
Hari ini kami akan ujian.
Penentuan lulus atau tidaknya kami di sekolah ini.
Dibilang tegang, iya tegang.
Tapi pasrah sajalah.
Toh segala upaya sudah dilakukan, dari les, belajar bersama dan belajar sendiri pun sudah kami lakukan.
Kami duduk sendiri sendiri.
Ada 1 bangku yg kosong, yg seharusnya milik Viktor.
Letaknya ada di pojok Depan dan dibiarkan kosong, karena Viktor memang sudah terdaftar sebagai peserta ujian tahun ini. Namun, takdir berkata lain.
Ujian pun dimulai, keadaan tenang dan hening. Semua berkonsentrasi dengan soal masing masing.
Mungkin jika ulangan sehari hari kami agak santai, namun kali ini suasana agak tegang.
Semua wajah menampilkan ekspresi serius sekali.
Waktu berjalan terasa amat cepat. Hingga tidak terasa tinggal 20 menit saja waktu ujian habis.
"Duh, tinggal 1 soal susah banget lagi" gumamku.
Karena lelah ,aku meletakkan alat tulisku. Kutatap langit langit sekedar menyegarkan mata dan pikiran ku.
Biasanya jika sudah seperti ini, aku pasti akan meminta bantuan Viktor.
Tapi... Sekarang tidak mungkin.
Kulirik meja milik Viktor , mataku agak berkaca kaca jika mengingatnya.
Ada sakit yg entah apa ,yg selalu kurasakan jika ingat viktor.
Namun , satu yg pasti..
Aku merindukan dia.
'Thaa...'
Suara yg sangat familiar terdengar jelas di telingaku.
Aku yg sedari tadi melamun sambil melihat keluar jendela, kini menoleh ke suara itu.
Di meja milik viktor ,dia kini ada di sana. Memakai seragam seperti biasa, bahkan sosoknya seperti nyata. Hanya sedikit lebih pucat dari biasanya.
Dia tersenyum padaku, lalu menunjukkan kertas padaku yg berisi jawaban yg sedang kucari sekarang.
Bukan nya aku bersemangat mencontek jawaban miliknya, seperti yg sudah sudah, aku malah meneteskan air mata sambil terus menatapnya.
Dia menggeleng pelan padaku lalu menyuruhku menghapus air mataku.
Dengan sisa waktu yg tinggal sedikit, aku mulai mengerjakan jawaban itu seperti yang viktor tunjukkan.
Aku tidak peduli jawaban itu salah atau benar. Aku hanya merasakan senang , viktor ada di sekeliling ku,seperti biasanya.
Dan aku pun selesai mengerjakan soal hari ini dengan sempurna.
Saat aku menoleh ke meja viktor, dia sudah tidak ada. Namun di mejanya ,ada lembar jawab yg sudah diisi.
Seisi kelas heboh dengan hal ini. Dan gosip pun beredar tentang keganjilan ujian hari ini di kelas kami.
\=\=\=\=\=\=\=
Kiki memintaku menemani nya ke gudang sekolah untuk mengambil beberapa artikel lama untuk keperluan mading.
Walau sudah menjelang kelulusan, dia masih saja aktif di kegiatan mading membantu adik adik kelas.
Gudang sekolah ada di bagian belakang sendiri, dekat dengan lorong bawah tanah yg dulu pernah ku masuki dengan yg lain.
Suasana di belakang sekolah memang selalu sunyi, karena di sini memang hanya ada gudang dan ruangan yg tidak terpakai saja.
"Tha. Nanti aku nginep rumah kamu ya. Mamah pergi keluar kota"
"Hmmm..." gumamku.
Ceklek.
Pintu gudang terbuka.
Bau apek pun menyeruak masuk ke dalam hidungku.
Dan alhasil, hidungku yg agak sensitif dengan debu pun bereaksi.
'Haaachhhiiii... Haaachhhiiii'
Kiki masuk ke dalam dengan menutup hidungnya dengan sapu tangan miliknya yg dia jadikan masker untuk menutupi hidung dan mulutnya.
