Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
Part 14 Kisah nek Siti


__ADS_3

"Hust! Nenek setan! Jaga omongan lu! Dia bukan setan!" Penjelasan kak Arden membuat kami terhenyak.


"Apa?! Bukan nenek setan? Terus dia apa?"


"MANUSIA."


"Hah? Yang bener, Den? Dia manusia?" tanya Dedi menghalau langkah Kak Arden. Kakak ku hanya menaikkan sebelah bibirnya, lalu mengangguk yakin. "Dek, lebih baik kamu sama Kiki cek kondisi nenek itu. Ganti perbannya, udah berapa hari itu perban nggak diganti?"


Aku dan Kiki saling pandang lantas mengangguk dan pergi ke dalam. Jujur saja, aku tidak menyangka jika nek Siti yang kupikir sama seperti warga desa yang lain, justru adalah salah satu manusia yang masih bertahan di tempat mengerikan ini. Aku tidak bisa membayangkan apa yang sudah terjadi padanya, apa yang sudah dia alami selama ini, pasti sangat berat. Aku juga yakin kalau nenek tau semuanya.


Kami masuk ke kamar nenek, mendapati wanita tua itu hanya duduk di kursi rodanya. Menatap lurus ke jendela yang sudah terbuka lebar. Angin segar masuk membuat udara kamar ini berganti. Kami berdua hanya berdiri di depan pintu, baik aku dan Kiki memang sedikit ragu untuk mendekat. Sampai akhirnya Kiki mendorongku agar masuk terlebih dahulu. Kotak P3K sudah berada di tanganku, dengan langkah ragu aku mulai masuk ke dalam, menoleh ke tempat Kiki berdiri agar segera menyusulku.


"Selamat pagi, Nek?" sapaku lalu duduk di pinggir kasur, tempat yang biasa aku duduki saat masuk ke kamar Nenek Siti. Aku menangkap lirikan mata Nenek dengan gerak bibir yang tidak biasa. "Nenek mau apa?" tanyaku berusaha tetap lembut dan sopan, apalagi setelah tau kalau Nenek Siti adalah manusia lain selain Bu Lulu di desa ini.


"Eh, Ki! Ambilin makanan!" Kiki yang awalnya melongo langsung mengangguk dan keluar kamar ini. Sambil menunggu Kiki kembali aku juga mengganti perban yang ada di leher Nenek. Aku yakin, perban ini tidak akan pernah diganti jika bukan aku atau Danu yang menggantinya.


"Biar aku ganti perbannya, ya Nek." Mulai membuka kain tipis di leher nenek, melihat kulit keriputnya yang kurus dan kering membuatku iba. Mataku berkaca - kaca membayangkan apa yang sudah terjadi pada nenek, entah sudah berapa lama nenek hidup di sini bersama mereka. Bagiku itu bukan lah kehidupan, tapi hidup seperti mati saja rasanya. Luka Nenek masih terlihat basah. Mirip luka bakar yang tidak mudah sembuh. Ada ruam merah di sekitar luka tersebut. Sebuah obat oles, mulai aku buka. "Aku obatin dulu, ya nek. Mungkin kalau pakai obat ini lukanya akan cepat mengering," tuturku setengah yakin. Aku menyingkirkan obat - obatan yang diberikan dokter Daniel, karena aku yakin obat - obatan itu tidak akan mampu menyembuhkan luka, mungkin malah akan menambah parah luka itu. Sambil mengoleskan obat, aku juga meniup - niup luka tersebut agar obat oleh itu cepat kering dan meresap ke dalam luka.


"Tahan, ya Nek. Pasti sakit banget, ya?"


"...."


"Besok ... kalau aku sama teman - teman berhasil menemukan jalan keluar, nenek ikut aku saja. Kita pergi dari tempat ini," jelasku dengan menahan air mata.


Nek Siti menoleh, menggerakkan kepalanya dengan pelan. Aku Menganga melihat perubahan drastis yang terjadi padanya. Hal yang paling tidak masuk akal, justru aku saksikan sekarang. Setahuku, Nek Siti menderita stroke, yang membuat hampir seluruh tubuhnya tidak bisa bergerak, dan sekarang justru sebaliknya. Ini pertama kalinya aku melihat nenek menoleh, lalu tersenyum padaku. Tangan keriputnya menggenggam ku, menepuknya pelan. Tak hanya itu, jemari nenek kini mulai menjelajah ke anak rambutku, menyibak rambutku dan menyelipkannya ke telinga. "Kalian sudah tau semuanya?" tanya nenek.


