Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
Part 10 Kedatangan Radit


__ADS_3

Gagang pintu coba kutekan. Rupanya masih terkunci. Aku pun juga mengintip ke jendela yang kordennya tidak tertutup sempurna. Memang suasana di dalam masih terasa sunyi. Itu berarti Bu Heni dan Pak Karjo belum pulang. Padahal sudah semalam ini. Mungkin mereka menginap, atau akan pulang tengah malam nanti. Aku segera mengambil kunci, lalu memasukkannya ke key hole. Membuka lebar pintu dan memberikan jalan untuk Danu agar segera masuk ke dalam membawa nenek. Hawa dingin di luar rumah memang makin membuat tubuh menggigil. Setelah mereka masuk, aku memperhatikan sekitar, memeriksa apakah ada seseorang atau sesuatu yang mencurigakan. Mungkin mengikuti kami atau sengaja bersembunyi di salah satu sudut gelap sana.


Setelah memastikan keadaan aman, aku segera menyusul mereka masuk dan mengunci pintu. Menarik korden agar tertutup sempurna.


Danu segera membawa Nenek ke kamarnya. Meletakkan tubuh ringkih nenek di atas kasur, dan menyelimutinya. "Nenek istirahat dulu, ya. Nanti saya sering - sering nengokin nenek. Siapa tau nenek butuh sesuatu," katanya lembut. Walau tidak mendapat respons apa pun, dia terus melebarkan senyum, seperti seorang ayah yang sedang mengantar putrinya untuk tidur.


Aku hanya memperhatikan mereka dari ujung pintu. Sedikit bangga dengan sikap Danu yang terlihat begitu perduli dengan nek Siti.


"Makan dulu nggak?" tanya Danu sambil menutup pintu kamar. Sejak tadi memang perut kami belum diisi makanan berat. Apalagi Danu yang telah memuntahkan seluruh isi perutnya tadi. Pasti dia lemas, dan butuh asupan energi agar tenaganya kembali.


"Makan apa, ya? Mau aku bikinin nasi goreng?" tanyaku.


"Hm, boleh, Tha. Apa aja deh, yang penting nggak ada belatungnya," gumamnya lalu duduk di salah satu kursi meja makan. Entah kenapa aku justru sedikit terkekeh mendengar kalimat itu.


Nasi goreng merupakan menu andalan di saat lapar melanda tengah malam. Atau jika malas meracik bumbu, aku justru memilih mie instan sebagai penggantinya. Terlebih jika udaranya dingin, maka mie rebus dengan sebuah telur akan menjadi makanan terlezat selain masakan bunda.


Dua piring nasi goreng tersaji. Nek Siti memang tidak makan malam, karena kata Bu Heni, nenek hanya makan 2x sehari saja. Semakin bertambah umur, semakin nafsu makan hilang. Apalagi dengan kondisi nenek yang seperti sekarang. Walau nenek masih bisa makan makanan keras seperti nasi, tapi tetap saja jatah makannya hanya sehari 2 kali saja.


Danu menyantap nasi goreng buatan ku dengan lahap. Hebatnya dia masih bernafsu makan setelah mengalami hal seperti tadi. Itu justru bagus untuknya.


Jam sudah menunjukkan hampir pukul 11 malam. Belum ada tanda - tanda Bu Heni dan Pak Karjo akan pulang. Mungkin memang benar kalau mereka akan menginap. Mengingat situasi di desa ini yang bagai desa tak berpenghuni saat gelap. Tidak mungkin mereka akan berkeliaran seperti kami tadi. Apalagi mereka juga salah satu warga yang patuh akan peraturan.


Nasi goreng sudah tandas. Danu juga bersendawa karena rasa kenyang. Sisa nasi goreng yang tinggal sedikit juga dia santap tanpa sisa. Danu memeriksa keadaan Nenek, memastikan jendela aman dan nenek baik - baik saja. Sementara aku kembali ke kamar yang berada di ruangan paling depan rumah ini. Otomatis berdekatan dengan ruang tamu.


Langkahku terhenti. Saat mulai mendengar suara anak ayam yang terasa samar. Hatiku mulai tidak karuan. Karena terakhir kali mendengar suara ini, justru itu bukan dari anak ayam. Melainkan dari sosok wanita yang biasa disebut kuntilanak, dan suara yang samar itu malah membuatku lebih waspada.


"Heh! Ngapain!" tandas Danu yang tiba - tiba muncul dari balik pintu. Aku mendengus sebal karena kemunculannya yang tiba - tiba seperti itu, dan benar - benar mengejutkanku.


