Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
Part 13 Nek Siti ternyata ....


__ADS_3

Saat dia membuka mata ... dia menjerit. "Ya Allah!"


"SSTT!" Semua orang mendesis, mengarahkan peringatan ini kepada Danu. Menyuruhnya diam, agar tidak menimbulkan gaduh.


Keadaan hening. Semua diam dengan waspada. Melihat sekeliling dengan kondisi rumah yang memprihatinkan.


"Sebaiknya kalian berkemas, kita pergi sekarang juga!" kata Radit mengomando. Satu persatu mengangguk dan setuju. Memang rasanya tidak ingin berlama - lama di sini. Kami harus segera pergi sekarang. Aku segera berkemas, dibantu Kiki. Sementara Danu dibantu Dedi, Radit juga sudah membawa beberapa barang ke mobil.


Sebisa mungkin mengurangi gaduh dan berisik. Kak Arden juga membantu Radit. Untung barang yang kubawa kemarin tidak begitu banyak. Bahkan barang yang dibawa Radit belum sempat aku bongkar.


Semua barang sudah masuk ke mobil. Kami juga mulai keluar dari rumah dan menyusul Radit dan Doni yang sudah siap di belakang kemudi masing - masing.


Aku dan Kiki akhirnya keluar rumah, setelah berganti pakaian, aku menyusul mereka. Saat akan masuk ke dalam mobil, tanganku ditarik oleh seseorang dengan kasar. Aku menoleh dan mendapati seorang wanita dengan penampilan yang kacau. Pakaiannya modern, tapi terlihat kotor dan kusut. Wajahnya seperti dipenuhi jelaga. Tidak hanya wajah, tapi juga sekujur tubuhnya. Aku menatapnya lekat - lekat dan berusaha mengenali apakah wanita di depanku sekarang manusia atau makhluk astral.


"Kalian tidak akan bisa keluar dari tempat ini!" katanya dengan sorot mata tajam. Teman - teman lantas turun dari mobil dan mendekat padaku.


"Apa maksudmu? Siapa kamu?!" tanyaku lantang. Kak Arden yang berada di samping ku, berbisik." Dia manusia, Dek!"


Aku pun merasakan hal yang sama. Dia manusia, walau penampilannya berantakan. Karena dia mirip gembel yang biasa ada di pinggir jalan besar.


"Aku cuma memperingatkan kalian semua, siapa pun yang sudah masuk ke desa ini dan menginap, tidak akan bisa pergi!" katanya benar - benar membuat kami terhenyak.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Radit.


"Ya karena kalian ada di desa terkutuk! Kalian pikir, saya sudah berapa lama di sini?" tanyanya dan membuat kami tentu bingung. Bahkan kami tidak tau siapa dia, dan apa alasan dia ada di sini. Otomatis kami menggeleng.


"Kami bahkan tidak tau kamu siapa!" tukas Danu sedikit kesal.


"Aku sudah satu tahun di sini. Dulu awalnya aku seperti kalian. Aku tersesat dan ada di desa ini tanpa sengaja. Yah, makhluk - makhluk yang mendiami desa ini sangat pintar. Mereka membuat apa yang aku lihat nyata, aku bekerja sebagai bidan desa."


"Tunggu! Kamu Bu Lulu?" tanyaku yang teringat cerita dari Pak Karjo tempo hari.


"Iya. Awalnya semua berjalan baik - baik saja, tapi lama kelamaan aku mulai merasakan keanehan di desa ini. Sampai akhirnya aku menyadari kalau mereka semua bukan manusia! Aku kabur, tapi tidak pernah bisa keluar dari tempat terkutuk ini." Dia mulai menangis, putus asa sekali.


"Masa sih? Jalan keluar nggak ditutup loh, itu di sana!" tunjuk Doni ke arah datangnya kami tadi.


"Percayalah! Sekali pun kalian pergi, maka kalian akan kembali ke sini. "


'Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Aku tidak tau. Selama ini aku berusaha sembunyi, agar mereka tidak menemukanku. Makin lama, mereka akan membuat kalian menjadi salah satu bagian dari mereka. Apalagi kalau kalian makan makanan dari mereka. Kalian akan terjebak lebih lama."


