Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
31. terjebak


__ADS_3

POV ARETHA


Kami semua berkumpul di ruangan yang pengap dan kotor penuh debu ini.


Semua diam sambil sibuk dengan pikiran masing masing.


"Gak ada yang bawa hp ya?" tanya Ari sambil menatap wajah kami satu persatu.


"Enggak! Tapi yg di rumah tau kan kalau kita ke sini. Pasti mereka tau di mana harus nyari kita kalo kita gak balik balik," ucap kak Arden.


"Ya kalau mereka dateng diwaktu yg tepat, Den. Kalau keburu kita di bakar hidup hidup di sini gimana?" tanya Dion malah bikin panik.


Plakk!!


Danu memukul lengan Dion karena kesal.


"Ngomongnya itu lho. Bikin semangat turun aja! Kita harus bisa keluar dari sini hidup hidup!" kata Danu dengan penuh keyakinan.


"Setuju tuh," sahut Radit.


"Dit, tendang aja tuh pintu. u kan kuat," saran Dedi.


"Heh! Elu nggak lihat? Itu pintu dilapisi apaan? Besi, Bro! Bisa remuk kaki gue!" terang Radit.


Ya memang pintunya dilapisi besi. Ini makin membuat kami pesimis.


"Semoga Om Wayan cepet balik ya." harapan kak Arden.


Yah, aku juga berharap demikian.


Rasanya hanya Om Wayan harapan terakhir kami agar keluar dari tempat ini.


"Eh, ngomong-ngomong itu anak kasian banget sih. Pakai diawetin gitu." Entah kenapa tiba tiba Ari malah membahas hal ini.


Otomatis kami langsung menoleh ke tempat di mana mayat anak itu terbaring.


"Jadi bener ya, perkiraan kita, kak. Anak itu nggak kebakar pas kejadian itu," ucapku mengambil kesimpulan.


"Iya, Tha. Mungkin dia terjebak di sini saat kebakaran itu," kata kak Arden.


"Bukan terjebak, dia dijebak di sini. Yang pasti orang tadi yg ngelakuin ini semua," potong Radit.


"Kenapa gitu ya? Kasihan banget deh," sahutku.


"Eh, Tha. Dit. Coba deh kalian pegang tu anak. Bakal ada kejadian kayak yg udah udah gak? Kali aja ada gambaran kejadian saat itu? May be?" kata Danu berspekulasi.


Yah, semua sudah tau aku dan Radit mempunyai keunikan yg sama.


Kami dapat melihat siluet sebuah kejadiaan dengan lebih jelas jika kami bersama.


Aku dan Radit saling pandang. Dia lalu mengangguk sekali, menandakan menyetujui ide Danu barusan.


Dia berjalan mendekati anak itu, aku pun mengikutinya.


Yg lain juga melakukan hal yg sama, kecuali Ari. Dia memutuskan untuk di luar saja. Sambil berjaga jaga katanya.


Mungkin dia juga takut satu ruangan dengan sebuah mayat.


Kami berdua mendekati mayat anak kecil yg sudah terbujur kaku ini. Tidak terlihat jika dia sudah lama meninggal, karena dia benar benar diawetkan dengan sempurna.


Benar benar gila yg melakukan hal ini. Apa kira-kira tujuannya?


Kasihan anak ini, dia terus terjebak di sini. Tidak bisa ke mana mana.


"Tha ...," panggil Radit sambil menatapku lekat lekat.


Aku mengangguk pelan padanya.


Kami lalu menyentuh anak ini, tangan kanan Radit mengulur padaku. Kami berpegangan sambil menyentuh anak ini bersama sama.


Sreeethh...


Benar saja, ada sebuah siluet kejadian masa lalu.


Seorang pria berbadan besar, masuk ke rumah ini diam diam saat anak ini sedang terlelap tidur.


Dia hendak menggotong anak ini, namun anak ini malah terbangun dan terkejut dengan kedatangan pria itu.


Saat anak ini hendak teriak mulutnya langsung dibekap kuat kuat.


Dia terus berontak melawan, tapi apalah daya, dia hanya seorang anak kecil yang tidak punya kekuatan untuk bisa melawan pria itu.


