
~Tidakkah menurutmu aneh bahwa ALLAH MENGUTUKKU KARENA MANDI DENGAN DARAH MUSUHNYA!? Gila bahwa Dia dapat melakukan hal seperti itu kepada salah satu malaikat-Nya, tetapi saya kemudian menyadari bahwa Dia telah membawa saya ke jalan yang lebih agung... jalan yang penuh rasa sakit dan kekerasan! ~
"Kakek buyut saya? Kok bisa? Darimana Kyai tahu?"
"Saya melihatnya melalui mata batin. Ada beberapa orang yang memiliki kemampuan melihat masa lalu, salah satunya adalah saya. Saat masuk ke desa ini, saya langsung melihat kehidupan yang pernah ada di sini beberapa tahun sebelumnya. Seperti Syarif. Dia juga memiliki kemampuan tersebut dan sedang saya didik untuk mendalaminya lebih baik lagi."
Syarif hanya mengangguk dengan kedua sudut bibir yang ditarik paksa ke samping. Hal itu bukan sebuah pujian baginya, melainkan beban yang sedang Syarif pikul. Bayangkan saja, apakah mental akan baik baik saja, jika setiap dia mendatangi suatu tempat, dia bisa melihat seluruh kejadian di tempat tersebut. Jika kejadian menyenangkan tentu tidak masalah, sayangnya yang ia lihat justru sebaliknya. Maka dari itu, dia jarang sekali mau mendatangi situs sejarah. Kemampuan ini disebut dengan Retrokognision. Biasanya orang yang disebut Indigo itu memiliki beberapa kemampuan khusus. Seperti bisa melihat masa lalu, bisa memprediksi masa depan, bisa melakukan telepati, atau melakukan astral projection. Jadi setiap manusia yang bisa melihat makhluk halus, itu tidak melulu disebut sebagai indigo. Karena indigo itu spesial. Biasanya mereka juga bisa dianggap sebagai pembawa pesan.
Retrokognision adalah kemampuan seseorang yang dapat melihat peristiwa-peristiwa di masa lampau dan biasanya seseorang yang memiliki kemampuan retrokognision ini memiliki tugas khusus yaitu meluruskan sejarah dunia.
"Jadi kakek buyut saya pernah ke desa ini, Kyai?"
"Iya. Pernah. Hal itu terjadi sudah sangat lama sekali, hampir 100 tahun yang lalu kurang lebihnya. Saat itu negara kita belum merdeka, karena saya melihat ada beberapa orang asing yang dekat sekali mondar-mandir di sekitar sini."
"Memangnya kakek buyut Saya sedang apa, Kyai. Padahal dari tempat ini ke tempat tinggal saya itu jaraknya cukup jauh."
"Dahulu kala orang-orang kerap pergi dari suatu tempat ke tempat lain. Bahkan dengan jarak ber kilo kilometer mereka tidak mempermasalahkan hal itu. Padahal zaman dulu belum ada kendaraan. Biasanya mereka memiliki misi khusus. Seperti yang dilakukan oleh leluhur Mas Armand."
"Misi khusus? Memangnya kakek buyut saya ngapain, Kyai?"
"Menyebarkan agama kali, Man," sahut Derry.
"Lo pikir wali songo!" hardik Armand.
"Ya bisa aja, kan, ya Kyai?"
Kyai Gofar tersenyum saat Derry mengatakan hal itu. "Kurang lebih nya tujuannya sama. Tapi, kakek buyut Mas Armand ini khususon membantu orang orang. Beliau memiliki kemampuan spiritual. Di mana kekuatan itu digunakan untuk membantu orang-orang yang terjerat masalah dengan makhluk-makhluk yang tidak tampak."
"Dukun maksud, Kyai?"
"Hahaha. Bukan seperti konsep dukun zaman sekarang, ya. Karena kalau kita menyebutnya dukun maka konotasinya akan negatif. Metode yang dipakai oleh kakek moyang Mas Arman lebih mendekatkan diri ke agama."
"Oh, semacam ruqyah begitu, ya, Kyai?" tanya Daniel.
"Yah, seperti itu. Kakek moyang Mas Arman sering datang ke desa desa yang memiliki hawa negatif. Karena sepertinya beliau ini bisa merasakannya. Sampai akhirnya tibalah di desa ini. Makhluk itu di kurung di dalam patung batu tersebut, tapi ternyata seiring berjalannya waktu, makhluk itu justru memanfaatkan hal tersebut dengan mengambil jiwa orang orang di sekitar. Sebagian dengan mengambil nyawa, sebagian hanya dari rasa takut yang ditularkan. Makhluk itu terus memakan jiwa yang membuatnya menjadi semakin kuat. Walau dia tidak bisa keluar dari patung itu, tapi sekarang dia bisa berjalan jalan ke sekitar. Tapi sayangnya makhluk itu tidak bisa keluar dari desa ini," jelas Kyai Gofar.