Hatiku berdesir, mendengar suara nenek yang lembut. Ini pertama kalinya aku melihat sisi lain dari nek Siti. Sosok nenek mengerikan yang selama ini ku kenal, kini luruh begitu saja. Yang ada di hadapanku sekarang justru nenek yang ramah, lembut dan penyayang.


"Jadi nenek bisa bicara? Nenek ... Juga bisa bergerak?!" tanyaku dengan mata berbinar. Nenek mengangguk.


"Selama ini saya hanya berpura - pura lumpuh. Saya memang tidak bisa berjalan, Aretha, tapi saya masih dapat bergerak. Saya bisa menggerakkan tangan, bahkan berbicara."


"Kenapa nenek harus berpura - pura seperti ini? Apa karena Pak Karjo dan Bu Heni? Mereka ... Membahayakan nenek selama ini?"


"Tidak. Sama sekali tidak. Mereka tetap memperlakukan saya dengan baik, sama seperti saat mereka masih hidup dulu. Saya memang lumpuh, tapi setelah kejadian itu, perlahan kondisi saya justru membaik. Tapi saya harus berpura - pura seperti ini. Saya ingin menyadarkan mereka. Mereka itu tidak ingat apa yang telah terjadi."


"Kejadian itu? Kejadian apa, Nek? Sebenarnya apa yang terjadi di desa ini? Kenapa semua orang berubah menjadi setan saat malam hari, dan sekarang mereka kembali ke wujud manusia."


"Kejadian ini sudah berpuluh tahun terjadi. Beberapa puluh tahun lalu, keluarga Pak Yodhie meninggal. Kalian pasti bagaimana kisah mereka, kan? Memang setelah kematian keluarga itu, suasana desa ini menjadi mencekam. Pembunuhan saat itu adalah hal tabu dan mengerikan. Yang menurut mitos, arwah korban akan gentayangan. Hal itu membuat suasana desa hening setelah sandekala. Tidak ada satu pun orang yang berani keluar rumah. Karena memang ada beberapa kejadian aneh, dan mengerikan setelah kejadian tersebut. Lalu ... Satu persatu dari kami jatuh sakit. Ini semacam wabah yang memang cepat menular. Semua diperparah dengan kondisi jalanan depan gapura yang rusak. Hujan badai membuat pohon tumbang di depan desa. Kami tidak mendapatkan bantuan dari luar, sampai akhirnya Dokter Daniel menyerah. Hampir semua warga sakit, dia lantas menyuntik kami dengan racun. Semua warga yang lemah, akan langsung tewas. Sementara nenek, yang saat itu masih sehat justru menjadi lumpuh. Entah ini disebut keberuntungan atau kesialan, karena hanya nenek satu - satu nya orang yang masih hidup. Nenek bahkan melihat anak - anak nenek sendiri meregang nyawa di rumah. Tidak ada yang bisa nenek lakukan."

__ADS_1


"...." Kiki lantas masuk ke kamar dengan nampan berisi makanan. Dia lalu ikut duduk di samping ku dan mendengarkan cerita dari nenek Siti.


"Berhari - hari nenek tidak bisa bergerak. Hidup dengan mayat anak - anak nenek sendiri. Sampai pada akhirnya, saat itu bulan purnama, nenek yang waktu itu sedang tidur, mendengar suara gaduh di luar. Tiba - tiba Karjo dan Siti masuk ke kamar. Mereka terlihat mengerikan. Nenek takut. Karena yakin kalau mereka sudah meninggal, dan yang ada di hadapan nenek bukan lagi manusia. Mereka tetap menjalankan kegiatan yang biasa mereka lakukan. Mereka menjaga nenek, walau nenek tau mereka hantu. Tapi mereka tetap anak - anak nenek. Mereka masih menyayangi nenek, seperti dulu."


"Sampai sekarang terus seperti ini, nek? Apa mereka tidak sadar kalau mereka sebenarnya sudah meninggal? Atau mereka sebenarnya tau? Nenek tidak pernah memberi tau mereka yang terjadi sebenarnya?"


