
Aku mengerjapkan mata. Saat alarm ponselku berdering nyaring hingga menganggu tidur panjang ku. Mulai dengan ritual pagi ku, dengan menggeliat di atas kasur sambil melihat jam yang ada di dinding depanku
Degg!!
Tangan siapa ini??
Kulihat sebuah tangan kokoh melingkar di pinggangku. aku membalik badanku melihat pemilik tangan ini.
Indra?
Kok dia ada di sini? Bukannya dia tidur di sofa?
Kucoba mengingat kembali apa yg terjadi semalam.
Ah iya, aku lupa.
Semalam saat aku hendak tidur setelah ngobrol dengan Indra, aku merasakan kakiku ditarik oleh seseorang di bawah selimutku.
Sebuah tangan yg dingin,dan memiliki kuku tajam dan panjang. Sontak aku berteriak histeris.
Indra menghampiriku dan mencari pemilik tangan yg menarik ku, tapi kosong. Tidak ada apa pun di sana. Bahkan sudah dicari sampai ke kolong ranjang, hasilnya nihil. Tidak ada apa pun. Namun aku yakin tadi ada seseorang yg menarik kakiku.
Karena aku takut, aku menyuruh indra tidur di sampingku.
Yah, seperti itulah semalam. Tapi kenapa sekarang malah dia peluk peluk segala?
"Heh!! Indra. bangun!! "Sambil ku pukul lengannya agar dia membuka matanya.
Dia bereaksi. Perlahan dia membuka mata, namun tangannya masih erat memeluk pinggangku.
"Eh, Nis. Udah bangun?" tanyanya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Udah. Ini kamu apa apaan? Tangan kamu peluk peluk aku gini??!!"gerutu ku kesal.
Dia yg baru sadar tangannya ada di pinggangku langsung melepaskan dengan cepat.
"Eh, maaf. Kebiasaan. hehehe," katanya sambil tersenyum, salah tingkah.
Dasar!
Perlahan aku hendak turun dari ranjang. Tapi dicegah indra.
"Eh, mau ngapain??" tanyanya.
"Mau ke toilet.. " Jawabku sambil berusaha bangkit denga berpegangan pinggiran ranjang.
Indra berdiri lalu membopongku seperti kemarin.
"Eh ... lho, Ndra." aku kaget dengan sikapnya yg tiba tiba seperti itu.
"Udah, aku bopong aja. Kamu gak boleh banyak gerak. Nanti kaki kamu gak sembuh sembuh," katanya.
Sampai kamar mandi, dia mendudukkan ku di kloset.
Lalu ku pandangi dia sambil menyilangkan tanganku di depan dadaku. Sementara dia menatapku heran.
"Kamu ngapain masih di sini?" tanyaku
"Nungguin kamu."jawabnya tanpa rasa bersalah.
"Ih, ya keluar dulu. Aku mau pipis. Masa ditungguin. Nggak mau! sana ah," kataku dengan nada manja seperti biasanya.
Dia senyum lalu keluar dari kamar mandi dan menutup pintu.
"Nis, jangan mandi dulu ya. Kaki mu gak boleh kena air lho," teriaknya dari luar kamar mandi.
"Iya, bawel. Udah tau!" jeritku tak kalah kencang.
"Kalo udah selesai bilang. Jangan jalan sendri," katanya lagi.
Hening.
"Udah," teriakku saat sudah selesai.
\=\=\=\=\=
Pov Indra.
Aku membuka pintu, kulihat dia masih duduk di kloset sambil bersedekap, bibirnya mengerucut, menandakan dia kesal. Tapi lucu.
"Kenapa?" tanyaku heran.
"Kamu tuh bawel," gerutunya.
"Kamu lebih bawel tau," jawabku sambil membopongnya lagi ke kamar.
\=\=\=\=\=\=
Pov Nisa
Setelah salat subuh berjamaah dengan Indra, aku masih duduk saja di kamar menonton kaset film milikku.
Kata Indra, kami sudah menontonnya berkali kali, tapi aku kan lupa? Jadi ku tonton lagi film itu.
Sementara Indra mandi karena dia akan berangkat dinas pagi ini.
Kulihat dia selesai mandi, dan keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk.
