
"Mereka juga nginep di sini?" tanya Dedi menunjuk rombongan yang sedang mengadakan party di halaman yang ada di samping vila kami. Menurut Dion, ada sekitar 10 vila yang dibangun di daerah ini, semua di kelilingi oleh hutan dan juga berbatasan langsung dengan laut. Deburan ombak yang menabrak karang terdengar jelas. Namun bangunan lain terlihat gelap gulita.
"Iya, itu anaknya Bos. Katanya memang ingin liburan di sini. Udah yuk, masuk. Udah malam. Kalian silakan pilih kamar masing - masing. Ladies menempati kamar paling besar, ya. Kan kalian bertiga," jelas Dion sambil mengantar kami masuk ke dalam.
Vila ini cukup besar dan nyaman, aroma cat yang baru masih terasa jelas di pangkal hidungku. Suasana laut masih kental kurasakan, aromanya, suaranya dan hawanya terasa khas. Dion sudah menurunkan peralatan tempurnya. Tidak mau kalah dengan kubu sebelah vila yang kami tempati, tentu peralatan barbeque kami keluarkan. Vila ini juga termasuk komplit dalam hal ini, agar penghuninya nyaman berada di sini.
Beberapa bahan makanan mentah kami keluarkan dari kantung plastik. Jika sudah seperti ini, aku malah teringat camping dadakan kami di dusun Kali mati kala itu. Hanya saja menu kali ini jauh lebih higienis, dan beraneka ragam.
Tak ingin membuang waktu terlalu lama di kamar, kami semua kini sudah berkumpul di halaman depan. Pesta dimulai. Namun suara tetangga sebelah justru terlalu riuh. Maklum anak muda, sepertinya mereka masih berstatus mahasiswa dan mahasiswi.
"Anak - anak mana sih itu?" tanya Dedi agak sinis. Aku yakin dia juga mulai terganggu dengan kegaduhan yang mereka buat. Musik dinyalakan dengan volume yang cukup membuat telinga kami terganggu, jeritan juga terdengar sampai di vila kami. Tertawa dan saling mengejek kerap mereka lakukan.
"Nggak tau. Biasalah anak muda, Ded," cetus Dion yang masih asyik dengan masakan buatannya. Daging panggang tercium sedap dan mampu membuat cacing di dalam perutku menggeliat.
"Tapi kita pernah muda, nggak segitunya deh."
"Mabok kali pada itu," pungkas Ari yang ikut memperhatikan ke meja yang ada di wilayah mereka. Ada beberapa botol yang berdiri di atasnya. Yang dapat kami pastikan kalau itu alkohol. Tidak hanya pria tapi wanita juga ikut berpesta di sana.
"Udah biar saja," sanggah Radit.
"Tapi ganggu, Dit. Mereka pikir ini tempat cuma ada mereka saja?! Nggak bisa dibiarin!" Dedi segera beranjak, melempar kasar lap makan yang sejak tadi tersampir di bahunya, lalu mendekat ke kerumunan anak muda di sana.
"Ded! Dedi!" Radit terus memanggil berusaha menghentikan Dedi yang kini justru sudah masuk ke halaman vila sebelah. "Waduh, bisa - bisa ngamuk tu anak. Sayang, tolong ambil alih," pinta Radit agar aku segera mengambil alih kegiatannya, membakar barbeque ini.
"Aku saja yang ke sana, Dit."
"No, sama aja bohong. Yang ada nanti ada tawuran!" Radit lantas beranjak, dan aku pun menurutinya. Tetap dengan memperhatikan ke arah Dedi dan Radit yang kini terlibat diskusi dengan para anak muda di sana.
"Tha, minta sausnya dong." Kiki mendekat dengan sebuah piring yang sudah berisi beberapa makanan miliknya yang sudah matang.
"Nih, sama mayonaise nggak?"
"Bawa juga? Wuih, keren, Aretha." Kiki menuangkan mayonaise ke piring, aku justru fokus ke wanita yang duduk di kursi sendirian. "Teman lu nggak diajakin?" tanyaku sedikit menyindir.