"Sudah. Tapi, setiap nenek memberi tau kejadian itu, mereka menjadi marah. Lalu keadaan justru memburuk. Jadi selama ini nenek memang membiarkan saja semua ini berjalan, seperti mau mereka."


"Tapi kenapa mereka marah, Nek?" tanya Kiki yang sama penasarannya seperti aku. Nenek menoleh lalu tersenyum.


"Karena mereka belum bisa menerima kenyataan tentang apa yang menimpa mereka. Seluruh penduduk desa belum bisa menerima atas kematian mereka yang tiba - tiba. Jadi, jangan membahas tentang hal ini di depan mereka. Atau mereka akan murka. Itu akan sangat berbahaya."


Akhirnya sedikit demi sedikit misteri desa ini terkuak. Walau sampai sekarang aku belum tau caranya pergi dari desa ini. Nenek pun tidak tau caranya, bahkan beliau tidak ingin pergi dari tanah kelahirannya.


Kelompok kami bagi - bagi. Aku dan Danu tetap melakukan kegiatan sehari - hari dengan mengajar anak - anak di madrasah. Kiki dan Doni tinggal di rumah, sekaligus menjaga nenek. Sementara Kak Arden, Radit, dan Dedi memilih berjalan - jalan di sekitar desa. Berharap mendapat informasi lain nantinya.


"Jadi semua paham, ya, sekarang. Ada yang mau bertanya?" tanyaku pada kerumunan anak - anak kecil yang duduk tersebar di lantai beralaskan karpet di depan.


'Paham, Bu guru," jerit mereka serempak.


"Yang bener? Nggak ada yang mau ditanyakan nih?" tanyaku mengulangi pertanyaanku.


"Enggak, Bu Guru!" Kembali suara kompak mereka menggema ke sepanjang ruangan. Aku hanya mampu tersenyum melihat polah tingkah mereka, sekaligus mirip saat membayangkan siapa sosok di depanku sekarang. Anak - anak lucu yang ternyata bukan lagi manusia. Anak -anak yang sangat aku sayangi sebelumnya, walau sekarang pun perasaanku masih sama. Tapi kenyataan yang terjadi justru menjadikannya pil pahit yang harus aku telan bulat - bulat. Hanya saja, aku tetap menyayangi mereka sampai detik ini.


POV RADIT


Kami bertiga mulai menelusuri hutan, berharap menemukan Lulu sekaligus mencari tempat untuk mendapatkan sinyal ponsel seperti yang Aretha ceritakan tempo hari. Aku tidak begitu yakin kalau informasi tentang tempat ini memang benar adanya, atau hanya karangan para zombi di desa ini saja. Jarak antara satu pohon dengan pohon lainnya tidak begitu jauh dan juga tidak terlalu dekat.


"Kayaknya mereka nggak pernah berkeliaran ke tempat ini, ya?" tanya Dedi. Kami bertiga menyapu pandang ke sekitar. Tempat ini memang hanya didominasi pohon - pohon tinggi dengan daun yang jarang. Pohon jati. Bahkan beberapa daun yang seharusnya lebar dan lebat di atas sana, justru kosong. Sepertinya ulat telah membuatnya habis tak tersisa.


"Kayaknya sih iya. Buktinya sejak tadi kita nggak ketemu satu pun warga yang melintas."


"Mungkin karena pusat kegiatan mereka nggak di sini. Yang gue lihat mereka lebih sering bertani, sama ke sungai. Banyak ikan - ikan di sungai ternyata, ya?"


"Itu ikan diapain ya. Bukannya mereka nggak makan," hardik Dedi sambil terkekeh. Arden lantas memukul kepala manusia satu itu. Terkadang dia memang suka kurang ajar. Untung aku sudah insaf.


"Ini ke mana, Dit?" tanya Arden saat kami di hadapkan pada tiga jalur bercabang bekas jalur jalan di sekitar. Tiga ruas jalanan tanpa rumput membuat kami yakin kalau dulunya tiga jalur ini sering dijadikan jalur transportasi warga.


"Waduh, nggak paham gue. Aretha juga nggak bilang detail jalurnya dan letaknya di mana. Gimana dong ini?" tanyaku pada mereka sambil garuk - garuk kepala.