Sebuah pukulan mendarat ke bahunya. Dia terkekeh karena berhasil membuatku terkejut.


"Habisnya, ngapain coba? Kirain udah masuk kamar."


"Sst! Dengerin deh!" pintaku lalu menutup mulutnya dengan telapak tangan kanan. Danu mulai menajamkan pendengarannya.


"Apaan? Anak ayam?" tanyanya setelah melepaskan tanganku dari mulutnya.


"Iya, denger, kan?"


"Ya denger lah. Terus anehnya di mana Aretha?! Timbang suara anak ayam aja, heboh!" Danu lantas berjalan mendahuluiku. Saat hendak masuk ke kamar, aku segera menarik tangannya. Mencegah dia masuk ke dalam sana.


"Tunggu ih! Temenin cek, Dan," rengekku.


"Ngapain sih? Udah tengah malem malah mau cek anak ayam. Biarin aja kenapa sih!" gerutunya berusaha melepaskan tanganku.


"Makanya itu! Kenapa ada anak ayam berkeliaran di luar tengah malam gini! Itu aneh, Danu!"


"Maksud lu? Itu setan?"


Aku mengangguk dengan menatapnya penuh harap. Aku belum bisa tenang jika belum tau di mana makhluk itu bersembunyi. Bagaimana aku bisa tidur nyenyak jika suara itu masih terdengar. Apalagi samar. Serasa jauh sekali, tapi justru biasanya mereka dekat.


Danu menarik nafas dalam - dalam lalu mengangguk pasrah. Aku yakin dia sudah lelah, tapi aku memaksanya untuk memeriksa kondisi di luar. Aku takut jika memang benar kuntilanak itu yang muncul, dia bisa masuk ke dalam dan akan melakukan teror lagi seperti ummu sibyan atau setan pria tadi.


Kami mengendap - endap menuju jendela ruang tamu. Mengintip dari korden. Memeriksa keadaan di luar yang sunyi, gelap, dan mencekam.


"Mana sih?" tanya Danu masih mencoba mencari di mana sosok itu bersembunyi.


Aku yang berdiri di belakangnya juga ikut mengintip. Dengan menjadikan tubuh Danu sebagai tameng di depan.


"Perhatiin yang bener, Dan. Jangan sampai kelewat!"


"Ini juga udah pelan - pelan, Aretha. Belum nampak! Atau bukan di sini?"


"Jadi di mana?"

__ADS_1


"Cek ke depan aja yuk!"


"Hah? Serius?" tanyaku.


"Iya!" Danu membuka pintu, dan aku tentu mengikutinya keluar. Dinginnya semilir angin membuat kami berusaha menutupi kulit dengan tangan. Merapatkan jaket yang dikenakan, agar tidak ada angin yang masuk. Berjalan ke sisi samping rumah, aku terus mengekor ke Danu. Langkah kami perlahan, mencari di mana posisi makhluk itu.


"Dan!" panggilku saat melihat ke ruang tamu di dalam. Korden yang terbuka sedikit di bagian tengah membuat aku dengan jelas dapat melihat keadaan di dalam. Apalagi lampu belum kami matikan. "Itu!" tunjuk ku dengan berbisik. Danu menoleh dan sama - sama terperanjat. 


Di sudut ruang tamu, ada sesosok wanita, berdiri dengan pakaian putih kusam. Sosok yang sama seperti yang kulihat kemarin di samping rumah, dekat jendela kamar.


"Kunti! Dan, gimana dong?!" tanyaku sedikit panik. Makhluk yang kupikir ada di luar nyatanya malah ada di dalam rumah. Keadaan berbalik. Kini kami bingung bagaimana cara menghadapinya.


"Kita harus usir dia, Tha!" tegas Danu.


"Gimana caranya?"


"Eum, bacain doa, kan? Biasanya gitu?"


"Terus masuk gitu? Tapi serem, Dan!"


"Terus maunya kita di sini terus? Udah malam, Aretha! Mending gue masuk ke dalem, pikirin gimana caranya usir tu setan!"


Danu lantas berjalan masuk kembali ke dalam rumah. Aku juga tetap mengekor padanya. Dengan langkah pelan, kami mendekat. Pintu sengaja kubiarkan terbuka. Berharap dia- makhluk itu- pergi dari rumah ini.


Danu terus menggumamkan doa - doa yang biasa kami lantunkan jika menghadapi keadaan ini. Sementara aku hanya berdiri diam di sudut ruangan. Sengaja tidak mau terlibat lebih dalam.


