
Hari ini kami berangkat dari rumah indra.
Setelah sarapan segera kami berangkat karena jarak nya lebih jauh.
"Nih, Buat kamu." tiba tiba indra memberiku sekotak coklat
"Eh... Masih ada kejutan, ya, "kataku senang.
Kubuka kotak coklat itu lalu ku makan satu bola coklat.
Ku suapi indra juga. ada perasaan nyaman, saat aku menyuapi indra seperti ini.
Sampai di kantorku. kulihat dani dan dimas berangkat bersama.
"Ya udh, aku berangkat ya. Makasih buat kejutannya semalem."ucapku.
Cup
Kucium pipi kiri indra.
"Lagi dong.." gurau nya sambil menyodorkan pipi satunya kepadaku.
"Udah ah.. Malu banyak yg liat.."kataku menghindar.nsambil membuka pintu mobil di sampingku. indra menahan tanganku lalu gantian mengecup keningku.
"Hati hati ya sayang. Kalau ada apa apakabarin aku.."katanya sebelum aku keluar dari mobilnya.
Aku mengangguk sambil senyum.
Aku lantas menjerit ke dimas& dani yg akan masuk ke lobi.
Mereka menoleh padaku.
"Pagi nis. Girang bener.."ucap dimas.
"Ciee. dapet coklat nih..pantes seneng bgt" celetuk dani.
"Eh, bagi dong.." pinta dimas.
"Nih, satu aja tapi. Jangan banyak banyak.."kataku.
Mereka mengambil masing masing satu.
Kami berjalan beriringan masuk ke lift.
Di kantor sudah ada mia, yuli dan fitra.
Kami lalu mulai bekerja.
Saat sibuk mengerjakan beberapa pekerjaan. tiba tiba aku mual.
Kenapa ya?
Jangan jangan aku masuk angin, pikirku.
Aku berlari ke toilet yg tak jauh dari divisi kami.
"Nis, kenapa??" teriak mia.
Aku muntah muntah di wastafel. ingin muntah tapi tidak ada yg keluar.
Duh, kenapa lagi nih..
Setelah mual ku sedikit hilang, aku kembali ke ruangan. Dengan langkah gontai, sambil memegangi kepala dan perutku.
Saat duduk di kursi ku..
Yuli menatapku heran.
"Kenapa nis?" tanyanya.
"Gak tau. masuk angin kali ya. pengen muntah, tapi gak ada yg keluar." kataku lemas.
"Nis..." pekik mia sambil berjalan mendekat.
"Apaan??!" aku jengkel.
Lagi gak karuan gini malah dia ngajak becanda.
"Jangan jangan...."katanya terputus sambil menatapku dengan melebarkan bola matanya.
"Jangan jangan apa??"aku penasaran.
"Kamu..."katanya lagi.
Yg lain malah menoleh ke arahku dgn pandangan sama seperti mia.
"Hamiiiilll"teriak semua orang bersamaan lalu menatapku senang.
'Yeeeaaaayyyy' kata mereka sambil lompat lompat senang.
"Eh... eh.. Belum tentu juga kali" aku tidak yakin.
"Ih kamu nih, yakin..pasti!!"kata yuli semangat.
"Yuk, kita beli testpack.."ajak fitra.
Semua menatap fitra aneh.
Dia senyum.
"Saking seneng nya guyss, bakal dapet keponakan," katanya pelan sambil senyum senyum garing.
"Tar aja lah, pulang kerja.."kataku.
Heran, aku yg hamil mereka yg heboh.
Eh, ya kalau hamil sih.
Dari pagi hingga siang aku selalu minum teh hangat yg dibawa pak Dikin.
Saat makan siang, teman teman memperlakukanku istimewa.
Menyiapkan tempat duduk untukku, mengelap kan meja untukku, memesankan makanan.
Mereka ini terlalu lebay deh.hehehe.
Tiba lah saat pulang kantor.
Indra sudah datang awal. aku sedikit berlari kecil ke arahnya.
"Hai sayang."sapanya.
Lalu kupeluk dia.
