
Beberapa tubuh yang disinyalir masih bernyawa itu terus digoyahkan oleh Aretha. Dia sama sekali tidak ingin jika ada beberapa orang tertinggal di dalamnya. Hingga Aretha dibantu oleh Radit terus berjalan cepat untuk membangunkan orang demi orang di tempat itu.
Seperti tengah mendapat bantuan dari kuasa sang ilahi, pergerakan dari Areta juga Radit terlihat sangat sigap dan menyisakan ruang kosong yang penuh dengan bebatuan.
"Bagaimana semuanya selesai?" tanya Radit membuka matanya lebar ke arah Hendra. Ia tak ingin mendengar kabar buruk selanjutnya, pasalnya nafasnya sudah cukup terkuras dengan aktifitas mengerikan itu.
Hendra juga tak ingin merasakan bulu kuduknya yang masih berdiri tegak seperti tertiup oleh hembusan angin fiktif itu. Ia hanya fokus pada penyelamatan di tengah ketakutannya.
Bongkahan batu alam yang sudah penuh dengan lukut hijau, mempersulit semua jalur evakuasi. Tapi, semua di lakukan dengan kekompakan anatara ketiga insan itu
"Okai, semua selesai." Hendra mengibas debu di kedua telapak tangannya.
"Belum ...," sambar Aretha menggema di lorong itu.
Kedua pasang mata itu sontak menoleh kebelakang, dan melihat Aretha yang tergopoh-gopoh menahan beban berat dari tubuh liya sahabatnya.
"Aretha?" Radit lekas menyambar dengan cepat menolong Aretha yang sedang kesulitan.
"Tolong bantu Liya keluar ya, Hendra! Ada seorang lagi di dalam sana. Aku harus menolongnya."
"Aku ikut kamu Aretha!" Radit dengan cepat menyambar setelah memberikan tubuh liya kepada Hendra. Hendra pun menyambut Liya dengan menyampirkan sebelah tangannya di atas pundak. Beban itu terasa berat di pundak Hendra. Namun perjuangan tak sampai di sana. Suasana merinding semakin mencekam saat itu.
Aroma bunga kantil cukup menyengat dan masuk ke rongga hidung membuat Hendra menutup hidungnya sambil berjalan melakukan pertolongan.
"Kita kemana lagi?" Tanya Radit yang sudah terpisah ruang dan jarak dengan Hendra. Di luar terlihat ruangan dan gerbang pintu yang sangat kecil, namun lain dengan isi ruang tersebut yang bak istana kegelapan. Penuh dengan dunia keanehan.
"Ayo ikut aku!" ajak Aretha menarik tangan Radit dengan erat. "Aku masih melihat seseorang di sana," lanjut ucap Aretha yang penuh denga pikiran horor di kepalanya.
Meski Aretha terus berpikiran aneh, tapi dia masih meneguhkan pendiriannya agar tidak lantas di kuasai oleh ketakutan. Ia mengumpulkan keberaniannya untuk menapaki beberapa jalanan becek berlendir dan sangat bau.
"Hati-hati nanti jatuh!" Radit perhatian dengan membantu menegakkan tubuh Aretha yang hampir terpeleset.
"Makasih ya, ayo cepat!" Aretha kembali fokus dengan arah yang akan ia datangi.
Semakin dalam berjalan, ruangan lorongbitu semakin gelap. Aretha tak kuasa melangkah di kegelapan. Matanya seperti sedang ditutup sebuah bayangan besar, namun ketika ia mengedipkan mata masih terasa ringan karena di depan kelopak mata itu tak ada apa-apa.
Keanehan terasa oleh Aretha ketika dirinya tak lantas mendapatkan genggaman dari Radit.
"Radit kamu masih di situ kan?" tanya Aretha memastikan pria itu masih berada di belakang punggungnya.
Setahunya Radit terus berjalan mengekor di belakangnya beberapa detik yang lalu. Ketika Aretha mengibas kedua tangannya untuk memindai keberadaan Radit, ternyata Radit sudah tidak ada di sampingnya.
"Radit di mana kamu?" teriak Aretha menggema ketakutan. Ia takut terjadi sesuatu hal pada diri Radit.
"Aku di sini, tolong aku Aretha!" balas Radit menggema begitu kencang. Aretha terkejut saat melihat Radit tengah berada di dalam ikatan akar pohon yang sangat besar.