"Aarghh!!!" dilepaskannya tangan pria itu dari mulut si anak.


Ternyata dia menggigit nya dengan cukup kuat, hingga tangan itu sedikit mengeluarkan darah segar.

__ADS_1


Anak itu beringsut mundur ke pojok kamarnya sambil menangis, dia ketakutan, sangat ketakutan.


"Putu!! Kamu tidak bisa berbuat apa-apa.. Jadi terima saja apa yg akan ku lakukan. Kembali lah ke ayah!!" kata pria itu sambil berjalan mendekati Putu.


Senyumnya sungguh mengerikan, dia memiringkan kepalanya sambil menyeringai.


Tunggu!! Ayah? Apa maksudnya dia?Dia ayahnya? Ini benar benar gila!!


Putu terus menangis sambil menggeleng memohon dilepaskan.


"Jangan, Pak.. Kamu bukan ayahku. Lepaskan Putu," Pinta nya memelas.


"Kamu harus ikut denganku.. Kamu anakku!! "Bentaknya.


Aku benar benar tidak mengerti dengan apa yg terjadi.


Saat Putu hendak berlari kabur, pria itu langsung dengan mudah menangkapnya lalu membantingnya ke ranjang. Putu terus berontak sambil berteriak.


Diraihnya bantal yg paling dekat lalu ditutupnya wajah putu dengan bantal itu cukup lama.


Badan  Putu yang awalnya masih terus meronta, perlahan melemas, dan akhirnya tidak lagi bergerak.


Putu meninggal.


Sadar akan kesalahan yang dia perbuat, pria itu lalu membawa Putu keluar kamar dan langsung membawa nya ke ruangan ini. ternyata dia sudah menyiapkan rencana yg matang. Karena segala bahan dan peralatan sudah tersedia di sini.


Putu diawetkan dan ditinggalkan di sini begitu saja.


Pria ini juga yg membakar rumah Putu saat itu juga.


"Haahh!! Enggak. Aku udah gak sanggup lagi buat liat," kataku dengan melepaskan tangan Radit dan menjauh dari jenazah Putu.


Aku menangis, sesak sekali dadaku mengetahui yg dialami nya. Begitu tragis.


Sosok Putu berdiri di ambang pintu dan menatapku iba.


Namun tak lama dia tersenyum getir padaku.


"Kalian liat apa? Gimana??" tanya kak Arden penasaran.


Aku diam saja tidak menjawab, dan Radit lah yg menceritakan semua yg kami liat tadi tanpa satu kalimat pun yg salah.


Ini makin membuktikan bahwa aku dan Radit memang mempunyai kemampuan yg sama, dia ternyata unik.


Kak Arden lalu memelukku karena melihatku yg syok dan sosok Putu menghilang.


"Ck. Gimana nih, biar kita bisa keluar dari sini.. Pengen gua


Tonjok tu orang. Sumpah !!" kata Danu sambil mengatupkan rahangnya menahan amarah yg sudah memuncak.


"Gak ada jalan keluar lain apa ini?" tanya Dion.


"Iya, ventilasi kek. Atau apa gitu?" Dedi celingukan.


Kami akhirnya ikut mencari celah agar kami bisa keluar dari rumah ini.


"Heh!! Jendela, Bro...," tunjuk Ari dari luar ruangan ini.


Kami ikut keluar dan melihat ke arah yg ditunjuk Ari.


"Bener tuh. Pinter elu," kata Radit menepuk bahu Ari. Radit lalu mendekat dan mengamati jendela itu dengan kak Arden.


"Gimana?" tanya Dedi.


"..."


"Gimana nih? Bisa dibuka? Kita bisa keluar dong?" tanya Dedi semangat.


"Liat dong. Kecil gitu lubangnya. Nggak bakal muat lah," jelas kak Arden.


"Kecuali yg masuk ...," kata Radit lalu menoleh kepadaku diikuti yg lain.


Aku yg paham maksud mereka seketika menolaknya.


"What? Aku? Suruh masuk situ??" tanyaku dengan wajah bingung.


Mereka mengangguk.


"Enggak! Ogah! Pikirin cara lain deh mendingan!! Aku gak mau!"ucapku tegas.


"Kenapa sih, Tha??"tanya Danu bingung.


