Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
31. Terungkapnya misteri kematian


__ADS_3

Hendra akhirnya tidur di ruang tengah. Dia tidak mau tidur di kamar mana pun di rumah tersebut. Pilihannya untuk tidur di rumah Radit ternyata bukan pilihan terbaik. Hanya saja dia sendiri juga tidak tahu harus pergi ke mana malam ini. Uangnya pas pasan jika harus menyewa hotel walau sekelas hotel melati.


"Udah? Gue tinggal tidur nggak apa apa kan?" tanya Radit setelah memberikan bantal serta selimut untuk Hendra.


"Iya, Dit. Makasih. Gue udah minum obat tidur inih. Sekarang udah mulai ngantuk juga kok," kata Hendra yang beberapa kali menguap.


"Ya udah. Semoga mimpi indah, Hen. Anggap aja rumah sendiri kalau lo haus atau lapar. Di meja makan masih ada makanan tuh," kata Radit sambil menunjuk ke ruang makan yang memang terlihat dari sofa.


"Enggak enggak. Gue udah kenyang. Udah minum juga barusan. Gue harap sih nanti nggak perlu kebangun lagi. Tidur sampai pagi, cukup," sahut Hendra.


Radit hanya terkekeh mendengar sikap Hendra yang sedikit lucu saat ketakutan. Tapi dia tentu memaklumi nya, karena Radit sendiri merasa tidak nyaman tinggal di rumah tersebut. Padahal dia setiap malam berada di sana, dan akan ada gangguan walau hanya suara langkah kaki, atau berlari saat dia tidur. Hanya saja Radit tidak menghiraukan nya. Apalagi ada Aretha, yang justru sering menantang makhluk makhluk di rumah itu.


Sebelum kembali ke kamar, Radit sempatkan menepuk bahu Hendra sebagai salam perpisahan. Dia pun segera menyusul Aretha ke kamar. Sementara Hendra mulai memejamkan mata, dan menyambut mimpi indahnya. Tidak butuh waktu lama, hanya dalam beberapa detik saja Hendra segera terlelap. Rupanya efek obat tidur yang ia minum bereaksi cukup cepat dari harapan nya.


"Hem, Hendra kelihatan nya ketakutan banget, Sayang. Tapi dia kayaknya udah ngantuk juga tuh, katanya habis minum obat tidur." Radit segera memeluk Aretha dari belakang yang sedang tidur miring. Namun setelah menunggu reaksi Aretha, Radit akhirnya mengetahui kalau istrinya justru sudah terlelap. "Tumben. Langsung tidur. Capek banget, ya, sayang?" Tidak mau mengganggu istrinya, Radit hanya merapikan selimut dan memastikan kalau Aretha tidur dengan nyaman malam ini. Dia pun segera menyusul Aretha sambil memeluk wanita itu erat erat.


***


"Hahahaha. Pak Slamet, kucingnya lari ke depan! Tolong tangkap!" Suara tawa riang seorang gadis kecil terdengar menggema di seluruh rumah.


Aretha terbangun dari tidur. Dia kebingungan sambil menepuk ke samping. "Dit! Radit! Kamu denger itu? Itu Keisha, kan?" tanya Aretha.


Namun begitu dia menoleh ke samping, rupanya tidak ada siapa pun di sana. Aretha bingung, lalu dia memanggil manggil nama Radit. Ia pun putuskan untuk keluar dari kamar dan mencari Radit.


"Jangan jangan dia udah berangkat ke kantor!" gumam Aretha lalu meraih jubah tidur dan segera memakai nya. Pakaian tidurnya bukan pakaian seksi. Dia hanya mengenakan celana pendek selutut dan kaus pendek saja, dan itu adalah pakaian tidur Aretha selama ini. Tidak perduli dia ada di tempat dingin atau panas. Asal ada selimut tebal, cukup untuk menutupi tubuh nya dari udara dingin. Bagi Aretha penampilan seperti itu tidak akan dia tunjukkan ke orang lain selain suaminya.