Kiki menoleh dan mencari siapa yang aku maksud. "Oh, iya ya, kan elu belum kenalan resmi. Yuk, gue kenalin sayangku," ajak Kiki menarik tanganku begitu saja, dan membuatku kewalahan karena harus memegang kipas di tangan. Ku hempaskan tangan Kiki sedikit kasar. "Ini apa sih!"
"Mau kenalan, kan, sama Citra?"
"Ye, siapa yang bilang begitu, setan!" umpatku mulai kesal.
"Lah tadi, bukannya pengen kenalan?"
"Idih. Pede banget lo!" Aku kembali ke tempat semula walau mendapat tatapan aneh dari teman - teman yang lain.Rasanya aku tidak menyukai keberadaannya di sini. Apalagi dengan sikapnya yang seperti tuan putri. Tidak mau bergabung membantu kami yang kerepotan, dia hanya tinggal makan saja di sana.
Radit dan Dedi seudah kembali bergabung bersama kami, tapi tanpa tangan kosong. Ada sebuah piring dengan isi spagheti di tangan mereka.
"Nih, dikasih mereka. Mereka baik kok, dan ngerti. Sebagai permintaan maaf, kita dikasih makanan ini. Udah, jangan dipermasalahkan lagi." Radit meletakkan piring itu di meja makan yang sudah penuh dengan masakan kami juga.
"Tapi mereka udah ngerti, kan, maksudnya jangan berisik begitu, Dit? Asli bar - bar banget, suaranya kenceng bener dah," ujar Doni.
"Sudah. Aman kok. Yuk, makan."
Radit mendaratkan kecupan di pelipis kananku, sontak aku sedikit terkejut dengan sikapnya tersebut. Terus menatapnya lekat - lekat dan mencari tau siapa yang merasukinya sekarang.
"Apa sih, ngelihatin nya begitu banget?"
"Kesambet apaan kamu, Dit?"
"Eh, kenapa? Wahaha. Lah kan aku sayang kamu, Aretha!" Dia malah memelukku dari samping. Kedua netra kami saling bertemu dan akhirnya tertawa bersamaan.
"Ye, bucin!" ejek Danu melintas begitu saja di depan kami.
"Sirik!" umpat Radit melemparnya dengan paprika hijau di meja.
Kami mulai menikmati makan malam bersama - sama. Sambil saling mengobrol tentang pengalaman dan keseharian mereka selama beberapa hari ini.
Sampai akhirnya suara gaduh kembali terdengar dari para anak muda di sana. Kami otomatis menoleh dan melihat mereka sedang menunjuk - nunjuk ke salah satu sudut gelap hutan di sekitar. Salah satu dari mereka lantas berdiri dan mendekat ke sana. Kami hanya menonton apa yang sedang mereka lakukan sambil menyantap makanan yang sudah ada di meja makan.
"Bocah ngapain sih!" gerutu Dedi, kembali tersulut emosi. Laki - laki yang mendekat ke rimbunan pepohonan yang memang agak jauh dari lingkungan vila, terlihat menunjuk nunjuk sesuatu sambil berteriak. Dia lalu menoleh ke teman - temannya, sementara teman - temannya justru berteriak histeris memanggilnya agar kembali.
"Nan! Balik, Nan! Adnan!" Para wanita meneriakkan nama itu, dan membuat kami penasaran.
"Ada yang nggak beres deh kayaknya," kata Danu.
"Ada apaan sih di sana? Mereka ngelihat apa?! Tha, lu liat sesuatu di sana?" tanya Dion padaku.
Aku diam dan berusaha fokus pada lokasi yang mereka risaukan. Memicingkan mata ke sudut gelap yang terus di dekati Adnan. Pria itu justru tertawa - tawa seolah mengejek sesuatu yang ada di depannya. Aku melongo begitu sadar kalau bayangan hitam yang ada di sana sudah sangat dekat dengan Adnan. Diam dan kini sedang berusaha memeluk Adnan.