"Kenapa nggak bisa, Kyai?" tanya Cendol.
"Ada sesuatu yang mengelilingi tempat ini, yang membuat makhluk itu tidak bisa pergi," tutur Pandu.
"Itu benar. Saya rasa kakek moyang Mas Arman yang menyegel tempat ini. Hm, makhluk itu benar benar berbahaya. Kalau sampai dia keluar dari sini, akan menimbulkan banyak permasalahan," tambah Kyai Gofar.
"Oh, jadi alasan kami ada di sini, karena Armand? Iya, kan, Kyai?" tanya Derry yang mulai mengambil kesimpulan sendiri.
"Kurang lebihnya seperti itu. Dia ingin membalaskan dendam kepada kakek buyut Mas Armand, melalui cucunya."
"Duh, kita ke bawa bawa dong ini, ya," timpal Dolmen
__ADS_1
"Sst. Gitu amat lo! Nggak ada rasa kesetiakawanan," cetus Derry.
"Bercanda, Der. Enggak kok, Man. Nggak serius ngomongnya gue nih. Bercanda doang. Jangan diambil hati, ya. Toh, banyak hikmah yang bisa gue ambil dari kejadian ini."
"Apaan?"
"Kejadian ini bikin gue semakin percaya adanya makhluk halus, dan yang paling utama, kebersamaan kita. Mungkin kalau gue yang mengalami ini sendirian, gue nggak akan kuat deh. Untung ada kalian, " pungkas Dolmen.
"Lalu apa yang akan kita lakukan, Kyai. Untuk menyembunyikan atau menghancurkan patung itu apakah bisa dilakukan dengan mudah?" tanya Armand.
"Iya, Kyai. Apalagi itu patung batu, rasanya sulit. Kan karakternya keras. Saya yakin, kalau kita pukul pakai palu, nggak akan bisa hancur, Kyai."
"Pasti ada jalan. Lebih baik kita tunggu sampai besok pagi. Karena kekuatan nya akan melemah saat pagi datang. Sekarang kita istirahat dulu saja. Kalian pasti lelah, kan?" tanya Kyai.
"Iya, ngantuk nih."
"Capek banget rasanya badan."
Alhasil setelah diskusi panjang itu, mereka memutuskan istirahat. Tidur bersama sama di ruang tamu dengan kasur lantai. Bahkan Kyai juga tidur di sana bersama mereka. Beliau tidak mau diistimewakan. Hingga mereka semua pun tertidur lelap malam ini.
\*\*\*
Azan subuh berkumandang, tidak pernah terjadi sebelumnya, mereka sudah bangun dan kini siap untuk menjalankan salat subuh berjamaah. Kyai memimpin sebagai imam salat, lalu yang lain mengikuti di belakang. Sekalipun tidur semalam hanya tiga jam saja, tapi mereka bangun dalam kondisi segar. Tidak ada rasa kantuk sedikitpun.
Lantunan ayat suci Al-Quran terdengar di rumah itu. Bahkan mereka yang selama ini sangat jarang salat atau membaca alquran menjadi taat. Semua masih berdoa, dan berdzikir. Tidak ada kegelisahan dan rasa takut seperti sebelumnya. Terutama mereka yang kemaren baru saja mengalami kesurupan. Semua sudah kembali seperti sedia kala. Pagi itu bagai sebuah awal yang baru bagi mereka semua.
"Terima kasih, ya, Mbak."
"Sama sama, Kyai."
"Oh ya, kalian ada kegiatan apa hari ini. Kalau sibuk, pergi saja. Saya tidak apa apa di rumah. Lagipula ada Pandu dan Syarif."
"Iya, Kyai. Kami ada proker pagi. Tapi nanti, sekitar jam 9 mulai."
"Lakukan saja yang menjadi kebiasaan kalian. Toh, kalian juga harus menyelesaikan pekerjaan kalian secepatnya agar bisa segera kembali ke rumah."
"Iya, Kyai."
Setelah sarapan bersama sama, mereka pun kembali melanjutkan kegiatan masing masing. Proker mereka memang sudah tahap setengah jalan, dan harus segera diselesaikan. Sudah 1,5 bulan mereka di sana. Berharap kalau mereka bisa selesai tepat waktu agar bisa pergi dengan tenang.
Di rumah hanya ada Kyai, Pandu, dan Syarif. Daniel pergi ke rumah pak Kades pagi pagi sekali untuk melaporkan tamu yang baru semalam datang ke desa ini. Dia dan Armand juga akan memeriksa mobil pesantren yang katanya kempes di depan gapura desa. Sementara teman teman yang lain melanjutkan proker mereka.