Dengan cueknya dia memakai baju yg dia pilih sendiri di lemari.
"Heh!! Harus gitu ya? Pakai baju di depanku?" tanyaku agak risih melihatnya ganti baju.
Dia membalikkan badannya yg hanya bertelanjang dada.
"Kita kan suami istri, lagian aku udah biasa ganti baju di depan kamu," katanya cuek lalu melanjutkan memakai bajunya lagi.
Ku tutup saja wajahku dengan bantal. Percuma berdebat dengan nya.
Tiba tiba tangannya menyentuh tanganku yg kupakai menutupi wajah sambil menyingkirkan bantal yg ku pegang.
Dia tersenyum sangat manis. Kali ini dia sudah berpakaian lengkap dan terlihat tampan dengan seragam nya itu.
Aku agak tersipu malu ditatap begitu oleh Indra.
"Aku kerja dulu ya, Nis. Kamu gak apa apa kan aku tinggal dirl rumah?" tanyanya sambil duduk di hadapanku.
"Iya, gak apa apa. Kamu hati hati," jawabku.
__ADS_1
"Iya, pasti. Tunggu aku di rumah ya." dia mengusap kepalaku lembut.
"Yuk, kita sarapan dulu," ajaknya lagi.
Aku melirik jam weker di samping.
dan tanpa bertanya dulu, Indra langsung membopongku keluar kamar, langsung ke ruang makan. Dan makin lama aku makin terbiasa dengan sikapnya ini.
Semua sudah berkumpul di sana.
Indra mendudukan ku di kursi yg bersebelahan dengannya.
Aku diam sejenak mengamati semua orang di sini. Jadi ini keluargaku sekarang?
Semakin ramai, dan aku merasa keluargaku utuh kembali. Papah sangat cocok dengan wanita itu. Dia terlihat menyayangi papah sepenuh hati. Begitupula sikapnya kepada ku juga kurasakan tulus.
Kak Adam sudah punya anak. Kak Yusuf menikah denga wanita yg sholehah. Mereka terlihat serasi.
"Nis, sarapan dulu." Indra membuyarkan lamunanku. di hadapanku sudah ada makanan yg diambilkan olehnya tadi.
"Makasih," jwabku sambil memakan sarapanku.
"Oh iya, Nis. Merjaan kamu gimana?mau kamu lanjut atau resign aja? "tanya papah tiba tiba.
Aku diam, berfikir.
"Kalau aku lanjutin aja gimana? Siapa tau aku jadi bisa cepet inget semuanya dengan cara melakukan semua kebiasaan ku selama ini?" tanyaku sambil menatap semua orang di sini.
"Kamu, ndra? Gimana? Kamu mengijinkan nggak? kan kamu suaminya?" tanya kak Yusuf.
Aku menoleh menatap Indra.
"Indra sih, terserah Nisa aja. Selama ini juga kan Indra gak pernah mengekang dia. Kalau mau nya gitu ya gak apa apa," katanya sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
Semua orang setuju dengan keputusanku.
Dan mungkin sekitar 3 hari lagi aku akan masuk kantor.
Karena kakiku sudah tidak begitu sakit.
Selesai sarapan, Indra bersiap akan berangkat.
"Aku berangkat dulu ya, Nis. Kamu hati hati di rumah. Kabarin aku kalo ada apa apa," katanya sambil mengelus kepalaku, lalu kecupan mendarat di keningku.
Indra lalu pamit ke yg lain juga, dan segera berlalu ke depan. Meninggalkanku yg masih bengong melihat sikapnya.
"Jangan heran gitu kali, Nis, Indra kan biasa gitu ke kamu. Kalian itu pasangan yg selalu bikin iri tau gak," kata kak Shinta, yang seolah mengerti sikap diamku
Selesai sarapan, aku hanya ngobrol dengan kak Shinta, kak Rahma dan mamah Marisa.
Aku juga melihat album pernikahanku dengan indra.
Aku mencoba mengingat semuanya. namun, sama sekali tidak ada yg kuingat.
Mungkin memang butuh waktu untuk mengembalikan semua ingatan itu.
"Nis, ada Indah tuh," kata kak Rahma.
