Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
41. Pasukan lengkap


__ADS_3

"Wah, nggak sangka kalau kita bakal balik lagi ke tempat ini," kata Danu saat mereka semua berdiri di desa Kalimati.


"Hem, rasanya seperti baru kemarin aja, ya," sahut Kiki


"Tapi suasananya masih sama, ya? Nggak banyak berubah," tukas Doni.


"Iya, cuma pas pintu masuk tadi aja, udah mulai dibikin taman taman. Kenapa sih, nggak dilanjutin aja. Kan jadi nggak serem gini," tambah Dedi.


"Ya mungkin, karena setannya pada nggak mau. Jadi mereka gangguin pekerja. Akhirnya berhenti deh," timpal Aretha.


"Eh, Den. Pakde Yusuf gimana? Jadi ke sini, kan? Jangan sampai nggak jadi nih! Nasib kita gimana nanti!" tutur Dion.


"Insya Allah jadi kok. Lagian ini bukan hal mudah. Pakde udah niat buat beresin masalah di sini sampai selesai. Supaya nggak ada korban lagi."


"Eh, tapi serem juga, ya. Efeknya bisa sampai ke desa lain loh. Ckckck," kata Ari.


"Iya, makanya itu. Aku pikir, sudah seharusnya makhluk itu ditindak tegas. Karena aku sama Radit nggak bisa, jadi mending aku bawa kalian semua ke sini. Hitung hitung nostalgia," kekeh Aretha.


"Nostalgia apaan! Nostalgila kali, Tha," timpal Danu dengan wajah masam.


"Dan, kalau lo nggak mau ikut, kenapa mau ke sini coba? Bilang aja lo kangen kan ketemu makhluk makhluk itu?" tanya Aretha yang sengaja bergurau pada Danu.


"Iya, sok jual mahal aja tuh. Padahal kemarin aja dia baru aja cerita sama gue. Dia bilang gini, 'Yon, Kangen euy, uka uka sama Aretha Arden.' Gitu loh, Tha," pungkas Dion melirik ke Danu.


"Heh! Kata siapa! Sembarangan aja kalau ngomong!" elak Danu.


"Eh, asli, Tha! Berani sumpah gue, dia bilang begitu!"


"Lo emang ya, sialan!" Kata sambutan dari mereka berakhir saat Danu terus mengejar Dion karena telah membongkar kebohongan nya di depan teman teman mereka.


Mereka pun berbondong bondong memasuki desa tersebut. Jalanan desa masih sama, berbatu dengan tatanan yang rapi. Sementara daun daun kering mulai tampak bagai permadani yang menyambut mereka datang. Suasana sepi. Bahkan mencekam. Apalagi yang mereka tahu kalau tempat itu penuh dengan makhluk makhluk halus yang kerap memanipulasi keadaan.


"Kita mau ke mana dulu?" tanya Kiki memecah kesunyian.

__ADS_1


Sejak tadi hanya ada suara langkah kaki mereka yang beriringan. Ditambah dengan bunyi dahan dahan kering yang tersapu angin.


"Gimana Menurut kamu, Areta?" tanya Arden menoleh ke adiknya.


"Eum, Sepertinya kita langsung saja ke rumah Pak Yodi. Kalian Ingatkan Kalau di tempat itu lah kita menemukan makhluk tersebut bersembunyi," jelasnya.


"Oh, yang rumahnya itu belakangnya hutan," timpal Dion.


"Bukan rumah itu belakangnya hutan, tapi rumah itu emang hutan. Soalnya bagian depan itu cuma pintu sama ruang tamu Setelah dari situ kan nggak ada ruangan lain selain hutan belantara yang mengerikan itu," sahut Danu.


"Oh iya. Di tempat itulah gue cedera parah. Tapi kerennya pas keluar dari desa, Gue merasa baik-baik aja deh. Tapi pas sampai rumah ... Anjir! gue nggak bisa jalan. Bahkan gerakin kaki aja nggak bisa!" pungkas Dedi


" sepertinya lo terus sugesti dengan situasi yang mencekam dan Ingin secepatnya pergi dari sini. Makanya pas masih di sini lo masih bisa jalan kaki bahkan sampai ke pintu gerbang desa," tambah Doni.


" Berapa lama lo dirawat di rumah sakit ya, Ded?" tanya Kiki.


"Seminggu gila! Mana gue nggak bisa ke mana-mana lagi. Bahkan ke toilet aja harus dianterin sama bokap!" cerocos Dedi yang tampak sangat sebal mengingat kejadian itu.


"Aamiin. Bergerak lebih jauh sebaiknya kita awali dulu dengan berdoa. Harusnya sih tadi waktu pas masuk ke sini. Gue Hampir aja lupa," ucap Arden.


"Ya udah. Mulai. Pimpin, Den," sela Dedi.


Mereka semua pun membentuk lingkaran. Kedua tangan menyatu di depan badan. Sebagian besar sudah menundukkan kepala sebagai ritual doa yang biasanya mereka lakukan selama ini saat menghadapi situasi situasi tertentu.


"Untuk kelancaran dan keberhasilan kita. Mari kita semua berdoa dulu sebelum memulai rencana hari ini. Semoga kita diberikan petunjuk dan bantuan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Dan semoga kita semua berhasil meringkus makhluk itu hingga ke akar-akarnya jadi tidak perlu lagi ada korban lain setelah kita semua meninggalkan tempat ini."