Begitu dia membuka pintu, Aretha terkejut saat melihat Hendra masih tidur di sofa. Alhasil dia pun membangunkan Hendra dengan menepuk pipinya.


"Hen? Hendra! Hen! Radit mana? Udah berangkat kerja? Kok lo masih di sini sih? Hen? Hendra! Bangun ih! Lo tidur apa mati sih? Hendra! Banguuun!" jerit Aretha dan berhasil membuat Hendra bergerak.


"Apa sih, Tha? Gue masih ngantuk!" ucap Hendra tanpa membuka matanya.


"Ih, jam berapa ini! Lihat tuh! Lo nggak kerja emangnya?" tanya Aretha sambil menunjuk jam dinding di atas TV.


"Astaga! Kesiangan gue? Lah, Radit mana? Kenapa gue nggak dibangunin sih?" tanya Hendra.


"Nah, itu. Gue juga nggak tahu. Pas bangun tadi Radit udah nggak ada di kamar! Ini gue mau cek ke depan, lihat mobilnya ada apa nggak," kata Aretha.


"Ya udah, lo cek dulu. Gue cuci muka deh. Aneh bener si Radit. Masa dia pergi nggak bilang bilang dan nggak ajak ajak gue!"


Tapi saat Areta keluar rumah tiba-tiba dia dikejutkan oleh seorang gadis kecil yang berlari dari pintu depan menuju ke ruang tengah membawa seekor kucing. Tidak hanya itu saja di belakangnya ada Pak Slamet yang ikut masuk sambil membawa sebuah kandang kucing.


Areta membeku dia memperhatikan dua orang yang baru saja masuk ke dalam rumah dengan tatapan bingung. "Pak? Pak Slamet bukannya saya bilang kalau hari ini libur, ya?" tanya Aretha.


Tapi anehnya Pak Slamet justru seperti tidak mendengar suara Aretha. Dia terus berjalan masuk ke dalam mengikuti gadis kecil yang tadi membawa seekor kucing naik ke lantai 2. Areta menoleh ke arah Hendra yang juga sama-sama kebingungan seperti dirinya.


"Itu anak kecil siapa, Tha?" tanya Hendra menunjuk ke atas.


"Keisha!" ucap Aretha yakin.


"Keisha? Keisha siapa?"


"Gue sama Radit memangnya belum pernah cerita sama lo tentang Keisha?" tanya Aretha.


"Enggak. Siapa sih? Terus itu tukang kebun lo juga sombong amat? Ditanya bukannya jawab, malah ngeloyor pergi gitu aja. Kalau gue jadi lo, udah gue pecat deh dia!"


Aretha diam, karena perkataan Hendra ada benarnya juga. Bukan karena ia menyetujui saran Hendra untuk memecat Pak Slamet, tapi Aretha heran dengan sikap Pak Slamet yang aneh.


"Tunggu! Lo lihat Keisha juga tadi, kan?"


"Iya. Kenapa? Eh, siapa si Keisha itu sih? Cerita!"


"Kok aneh," ucap Aretha.


"Apanya yang aneh?"


"Keisha itu udah meninggal, Hen. Jadi kok lo bisa lihat dia."


"Heh! Jangan main main lo! Bercandanya nggak lucu tahu, Tha!" omel Hendra.


"Enggak bercanda. Gue serius. Jadi Keisha itu anak pemilik rumah ini yang meninggal karena jatuh dari balkon, dan dia dikuburkan di halaman belakang rumah. Dia itu yang sering muncul gangguin gue sama Radit di rumah ini. Tapi... Lo sama Pak Slamet kenapa bisa lihat dia?"


"Eh, eh. Bohong lo. Nggak mungkin kayak gitu konsepnya. Secara logika, itu anak masih sehat wal afiat, Tha. Jalannya napak tanah, mukanya seger aja, nggak pucet kayak setan yang biasanya muncul. Terus itu dia tadi lagi interaksi sama tukang kebun lo, kan? Jadi nggak mungkin dia udah meninggal!"