Danu berjalan terus, mendekat dan makin dekat dengannya. Wanita itu hanya berdiri diam. Mulutnya terkadang mengeluarkan bunyi anak ayam yang ramai. Dia menyeringai menatap kami bergantian. Aku bergidik ngeri melihatnya.


Wanita itu berjalan zig zag. Membuat kami terkejut. Danu mendadak diam, tidak lagi meneruskan lantunan doa yang sejak tadi dia ucapkan. Tubuhku menegang. Aku mulai cemas jika dia melakukan gerakan mendadak. Entah itu mendekat atau berbuat hal lebih buruk lagi.


Dia terus menyeringai, tatapannya tajam dan dalam terus masuk ke kedua bola mataku. Aku mulai mundur perlahan. Firasat ku mengatakan kalau dia akan mendekat dan melakukan hal buruk padaku. Apalagi saat pertemuan pertama kami, dia sudah mulai menunjukkan eksistensinya padaku. Seolah ingin menunjukkan kalau dia ada di sini.


Tiba - tiba dia berlari mengejar ku. Aku yang panik, lalu menjerit dan menutup wajahku. Sesuatu yang dingin seolah menabrak tubuhku dan menguat ke udara. Dia hilang. Danu mendekat memeriksa kondisiku.


"Nggak apa - apa, Dan."


Malam ini sungguh malam paling berkesan dalam hidupku sejak menginjakkan kaki di desa ini. Satu demi satu gangguan mulai muncul. Keanehan - keanehan juga tak henti - hentinya menyapaku. Seolah menuntut diakui eksistensinya.


____________


Aku mengerjapkan mata, saat mendengar suara seseorang yang terasa tidak asing buatku. Merasa belum saatnya untuk bangun, aku lantas menarik selimut lagi dan bermaksud kembali ke alam mimpi.


"Hm, Radit ... Kenapa sih aku mimpiin kamu. Kan aku jadi makin rindu," gumam ku. Suara Radit makin lama justru makin kencang. Tak hanya Radit saja yang ada di mimpiku, tapi Danu dan Pak Karjo?!


Sontak aku membuka mata lebar - lebar. Menajamkan pendengaran dan mulai menyadari kalau ternyata suara itu tidak berasal dari mimpi, tapi memang berada di ruang tamu.


Aku langsung duduk, meraih ponsel yang berada di meja dan memeriksa pukul berapa sekarang. Subuh.


"Aku mimpi pasti ini!" gumam ku sambil menepuk pipiku kanan dan kiri. Tapi rasanya sakit, itu artinya ini bukan mimpi, dan suara itu ... Memang benar Radit!


Aku segera melompat dari kasur, membuka pintu dan segera keluar dari kamar. Di sana, kursi kayu jati di depanku, tampak jelas wajah orang yang aku sayangi. Radit!


Ketiga pria yang sedang duduk di sana menoleh ke arahku. Radit langsung melebarkan senyumnya dan beranjak dari duduk. Perlahan aku berjalan mendekat ke arahnya, sejurus dengan itu, Radit juga berjalan mendekat padaku.


"Pagi sayang," sapa nya dengan wajah cerah dan berseri. Jika ini memang mimpi, aku harap aku tidak bangun dulu. Karena ini mimpi yang sangat indah.


Mataku memburam, kedua sudut bibirku tertarik ke samping. Saking malunya jika ketahuan menangis, aku menutup mulut dengan tawa bahagia.


Aku segera memeluknya. Radit juga membalas pelukanku. Rasanya seperti sudah sangat lama sekali, kami tidak bertemu. Melihatnya berada di sini, membuat semangatku bangkit lagi.


"Kok kamu udah di sini aja? Datang kapan?" tanyaku setelah melepaskan pelukan kami. Menatapnya lekat - lekat dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Belum lama datangnya. Baru sekitar ...." Dia menatap jam di pergelangan tangannya. "15 menit lalu. Perjalanan cukup jauh, ya. Tadi sempat salat dulu di mushola terdekat. Baru lanjut ke sini. Kamu baru bangun? Udah salat belum? Salat dulu gih," suruhnya, mengelus pucuk kepalaku lembut. .

__ADS_1


"Cie ... Yang lagi kangen - kangenan," sindir Danu.


"Apa sih! Sirik lu!" timpalku. "Ya udah, aku salat dulu, ya."


"Iya sayang."


_______


Meja makan kini jauh lebih lengkap rasanya. Tidak hanya ada Bu Heni dan Pak Karjo, dan Danu saja, tapi sekarang ada Radit juga.