Jiwa ingin menolong Aretha memuncak, namun tak punya daya apapun untuk membantu Radit. ia terus mendongak mencari sosok orang yang ingin dia cari sebelumnya.
"Sabar, aku cari akal dulu, Radit. Sabar di sana ya!" Radit tetap meronta ingin melepaskan diri dari ikatan akar itu.
"Cepetan Aretha!"
Ketika Aretha mendongak untuk kedua kalinya, Aretha tercengang hebat. Ia melihat sosok wanita berkulit keriput yang sangat familiar di hidupnya.
"Ne-nek Siti?" Aretha tak percaya bisa bertemu wanita paruh baya itu. Matanya berbinar seketika, ia tak bisa mengucapkan apapun lagi selain terkesiap karena masih bisa di pertemukan dengan nenek tua itu.
"Nak' Aretha ... tolong nenek nak!" Suara gambar dari Nenek tua itu membangunka Aretha dari kebahagiaan sesaat ya. Aretha sangat senang atas pertemuan itu. ia berjalan mendekat ke arah Nenek Siti hendak membantunya. Sosok wanita tua itu cukup memberikan stimulus pada Aretha untuk tetap tegar.
"Nek, ayo Aretha bantu untuk keluar dari sini. Nenek pegang tangan Aretha ya!" pinta Aretha perlahan mendekat dan menyampirkan kedua tangannya hampir sampai di pergelangan nenek tua itu.
Alih-alih tertangkap, tiba-tiba saja tubuh Aretha terasa sakit seperti ada hal yang menghalanginya. Ia berusaha menggerakkan sekujur tubuhnya namun semakin ia bergerak, energi negatif itu semakin mencengkramnya.
"Nek Siti ... Ayo pegang tanganku!"
Nenek Siti itu hanya bisa menggeleng, seperti sedang berpikir di tengah himpitan itu.
Prak.
Detik kemudian tubuh Aretha terlempar mental cukup jauh. Semburat darah segar keluar dari mulut Aretha saat dirinya terpental cukup kencang.
"Nak Aretha?" Teriak Nenek.
Bersamaan dengan itu, tiba-tiba saja ikatan dari akar besar yang melilit tubuh Radit terlepas. Radit loncat dari ketinggian dan merasa lega karena jauh dari akar itu. Melihat Aretha terkapar, Radit lekas berlari menghampirinya.
__ADS_1
Lain dengan Nenek Siti yang tak bisa diam saat itu. Dia membelalakan mata mengarah ke sebuah wanita berkain putih dengan rambut panjang membentang hingga ujung kakinya.
"Heh, kuntilanak. Ayo lawan aku kalau berani. Selama ini aku diam, bukan berarti takut pada kalian. Tapi melihat cucu saya di perlakukan seperti itu, aku tidak terima," tantang Nenek Siti pada sosok kuntilanak yang tengah menampakan wujud seramnya.
"Nek Siti ... Jangan Nek!" Aretha berusaha menahan nenek itu, namun tidak kuasa menahan sakit dari area dadanya dan menjalar ke arah punggungnya.
"Kami tidak apa-apa Aretha?" tanya Radit semakin khawatir.
"Tidak. Aku tidak apa-apa. Hanya saja aku tidak mau nek Siti kenapa-napa," pekik Aretha hendak berdiri, tapi semuanya burung karena Radit menahannya.
Sebuah pertarungan sengit terlihat di pelupuk mata Aretha juga Radit. Mereka duduk di pinggiran gua itu dan mencoba mendorong dengan doa-doa yang bisa mereka kumandangkan.
Beberapa lama pertarungan berlangsung, Nenek Siti tak bisa menahan dirinya atas keterbatasannya. Dia yang sudah tua, dan tak bernyawa hanya bisa mengandalkan kekuatan terakhirnya hingga Nek Siti pun di kalahkan oleh kuntilanak itu. Tawa kemenangan menggema di ruang gua itu.
"Lari ... Ayo lari kalian!" titah Nek Siti pada Radit juga Aretha yang tak bertenaga.
"Tidak Nek, aku tidak bisa meninggalkan nenek di sini."
"Nenek sudah tidka bisa ikut pada dunia kalian, ayo mengertilah. Lari! Selamatkan diri kalian," pekik Nenek Siti menunjuk ke arah lorong jalur keluar dari gua itu.
"Ayo kita keluar Aretha."
"Tidak ...," tak sengaja air mata Aretha jatuh begitu saja di pelupuk matanya karena merasa gagal.