Aretha sadar, ada yang tidak beres yang terjadi. Dia pun lantas menyusul Pak Slamet dan Keisha yang tadi berlari ke lantai dua. Tempat yang ia tuju tentu saja kamar utama. Melihat Aretha pergi, Hendra pun menyusulnya, karena dia juga penasaran dengan apa yang terjadi.


Saat pintu kamar utama di buka, Aretha tidak mendapati Keisha dan Pak Slamet di dalam. Tapi yang mengejutkan adalah perabotan di kamar itu berbeda. Beberapa barang tampak asing bagi Aretha. Karena dia sudah hafal tiap sudut rumah dan terutama kamar ini. Apalagi ditambah dengan sebuah foto keluarga yang ada di salah satu tembok di kamar. Aretha masuk ke dalam diikuti Hendra. Mereka memperhatikan foto tersebut. Ada sebuah keluarga. Sepasang orang tua, dan 3 orang anaknya. Salah satu anak tersebut sangat familiar bagi Aretha. Dia adalah Keisha.


"Ini anak yang tadi, kan?" tanya Hendra menunjuk sosok gadis kecil di tengah foto yang tengah berdiri di antara kedua orang tuanya. Sementara kedua kakaknya berada di belakang Pak Ibrahim dan istrinya.


"Iya, itu Keisha. Kenapa foto ini ada di sini? Perasaan nggak ada kemarin. Pak Slamet juga nggak ke rumah sejak aku bilang waku itu, dan aku yakin foto ini juga nggak ada!" kata Aretha berbicara sendiri.


"Kenapa sih, Tha? Cerita ke gue. Ini kenapa? Jangan bikin gue bingung!"


"Gue juga bingung, Hen! Cuma... Rasanya ini bukan seperti nyata," kata Aretha sambil memperhatikan sekitarnya.


"Bukan seperti nyata? Maksud lo apaan? Ini halusinasi? Kalau iya, lo nggak nyata dong? Gue? Gue apa?" tanya Hendra kebingungan.


"Bentar gue tanya, kejadian terakhir kali yang lo ingat apa?"

__ADS_1


"Terakhir kali? Hem, perasaan kejadian terakhir kali yang gue inget itu ya gue tidur di sofa bawah. Radit kasih selimut, terus dia balik kamar, dan gue tidur!" jelas Hendra.


"Ya sama kalau gitu. Gue juga tidur waktu itu, dan bangun di sini. Atau jangan jangan...." Aretha bergegas keluar kamar. Tidak perduli Hendra terus memanggil namanya.


Dia pergi ke kamar Keisha dan begitu pintu kamar itu dibuka, Keisha dan Pak Slamet ada di dalam sedang bermain main dengan kucing tadi.


"Tha? Kenapa? Apa maksud lo tadi?" tanya Hendra terus menerus.


Sementara Aretha diam saja dan malah masuk ke dalam, berdiri di hadapan Pak Slamet yang saat itu sedang memperhatikan Keisha bermain main bersama kucing peliharaannya.


"Pak? Pak Slamet, lihat aku nggak? Pak? Pak Slamet?" panggil Aretha terus menerus sambil melambaikan tangan di depan wajah Pak Slamet.


Hanya saja Pak Slamet diam saja, seakan akan dia tidak melihat Aretha berdiri di hadapannya. Aretha lantas beralih ke Keisha. Dia melakukan hal yang sama seperti apa yang dia lakukan pada Pak Slamet, dan hasilnya pun sama.


Aretha lantas beranjak, dia mundur mundur sambil tetap memperhatikan Keisha dan Pak Slamet di hadapannya.


"Tha? Kenapa?"


"Hen, sepertinya... Kita lagi mimpi," ucap Aretha.


"Hah? Mimpi? Kita berdua? Masa kita berdua mimpi hal yang sama?" tanya Hendra.


"Gue nggak tahu, apakah lo ini memang Hendra yang sama atau Hendra bayangan yang ikut hadir di mimpi gue. Tapi kita lagi mimpi! Ini nggak nyata! Atau ... Bukan bukan! Bukan mimpi? Tapi residual energi!" pekik Aretha.