"Gila!" Aku beranjak dari duduk, lalu berlari mendekat. "Hei! Jangan ke sana! Balik!" Radit memanggilku dengan teman - teman yang lain. Langkah kaki yang berlari berada di belakangku.
__ADS_1
Aku terus mempercepat lari, berusaha agar segera sampai tepat waktu. Adnan menoleh dan menatapku bingung. Saat sudah sampai di dekatnya, tangan pria dengan sweater biru itu aku tarik menjauh. Kami berdua jatuh bersama - sama. "Kamu gila, ya?!" jeritku setelah bangun dari rerumputan. Semua orang kini mendekat, mengerubungi kami dengan tatapan bermacam - macam.
Saat Adnan berdiri, dia terlihat mengatupkan rahang. Seperti tidak terima pada apa yang aku lakukan.
"Tau nggak, di situ ada apa?! Hah!" aku terus menjerit sambil sesekali melirik ke sudut gelap itu. Radit mengambil alih, berdiri di depanku, berusaha meredakan semua emosiku.
"Sstt, udah, sayang. Sabar dulu, ya. Kamu jelaskan baik - baik ke mereka." Radit terus berdiri di depanku, menggenggam tangan dengan tatapan dalam.
Aku menarik nafas dalam, berusaha meredakan rasa itu. Beberapa orang terlihat berbisik. Terutama pada kubu Adnan. Sementara kawan - kawanku justru terus menyapu pandang sekitar.
"Dit, ada perempuan di sana! Nyeremin banget!" bisikku dengan penuh emosi.
"Oke. Perempuan? Dia ada niat jahat, kah?"
Radit ditarik kasar oleh Adnan. Mereka berdua terlibat adu pandang seolah mengisyaratkan akan terjadinya keributan.
"Santai doang!" cetus Radit dengan nada tinggi.
"Cewek lu, tuh! Main tarik gue gitu aja! Gila, ya?!" omel Adnan.
"Heh! Jaga mulut lu! Harusnya lu berterima kasih sama dia!" Radit menunjuk Adnan, geram.
"Terima kasih apaan?! Dia narik gue sampai jatuh! Baju gue robek!" tunjuk Adnan masih kesal. Di antara pertikaian ini, ada dua orang teman Adnan yang mendekat.
"Nan, udah! Apa sih lu! Dia cewek loh! Masa mau lu ajak ribut juga?!" cegah seorang pria dengan kemeja kotak - kotak.
"Yi, lu lihat, kan? Bar - bar nya itu cewek! Jelas gue nggak terima lah!" kata Adnan membela diri.
"Pasti dia punya alasan, Nan. Mending lu balik aja sama yang lain. Lagian lu ngapain sih, ke sini!"
"Gue cuma mau cek aja. Biar Ollie percaya!"
Kedua pria itu masih berdiskusi yang aku tidak tau apa. Hingga akhirnya Adnan pun kembali ke teman - temannya setelah di nasehati oleh pria kemeja kotak - kotak tersebut.
"Kamu nggak apa - apa kan, sayang?" Radit kembali menanyakan hal yang sama berulang kali. Tidak hanya bertanya, dia juga memeriksa kaki, siku, lutut dan terus memperhatikan wajahku.
"Aku nggak apa - apa, sayang." Aku mengelus pipinya sambil tersenyum, agar dia berhenti cemas.
"Ehem, Eum, Maaf. Soal tadi. Adnan memang suka begitu, mungkin kebanyakan alkohol," jelasnya terlihat sungkan.
"Nggak apa - apa kok, Yi. Eh, memangnya ada apa sih? Itu kenapa dia ke sini? Ada apa?" tanya Radit menunjuk ke sudut di mana Adnan tadi berhenti.
"Eum, iya, tadi Ollie," jelasnya menunjuk kerumunan teman - temannya yang kini fokus bertanya macam - macam ke Adnan. "Dia bilang lihat sesuatu. Bayangan hitam gitu. Ollie agak ketakutan, jadi Adnan coba memastikan kalau memang nggak ada apa - apa di sini."