"Nenek ...," tangis Aretha.
"Ayo!" Radit memastikan jika langkah yang mereka akan ambil itu adalah hal yang sebaik-baiknya.
"Radit, bagaimana dengan Nenek Siti?" tanya Aretha belum bisa terima. Rasa tegar dalam diri Aretha tiba-tiba hilang dan lantas berganti dengan sosok wanita yang lemah.
Terlebih luka dalam di dadanya lepas terlempar tadi belum bisa terobati. Hanya bisa bertahan dari tumpuan tangan Radit yang semakin erat memeganginya.
"Jangan pikirkan itu. Pikikan saja dulu kesehatan kamu. Kita harus segera keluar dari tempat ini dan mencari bantuan agar kamu cepat sembuh." Radit terus melontarkan banyak rayuan dan bujukannya agar Aretha tidak keras kepala.
"Huft, aku nggak bisa pergi dari sini, Radit."
"Ayolah, Aretha! Sekali saja dengarkan aku!" Radit menegaskan agar dia tidak ngeyel dengan pendiriannya yang hanya memperdulikan orang lain dan tidak memperdulikan bkesehatan dirinya.
"Assh, Aww." Aretha meringis kesakitan saat dia melangkah bukan pada arahnya. Kakinya tergeser bke arah kanan hingga dirinya hampir tersandung di sebuah bebatuan kecil.
"Kenapa?" sambar Radit melirik pusat kaki yanh di anggap Aretha sangat sakit.
"Sudahlah, aku tidak apa-apa. Kita lanjut jalan saja."
"Kamu yakin baik-baik saja?"
Aretha tahu kalau dirinya tidak sedang baik-baik saja. Namun dirinya mengangguk kecil lalu menunduk.
"Baiklah, waktu kita tidak banyak. Kita harus segera keluar dari tempat ini sebelum matahari tenggelam." Radit mengingat ucapan Arthra sebelumnya ketika wanita itu berucap bahwa jika siang mereka akan bertindak layaknya manusia biasa, namun malam dan kegelapan tengah hadir maka banyak makhluk halus akan datang dan semua warga dusun Kalimati akan berubah menjadi sosok yang menyeramkan.
"Tapi, aku tidak bisa jalan dengan cepat dalam keadaan seperti ini, Radit." Untuk pertama kalinya Arthea melontarkan keluhannya. Biasanya dia akan menyembunyikan semua kesakitannya dan menimbulkan banyak aura positif untuk memperlihatkan jika dirinya adalah wanita tangguh.
Sekilas Radit terdiam dan melihat ada luka lebam di pipi sang istri. Ia tak tega saat Arthea terus menahan sakit di dadanya akibat benturan kencang itu. Lalu mata Arthea menurun melirik kaki Arthea yang berjalan di geser setelah ia banyak tersandung.
Rasa tidak tega mulai tumbuh di hari Radit.
"Bagaimana kalau kamu naik ke punggung aku, aku akan menggendong kamu?!"
"Gendong?" Arthea sejenak berpikir.
"Ayolah, kita harus lari cepat." Radit tidak memberikan piliha lainnya.
Arthea menarik nafas dalam sekali. Lantas dia memejamkan matanya mempersiapkan diri. "Baiklah, kalau begitu. Aku mau di gendong," jawab Arthea malu-malu
Radit menunduk menyetarakan dirinya dengan tanah sambil berpegangan dengan pohon sekitar. Menguatkan dirinya, Radit lantas mengendikkan tubuhnya bangkit saat Arthea sudah ada di atas punggungnya.
"Maaf, jika aku berat." Arthea merasa tidak enak hati.
"Tidak, tubuhmu sangat ringan kok. Kita lanjut jalan ya?!" Rasa letih dari tubuh Radit sedikit terobati kala dirinya mendapatkan kedekatan itu bersama sang istri. Memang tubuh Arthea sedikit berisi, namun Radit tak lantas membungkam mulutnya hanya untuk menyenangkan hati Arthea.
Waktu yang terus berputar membuat Arthea juga Radit sedikit bertanya-tanya. Lama perjalanan itu menjadikan keduanya heran.
Memang awalnya mereka mau berjalan dan melewati jalan dimana mereka datang sebelumnya. Namun setelah mereka keluar dari gua itu dan masuk ke area dusun Kalimati, mereka seolah di putar-putarkan hingga hilang arah.