"Jadi selama ini kamu di mana?"

__ADS_1


"Berpindah - pindah. Aku lebih sering menjauh dari pemukiman. Kalau siang hari, maka mereka akan kembali menjadi manusia seperti yang kalian lihat selama ini. Tapi jika malam hari seluruh tempat ini akan berubah menjadi wujud aslinya, dan warga akan bersembunyi di rumah masing - masing, karena saat malam tiba tiba waktunya penguasa tempat ini yang beraksi. Walau bukan dia yang akan muncul, tapi para pengikutnya akan berjaga di semua penjuru desa."


"Penguasa?"


"Yah, setan paling jahat yang memiliki aura hitam pekat. Dia yang membuat semua warga desa seperti ini. Saranku, kalian bersikaplah wajar. Karena kalau sampai mereka tau, bahwa kalian sudah mengetahui tentang tempat ini, maka nyawa kalian akan terancam. Terpaksa kalian harus menjadi buronan sepertiku!"


"Apa tidak ada cara lain?"


"Entah lah."


"Hei, tapi sebagian besar dari kami belum pernah menginap, kan? Pasti mereka bisa pergi dari sini sekarang?" tanyaku menatap teman - temanku yang lain.


"Tha, kami nggak akan pergi tanpa kalian semua," sahut Kiki.


Suara anak ayam kembali terdengar. Lulu melotot, dia terlihat panik. "Mereka datang! Bersikap wajar lah. Kalian harus cari cara agar keluar dari desa ini. Biasanya mereka akan mudah terpancing, jadi korek informasi dari mereka! KArena aku tidak mungkin bisa melakukan hal itu, jika mereka menemukanku, aku pasti dibunuh. Dan sebaiknya kalian masuk ke dalam. Setidaknya rumah lebih aman saat malam hari! Percayalah!" Lulu pergi dengan cepat, bahkan menghilang di balik pepohonan gelap di depan sana.


Aku yang sependapat dengannya lantas mengajak mereka semua masuk ke dalam. Sangat hapal apa yang akan terjadi jika suara cicit anak ayam mulai terdengar. Beberapa barang juga terpaksa kami turunkan kembali. Walau tidak semua. Setidaknya kami harus tidur malam ini. Kata Lulu, di dalam rumah jauh lebih aman daripada di luar rumah saat malam hari.


Kami sepakat akan tidur malam ini. Mempersiapkan esok hari sekaligus mencari tau apa yang harus kami lakukan nanti.


Aku sekamar dengan Kiki. Kebetulan ranjang ini muat untuk kami berdua. Semua tempat sudah kami bersihkan ulang. Teman - teman yang lain memilih tidur di kamar Danu dan sebagian tidur di lantai kamarku. Ada karpet yang bisa dipakai untuk merebahkan diri. Sebelumnya kami memutuskan makan dulu. Makanan yang dibawakan dari desa Alas ketonggo asli berhasil membuat perut kami kenyang. Rasa letih yang sejak tadi menggelayut, membuat kami langsung terpejam. Kicauan anak ayam di luar, tidak aku pedulikan, lebih tepatnya berusaha untuk tidak aku pedulikan. Mungkin memang benar, kalau kuntilanak itu salah satu anak buah setan yang dimaksud Lulu. Makhluk jahat yang memiliki aura paling kuat? Aku sangat penasaran, siapa makhluk tersebut.


_______


"Lihat!" tunjuknya ke depan, ruang tamu. Aku melongo saat melihat kondisi ruang tamu yang bersih dan rapi. Berbeda dengan semalam, kotor, berdebu, berantakan sekaligus sangat mirip rumah tidak berpenghuni. Tapi kenyataannya justru yang ada di hadapan kami sekarang berbanding terbalik dengan apa yang terjadi beberapa jam lalu.


