota kami.


Dan penyebab nya adalah rumah kosong yg ada di belakang kami ini.

__ADS_1


Menurut rumor yg beredar, itu adalah rumah seorang dukun terkenal, tapi telah lama ditinggalkan hampir 10 tahun lamanya.


Dan mungkin banyak peninggalan jin/ setan di sana.


Karena banyak warga yg sering mengalami kejadian janggal jika ada di daerah ini.


Dari yg samar samar melihat makhluk astral, hingga yg sangat jelas melihatnya.


Akhirnya aku menuruti perkataan Dedi dengan mendorong motorku menjauh dan sebisa mungkin pergi dari sini.


Ada kemungkinan juga kalau motor ku ini akibat dikerjai oleh makhluk halus.


Namun, saat mendorong motor ini, entah kenapa rasanya berat sekali. Tidak seperti biasanya.


"Ded! Tungguin woi!" teriakku pada Dedi yg sudah menjalankan motornya agak menjauh dariku.


Dedi menghentikan motornya lalu menoleh padaku.


"Shiiit!! Yon, buruan!! Kalau perlu tinggalin deh tuh motor!! Cepettt! Shiiit! Duh, salah gue apaan sih!!!" dia meracau terus menerus.


"Apaan sih, Ded? Ini bantuin dorong kek. Berat bgt tau," gerutuku.


"Ck. sini deh!! Cepet! Tinggalin tu motor! Gak bakal ilang deh ! Besok pagi kita ambil lagi!!buruan!!" paksanya.


"Ogah!! Kalau ilang, gue yg digantung emak babeh!! Elu mau tanggung jawab?? Ogah deh!!" aku menolak dan tetap kekeh membawa pulang motorku gimana pun caranya.


"Heh!! Ngeyel bgt deh dibilangin!! Mending liat tuh ke belakang kamu yon!!" pintanya.


Glek!!


Pasti ada yg gak beres nih.


Perlahan aku menoleh ke belakang ku.


Deg!!


Kaki ku lemas rasanya. Jantungku serasa berhenti seketika. Keringat ku pun menetes segede jagung.


Di jok belakang motorku, ada seorang wanita yg duduk dengan manisnya di sana.


Dengan rambut tergerai berantakan, pakaian yg sama seperti yg sering kulihat kemarin kemarin. Dia duduk diam, tanpa ekspresi. Wajahnya pucat, dengan mata yg berrongga tanpa bola mata. Meninggalkan ruang kosong dan gelap di sana.


Perutnya terkoyak, hingga isi perutnya terlihat jelas. Dengan usus, jantung, hati dan teman teman nya menggantung bebas di sana.


Darah pun menetes meninggalkan bau anyir bercampur busuk yg membuat perutku mual.


Kini bukan hanya kaki yg lemas, tangan dan seluruh tubuhku juga lemas.


Dan ternyata dia adalah Dedi yg seperti sudah geram dengan kengeyelan ku tadi.


Untung motor sudah ku standar kan dengan baik, jadi saat Dedi menarik ku, motorku tidak jatuh.


"Buset. Dibilangin kok ngeyel banget si ni anak satu!! Dibilangin suruh ditinggal aja kan !! Parno sendiri kan elu!!!" runtuk nya sambil terus menarik ku menjauh.


Aku sesekali masih menoleh ke belakang, dan wanita itu masih dengan santainya duduk di sana. Namun hanya diam tanpa ekspresi.


"Tunggu, Ded!!" ku tahan tangan Dedi.


"Apa lagi sih? Buruan!!! Gue gak mau ya, kalau sampai tu setan ngikutin gue ke rumah."


"Motorku aman kan. Ini tengah malem lho, Ded. Kalau ilang gimana?kalau dibegal??"


Plak!


Dedi menjitak kepalaku.


"Bego!! Mana ada begal yg berani ambil motor di sepanjang jalan ini!! Ini jalan teraman dari begal tapi jalan terhoror buat setan! Gitu aja kagak ngerti!!"


Dedi lalu naik motor nya, saat aku menoleh ke belakang. Wanita itu tidak ada di atas motorku.


"Ded. Ded. Dediii.."ku pukul pukul punggung nya.


Dia menoleh dengan malas malasan.


"Apa lagi sih!!"


"Tuh setan gak ada, Ded. Ke mana ya?motor gue ambil aja kali ya.."


"Serah elu dah.."


Namun saat Dedi kembali melihat ke depan, dia malah buru buru menyalakan mesin motornya, dan menarik ku agar segera naik.