Indah? wah... Aku kangen banget sama dia. Indah masuk bersama Ferly dan Nindi.
"Hai!"teriakku melihat mereka.
"Nis, kamu gimana? ya Allah. Kok berantakan gini sih," kata Ferli cemas.
"Katanya kamu amnesia, Nis?" tanya Indah dengan dahi berkerut, menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Ih kamu, ngeliatinnya segitu amat. Yuk kita ngobrol di depan aja," ajakku ke mereka.
Mereka memapahku pelan pelan karena kakiku masih susah di gerakan.
Kami duduk di gazebo halaman depan.
"Feri mana? Tumben gak ngikut?biasanya nempel mulu sama kamu, Fer?" tanyaku ke ferly.
"Kerja. Nyari duit, biar bisa nyusul kamu nikah," katanya santai.
"Nis, serius kamu amnesia? Kok kamu inget sama kita kita?"tanya Nindi penasaran.
"Kata dokter sih gitu. Aku juga ngerasa aneh sih. yg ku inget ya pas kita kuliah. aku pikir kita masih kuliah, eh ternyata dah lama lulus yah? dan aku... udah nikah sama..." kalimatku terhenti.
"Indra!" sahut mereka bersamaan.
Aku mengangguk semangat.
"Terus hubungan kamu sama indra gimana, Nis?"tanya ferli.
"Gimana? ya gini aja. Aku sih berusaha nerima dia sebagai suami, cuma... Hubungan kami ya biasa aja. Sekedar say hello aja. Indra juga mau nerima katanya sampai aku bener bener inget semuanya."jawabku.
"Kasian."kata indah pelan.
"Makasih ya, Ndah, aku emang bingung nih,"jawabku memelas.
"Aku kasian sama indra tau... Gemes sama kamu!!"kata indah kesal.
"Lho kok, kasihannya sama indra?" .
"Ya bisa dibayangin lah, gimana tersiksanya indra, ngadepin kamu yg lupa sama dia. Ibarat kata nih, hubungan kalian seperti kaya awal kalian ketemu."jawab indah.
"Eh, tapi ini karma bukan sih?"tanya nindi.
"Hah? kok karma?" aku heran dengan pernyataan nindi.
"Ya, dulu kan indra pernah hilang ingatan nis, sampai kamu hampir gila. pas dia pergi.."jawab nindi.
Aku ingat kata kata kak shinta tadi. Kak shinta juga cerita soal kejadian pas indra dikabarkan meninggal, dan gimana frustasinya aku saat itu. Dan ternyata indra hilang ingatan dan ada di Kalimantan.
Mungkin dulu aku juga merasakan seperti yg indra rasakan sekarang.
Ngobrol dengan mereka memang selalu lupa waktu. Sampai feri datang menjemput ferli.
Mereka akhirnya pulang sore harinya.
Aku masih duduk di gazebo seperti tadi.
Suasana sore hari di halaman rumahku sangat menenangkan.
Sinar matahari yg akan perlahan terbenam di ufuk barat, meninggalkan berkas bekas sinar yg hangat.
__ADS_1
Bunyi burung burung yg berterbangan di atas pohon sekitar rumahku, angin yg berhembus lebih kencang. Hmm... Lama sekali rasanya, aku tidak menikmati moment seperti ini.
Degg!!
Ya Allah, kenapa selalu saja ada yg merusak ketenangan ku.
Di atas pohon mangga samping rumahku, ada sosok wanita sedang duduk menatapku tajam dengan memainkan rambutnya yg panjang dan awut awutan.
Wajahnya rusak parah.
Melihat hal itu, aku segera beranjak meraih tongkat yg disiapkan untuk membantuku berjalan.
Karena rasa takut, tanganku gemetaran, badanku lemas bagai tak bertulang. Aku terjatuh saking paniknya.
Tak terasa air mata keluar dari kedua manik mataku.
Karena tidak sanggup berdiri, aku mengesot di halaman rumahku, celanaku kotor karena tanah.
Sambil menangis aku mencoba memanggil orang rumah. Tapi tidak ada satu pun kata yg bisa keluar dari mulutku.
Tiba tiba...