'Curang banget ni anak. Gak bilang kalau keadaan nya kayak gini..huft.'
"Bentar ya , Tha. Aku cari dulu artikelnya. Kamu tunggu sini ,tapi jangan ke mana mana." pintanya.
"Iyak.. Buru..." seru ku.
Sementara kiki mencari artikel nya, aku sibuk mengamati ruangan ini.
Banyak sekali kardus kardus besar yg ditumpuk asal asalan.
Kebanyakan barang barang yg tidak terpakai, seperti peralatan olahraga, meja dan kursi yg sudah rusak ,dan buku buku yg tidak terpakai seperti buku kenangan siswa siswa terdahulu.
Bukunya pun sudah usang dan kotor penuh debu.
Sehingga aku agak sungkan untuk menyentuhnya, bakal bersin berjam jam kalau aku nekat.
Keadaan gudang juga sedikit gelap,karena sedikit sekali jendela yg ada.
Tak lama, aku mendengar suara hembusan nafas di dekat telingaku.
Kupertajam pendengaranku, memastikan aku salah dengar saja. Namun, bukan nya menghilang,malah makin intens dan diikuti bau busuk yg entah dari mana.
Bulu kudukku meremang, aku sampai menyentuh tengkukku, dan saat aku menoleh, aku melihat bayangan hitam dengan rambut berurai menutupi wajahnya, namun dia memakai seragam sekolah sepertiku.
Aku hanya melihat matanya, matanya merah menyala.
Aku mundur mundur karena kaget, hingga aku mencapai lemari penyimpanan buku buku lama.
"Kii... Udah belum?" teriakku.
"Bentar, Tha. Dikit lagi. Masih ku pilihin nih. Tenang aja, nanti aku traktir bakso deh," katanya santai.
Kulihat dari tempatku berdiri, dia memang masih asik dengan tumpukan artikel artikel di hadapan nya.
Baguslah, lebih baik dia tidak usah melihat yg barusan. Bakal heboh nantinya.
Sosok tadi kini mulai berjalan dengan menarik sebelah kaki nya. Kulihat kaki nya aneh, sepertu panjang sebelah.
Eh bukan!!
Bukan panjang sebelah, tapi kaki nya patah. Seperti nya tulangnya sudah terlepas namun kakinya masih menempel di tubuhnya.
Dia terus menyeret kakinya, dan berjalan ke arahku.
Glek!
Aku menelan ludah berkali kali, karena bingung harus berbuat apa.
Mau apa dia?
Badanku tiba tiba kaku, tidak bisa bergerak sama sekali. Bahkan mataku tidak bisa terlepas dari menatapnya terus.
Aku seperti tersihir agar terus melihat dia yg terus mendekat padaku. Nafasku mulai pendek, jantungku berdegup lebih kencang.badanku gemetaran. Dan entah kenapa, aku blank. Tidak bisa berfikir jernih dan lupa doa doa yg biasanya ku lantunkan.
Dia makin mendekat, sesekali dia menggerak gerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Badan nya gemerutukan, seperti tulang tulang yg patah yg dipaksakan berjalan.
Saat dekat denganku, tangan nya terjulur seperti akan meraih wajahku, aku makin ketakutan. Tapi otak ku seakan tidak sinkron dengan tubuhku. Mataku tidak mau terpejam, padahal aku ingin sekali memejam kan mataku. Agar aku tidak perlu melihatnya dari jarak sedekat ini.
Semakin aku ingin memejamkan mata, semakin mataku terbuka lebar. Dia menyeringai dengan senyum yg mengerikan.
Tangan nya terus terjulur ke samping wajahku, dan dia mengambil sebuah buku dari rak di belakangku. Dia jatuhkan buku itu kelantai dan tak lama dia tersenyum padaku.
Dia lalu menunjuk buku yg terjatuh dilantai.
Anehnya aku menuruti saja perintahnya, saat kulirik buku itu, aku melihat foto dan biodata seorang siswi, sekilas memang agak mirip dia.
Apakah mungkin itu dia?