__ADS_1


"Pakai feeling aja, Den," tukas Dedi.


"Ya sudah ke sana saja!" Arden berjalan santai ke arah utara. Aku dan Dedi hanya mengekor padanya. Sekeliling kami hanya ada pohon jati, daun - daun kering bahkan berserakan begitu saja. Kami mulai mengeluarkan ponsel, mencari sinyal berharap dapat menghubungi pihak luar. Walau sampai sekarang aku sendiri juga tidak tau, siapa yang pertama kali harus dihubungi. Polisi? Rasanya tidak mungkin.


"Eh, Den! Itu ... Lulu?" tanyaku yang melihat sebuah pergerakan di antara semak belukar yang cukup jauh dari tempat kami. Arden dan Dedi memicingkan mata. "Yuk, ke sana!" ajak Arden berjalan lebih cepat dari semula.


Sampai di sana, memang Lulu sedang membakar ikan di samping tenda kain yang dia buat sendiri. Seperti nya korden adalah bahan dasarnya.


"Kalian?!" pekiknya terkejut melihat kedatangan kami.


"Sorry ... Sorry. Kami nggak sengaja. Tadi kami mau cari tempat yang ada sinyalnya, eh malah ketemu kamu," jelas ku.


"Oh." Lulu terlihat selalu waspada walau dia tau kami tidak berbahaya. Wanita itu kini sudah berganti pakaian dengan lebih baik, sepertinya dia sudah membasuh tubuhnya karena kini aroma tubuhnya tercium lain. Pakaiannya lebih bersih. Berbulan - bulan menjadi buronan membuat dirinya jauh lebih kuat.


"Kamu mencari ikan sendirian?" tanya Dedi dan ikut duduk di sampingnya. Memperhatikan tiap gerak wanita itu. Dia lantas mengangguk.


"Kalian sudah makan?" tanyanya lalu menunjuk tumpukan ikan yang belum dibakar.


"Wah, serius nih? Boleh?" tanya Dedi antusias. Lulu mengangguk yakin, meneruskan membakar ikan dengan santai.


"Kalau kamu berkeliaran di desa, apakah aman?"


"Ya kalau nggak aman, aku sudah mati sejak dulu," jawabnya santai menanggapiku.


Aku menelan ludah atas reaksinya tersebut. Dia lantas menyantap ikan bakar masakannya sendiri dengan lahap. Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana dia menjalani hidup di tempat seperti ini. Menjadi buronan yang tak ada henti - hentinya. Menghindar dan selalu bersembunyi. Bahkan jika aku yang mengalaminya mungkin saja aku tidak sanggup lagi. Dia cukup tangguh.


"Hei ... Kamu tau, kalau kamu bukan satu - satunya manusia di desa ini?"


"Tentu saja. Kalian kan juga manusia?" tanyanya santai menanggapi Arden yang justru serius.


"Bukan kami, tapi sebelum kami ada di sini." Lulu terlihat bungkam sambil memperhatikan ke atas. Ia lantas mengangguk paham. "Nenek Siti? Yah, aku tau. Memangnya kenapa?"


"Kenapa kalian tidak bekerja sama untuk pergi dari sini, atau kamu bawa nenek ikut bersamamu, daripada harus hidup dengan setan - setan di rumahnya sendiri!"


"Itu yang dia mau. Kalian pikir aku tidak memikirkan keselamatannya? Berkali - kali aku datang ke rumahnya saat Karjo dan Heni pergi, tapi Nenek tidak mau pergi. Bahkan dia hanya menunggu ajalnya saja di sana."


"Dia terluka, kamu tau siapa yang menyebabkan lehernya terluka seperti itu?"


"Ah, paling Yodie! Dia itu jahat."

__ADS_1


"Yodi yang menjadi pelaku pembunuhan keluarganya sendiri? Jadi dia juga yang telah membuat desa ini menjadi seperti sekarang? Dia makhluk terkuat yang kamu maksud?"


"Bukan. Ada yang lain. Yodi hanya keroconya saja. Aku yakin kalian akan segera bertemu dengannya. Karena dia mulai menyadari tentang apa yang kalian ketahui sekarang! Berhati - hatilah!"


__ADS_2