"'Kenapa sih?" Kiki muncul dan menyelinap di antara aku dan Kak Arden. Tiba - tiba dari koridor rumah, Radit justru muncul dengan wajah yang masih basah. "Gila, kalian nggak akan percaya sama rumah ini. Semua berubah! Bahkan Pak Karjo dan Bu Heni terlihat sama seperti biasa, seperti manusia normal pada umumnya," bisik Radit dengan mata berbinar, seolah menemukan sesuatu yang berharga. Kak Arden justru diam. Seolah sedang bergelut dengan pikirannya sendiri.


"Kak, mungkin kalau siang hari mereka bakal kembali seperti semula?" tanyaku.


"Hm, mungkin juga. Tapi kita harus tetap waspada, karena sekarang kita justru nggak bisa membedakan mana hantu yang sebenarnya, mana manusia nyata."


Kami berusaha bersikap wajar, walau bagaimana pun juga, tentu itu hal yang sangat sulit dilakukan, mengingat kami sudah melihat yang sebenarnya. Hanya saja kami tetap memilih untuk tidak memakan makanan dari Pak Karjo dan Bu Heni. Sebagai gantinya, Radit justru membuat api dan memasak menu barbeque di depan rumah. Untung kami benar - benar sudah mempersiapkan semuanya. Bahan makanan mentah dan kalengan yang dapat kami gunakan untuk beberapa hari ke depan.


"Padahal Ibu sudah mau masak tadi, eh malah katanya kalian sudah bawa makanan sendiri," kata Bu Heni terlihat tidak nyaman dengan kegiatan kami ini. Aku yang baru selesai wudu, hendak ke depan, harus berhenti dahulu di dapur.


"Maaf ya, Bu. Kami merepotkan, jadi mulai sekarang saya sama teman - teman mau masak sendiri saja. Ibu nggak usah lagi repot," tukasku berusaha terlihat sopan. Aku cemas jika apa yang kami lakukan membuat Bu Heni murka pada akhirnya.


"Iya, nggak apa - apa kok, Mba Aretha. Kami maklum, namanya anak muda, apalagi kalian dari kota pasti lebih suka makanan kota. Tapi Ibu tidak apa - apa kok. Lihat, ibu sudah masak nasi goreng cabai hijau kesukaan Mba Aretha." Bu Heni membuka tudung saji yang ada di meja makan. Di sana sudah tersaji nasi goreng yang terlihat masih mengepul. Semua terlihat sama, makanan yang nyata, tapi aku yakin itu tidak kelihatan seperti yang sebenarnya. Aku berusaha konsentrasi, memfokuskan pikiran dan hati. Membaca bacaan surah - surah dalam hati. Hanya dalam hitungan detik, pemandangan di depanku berubah kembali. Bukan lagi nasi goreng cabai hijau seperti yang kulihat beberapa menit lalu, melainkan belatung - belatung yang masih menggeliat di sana. Jadi itu yang aku makan kemarin. Aku menahan mual, lalu pamit ke Bu Heni.


Matahari mulai muncul dari ufuk timur, suasana desa kembali terasa hidup. Atau ... kembali bangkit. Kami seolah dibuat bingung oleh keadaan yang berubah 180 derajat. Desa ini, yang tadi malam masih terlihat seperti desa tidak berpenghuni, rumah - rumahnya sudah hampir roboh, dan tidak ada penduduknya, berubah drastis menjadi desa yang normal seperti desa - desa pada umumnya. Aktivitas warga mulai terlihat, bahkan di jalanan depan rumah sudah banyak orang yang lalu lalang hendak ke ladang atau pergi menjual sayuran. Tidak ada yang aneh. Apalagi rumah Pak Karjo yang mendadak kembali rapi dan bersih, tidak seperti semalam. Yah, hanya beberapa jam saja semua berubah. Seolah disulap oleh seseorang. Dan, kami mulai mengerti. Semua hanya ilusi, yang sengaja dibuat agar tempat ini terlihat normal. Padahal jika berkonsentrasi, sambil berdoa dalam hati, meminta diberikan petunjuk, maka kondisi asli tempat ini akan terlihat nyata, tanpa ditutup tutupi. Aku yakin ada orang yang memiliki andil besar dalam hal ini. Hanya saja aku tidak tau siapa.