Kucoba untuk membaca biodata nya.
'Hanum,' batinku.
Namanya Hanum. Dan dia salah 1 murid di sekolah ini, entah tahun berapa, karena banyak tulisan yg tidak jelas karena sudah pudar.
"Tha!!!" panggil kiki.
Aku langsung menoleh ke arah kiki berdiri.
Kiki lalu mendekat.
"Kenapa sih, Tha?"tanyanya bingung sambil terus menatapku.
"Hah? Eh.. Eum.. Gak papa.. Hehe" jawabku cengengesan menutupi ketakutanku.
"Kamu kenapa sih? Aneh gitu?"
"Apa sih? Aku laper. Yuk .." kutarik tangan nya dan terus berjalan keluar dari gudang.
Setelah agak jauh, aku menoleh kembali ke gudang, dan samar samar sosok tadi berdiri di dekat jendela di dalam gudang. Dia membeku.
Huft... Ada ada aja deh.
Ternyata aku belum kenal semua penghuni sekolah. Baru tau ada yg kayak tadi malah.
Sampai di kantin, teman teman yg lain sudah ada di sana sambil makan.
Braaakk!!
Kiki meletakkan artikel yg penuh debu tadi ke meja dengan kasar.
"Eh,,buset dah.. Ki!! Kira kira dong.. " seru radit.
"Iya, debu ginian malah ditaruh sini. Lantai napa!!' gerutu dedi.
Kiki malah cengengesan lalu meletakkan bawaan nya ke lantai.
Aku masih diam saja tak banyak menanggapi celotehan mereka.
"Dek..." kak Arden menyentuh bahuku.
Aku menoleh padanya ,tatapan mataku tertuju ke kak Arden, tapi entah kenapa, seolah olah pikiranku masih saja ada di tempat lain.
Kak Arden mengambil air dari tas nya, lalu dibacakan nya doa dan menyuruhku meminumnya.
Setelah ku minum beberapa teguk, kak Arden masih saja menatapku tajam.
"Kamu ketemu siapa?" pertanyaan kak Arden mampu membuat yg lain menoleh pada kami berdua dan lalu mereka terdiam sambil ikut menatapku.
"Hah? Itu tadi.. Di sana... " ucapku terbata bata sambil menunjuk arah gudang.
Kak Arden menatap ke arah yg kutunjuk, lalu menundukkan kepalanya dan tak lama tersenyum.
"Udah gak papa.. Balik aja yuk.." ajak kak Arden kepada kami.
Kami akhirnya pulang ke rumah, karena hari juga sudah makin siang.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=
Malam ini Kiki menginap di rumahku.
Dia sudah tidur di kamar. Emang kalau udah ketemu kasur, dia tuh langsung gak bisa move on deh.
Aku sekarang sedang duduk di gazebo belakang rumah sambil membaca baca buku.
Kak arden ada di kamarnya, ayah dan bunda nonton tv .
Aku suka sekali ada di sini, apalagi jika malam hari. Suara jangkrik dan binatang malam terkadang membuatku nyaman dan pikiranku tenang.
Sreeet
Mataku ditutup oleh tangan kokoh seseorang.
"Hmmm.. Sapa yah? Eum..kalau dari bau nya sih kayaknya ini Radit.." kataku sambil ku lepaskan tangan itu dari mataku.
Dan memang muncul lah Radit dari arah belakangku sambil senyum senyum.
"Ngapain sih, malem malem ke sini? Kayak anak ilang aja."
"Biarin.. Kamu sendiri, ngapain ke sini?"tanyaku.
"Ya ngapelin kamu lah. Pakai ditanya lagi," ujarnya sambil mencubit hidungku gemas.
"Ngapel tuh malem minggu, ini malem selasa!"
" aku mah ngapelnya tiap malem juga gak masalah." dia lalu mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya." nih, coklat..."
Ku terima dengan senang hati dan langsung ku buka saja .
"Sayang.." panggil Radit.
Aku masih cuek, sambil makan coklat,"hm..."