Tiba tiba perasaanku menjadi was was. Jantungku berdegup lebih kencang, badanku gemetaran dan mengeluarkan keringat dingin.
Aku beneran sakit apa ya ini?pikirku.
"Kamu kenapa?"tanya indra heran melihat perubahan wajahku.
"Eum.. Nggak enak badan nih ndra.. yuk pulang aja," ajakku.
Dia menatapku heran lalu mengajakku naik mobil.
Kami lalu pulang, indra sedikit mempercepat laju kendaraan nya.
Agar sampai rumah lebih cepat.
Dadaku makin sesak.entah kenapa.
Tiba tiba..
'brruuggghh!!'
Mobil kami ditabrak dari belakang oleh bus pariwisata. Mobil kami oleng.
"Aaaahhhhh "teriakku. Indra berusaha mengendalikan setir tapi seperti nya sulit. kami menabrak pembatas jalan.
Pandangan mataku memburam, lalu semua gelap.
\=\=\=\=\=\=\=
Aku mencium bau obat obatan yg khas. kubuka mataku perlahan.
Suasana berbeda,tidak seperti di kamar ku.
Jangan jangan aku di RS lagi nih.
Saat ku buka mata lebar,ternyata dugaan ku benar. aku ada di RS.
__ADS_1
Kakiku sakit sekali, bahkan seluruh tubuhku.
Apa yg terjadi padaku? aku berusaha mengingatnya, tapi semua blank.
"Nis, kamu udah sadar?alhamdulillah.."kata seorang pria yg terlihat asing bagiku.
Aku masih diam mengamati kondisi di sekitarku.
"Aku di RS lagi?"tanyaku.
"Iya nis, kamu koma selama 3 hari," katanya lagi.
"Kak Adam mana? papah?kak Yusuf?"tanyaku.
"Tadi mereka pulang dulu, tapi sebentar lagi ke sini kok. Sabar ya," katanya sok akrab.
Aku hanya heran melihat tingkahnya.
Tak lama papah datang bersama kak Adam.
"Udah sadar Nisa nya, Ndra?alhamdulilla," kata kak adam senang.
Pria itu tersenyum dan mengangguk.
"Nisa kok di sini lagi sih kak.."tanyaku bingung.
"Iya, kamu kecelakaan kemarin dek.. Oh iya, ndra, udah panggil dokter belum??" tanya kak adam.
"Tadi Indra udah bilang kak, bentar lagi ke sini."
"Kak ... dia siapa?" tanyaku sambil menunjuk pria yg sedari tadi ada di ruanganku.
Mereka semua diam, seolah tak percaya kata kataku.
Bahkan pria yg kak adam panggil indra, mundur selangkah ke belakang dengan wajah yg pucat.
Tak lama dia maju lagi lebih dekat denganku.
"Nis, kamu lagi becanda kan?? Gak lucu deh nis ..ayo dong, berenti candain aku.."katanya sambil meraih tanganku tersenyum getir.
Ku hempaskan tangannya.
"Apaan sih? kamu siapa ?pegang pegang aku..
Papah, kakak.. dia siapa??" tanyaku sambil berusaha duduk.
Kulihat dia meneteskan air mata, entah kenapa hatiku ikut sakit melihat nya menangis.
Tapi aku benar benar tidak tau siapa dia.
"Nis, kamu gak kenal indra??serius??" tanya kak adam.
Aku mengangguk yakin.
Indra menutup mulutnya dengan tangan kanannya sambil terus mundur teratur. Dia terlihat frustasi sekali. Lalu terduduk di pojok kamar sambil menutup wajahnya dgn kedua kakinya. dia menangis. kak adam mendekatinya sambil berusaha menenangkan nya.
Papah keluar kamar berteriak memanggil dokter.
Tak lama dokter datang kemudian mengecek kondisiku.
"Kami harus periksa lebih rinci lagi pak. Kemungkinan bu nisa terkena Amnesia Anterograde. Jadi ini kondisi di mana bu nisa mengalami gangguan daya ingat akan peristiwa masa lalu masih menempel begitu lekat pada memori nya. Hanya saja, ia hanya bisa mengingat yang sudah lalu sedangkan kejadian yang baru-baru saja terjadi malah sama sekali tak dapat diingat."kata dokter.