Ternyata, wanita itu tengah berdiri 1 meter di depan kami.


"Astagfirulloh hal adzim. Ya Allah. Kenapa kudu ketemu mbak kun sik. duh, motor. Cepet nyala napa!! Gak usah ikutan ngambek kaya motor Dion deh!! Gue jual entar elu ... Plak!!" Dedi meracau sambil menepuk motornya agar bisa jalan.


Berhasil menyala.


Aku langsung naik ke motor Dedi, dan kami langsung pergi dengan segera.


Dedi mengantarku ke rumah, lalu dia segera pulang juga.

__ADS_1


Dan sangat kebetulan sekali, kedua orang tuaku tidak ada di rumah. Mereka sedang ada di kota sebelah karena ada urusan kerjaan.


Tanpa pikir panjang, aku masuk saja ke dalam. Toh, aku sudah biasa di rumah sendirian begini.


Langsung masuk kamar dan ganti baju karena bajuku sudah kena keringet gara gara kejadian tadi.


Kini aku sudah bersiap akan tidur. Ku nyalakan Ac terlebih dahulu karena suasana agak panas malam ini.


Sambil menetralkan hati dan pikiran, kucoba untuk memejamkan mataku dan mencoba tidur.


Dugg!!


Dug!!


Dug!!


Terdengar suara dari kaca jendela kamarku.


Akhirnya kubuka kembali mataku, dan kuberanikan diri melongok ke sana, siapa sebenarnya yg iseng.


Kuberjalan pelan menuju jendela kamarku.


Dan saat kubuka korden, wanita itu kini tengah ada di sana. Berdiri mematung dan diam saja seperti tadi.


Kututup korden dengan kasar dan langsung masuk ke selimut.


Duh, mampus deh.


Malah nyusulin sampai sini!


Mana gak ada orang di rumah lagi.


Sreeeekkk


Sreeeekkk.


Seperti ada yg menyeret nyeret sesuatu di lantai. Kuberanikan mengintip nya.


Dan kini ada seorang anak kecil bertelanjang dada hanya memakai popok sedang menyeret kepala seseorang. Darahnya sampai membekas di lantai.


Wah, kok jadi ramai gini ya.


Akhirnya ku ambil ponselku dan berlari keluar kamar.


Berlari sekencang kencang nya meninggalkan rumah.


Bodo amat deh, nggak dikunci.


Kini aku sudah ada di jalanan, dan kuputuskan menghubungi Danu yg rumahnya paling dekat denganku.


Aku beritahu saja kalau malam ini aku menginap di rumahnya.


Dan pagi ini aku diusir dari rumahnya, karena semalaman kami tidak bisa tidur nyenyak karena makhluk itu juga terus datang.


Astaga... Nasibku gini amat ya.


\=\=\=\=\=


POV ARDEN


"Terus kok bisa masuk sini, Bun. Itu makhluk astralnya?" tanyaku penasaran.


Karena selama ini rumahku ini tidak pernah kemasukan jin maupun setan.


"Jadi gini, Kak. Sekalipun rumah kita udah dipagar sama pakde, nggak menutup kemungkinan kita kecolongan kaya gini. Karena pagar gaib juga ada tingkatan kekuatan nya. Mungkin untuk makhluk yg standar standar aja nggak bakal bisa masuk.


Dan kali ini agak beda ya. Dia lebih kuat. Dan lagi, bunda lama gak baca quran nih. Surat al baqarah, itu untuk perlindungan rumah. Sekali kita baca, selama 3 hari rumah pasti aman dari gangguan apa pun.


Dan ini hampir seminggu, bunda gak baca. kalian juga nih, males sih," gerutu bunda pada kami.


Aku dan Aretha hanya senyum senyum saja. Bener juga sih kata bunda.


"Terus gimana, Bun, si Dion nih. Kasihan," tukas Aretha.


Bunda menatap Dion lalu tersenyum tipis.


"Rukiyah aja ya," saran bunda.


"Terserah deh, Tante," kata Dion pasrah.


"Sekalian rumah kamu. Nanti tante minta tolong pakde nya Arden,"ucap bunda lalu keluar dari kamarku.


Sepertinya rumah kosongĀ  itu benar benar mengerikan. Peninggalan nya aja segitu kuat nya.


Mungkin dukun nya juga kuat banget tuh. Ilmu nya pasti tinggi.


Tapi, setinggi apa pun ilmu seseorang, pasti ada yg lebih tinggi lagi.


Di atas langit masih ada langit. Yaitu Allah SWT.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2