"Ih, kamu mah gitu deh.. "
"Lah kenapa emang?" tanyaku heran.
"Gak deh --enggak. Lupain lupain. Di mana mana, cowok yg biasanya dikatain gak peka.. Ini mah kebalikan nya."
"Hah? Aku? Gak peka? Emang kenapa sih? Kamu kenapa? Aku gak ngerti??"
Tanyaku yg memang tidak paham maksudnya.
"Gak papa." jawab Radit jutek.
"Jelek ih, kalau ngambek"
"Biarin.."
Radit masih saja cemberut.
Aku malah ketawa ngakak melihatnya seperti ini.
Kulingkarkan tanganku ke lengan Radit, lalu kusandarkan kepalaku padanya.
"Dit..."
"Hmmm."
"Makasih ya.."
"Buat apa?"
"Semuanya.."
"Semuanya? Apaan sih?"
"Ya semua.. Semua yg udah kamu lakuin buat aku selama ini. Maafin aku ya kalau kadang aku cuek banget sama kamu. Itu bukan karena aku gak peduli. Aku punya cara tersendiri untuk menyayangi kamu.. Mungkin gak sama kayak yg lain. Tapi, yah-- ini lah aku."
Radit mengecup pucuk kepalaku.
"Iya sayang.. Aku tau kok. Aku juga gak keberatan. Yah-- walau kadang aku juga bingung sama sikap kamu yg cuek.. Tapi gak apa lah, yg penting aku tau kamu sayang sama aku. Itu udah cukup."
"Iya, Dit.."
"Oh iya, kalau ada apa apa, kamu cerita ya. Akhir akhir ini aku liat kamu jadi diem."
"Hmm. Iya.. Aku gak papa kok. Beneran. Cuma capek aja. Mungkin efek ujian kali ya. Banyak hal yg aku alami akhir akhir ini."
"Pokoknya apapun itu, kamu harus janji sama aku.."
"Janji? Janji apaan?" tanyaku lalu menatapnya serius.
"Kamu harus selalu jujur sama aku,, apapun itu." pinta Radit.
"Hah?"
"Iya, itu.. Cuma itu yg aku mau."
"Eum.. Iya, Dit." aku mengiyakan saja kata katanya dan kembali menyandarkan kepalaku pada lengan nya.
Malam ini langit sangat cerah, kumpulan bintang di langit membuat malam ini indah, terlebih lagi ada Radit di sampingku.
\=\=\=\=\=\=\=
Selama beberapa hari, kami telah menjalani ujian nasional maupun ujian sekolah.
Kejadian aneh di kelas, tepatnya di bangku viktor pun hanya berlangsung sekali saja. Setelah itu, tidak ada lagi keganjilan keganjilan lain selama proses ujian berlangsung.
Dan hari adalah pengumuman kelulusan kami.
Dari hasil ujian kemarin, seluruh siswa di sekolahku lulus semua.
Alhamdulillah.
Di sekolahku ini tidak dibolehkan melakukan corat coret baju selepas lulus. Bakal kena sanksi nantinya.
"Ke mana nih kita? Perlu syukuran nih. " kata Doni semangat.
"Iya, elu yg traktir.. Ke mana aja boleh dah.." jawab Ari santai.
" eh.. Gak usah deh. Ke rumah ku aja yuk. Kemarin mamah ku balik dari Singapura, banyak makanan enak.. "Ajak Doni.
"Wuihh.. Asiik.. Setuju.." seru Ari semangat.
Akhirnya sepulang sekolah kami langsung ke rumah Doni yg berada di sebuah perumahan mewah yg ada di dekat kaki gunung.
Hawanya dingin dan sejuk saat mulai memasuki gerbang perumahan ini.
Sampai di depan rumah Doni, orang tua Doni terlihat akan pergi.
Kami pun bersalaman satu persatu.
"Ya udah, tante tinggal dulu ya. ." kata mamahnya Doni lalu melenggang masuk ke mobil bersama papahnya Doni.
"Don-- nanti anterin oleh oleh buat Winan ya." kata papahnya Doni.
Doni hanya mengangguk saja.