"Nis, kamu kenapa? Kok kamu di luar.. Ya allah..udah,tenang ya..ada aku disini.."indra datang lalu membopongku masuk kedalam.
Aku tdk sadar bahkan tdk tau sejak kapan indra sudah ada dirumah.
Aku sembunyi di balik lehernya sambil menangis ketakutan.
"Lho,,,nisa kenapa?"tanya kak rahma.
"Gak tau kak..tadi indra nemuin nisa lagi nangis diluar"jawab indra dgn nada khawatir.
"Ya allah.. Kakak bikin teh anget ya"kata kak shinta lalu berlari ke dapur.
Indra membopongku ke kamar lalu merebahkan ku di ranjang, namun rasa takut masih sangat kurasakan, sehingga pelukanku dileher indra tidak mau ku lepaskan.
Indra yg paham kondisiku memakluminya dan membiarkanku memeluknya.
"Kok nisa ada di luar kak?" tanya indra. deru nafas dan detak jantungnya terasa sangat jelas.
"Tadi ada indah, ferli sama nindi, mereka ngobrol di depan. kakak gak tau mereka udah balik ndra"terang kak rahma.
"Teh nya, ndra.."kata kak shinta sambil menyodorkan segelas teh hangat ke indra.
"Minum dulu ya.."kata indra.
Kuteguk habis teh itu. Terasa kering kerongkongan ku.
"Ya udah, makasih ya kak. biar indra yg urus nisa.."
Lalu kak rahma dab kak shinta keluar kamarku.
"Mandi dulu ya. udah sore. badan kamu juga kotor gini.."tanpa jawaban dariku dia langsung membopongku ke kamar mandi.
Mendudukan ku di kloset lalu keluar kamar mandi untuk membiarkanku mandi.
Setelah 20 menit, aku selesai lalu kuraih piyama mandi ku yg ada di samping.
"Ndra... udah," panggilku ke indra yg ada di luar.
Indra masuk sudah berganti celana pendek selutut dan kaos lengan pendek abu abu.
Dia lantas membopongku lagi keluar kamar mandi.
Lalu kembali ke ranjang. Dengan cekatan dia mengambil baju di lemari, baju tidur kesukaanku.
Ah, dia kan suamiku. Pasti tau banyak hal tentangku.
"Pakai baju dulu. dingin..."katanya lalu keluar kamar dengan diiringi suara pintu yg tertutup.
Setelah ganti baju, aku rebahan di ranjang.
Indra masuk lagi dgn membawa nampan berisi susu hangat dan makanan.
"Makan dulu, trus jangan lupa obatnya.. Besok kita chek up ke dokter kan?"katanya lalu menyuapiku makan.
Aku merasa seperti anak kecil saja. dia sangat memanjakanku. apakah dulu kami juga seperti ini?
Apakah dulu aku juga se manja ini dan indra sangat memanjakanku seperti ini?
Ingin bertanya tapi rasanya aku enggan membuka mulutku.
Aku lelah, sangat lelah.
Suap demi suap ku habiskan.
Lalu indra juga menyuapiku obat yg banyak sekali.
"Udah.. banyak banget..."rengekku.
"Hei.. 1 lagi nih. kan kata dokter suruh abis semua. biar cepet sembuh kan,"bujuknya.
Akhirnya aku menghabiskan semua obat itu karena indra terus mengawasiku.
"Sekarang istirahat.." dia membelai kepalaku lembut.
Saat dia akan beranjak. kutahan tangannya.
"Eum..mau ke mana?"tanyaku ragu ragu.
"Keluar. biar kamu bisa istirahat."jawabnya.
"Eum.. Temenin dulu. Aku takut yg tadi masuk sini.." rengekku lagi.
Dia tersenyum lalu duduk di sofa dekat denganku.
Dia pun berbaring, sepertinya dia lelah sekali.
"Ndra..."panggilku.
"Hmmm..."gumamnya sambil meletakan tangan di atas dahinya dgn matanya terpejam.
"Makasih."kataku pelan.
Dia melirikku dan tersenyum.
"Youre welcome."katanya
__ADS_1
Pengaruh obat yg kuminum memang sangat dahsyat. Baru beberapa menit mataku sudah terasa berat dan aku pun terlelap.