"Ya udah, Dek. Kalau kamu gak mau. Kita pikirin cara lain ya," kata kak Arden lembut.


"Tapi, Den... Ini jalan satu satunya. Nggak ada jln keluar lain, kecuali kita pasrah nunggu bantuan dateng yg entah kapan bakal ke sini dan belum tentu juga bisa nemuin ruangan ini.." tukas Dion.

__ADS_1


Kembali aku berfikir. Benar juga kata Dion. Tapi aku ini paling takut sama ruangan sempit. Seakan akan aku susah bernafas dan bakal bikin dadaku sesak jika terlalu lama di sana.


Radit mendekatiku.


"Jangan maksain, Tha. Kalau kamu gak bisa, nggak usah. Nanti kalau perlu aku bobol temboknya biar kita bisa keluar," hiburnya.


Aku masih terdiam. Aku benar benar bingung harus berbuat apa.


"Gaes...," panggil Ari sambil menarik narik ujung baju Radit sambil melihat ke arah tangga.


"Apaan sih ah.. Lepas, Ri!!" kata Radit kesal.


"Itu, Ditt... Setan!!" bisik Ari pada kami.


Otomatis kami melihat ke arah yg Ari tatap.


Deg!!


Siapa lagi itu?


Sosok wanita duduk di tangga itu dengan menatap kami datar. Tak hanya itu, di pojok ruangan ini juga ada pria besar dengan ukuran tubuh yg tinggi sekali hingga melebihi langit langit. Jadi hanya terlihat perut hingga kakinya.


Sreeakk.. sreaakkk..


Tak jauh dari tangga, ada seorang nenek yg berjalan dengan mengesot di lantai.


Entah kenapa tiba tiba para makhluk astral malah bermunculan.


"Duh, kok jadi banyak setan gini sih??" tanya  adanu.


"Kak.. Biar Retha masuk ke situ. Nanti Retha cari bantuan ya,"kataku yakin.


Aku harus melupakan sebentar rasa takutku dan harus kulakukan ide Radit tadi.


"Tha.. Kamu yakin??" tanya Radit sambil menahan tanganku, dia terus menatapku dalam.


Aku mengangguk yakin.


Akhirnya aku pun masuk ke lubang ventilasi itu, dengan bantuan kak Arden dan Radit.


Lubang ventilasi ini kecil sekali. Muat untukku, hanya saja ruang gerakku sangat terbatas.


Aku mulai merangkak ke dalam lorong ini, terus merangkak dengan menyeret tubuhku. sesekali aku berhenti untuk mengambil nafas, agak ngeri juga aku di dalam sini, berbekal senter di tanganku, terus kususuri hingga akhirnya aku melihat sebuah pintu kecil.


'Akhirnya," gumamku.


Kudorong kuat kuat pintu ini agar dapat terbuka dan aku bisa segera terbebas dari lorong menakutkan ini.


Braakkk!!


Kutendang kuat kuat pintu itu, dan berhasil terbuka sempurna.


Gelap!!


Yah, ini sudah larut malam.


Perlahan aku keluar dari lorong ini dan saat aku diluar, ternyata aku berada di halaman belakang rumah ini seperti nya karena ada gudang di ujung dan banyak pepohonan juga.


Kuatur nafasku yg tidak teratur karena ketegangan yg kurasakan saat ada di dalam sana.


Aku berjalan mengendap endap mencari jalan keluar. Ku edarkan pandangan ku ke segala arah, waspada terhadap pria tadi. Siapa tau dia ada disekitar sini.


Saat aku berjalan di samping dapur, aku melihat nya ada di sana, pria itu..


dia sedang mengasah golok yg cukup besar.


'Ya Allah... mau ngapain dia??!!'


Aku beringsut mundur dan bersembunyi agar tidak ketauan.


Nyesss!!


Kutengok ke sampingku,


Deggg!


Kututup mulutku yg hampir teriak karena kaget.


Sosok anak ini ada di samping ku dia terus menatapku tanpa ekspresi.


Aku bingung harus berbuat apa.


Bagai memakan buah simalakama.


Pranggg!!!

__ADS_1


Tanpa sengaja aku menyenggol botol di sampingku.


Mati aku!!


__ADS_2