"Ya Allah.. Jadi dia tidak mengingat saya karena saya ada di masa sekarang dok?" indra berdiri, mendekat masih dengan mata berkaca kaca.
"Sepertinya begitu pak indra, nanti akan saya cek lagi untuk lebih jelasnya.."kata dokter itu.
Tak lama kak shinta dan kak yusuf datang bersama beberapa orang.
"Nis, kamu kenal mereka gak?"tanya kak adam.
Mereka yg baru datang bingung mendengar pertanyaan kak adam.
Aku diam beberapa saat.
"Kak shinta sama kak yusuf aja yg aku kenal. yg lain siapa?"tanyaku lagi.
Kak yusuf mengerutkan keningnya, lalu menatap indra bingung.
Semua menangis melihatku.
"Ada apa sih ini?? jelasin kak"paksaku. Kak Adam mendekat ke Kak Yusuf sambil berbisik.
Kak yusuf yg sudah paham kondisi ku maju mendekat.
Aku mengangguk.
"Tapi siapa dia?"tanyaku lagi.
Kak yusuf berkaca kaca,bibirnya bergetar menahan air matanya.
"Dia, indra.. Suami kamu."kata kak yusuf.
"Hah?? suami? kapan aku nikah? kan aku masih kuliah??"kataku bingung.
"Dokter.. "Papah meminta penjelasan dokter lagi.
"Sepertinya betul dugaan saya, bu nisa mengalami amnesia Anterograde." dokter makin yakin dengan penuturannya.
"Terus gimana caranya sembuh dok? dia bisa mengingat semua lagi kan??" tanya kak adam.
"Insha Allah.. Pasrahkan saja sama Allah.. Dan coba untuk menumbuhkan kenangan kenangan yg hilang, agar bu nisa dapat mengingatnya kembali."
"Makasih dok.."kata papah.
"Dok, nisa boleh pulang ya.."kataku sambil tengak tengok. Aku sudah merasa ketakutan karena beberapa sosok astral mulai mendekat.
"Aaahhhh... kak... Itu.."teriakku sambil menunjuk ke pintu kamar ruanganku. kulihat ada sosok pocong berdiri ,kapas di matanya sudah copot, tapi kapas di hidungnya masih ada.
Aku meronta hingga infusku lepas dan mengeluarkan banyak darah.
Indra dengan sigap mendekat lalu memelukku erat.
"Udah, gak papa..ada aku di sini. kamu jangan takut ya.. Tenang nis.."bisiknya di telingaku.
"Aku mau pulang.. gak mau di sini.." rengekku.
"Iya, kita pulang ya.."katanya lagi.
Rasanya nyaman berada di pelukannya.
Beberapa perawat masuk untuk mengobati luka robek karena infus ku yg lepas. Setelah diobati dan di plester. akhirnya aku dibolehkan pulang,tapi setiap seminggu sekali aku harus cek up untuk mengetahui perkembangan ku.
Kak shinta bersama 2 orang wanita itu membantu ku berkemas.
Aku menatap mereka,sambil berusaha mengingat.tapi aku benar2 lupa.
Kak shinta melihatku sedang memandangi 2 orang di sampingnya mendekat,
"Nis, kenalin, ini kak rahma, istri kak yusuf.. Sebelahnya, bu marisa dia istri papah sekarang.."kata kak shinta.
Aku hanya diam, mencoba mencerna yg terjadi padaku. mungkin aku benar benar lupa ingatan. mereka berdua memelukku iba.
Indra masuk, lalu mengangguk ke kak shinta. sementara kak adam, kak yusuf dan papah nampak berdiskusi serius sambil duduk di sofa.
"Kursi rodanya mana ndra?"tanya kak shinta.
"Gak perlu. biar indra bopong aja."katanya sambil menatapku dalam.
Aku menurut saja diperlakukan seperti itu olehnya.
Kami lalu keluar kamar dan menuju ke parkiran.