"Man, menurut kamu apa yang harus kita lakukan untuk menghancurkan patung itu, ya?" tanya Daniel dalam perjalanan mereka ke rumah Pak Kades.
"Hem, awalnya gue berpikir untuk memukul patung itu pakai palu, atau apapun. Pasti perlahan baru batunya akan terkikis, tapi itu butuh waktu yang sangat lama. Takutnya ada warga yang melihat kita merusak patung itu, kan?"
"Iya, benar. Saya juga sempat berpikir demikian. Kyai bilang kita harus menghancurkan patung itu, tapi itu bukan hal mudah."
__ADS_1
"Gimana kalau kita ledakkan saja, Nil?"
"Bagaimana caranya?"
"Pakai bubuk mesiu. Gue tahu di mana bisa beli barang itu. Nanti Pak Muh suruh beli ke sana aja."
"Wah, tapi bukannya ada bahan lainnya untuk membuat bubuk ledakan seperti petasan? Memangnya kamu tahu apa saja yang kita butuhkan? Bukan cuma mesiu saja, kan?"
"Iya, sih. Huft, pusing banget!" erang Armand.
"Sabar, kita pasti akan menemukan jalan keluarnya, Man."
"Hm, iya, Nil. Tapi, ngomong omong, gue minta maaf ya. Ternyata semua kekacauan ini sumbernya dari gue," ucap Armand sambil menundukkan kepala.
"Hei, kenapa bilang begitu. Siapapun atau apapun yang menjadi pemicu makhluk itu mengincar kita, itu bukan hal yang harus disalahkan sekarang. Toh, kita adalah satu kelompok. Jadi susah senang kita akan jalani bersama. Iya, kan? Bener kata Derry, kalau seandainya saya atau yang lain, yang mendapat teror itu sendirian, dan harus mengalami sendiri, pasti kita tidak akan sanggup. Kita bisa bertahan sejauh ini karena saling membutuhkan satu sama lain, kan. Kita saling melengkapi selama ini. Jadi, jangan berpikir macam macam. Kami tidak akan pernah menyalahkan kamu, atau siapapun. Ini semua musibah," tukas Daniel sambil menepuk bahu Armand.
Mereka sampai di rumah Pak Kades. Kebetulan sekali Pak Kades akan berangkat ke balai desa. Seragam cokelatnya sungguh khas dengan pegawai kelurahan pada umumnya.
"Loh, kalian mau ketemu saya?" tanya kades.
"Assalamu'alaikum, Pak. Maaf ganggu, iya benar. Kami mau ketemu Bapak."
"Kenapa nggak ke balai desa saja? Kita ketemu di sana saja, ya. Soalnya saya ada rapat pagi pagi."
"Oh, maaf kalau mengganggu. Sebenarnya kami cuma mau melaporkan kalau ada tamu di rumah kami. Beliau menginap di sini sejak semalam, dan mungkin akan beberapa hari di sini."
"Tamu? Siapa? Teman kuliah kalian?" tanya Pak Kades heran. Dia yang hendak memakai sepatu lantas berhenti sejenak
"Bukan, Pak. Dia adalah guru saya di pesantren."
"Guru? Mau apa memangnya?" tanya Pak Kades menyelidik.
"Kyai berencana membantu kami untuk—."
Kalimat Daniel terhenti saat Armand yang berdiri di sampingnya mencubit pinggangnya.
"Begini, Pak Kades. Guru Daniel kebetulan sedang ada di sekitar sini, semalam mobil beliau kempes. Untung sopir saya masih ada di sini. Jadi kami menjemput mereka untuk singgah di rumah posko kami."
"Begitu? Hm, baiklah. Tapi kalian salah melapor. Seharusnya kalian melaporkan ke Pak Rt setempat. Jadi sebaiknya kalian ke rumah Pak Rt saja, ya. Ya sudah saya pergi dulu, maaf, saya buru buru sekali. jadi tidak bisa mengobrol lebih lama."
"Oh tidak apa apa, Pak. Kami yang kurang ajar sudah bertamu pagi pagi buta seperti sekarang."
"Tidak apa apa kok. Kalau tidak ada rapat pagi, saya tidak mempermasalahkan hal itu. Kalau gitu, saya pergi dulu, ya. Assalamu'alaikum!"
"Waalaikumsalam. Hati hati, Pak."
Mereka hanya melihat kepergian Pak Kades dengan mengendarai sepeda motor. Dua pemuda itu lantas pergi dari rumah Pak Kades, menuju rumah Pak Rt. Tentu saja, mereka tetap harus melaporkan tamu yang kini sedang ada di rumah posko.
__ADS_1
\*\*\*