"Residual energi? Apaan tuh?"


"Residual energi adalah proses alam merekam peristiwa yang begitu kuat nilai traumatiknya, seperti kecelakaan atau peristiwa lainnya. Dan tempat ini memiliki residual energi yang kuat juga. Hal tersebut akan tetap tertinggal di sini nyaris selamanya. Proses residual energi itulah yang kemudian bisa tervisualisasi menjadi penampakan-pemanpakan di lokasi kejadian suatu peristiwa. Kadang itu juga bisa berbentuk arwah atau semacamnya yang melakukan kebiasaan seperti semasa dia hidup dulu. Residual energy sebenarnya memiliki bentuknya tersendiri. Tapi pada hakikatnya tetap arwah atau roh manusia yang sudah meninggal hanya 40 hari akan berada disekitar keluarganya, setelah itu dia akan masuk ke alam baka dan menunggu hari Akhir tiba. Jadi yang selama ini kita kenal dengan sosok "hantu" hanyalah residual atau gambaran dari masa lalu yang didukung oleh beberapa hal, seperti energi yang berasal dari makhluk astral yang lebih besar (jin dan setan), maupun energi yang mereka serap yang berasal dari kekuatan imajinasi dan rasa takut manusia," jelas Aretha panjang lebar.


"Jadi... Kita lagi ada di residual energi rumah ini beberapa tahun yang lalu, sebelum Keisha meninggal?" tanya Hendra.


"Iya, bener banget."


"Tapi kok bisa? Maksudnya kok gue bisa ikutan masuk ke sini, nggak lo aja gitu sama Radit. Ah, pantes aja Radit nggak ada! Dia nggak ikut kita masuk sini ya?"


"Hem, yah seperti nya begitu. Tapi poinnya satu, kita bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi."


"Memangnya kenapa? Apa yang terjadi?"


Hendra memang belum pernah mendengar kisah mengenai tragedi di rumah itu. Radit selama ini bahkan jarang sekali menceritakan kengerian rumah yang ia tinggali. Jadi maklum saja kalau Hendra jadi lebih banyak bertanya.


"Udah, lo lihat aja. Jangan banyak tanya dulu!"


Benar saja, saat mereka mulai fokus memperhatikan, tiba tiba kejadian yang ada di depan mata berubah lagi. Pak Slamet tidak ada di kamar itu lagi, hanya ada Keisha saja sedang bermain boneka. Tiba tiba Keisha mendengar sesuatu dan langsung menoleh ke arah pintu. Dia diam sejenak sampai akhirnya memutuskan berdiri dan keluar dari kamarnya. Dengan mengendap endap, Keisha berjalan keluar dan mencari sumber suara tadi. Aretha dan Hendra pun mendengar suara berisik tersebut. Rupanya saat melintas di depan kamar utama, ada seseorang di dalam. Keisha lantas bersembunyi sambil tetap mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit.


Aretha dan Hendra rupanya juga ikut mengintip seperti Keisha, dan di dalam kamar itu mereka melihat seseorang yang sangat familiar selama ini. Dia adalah Bu Jum. Reaksi mereka bertiga tampak sama. Menutup mulut karena terkejut melihat apa yang Bu Jum lakukan. Bu Jum tampak sedang membuka lemari pakaian dan mengambil beberapa lembar uang di dalamnya.


"Hei, gadis kecil! Sedang apa kamu?" tanya seorang pria yang ternyata memergoki Keisha.


"Enggak. Enggak kok," kata Keisha lalu berlari kembali ke kamarnya.


Aretha dan Hendra hanya berdiri diam sambil terus memperhatikan. Pria tadi lantas masuk ke dalam kamar Pak Ibrahim dan bertemu Bu Jum.


"Kamu ketahuan anak kecil itu," kata pria tersebut.


"Siapa? Keisha?" tanya Bu Jum sambil memamerkan kalung berlian yang sedang ia pakai. Tentu saja itu bukan miliknya. Melainkan milik Ibu Keisha.