Keadaan hening saat indra membopongku ke parkiran.
"Kamu gak capek? jauh lho "kataku mencoba membuka obrolan. wajahku dan wajahnya kali ini sangat dekat.
"Enggak. aku selalu bopong kamu gini, tiap kamu masuk RS nis. Nggak capek sama sekali" katanya sambil senyum lalu menatapku dalam.
Seerrrr
Hatiku berdesir melihatnya. Mungkin memang benar dia suamiku,mana mungkin papah & kakakku bohong. Tapi aku belum bisa menerimanya.
Sampai di sebuah mobil, indra membukakan pintu penumpang untunku, lalu mendudukanku di kursi dengan hati hati.
Yg lain naik mobil papah & kak yusuf.
Lalu indra memutari mobil dan masuk ke kursi pengemudi.
"Siap pulang?" tanyanya sambil senyum.
__ADS_1
Aku mengangguk.
\=\=\=\=\=\=
Pov indra
Bagaikan tersambat petir di siang bolong. saat mengetahui nisa tidak mengingatku. dia mengalami amnesia. Rasanya hatiku hancur.
Tapi, aku tidak akan menyerah. aku akan terus mencintainya seperti biasanya. Aku akan ingatkan lagi memori antara kami berdua.
Seperti saat aku hilang ingatan dulu, aku yakin kalau nisa juga akan mengingatku suatu hari nanti. jika dia tidak mengingatku, aku akan membuatnya jatuh cinta lagi padaku sama seperti dulu saat pertama kami bertemu.
Dia juga mengalami keguguran.
Aku tidak menyangka nisa hamil. sepertinya nisa juga tidak mengetahui kehamilannya sendiri, dokter bilang usia kandungannya baru menginjak 3 minggu. usia yg masih rentan.
Dan karena kecelakaan itu, aku kehilangan anakku, buah cintaku dengan nisa.
Sampai di rumah, kubopong lagi nisa. karena kaki nya masih sakit. Ada retak sedikit tapi kata dokter akan cepat membaik.kaki nya masih memakai gips. sehingga ruang geraknya terbatas.
Sedangkan aku hanya mengalami luka luka kecil saja.
Sampai kamar ku baringkan nisa di ranjang lalu ku selimuti kakinya.
"Mau minum? atau makan sesuatu?" tanyaku lembut.
"susu dingin.." pintanya.sambil terus menatapku .
"Oke..bentar ya.."
Aku menuju dapur untuk mengambilkan susu dingin untuknya.
Mamah,papah,kak adam ,kak yusuf kak shinta dan kak rahma yg berdiri di luar kamar menatapku iba.
"Sabar ndra.."kata kak adam menepuk bahuku
"Iya kak.."sahutku.
Lalu aku kembali ke kamar dengan susu dingin pesanan nisa.
"Nih... diminum ya. pelan pelan aja..sayang.."ucapku.
Dia diam sejenak.
"Maaf, boleh gak kamu jangan panggil aku kaya tadi. aku risih.."pintanya.
Ada rasa getir di dadaku mendengar penolakan dari nisa.
"Iya, aku ngerti, maaf nis."ucapku sambil menunduk.
"Maaf ya, aku bener bener gak inget kamu. kalaupun bener kita udah nikah. mungkin pelan pelan aku bakal inget lagi. jadi selama aku belum inget apa apa..bisa kan kita ..eum.. Gak seperti suami istri pada umumnya."kalimatnya membuatku mengernyitkan kening.
"Maksud kamu?"
"Eum.. aku.. aku masih bingung..jadi....."
kuletakan jari telunjukku di depan mulut nisa.
"Ssstt... Iya, aku ngerti. Aku gak akan panggil kamu sayang lagi. Tapi tolong ijinkan 1hal aja. please..."pintaku.
"Apa?"
"Biarkan aku selalu ada di samping mu ya. aku akan membuat kamu mengingat semua nya. aku pasti bisa nis."pintaku.
"Eum.. tapi kalo aku gak bisa inget lagi gmn?''
Aku diam sejenak menatap lekat lekat matanya.