Winan itu adalah sepupu Doni ,dia anak kuliahan dan ngekost di dekat kampusnya.
Kata Doni, Winan orangnya gak suka diatur atur, makanya pas di suruh tinggal bareng Doni, dia menolak.
Kami pun masuk ke rumah Doni yg terbilang cukup besar, sama seperti rumah Radit.
"Langsung makan aja deh yuk" ajak Doni pada kami.
Tanpa basa basi kami langsung makan di ruang makan. Entah antara kalap dan khilaf apa beda nya sekarang. Semua makanan di meja makan ludes kami makan.
Setelah makan, kami lalu berencana nonton film di ruang tengah. Semua sudah mencari tempat yg nyaman untuk menonton.
Kami menonton bermacam macam film. Kebanyakan sih, yg bergenre action karena kebanyakan di sini para pria. Gak mungkin juga kami nonton film drama romance kan, apalagi drama korea. Bisa ngomel ngomel mereka.
Film terakhir yg terpilih adalah film horor.
Kami menonton film insidious 1&2 lalu scream, ditemani beberapa cemilan di meja.
"Eh, aku mau ke kost Winan nih. Kalian mau di sini aja?"tanya Doni pada kami.
"Ikut aja deh."
"Iya sekalian balik nanti."
Hari pun sudah hampir malam, kami sempatkan salat maghrib dulu di masjid yg hampir dekat dengan kost Winan.
Namun, Ari memutuskan akan langsung pulang ke rumah saja, karena mereka ada acara lain.
Pukul 18. 45 kami sampai di kos Winan.
Tok tok tok.
"Win...!!!" panggil Doni.
Ceklek
"Eh, elu Don?"
Muncul lah Winan dari balik pintu dengan wajah yg kusut.
"Nih, ada titipan dari mamah. Elu kenapa gak pernah ke rumah sih?" Doni langsung ngeloyor masuk gitu aja.
"Sibuk lah, Don. Kuliah. "Winan menatap kami yg masih di luar kamar kos nya," eh-- masuk deh.."
Kost kostan winan ini berbentuk rumah yg cukup besar dengan banyak kamar di sini.
Dan ternyata kamar kost winan juga cukup besar.
Kami pun masuk ke dalam.
Dan langsung duduk di karpet depan tv layar datar winan.
"Mau minum apaan?" tawar Winan.
"Gak usah, kak. Kita udah minum, lagian belum haus kok," sahut kiki.
Mereka memang sudah akrab.
"Oh,ya udah. Ambil sendiri aja ya,kalau haus," kata Winan lalu dia membuka bungkusan yg di bawa Doni.
Kami malah menonton tv di sini karena Winan ini berlangganan tv kabel, dan kebetulan film nya sedang bagus.
Tak lama, terdengar suara orang berlari di luar kamar. Suaranya berisik sekali.
Seperti anak kecil yg bermain kejar kejaran.
"Win, anak bu kost berisik banget. Tiap hari gini?" tanya Doni.
Winan terdiam.
"Udah biasa," ucapnya sambil menarik nafas panjang.
Dan, benar saja. Suara itu hilang tak berapa lama.
"Yon... "Panggilku.
Dion yg duduk di depanku dan masih fokus menonton film, lalu menoleh," apaan ?''
"Bentar deh."ku sentuh bahunya.
Aku melihat ada sesuatu yg jatuh di bahu Dion.
Cairan berwarna merah, lalu ku cium tanganku, sontak aku langsung melihat ke atas Dion.
__ADS_1
Dari langit langit kamar ini, seperti ada sesuatu yg merembes di atas. Padahal kost ini ada 2 lantai, dan lantai atas adalah kamar juga.
"Apaan tuh?"
Radit ikut menyentuh bahu Dion.
"Darah ini mah," kata Radit yakin.
"Hah?? Sumpah!!!" teriak Dion lalu minggir minggir menjauhi tempat dia duduk barusan.
Tetesan itu makin banyak, akhirnya kami tidak fokus lagi menonton tv.