"Iyalah, siapa lagi. Lagian kamu kok nggak hati hati sih? Nanti kalau ketahuan gimana?"


"Nggak usah khawatir. Anak itu nggak akan pernah ngadu ke orang tuanya kok. Aku sudah pernah ancam dia. Dia itu takut sama aku," ucap Bu Jum bangga dengan kelakuannya.


"Hem, ya sudah. Tapi kalau dia berulah, kamu bilang saja. Biar aku yang bereskan!" kata pria itu lalu mendekat ke Bu Jum.


Aretha melotot saat melihat adegan tak senonoh yang terjadi di depan matanya. Bu Jum dan pria itu berciuman mesra. Bahkan tangan pria itu meraba raba tubuh Bu Jum yang saat itu masih sah menjadi istri Pak Slamet. Hari ini, Aretha mendapatkan tiga kejutan yang di luar logikanya.


Tiba tiba suasana di tempat itu kembali berubah. Kejadian lain mulai terjadi dan itu adalah bayangan saat Aretha melihat siluet kematian Keisha waktu itu. Hanya saja kali ini bayangan itu jelas terlihat. Sosok pria yang ternyata selingkuhan Bu Jum mendekati Keisha yang sedang bermain di kamar orang tuanya. Pria itu melakukan hal itu lagi. Membunuh Keisha dengan menyuntikkan racun yang sebelum itu dia membuat Keisha tak sadarkan diri lebih dulu. Ia lalu melemparkan tubuh Keisha dari balkon. Kejadiannya sama persis seperti apa yang ia lihat sebelumnya.


Mereka berdua kembali mengalami perubahan situasi. Kali ini mereka tidak lagi berada di kamar, melainkan dapur. Di sana Bu Jum tampak sedang bertengkar dengan seorang gadis. Aretha langsung dapat mengenali gadis tersebut hanya dari pakaian yang ia kenakan.


"Siapa lagi ini?" tanya Hendra.


"Kinanti. Anak Bu Jum dan Pak Slamet."


"Wah, pemain baru lagi. Jangan bilang dia juga udah mati!"


"Yah, memang seperti itu sih."


"What the .... " Hendra menjambak rambutnya sendiri begitu mengetahui ada banyak orang mati di rumah tersebut.


"Ibu harusnya sadar, kalau perbuatan itu itu salah! Tobat, Bu! Tobat! Kinan malu sama Ibu! Kinan malu punya Ibu kaya Ibu!"


"Heh! Jangan sembarangan kamu ya kalau bicara! Kamu itu nggak akan ada di dunia ini, kalau bukan karena ibu! Lagi pula ibu melakukan ini juga demi kebaikan kamu dan adik kamu juga keluarga kita! Kamu tahu sendiri kan gaji bapakmu itu nggak cukup untuk menghidupi keluarga kita!" teriak Bu Jum.


" tapi bukan dengan mencuri Bu. Apalagi keluarga Pak Ibrahim sudah sangat baik kepada kita. Kenapa Ibu justru mencurangi mereka dengan melakukan perbuatan buruk seperti ini!"


" Sudahlah, kamu sebaiknya diam saja, nggak perlu ikut campur urusan orang tua. Lagi pula resikonya akan Ibu tanggung sendiri!"


"Sayang, aku lapar. Kamu masak apa?" tanya kekasih Bu Jum yang tiba-tiba masuk begitu saja ke dalam dan duduk di salah satu kursi meja makan.


"Tumben kamu baru datang, aku sudah rindu sekali!" kata Bu Jum lalu memeluk pria itu tanpa malu malu di hadapan anaknya sendiri.

__ADS_1


"Ibu? Apa apaan ini?" tanya Kinanti sambil menaikkan nada bicaranya.


"Kenapa kamu di sini, Kinan?"


"Pak Purno? Apa yang Bapak lakukan sama ibu saya? Astaga! Jadi kalian selama ini berselingkuh di belakang bapak? Apa Bapak sudah tahu semua ini?"