"Gak masalah.. Aku akan membuat memori baru di pikiran kamu..yg jelas, kita udah menikah. apapun yg terjadi aku akan selalu ada di samping kamu.."ucapku.
Dia mengulum bibirnya. seperti berfikir sejenak.
"Ya udah ,boleh.. "Akhirnya dia menyetujuinya.
"Satu lagi,," ucapku saat dia meminum susu di tangannya.
"Apa lagi??" tanyanya.
"Jangan pernah menolak semua perhatian dariku.."
Dia tertegun, lalu meminum habis susu dingin kesukaan nya.
Dan diakhiri dengan anggukan, walau terlihat agak ragu.
Setelah susu habis, dia kembali berbaring.
Aku beranjak ke sofa dekat ranjang yg bersebelahan dengan nisa tidur.
Kuambil bantal sebelumnya. dan sepertinya mulai malam ini sofa adalah ranjang baru untukku.
Lampu kumatikan. keadaan kamar yg temaran tak mampu membuatku terlelap.
Berkali kali kubetulkan posisi tidurku.
Tapi selalu saja tidak nyaman. rasanya jika memeluk nisa, pasti aku langsung tertidur seperti biasanya.
"Indraaaa.."panggilnya.
Mataku yg tadi kupaksakan terpejam mendadak kubuka lebar lebar.
"Iya nis, kenapa?"tanyaku.
"Udah ngantuk belum?"
Pertanyaannya cukup menggelitik. Sepertinya dia juga sama, tidam bisa cepat tidur, sama seperti ku.
Padahal kami ini termasuk pasangan yg mudah sekali terpejam jika malam sudah larut.
"Belum. gak bisa tidur..kamu?" tanyaku balik.
"Sama.. Kita ngobrol aja yuk..aku masih penasaran sama semua hal yg aku lupain.."ucapnya.
Dengan semangat yg berkobar kobar,aku bangun lalu duduk di sofa.
Dia menyalakan lampu yg ada di sampingnya.
Aku masih duduk di sofa.
"Kamu mau nanya apa?" tanyaku lembut.
"Eum.. Eh, kamu pindah sini deh.biar enak ngobrolnya. masa jauh jauhan gini" pintanya sambil menepuk ranjang sampingnya.
Aku tersenyum senang, setidaknya ini awal yg baik untukku dan nisa.
Segera aku beranjak membawa bantalku menuju samping nisa.
"Okee... Kamu mau nanya apa?" tanyaku sambil membetulkan posisi dudukku menghadapnya.
"Eum...kita nikah berapa lama?"
Aku tersenyum.
"Belum lama nis, baru beberapa bulan"
Dia diam beberapa saat.
"Kita kenal di mana?"
Lalu kuceritakan awal mula kami bertemu, lalu menjadi akrab dan sampai menikah.
Dia mendengarkan dengan seksama setiap detil perkataanku.
"Jadi, kalau aku sentuh kamu,'mereka' hilang?" tanyanya seolah tidak percaya.
"Ya seperti itulah.. "Kataku santai ,sambil kubaringkan tubuhku yg memang sudah penat di samping nisa.
Dia masih mengajukan pertanyaan pertanyaan yg sangat mendetail kepadaku.
Ku jawab sesuai dengan kenyataan yg ada.
Sampai pukul 00.00 dini hari, kulihat nisa mulai menguap. mungkin pengaruh obat sudah mulai dirasakannya kini.
"Udh malem nis, tidur lah.. kamu masih butuh banyak istirahat. bsk kita lanjutin lagi ngobrolnya."kataku.
"Iyaa..aku udah ngantuk bgt nih.." katanya lalu membetulkan posisi tidurnya.
Kuselimuti nisa, lalu ku kecup keningnya.
Awalnya dia agak risih, namun dia kulihat tidak melakukan penolakan lagi. mungkin dia ingat permintaan ku tadi, untuk tidak menolak semua bentuk perhatian dariku.
__ADS_1
Aku kembali ke sofa. karena sepertinya nisa belum bisa tidur seranjang denganku. aku pun maklum.
Good night honey..