Semua mendekat dan ikut memperhatikan tetesan air berwarna merah pekat itu.
Ini memang darah.
"Mulai lagi deh!" gumam Winan.
Duukk.. duukk. duukk..
Kali ini suara pukulan berasal dari lemari pakaian winan.
Semua menoleh ke lemari yg ada di dekat pintu toilet.
Lemari nampak bergetar seperti ada seseorang di dalam nya.
"Kok jadi horor gini sih?" seru danu.
"Kost elu angker,win?" tanya doni.
Winan nampak diam beberapa saat." yah-- gini deh. Kalian yg baru dateng aja udah dikasih sambutan. Apalagi gue, udah 3 bulan nih. Mau pindah kost, udah gue bayar setahun penuh,sayang bgt duitnya"
"Trus kamu gak takut, mas?" tanyaku
"Ya-- takut. Tapi mau gimana lagi. Kalo udah gini mending pakai headset terus tidur. Kalo parah banget ya, nginep kost temen deh."
Kriiiiieeet
Lemari terbuka perlahan, semua menatap ke lemari itu dengan muka tegang.
Keluarlah sesosok tangan hitam merangkak dari dalam lemari. Perlahan tapi pasti, tubuhnya pun makin terlihat jelas. Seluruh tubuhnya hitam legam. Rambutnya acak acakan. Matanya merah menyala.
Dia sepertinya seorang wanita, kulitnya melepuh seperti bekas terbakar.
Dia terus berjalan mengesot di lantai dan makin mendekat.
Dion lari ke pintu dan berusaha membuka nya. namun pintu terkunci. padahal jelas sekali tadi hanya ditutup saja oleh winan.
Winan memasukan kunci kamarnya dan ikut berusaha membuka, tapi tidak juga terbuka.
Sedangkan kami mundur mundur menjauhi makhluk itu yg makin lama makin mendekati kami.
Kak arden menggumam doa doa. Tapi dia tidak bereaksi sama sekali. Dia malah menyeringai dengan ekspresi mengerikan.
Bau anyir dan busuk mulai memenuhi ruangan ini. Kami lalu berlari mendekati winan dan Dion, dan berusaha untuk membuka pintu itu.
Brak brak brak..
"Bukaa!!" teriak kiki panik.
Semua akhirnya ikut menggedor gedor pintu, berharap ada orang di luar yg bisa membuka nya dan mengeluarkan kami dari sini.
Buuggg!
Doni terjatuh ke lantai seperti ditarik sesuatu, dia lalu terseret jauh menuju lemari pakaian itu.
"Aaaahhhhh...."
Doni terseret masuk ke dalam lemari pakaian itu.
Aku dan kak Arden saling pandang lalu mengangguk.
Kami berlari ke lemari itu diikuti Radit, Dedi, Danu dan kiki.
Pintu lemari juga terkunci.
"Don!!! Buka!! "
"Kamu gak papa, sayang??" tanya kiki panik.
Tidak ada sahutan dari dalam.
Kak arden berusaha menarik pintu itu kuat kuat. Namun tidak juga terbuka.
"Minggir!! Biar aku tendang aja!!" kata Radit .
Radit mengambil ancang ancang lalu menendang pintu itu keras keras.
Braaak!
Lemari berhasil terbuka. Tapi..
Mana Doni??
Dia tidak ada di dalam nya!
"Nah-- mana lagi ni anak?" seru danu.
Kiki menangis histeris,lalu memelukku.
"Udah,ki. Kita cari doni sampai ketemu," kataku.
Bau wangi melati tercium oleh hidungku, aku tau siapa yg datang.
Arkana!
Aku tengak tengok mencari keberadaan nya.
Dia ada di pojok ruangan lalu menunjuk ke atas.
Maksudnya apa?
"Kak!!!"
Kak Arden menoleh kepadaku lalu melihat ke Arkana.
Kleeek!
Pintu kamar berhasil terbuka.
"Yeeeeyy.. Kebuka bro.. Yuk keluar!!" ajak Dion semangat.
"Kak... Doni??"