" Ya jelas nggak tahu lah. kalau tahu ya mungkin mereka sudah pisah," ucap Pak Purno santai sambil mencomot buah apel di meja.


"Ibu! Tega-teganya ibu melakukan perbuatan sekeji ini. Kinanti Nggak sangka selain pencuri, Ibu juga seorang pelacur!" cemooh anak sulung Bu Jum itu.


" jaga mulut kamu!"


Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Kinanti. Kinanti memang tidak membalas perbuatan ibunya. Tetapi dia terus menatap Bu Jum dengan tatapan benci.


"Lihat saja! Kinanti bakalan Bilang sama Bapak tentang semua perempuan itu! Kinanti juga bakalan bilang sama Pak Ibrahim kalau selama ini Ibu sering mencuri uang di rumah ini!"


Setelah mengatakan hal itu Kinanti lantas segera pergi dari rumah tersebut. Melihat kalau situasi sudah tidak bisa dikendalikan lagi, Bu Jum dan Pak Purno Lantas sepakat untuk membungkam Kinanti.


"Tutup mulutnya agar dia nggak cerita ke mana mana!" perintah Bu Jum.


"Serahkan padaku!"


Pak Purno mengikuti Kinanti. Pria paruh baya itu mengendarai motornya lalu setelah situasi aman, dia lantas menabrak Kinanti begitu saja tepat di depan jalan rumah Pak Ibrahim. Gadis itu terguling-guling masuk ke dalam kebun teh di depan rumah. Pak purno memperhatikan Kinanti yang tidak sadarkan diri. Setelah memeriksa sekitar dia lantas menyembunyikan tubuh Kinanti dengan menggali lubang di tengah kebun teh tersebut. Parahnya lagi Kinanti sebenarnya saat itu masih hidup, dan dia justru dikubur hidup-hidup oleh Pak Purno. Berkali-kali Areta menutup mulut sambil geleng-geleng kepala melihat Apa yang terjadi. Bahkan Hendra pun mengutuk perbuatan Bu Jum dan Pak Purno yang kelewat batas.


Setelah menyingkirkan Kinanti, Pak Purno kembali ke rumah untuk melaporkan hal itu ke kekasihnya.


"Sudah beres," katanya sambil memeluk Bu Jum yang berada di dapur.


"Baguslah. Apa yang kamu katakan ke anak itu? Anak bau kencur memang nggak tahu apa apa!" kata Bu Jum mengejek.


"Aku menabrak nya dan mengubur dia di kebun teh depan rumah."


"Apa?!" jerit Bu Jum.


Dia menoleh ke Pak Purno dengan tatapan tidak percaya. "Katakan sekali lagi, apa yang kamu lakukan ke anakku?"


"Aku menabrak nya dan menguburkan dia di depan."


"Kamu gila, ya! Nanti kalau orang curiga bagaimana! Bodoh sekali kamu itu!" Bu Jum memaki Pak Purno sambil terus memukuli dada pria itu.


"Hei, kita bisa bikin rencana, kalau dia kabur. Jadi nggak akan ada yang curiga kalau dia mati!" kata Pak Purno sambil memegangi tangan Bu Jum.


Mereka berdua lantas membuat sebuah skenario dengan cara mengambil seluruh pakaian Kinanti dan membawanya pergi jauh-jauh dari desa tersebut. Bu Jum Lantas menceritakan hal itu kepada suaminya. Kalau dia baru saja bertengkar dengan Kinanti dan Putri mereka meninggalkan rumah Karena tidak tahan hidup dalam garis kemiskinan bersama dengan keluarganya.


Semua orang percaya hal tersebut. Setelah kematian Kinanti dan Keisha gerak gerik Bu Jum dan Pak Purno menjadi semakin mudah. Mereka makin gencar mencuri harta Pak Ibrahim, dan bermesraan di rumah itu saat pemilik rumah tidak ada di sana. Kebetulan keluarga Pak Ibrahim memang jarang ada di rumah karena kesibukan masing masing. Kakak Keisha semua sudah kuliah dan tidak tinggal di rumah itu. Sementara Pak Ibrahim dan istrinya sibuk bekerja. Hingga suatu ketika Pak Purno dan Bu Jum terlibat pertengkaran hebat.