"Loh, Cit! Citraa!" jerit Ari gang terlihat kebingungan mencari kekasihnya. Otomatis kami ikut mencari keberadaan Citra.
"Kan tadi di sini! Sama gue!" pekik Kiki heboh.
"Yakin lu, Ki?" tanya Danu.
"Sumpah! Beneran!"
"Ya udah kita cari. Mungkin udah balik ke vila." Dedi berjalan lebih dulu ke vila, sementara Ari berlari dan segera masuk ke vila itu. Dia terus berteriak memanggil nama kekasihnya. "Cit! Citra!"
Semua kini mencari keberadaan Citra yang entah pergi ke mana. Ari terlihat paling panik, wajar saja karena yang hilang adalah kekasihnya.
"Duh, ke mana sih!" Ari frustrasi sampai menjambak rambutnya sendiri. Karena setelah dicari di dalam vila, tidak ada keberadaannya di mana pun juga. Semua ruangan sudah kami telusuri, namun hasilnya nihil.
"Apa mungkin keluar, ya?" tanya Dion langsung menyorot suasana sekitar dengan lampu flash ponselnya.
"Ada yang lihat nggak dia pergi keluar? Orang katanya dia dari tadi ada di deket Kiki, kan? Iya, kan sayang?"
Kiki mengangguk cepat. Tapi tentu kami tidak bisa tinggal diam, dan memutuskan harus mencari Citra sampai ketemu.
"Dit," bisikku saat melihat pria dengan kemeja kotak - kotak mendatangi vila kami.
"Gimana, Bang? Temennya ketemu belum?" tanyanya bersama dua orang lainnya.
"Belum, Yi. Ini kami mau cari keluar. Siapa tau dia pergi tanpa sepengetahuan kami."
"Kalau gitu, kami bantu cari, Bang!" salah satu dari mereka menyahut dengan antusias.
"Oke, makasih banyak, ya. Oh iya, kalian ... Siapa ya, namanya, gue lupa."
"Saya Bintang, Bang. Dia Roger."
"Oke, thanks, ya. Lebih baik kita cepat." Dedi mulai menyalakan senter.
Para lelaki mulai bersiap untuk pergi keluar. Tak lupa memakai jaket dan senter di tangan. Aku dan Kiki disuruh menunggu di dalam vila saja. Siapa tau Citra sudah kembali.
__ADS_1
Aku dan Kiki hanya melihat kepergian mereka, sambil memperhatikan hutan di sekitar. Berharap kalau hilangnya Citra bukan karena makhluk halus semacamnya. Memang tempat ini banyak makhluk halus, selain wanita yang tadi hendak meraih Adnan. Masih banyak, bahkan cukup banyak hingga aku tidak menyukainya. Berusaha menghindar, jangan sampai berurusan dengan mereka.
"Kita tunggu di luar aja, Ki. Siapa tau, Citra muncul," ajak ku dan Kiki pun menyetujuinya.
Malam makin larut, kelompok anak muda di samping vila kami, masih melakukan aktivitas mereka, walau tidak terlalu ramai dari semula. Mereka hanya duduk di teras seperti apa yang aku Kiki lakukan.
"Mau teh, Tha?" tanya Kiki sambil menuang termos yang sudah diisi teh ke cangkir miliknya. Aku mengangguk dan menyodorkan cangkir milikku.
"Kamu kenal Citra berapa lama, Ki?" tanyaku, menyesap teh hangat di genggaman.
"Eum, ya sejak setahun belakangan ini sih, Tha. Dia anak baru di kantor. Tapi ya gitu deh, agak tertutup. Sebenernya aku sama dia dekat justru baru tiga bulan terakhir. Karena awalnya ya kami cuma sebatas say hello aja, sama kayak yang lain."
"Terus Citra orangnya kayak gimana sih?"
"Eum, gimana, ya. Ya orangnya memang agak tertutup, Tha. Pendiam gitu. Cuma baik kok."