Kak Arden terdiam," mas Winan,, kamar atas ada yg nempatin?" tanya kak Arden.
"Eum.. Setauku sih, gak ada. Kenapa?"
"Aku mau lihat"
Kak Arden berjalan keluar kami mengekor padanya terus hingga sampai kamar di atas kamar winan.
Ceklek
"Gak dikunci?"gumam Dedi.
Segera saja kami masuk ke dalam, kamarnya kosong, hanya ada ranjang dan lemari pakaian saja.
Saat masuk kamar ini, suasana nya agak lain. Hawanya panas dan aku agak pusing rasanya.
Dug..dug...dug..
Lemari berbunyi seperti milik winan tadi.
Kami masih saja terdiam.
"Tologgg!!!" teriak seseorang dari dalam lemari.
"Doni!!!" pekik kiki.
Kami akhirnya berlari ke lemari itu dan saat lemari terbuka, Doni sedang ada di dalam dengan posisi terikat sesuatu berwarna hitam.
Seperti belitan rambut yg sangat panjang, kami keluarkan Doni lebih dahulu.
"Gunting!!!" pinta kak Arden.
Kami mencari cari di dalam kamar ini, namun tidak ada yg bisa kami temukan. Winan berlari keluar dan tak lama kembali.
"Ngambil di kamar?" tanya kak arden.
"Enggak! Minjem tetangga"
Kak Arden berusaha menggunting belitan itu. Tapi seakan keras sekali.
"Kak.. Doa dulu"
Kak Arden mengangguk.
Sambil membaca doa, belitan itu dengan mudahnya terbuka.
"Elo kok bisa di sini sih, Don?" tanya winan.
"Mana gue tau! " gerutunya sebal.
"Ya udah, mending balik aja yuk. Capek nih." ajak Radit.
Suasana kost ini nampak sepi, entah kemana para penghuninya, kata winan ini memang sudah biasa, mereka kebanyakan ada di dalam kamar masing masing. Dan kejadian ini memang kerap terjadi di sini.
Menurut cerita dari mulut ke mulut, dulu pernah ada kebakaran di sini. Dan penghuni kost di kamar winan dan kamar atas winan menjadi korban atas kejadian itu. Walau sudah di adakan pengajian tetap saja ada gangguan seperti ini.
Akhirnya winan ikut pergi dan pulang ke rumah Doni.
\=\=\=\=\=\=\=
Pagi ini, adalah acara pelepasan siswa kls 3.
Acara diadakan di sekolah saja dengan mendirikan panggung di halaman depan sekolah dan kursi yg berjejer rapi di depan nya.
Seluruh orang tua siswa kelas 3 juga hadir pada acara kali ini.
Ini adalah acara terakhir kami di sekolah ini.
Setelah ini kami sudah selesai di SMU. Dan kami akan mendaftar di universitas pilihan kami.
Acara pun dimulai dengan berbagai sambutan dari kepala sekolah, dewan guru dan perwakilan dari kami ,siswa kelas 3. Ada juga acara hiburan, mulai dari band, seni tari modern maupun tradisional, teater juga ada.
Setelah itu kami berfoto foto.
Kami mengabadikan foto per kelas. Lalu tidak lupa juga, foto kami bersama. Pasti akan menjadi kenang kenangan indah suatu hari nanti.
Dan pasti kami akan merindukan saat saat kami di sini.
Kamera yg dipakai, kamera digital. Dan kami pun dapat langsung melihat hasilnya.
Beberapa ada yg heboh, saat melihat foto kelasku.
Di belakang sendiri, ada beberapa sosok aneh. yg ku tau mereka penghuni sekolah ini. Namun agak samar samar. Seperti blur saja.
Setan aja pengen eksis ya.
Beberapa kali diulang pun, hasilnya sama, padahal tempatnya kami ganti. Tapi tetap saja sama.
Selamat tinggal putih abu abu.
..."..bahkan saat dunia berputar dan berubah,kenangan yang tercetak pada lembaran foto itu tidak pernah berubah. Photographs last for a lifetime." ...
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=