Bu Heni sudah memasak banyak makanan untuk sarapan. Jujur, aku merasa tidak enak dengan keluarga ini. Selalu merepotkan mereka sejak kami berada di sini.


"Oh iya, Pak, mushola yang ada di ujung sana itu memang nggak pernah dipakai?" tanya Radit menunjuk ke arah depan.


Bu Heni dan Pak Karjo tampak diam beberapa saat. Kami bertiga akhirnya menatap mereka berdua bergantian, menunggu penjelasan yang akan mereka katakan.


"Mushola yang mana sih, Dit?" tanya Danu.


"Itu loh, Dan, yang ada di ujung desa. Pas mau masuk ke desa ini. Pas banget di samping gerbang desa. Justru aku awalnya bingung arah jalan ke sini, pas lihat jam, eh udah subuh aja. Terus ada mushola itu. Kotor banget. Papan namanya bahkan udah jatuh dan retak. Nah, pas selesai salat, rupanya gerbang desa di depan mata. Astaga, benar benar nggak sadar kalau udah dekat."


"Oh mushola itu. Iya memang sudah lama tidak dipakai, Mas. Karena cukup jauh dari desa. Dulu mushola itu dibangun sama kepala desa sebelumnya."


"Eh tapi, mushola di sini nggak ada lagi, ya, Pak? Sepertinya saya belum pernah lihat ada mushola di sini," cetus Danu.


"Eum, iya, Mas. Nggak ada lagi. Satu - satunya mushola ya di sana itu. Tapi sekarang warga memilih salat di rumah masing - masing."


" eh, Dit, kamu nginap?" tanyaku yang baru sadar kalau dia membawa koper kecil tadi.


"Iya, Tha. Udah izin sama Pak Karjo dan Bu Heni. Katanya boleh. Paling nanti tidur di kamar Danu nih."


"Baguslah, ada elu sekarang," desah Danu sambil melanjutkan sarapannya.


"Memangnya kenapa?" Radit menjadi penasaran melihat sikap Danu yang memang mencurigakan. Aku lantas menendang kaki Danu yang berdekatan duduknya denganku. Dia menatapku, dan aku mengisyaratkannya untuk diam.


"Oh iya, Bu Heni sama Pak Karjo pulang kapan?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Oh iya, kami pulang subuh tadi, mba. Hampir bersamaan dengan Mas Radit tadi. Malah kami ketemu sama Mas Radit tadi di dekat madrasah," jelas Bu Heni.


"Oh gitu. Maaf, Bu. Nenek kemarin terluka lehernya. Obatnya harus dihabiskan, sama perbannya harus sering diganti," jelas ku.


"Iya, Mas Danu sudah cerita tadi. Terima kasih banyak sudah menolong nek Siti."


_______


"Jadi kamu mau berapa hari di sini, Dit? Kerjaan kamu gimana?" tanyaku saat kami duduk di teras. Menikmati secangkir teh hangat sebelum aku mulai mengajar anak - anak.


"Hm, mungkin 2-3 hari, sayang. Aku udah mengajukan cuti kok. Kemarin kerjaan udah aku selesaikan, jadi seminggu ini aku bisa santai. Aku kangen kamu. Sekalian anter barang - barang kamu yang tertinggal."


"Iya, makasih, ya. Aku seneng kamu datang ke sini."


"Beneran? Seneng? Kangen juga, ya?" tanya nya terus mencandaiku.


"Iya, kangen." Aku meraih teh hangat di meja. Menikmati pagi dengan hangatnya teh dan nyamannya tatapan mata Radit yang sudah beberapa hari ini tidak kulihat.


"Oh iya, sayang. Bapak yang ada di sebelah, sangar juga, ya. Aku sapa eh dia diem aja, malah kayak sebel liat aku. Kirain karena tadi pagi mobilku berisik."


"Tunggu, siapa? Bapak di sebelah yang mana?" tanyaku berharap pria yang dimaksud Radit bukan orang yang ku maksud.


"Itu loh, Tha, bapak yang di sebelah rumah. Rumah sebelah itu," tunjuk Radit ke rumah kosong yang selalu menjadi kiblat para makhluk astral di desa ini.


"Kamu yakin?"


"Ya yakin. Memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Rumah itu kosong, Dit. Ngga ada yang tinggal di sana. Jadi siapa yang kamu maksud?"


"Yang bener? Ah, masa sih?" Radit beranjak dan berjalan ke arah samping rumah.


__ADS_2