__ADS_1
"Tunggu, ada yang aneh dengan kita nggak sih?" tanya Arthea lalu turun dari pundak Radit.
Radit menahan nafasnya yang sedikit terengah akibat lelah menggendong sang istri.
"Aneh apanya?"
Arthea tak langsung menjawab. Ia hanya mendongak dan menatap kesemua arah. Menyisir beberapa wilayah yang terasa tak asing.
"Tadi kita sudah ada di sini, Dit."
"Jangan aneh-aneh deh. Maksudnya apa?" tanya Radit yang belum sadar akan keberadaan itu semua.
"Lihat itu!" Pekik Arthea semakin menegaskan lagi dengan menunjuk sebuah pohon.
Radit menoleh. Lalu menyelidik dengan tatapan tajam juga kening mengernyit.
"Itu kan, pohon yah tadi?" tanya Radit sedikti tersadar.
"Nah kan? Radit, jadi sedari tadi kita berjalan itu hanya berputar-putar?" tanya Arthea masih sangat linglung.
"Benarkah?" Radit sontak memutar tubuhnya dan memastikan semua situasi di sekelilingnya.
"Astaga ... Benar. Kita salah arah." Radit sadar sepenuhnya.
Arthea merasa sedikit khawatir, karena dia mencium gelagat tidak baik setelah itu.
"Bisa jadi, kita sengaja di buat tersesat oleh penunggu tempat ini, Dit?" Arthea mengucapkannya dengan bibir gemetar dan hendak meraih tangan sang suami.
"Janga berkata aneh-aneh lagi. Kita di sini buang-buang waktu saja."
"Gimana kalau kita ambil arah ke sana?" anjur Arthea menunjuk ke arah berlawanan dengan arah jejak langkah sebelumnya.
"Betul kata kamu. Kita harus cari jalan yang pasti, soalnya hari semakin sore."
"Tunggu apalagi, ayo!"
"Kamu mau di gendong lagi?"
"Sudahlah, aku jalan saja. Lagian kamu terlihat sudah cape sekali. Kaki aku juga agak mendingan," elak Arthea yang susah lupa aka sakitnya. Semangat untuk pulang. Melihat situasi semakin mendung, Meraka bergerak cepat.
Hingga mereka terdampar di sebuah rumah sebelumnya, yaitu rumah pak Yodi.
"Percuma kita jalan jauh-jauh. Kita kesini lagi, kesini lagi. Gimana dong?" Suara Arthea menekan setelah dia hilang akal. Idenya saat ini terasa sanga buntu.
"Benar kata kamu. Aku juga sudah bingung, apalagi capek sekali." Radit membungkuk sambil terus terengah kecapean. Matanya sudah memerah, karena tubuh mereka sekarang ini tidak baik-baik saja setelah berperang dengan hal-hal mistis lainnya.
"Ayo tarik nafas. Kamu nggak boleh menyerah. Sekarang kita harus cari jalan lain lagi." Arthea berusaha tegap pada pendiriannya.
Radit pun menarik nafasnya sampai tubuh yang tadinya membungkuk akhirnya kembali bangkit dan mendongak. Bukan mendapat ketenangan, ujung jari Radit malah membeku. Lututnya menggigil hebat. Dan matanya membola seperti hendak loncat.
"Kenapa kamu, Radit?" Arthea semakin heran dengan mimik wajah Radit seperti raga yang aka kesurupan.
"I-itu ...." Radit tergagap dengan telunjuk mengarah ke sebuah tempat yang ada di belakang punggung Arthea.
"Jangan bercanda, Dit. Nggak lucu tau. Aku baru saja enakan. Kita jalan lagi yuk?!"
"I-itu!" Tekan Radit mulai membuat Arthea sadar kalau suaminya sedang tidak bercanda.
Gelagat aneh itu menyita perhatian Arthea hingga perlahan dengan gerak slowmo Arthea menoleh kebelakang.
Mendadak nafas Arthea naik turun sulit untuk di pompa.
"Mereka sudah berubah?" gerutu Arthea ketakutan.
Ia mendongak ke arah langit yang sudah padam tak sedikitpun ada cahaya.
Sosok makhluk aneh muncul percis seperti zombie hidup dengan manik mata merah menyala.
"LARI!" Teriak keduanya kompak.
"Tunggu aku Arthea." Radit yang masih hilang arah, hampir terjatuh karena kakinya terasa beku.
Arthea lekas menarik suaminya itu lalu lari bersama.
__ADS_1