Aroma bakaran mulai tercium dan membuat cacing di dalam perut kami menggeliat meminta jatah. Kejadian semalam mampu kami lupakan sejenak. Apalagi dengan kebersamaan kami sekarang. Entah apa jadinya jika aku dan Danu saja yang terjebak di tempat ini. Mereka juga tetap tinggal, walau sebenarnya mereka bisa keluar dari tempat ini semalam. Aku sangat terharu, bahkan mereka meninggalkan pekerjaan mereka demi menyusulku dan Danu ke sini.

__ADS_1


"Nih, cobain, awas panas!" kata Radit menyodorkan sosis bakar padaku. Aku duduk di sampingnya yang masih sibuk dengan bakaran sosis, bakso, dan jagung. Rasanya memang enak, sepertinya ini makanan paling lezat sejak beberapa hari lalu. Kami sarapan bersama, sambil membahas kegiatan mereka selama ini.


"Santai, Tha. Gue mah udah izin seminggu. Emang sengaja, capek," kata Dedi sambil menyantap sarapannya.


"Di sini juga capek, kan, Ded?"


"Ya bedalah. Gue justru kangen petualangan kita semasa kuliah dan SMA dulu."


"Petualangan ketemu setan?" tanya Doni.


"Iya dong. Lu coba bayangin, Don, selama elu ngantor, berkutat dengan pekerjaan, pulang ke rumah tidur. Nggak ada gregetnya! Semua dijalani layaknya manusia normal pada umumnya. Gue sih merasakan itu, kadang gue kangen kalian, pengen bisa kumpul lagi kayak dulu, tapi kalian semua sibuk," sindir Dedi, lalu ditanggapi dengan tepukan dibahunya oleh Kak Arden.


"Beginilah kehidupan, Ded." Kak Arden berjalan masuk ke dalam membawa sepiring sosis bakar.


Aku dan Danu harus kembali mengajar. Bagaimana pun juga kami harus bersikap wajar seperti biasanya, sekaligus mencari tau apa yang sebenarnya terjadi di sini, walau tidak tau bagaimana caranya nanti. Pak Karjo keluar dari rumah membawa cangkul. Bu Heni juga terlihat membawa tass yang terbuat dari rotan, yang berisi termos dan beberapa makanan.


"Mau ke mana, Pak, Bu?" tanya Dedi basa basi.


"Kami mau ke ladang. Paling sore baru pulang, Mba Aretha, titipi Nenek, bisa? Takutnya nanti siang mau makan atau butuh sesuatu," pinta Bu Heni. Aku diam, namun Kiki menyenggolku. "Eh, iya bu. Nanti saya bantu jaga nenek. Lagi pula ada teman - teman saya, mereka nanti akan di rumah saja."


Kiki melotot sambil menatapku, seperti tidak setuju akan perkataanku tadi.


"Ya sudah, kami pergi dulu."


Setelah sepasang suami istri itu pergi, kami baru bernafas lega. "Eh dia bilang titip nenek? Ada penghuni lain di sini?" tanya Doni menatap rumah di belakang kami. Kata Lulu saat malam datang, maka kami lebih aman di dalam rumah, tapi rasanya jika pagi datang kami ingin lebih lama ada di luar rumah.


"Ada. Nenek Siti. Dia lumpuh. Ada di kamar dekat dapur," jelas Danu.


"Setan juga dia?" tanya Dedi sambil berbisik. Kak Arden keluar dari dalam dengan piring yang sudah kosong. Aku heran dari mana dia tadi.


"Kakak makan di dalem?"


"Enggak."


"Terus sosis bakar tadi ke mana?"


"Kakak kasih ke nenek yang di dalem."


"Serius lu?! Nenek setan itu lu kasih makan?!" pekik Doni.


"Hust! Nenek setan! Jaga omongan lu! Dia bukan setan!" Penjelasan kak Arden membuat kami terhenyak.


"Apa?! Bukan nenek setan? Terus dia apa?"

__ADS_1


"MANUSIA."


__ADS_2