"Aamiin."


" Berdoa dimulai."


Sekalipun mereka semua sekarang sudah sibuk dengan kehidupan masing-masing tetapi saat salah satu dari mereka membutuhkan bantuan maka yang lain pun tidak akan diam saja. Seperti apa yang terjadi kepada Areta dan Radit. Setelah mereka berdua kembali ke desa gurita mengenai hal tersebut pun menyebar luas bahkan walau mereka tidak menceritakannya di grup pertemanan mereka tetapi informasi itu bisa sampai di telinga Danu, lewat kawan Danu yang merupakan salah satu warga desa di Alas Purwo. Nama Radit dan Areta langsung melejit setelah berhasil mengembalikan seluruh orang-orang yang sebelumnya pernah diculik oleh Ummu sibyan.


Alhasil Danu pun membahas hal tersebut di grup mereka. Areta dan Radit pun menceritakan semua hal yang sudah mereka alami dari awal hingga akhir dan juga rencana mereka untuk kembali lagi ke Dusun Kalimati membawa serta Yusuf dan Arden. Tanpa diminta mereka justru menawarkan diri untuk ikut dalam misi kali ini. Sekalipun mungkin keberadaan mereka tidak akan banyak membantu karena lawan yang sepadan dengan makhluk-makhluk itu hanyalah Yusuf saja. Tapi setidaknya dengan keberadaan mereka di antara Radit, Areta dan Arden, membuat suasana tidak terasa sepi dan tidak terlalu menegangkan seperti bayangan mereka sebelumnya. Apalagi saat mereka sampai di rumah yang ditinggali oleh Areta dan Radit. Kiki bahkan ingin menginap lebih lama di rumah itu Karena pemandangannya sungguh indah dengan udara yang sejuk dan menyegarkan. Apalagi Kiki dan Doni juga sudah menikah sehingga mereka bisa menganggap kedatangan mereka ke tempat itu bisa menjadi salah satu momen bulan madu mereka berdua.

__ADS_1


"Selesai."


Setelah komando itu mereka pun kembali menatap sekitar. Tidak banyak hal yang bisa dilakukan sebelum Yusuf datang. Menurut informasi terakhir Yusuf sudah berada di jalan sedang menuju ke tempat tersebut bersama dengan beberapa kawannya. Hanya saja membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk sampai ke desa tersebut.


"Eh, kalian berdua beneran ngelihat nenek Siti?" tanya Danu.


"Iya. Nenek lah yang menolong kami agar bisa selamat dari makhluk itu. Kalau ingat nenek hatiku langsung sakit. Rasanya nggak adil jika hal itu menimpa nenek. Coba aja waktu itu nenek mau pergi sama kita mungkin nenek masih hidup sampai sekarang," tutur Aretha menatap rumah Pak Karjo nanar.


Mereka memang sudah sampai di tempat tujuan sebelumnya. Memang di antara banyaknya bangunan di desa tersebut hanya satu tempat yang mereka tuju yaitu rumah Pak Yodi. Yang bersebelahan langsung dengan rumah Pak Karjo.


"Belum tentu juga, Dek. Bisa saja umur nenek memang sudah tidak lama lagi di dunia ini. Sekalipun kita membawanya pergi dari Desa ini dulu. Jika memang sudah takdirnya kita tidak bisa melakukan apapun. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah mendoakan nenek agar tenang di sana," ucap Arden.


"Eh! Itu siapa!" tunjuk Ari ke halaman rumah Pak Yodi.


"Heh! Di sana juga ada orang!" pekik Dedi, menatap ke arah kiri mereka.


Ternyata setelah diperhatikan di sekeliling mereka ada beberapa pergerakan yang mencurigakan. Gerakan yang dilihat memang cukup cepat tetapi saat diperhatikan dengan seksama seperti ada bayangan seseorang yang menimbulkan gerakan itu terjadi. Seperti tersibaknya rumput tinggi di halaman rumah Pak Yodi, atau bayangan seseorang yang menghilang di balik pohon besar yang berada tak jauh dari mereka. Hingga suara dahan-dahan dan ranting kering yang seperti Terinjak oleh seseorang. Semua gangguan itu bisa mereka rasakan dan bisa mereka lihat secara bersama-sama.


" gimana nih?" tanya Doni.


"Apa kita perlu memeriksa itu semua?" tanya Radit.


"Dit, tolong tahan godaan lo untuk memancing kita semua berpencar di desa ini. Karena menurut gue itu bukan itu yang bagus," hardik Danu.


"Tapi kok banyak banget ya. Mereka itu manusia atau bukan?" tanya Dion.


"Yon, Coba aja lu pikir manusia mana yang berkeliaran di tempat angker kayak gini? Cuma manusia bodoh aja!" timpal Dedi.


"Oh, jadi kita manusia bodoh, ya?" tanya Danu menyindir.


"Ya emang. Tepat sekali!" kata Dedi santai.


Tiba-tiba suara cekikikan terdengar di sekitar mereka. Padahal saat ini masih pagi. Matahari saja belum muncul dengan sempurna di langit. Tetapi para makhluk penghuni Desa Kalimati sudah menunjukkan eksistensinya di depan Areta dan teman-temannya.

__ADS_1


__ADS_2