"Kau itu pembunuh! Jadi sebaiknya jangan berpikir untuk melakukan hal lain selain apa yang aku perintahkan!" ancam Bu Jum.


"Dan kau dalang dibalik semua kematian mereka! Jika aku buka mulut pasti kau juga akan mendekam dalam penjara!"


Pak purno lantas berjalan meninggalkan rumah tersebut setelah bertengkar dengan Bu Jum. Hanya saja Bu Jum tampaknya tidak puas dengan perkelahian tersebut. Dia Lantas membuka laci yang ada di meja kamar pembantu, lalu mengambil dua cairan yang bertuliskan sodium petothal dan succinylcholine. Dia memasukkan kedua cairan itu ke dalam suntikan. Ujung lantas mengejar Pak porno sambil membawa suntikan tersebut.


Pak purno yang berjalan ke arah belakang rumah tidak menyadari keberadaan Bu Jum. Lalu suntikan tersebut mendarat tepat di leher Pak Purna. Dalam beberapa detik saja Ia pun mati lemas karena kelumpuhan otot pernafasan yang disebabkan oleh suntikan itu.


"Mati kau!" umpat Bu Jum.


Untuk menyembunyikan mayat Pak purno Bu Jum lantas menggali sebuah makam yang berada tepat di samping makam Keisha. Dia lantas menguburkan mayat Pak Purno di sana seorang diri.


"Aretha! Aretha!" Kereta mendengar suara seseorang yang sedang memanggil namanya. Dia tahu benar kalau suara itu berasal dari Radit, suaminya.


Areta lantas kembali masuk ke dalam rumah diikuti dengan Hendra. Suara Radit yang makin lama makin jelas membuat area yakin galau suara tersebut tidak berasal dari luar dunia rasional energi ini. Dan benar saja tiba-tiba Radit terlihat berlari dengan tergopoh gopoh Masuk dari pintu depan.


"Radit!" jerit Aretha lalu berlari memeluk suaminya.


"Aretha!"


Keduanya berpelukan. Tetapi lain halnya dengan Hendra yang terus-menerus menatap pasangan tersebut.


"Ini siapa yang halu?" tanya Hendra.


"Oh ya, Kenapa kamu bisa ada di sini, Sayang?" tanya Aretha.


" Aku juga nggak tahu, tiba-tiba aku ada di kebun teh depan rumah. Aku melihat Mas Ratno. Tapi waktu aku panggil dan aku ajak bicara dia cuma diam saja. Yang bikin aneh lagi Mas Ratno terlihat menggali sesuatu di kebun depan. Pas aku perhatikan ternyata itu adalah mayat!"


"Mas Ratno? Dia ambil mayat Kinanti?" tanya Aretha heran.


"Kinanti? Kinanti anaknya Pak Slamet? Tunggu, sebenarnya ini apa sih?"


Belum sempat pertanyaan itu terjawab tiba-tiba mereka semua tersentak kaget seperti kondisi di mana mereka tenggelam di dalam air. Mereka bertiga terbangun bersama-sama, di tempat tidur dan sofa masing-masing. Jam baru saja menunjuk ke angka 6.


"Radit?" panggil Aretha.


Radit pun langsung duduk dan menatap Areta hingga akhirnya keduanya berpelukan. "Tadi itu kamu, kan? Di mimpi itu?" tanya Aretha.


"Iya, mimpi kita sama? Yang Mas Ratno gali kuburan itu, kan?" tanya Radit.


"Iya!" sahut Aretha sambil mengangguk semangat.


" kalau gitu Hendra juga mengalami hal yang sama dong!"

__ADS_1


"Bener juga!"


Areta dan Radit lantas bergegas keluar dari kamar untuk menemui Hendra yang masih terbaring di sofa ruang tengah.


__ADS_2