"Baik? Dalam artian bagaimana nih?"
Belum sempat diskusi ini selesai, suara jeritan terdengar melengking dari vila sebelah. Aku dan Kiki menoleh, dan melihat orang - orang yang tadi duduk di teras seperti kami, masuk ke dalam.
"Ada apa, ya?" tanyaku ke Kiki yang ditanggapi dengan gelengan kepala.
"Kita lihat aja yuk, Tha! Ada apa sama mereka!" ajak Kiki langsung menarik tanganku. Otomatis aku tidak bisa mengelak ajakannya itu. Terlebih aku pun juga penasaran pada apa yang terjadi di sana.
Kami berdua masuk ke dalam, pintu yang tidak dikunci memudahkan pergerakan kami. Sampai di dalam, rupanya mereka berkumpul di sebuah kamar, dengan seorang wanita yang sedang menempel di langit - langit. Bukan setan atau sejenisnya, tapi dia manusia. Dia kerasukan.
"Ya Allah," gumam Kiki lalu makin menempel padaku.
"Kenapa bisa gini?" tanyaku ke salah satu dari mereka.
"Nggak tau, Kak, tiba - tiba aja dia teriak, pas kami sampai kamar, dia udah seperti ini," jelasnya ketakutan.
"Tha, bantuin gih!" bisik Kiki mendorongku agar maju.
"Ck. Apa sih!"
"Kasihan, Tha!"
Jujur aku pun kasihan, dan tidak mungkin akan membiarkan keadaan ini terus - terusan. Menarik nafas dalam, lalu memutuskan untuk melangkah maju. Wanita yang sudah memakai baju tidur dengan celana pendek di sana, mulai mendesis, menatapku dengan tatapan benci. Dia seolah bersiap menyerangku, dari tempatnya berada sekarang. Di kamar ini ada sekitar lima orang. Dua wanita dan tiga pria. Di tambah wanita yang sedang kesurupan di atas sana.
"Dia kesurupan, kak?"
"Iya. Memangnya tadi kalian lagi apa?"
"Kami di luar, Kak, cuma Ollie memang pamit mau tidur, eh tiba - tiba dia sudah teriak - teriak."
"Dia sensitif, aku yakin perempuan tadi yang mengganggu dia."
"Perempuan yang mana, Kak?"
"Perempuan yang di dekati teman kalian itu," sahutku menunjuk Adnan dengan daguku. Dia diam, tidak menggubris perkataanku. "Ollie, memang benar, ada sosok di luar vila yang sejak tadi memperhatikan kalian, dan ya sekarang dia menempel ke Ollie."
"Jadi kami harus gimana, kak!" rengek salah satu dari mereka.
"Tolong ambilkan air, ya," pintaku. Salah satu wanita berlari keluar dan kembali dengan segelas air putih. Aku mulai membacakan doa - doa dan meniupkannya ke gelas di tanganku. "Bismillah!" Air aku tuangkan sedikit ke telapak tangan, lalu mencipratkan ke Ollie yang masih menempel di tembok. Dia menggeram kepanasan, bahkan tubuhnya terlihat mengeluarkan uap panas. Ollie jatuh begitu saja ke bawah. "Pegangi dia!" suruhku. Adnan dan dua pria lainnya segera memegangi Ollie walau dengan ekspresi takut. Aku melanjutkan menyiramkan air kembali ke telapak tanganku, dan kini membasuh wajah Ollie sambil membacakan doa.
Ollie menjerit dan menggeram. Tangannya berusaha melepaskan diri dari pegangan tiga pria di sekelilingnya. Aku terus menguatkan bacaan doaku, dan terus membasuh kepalanya dengan air ini. "Ki! Jempol kakinya!" Kiki mengangguk paham, lalu membantuku menekan jempol kaki Ollie. Ollie menjerit sangat kencang dan tak lama kemudian dia melemah, pingsan.
__________________
"Terima kasih banyak, Kak. Untung ada kakak, kalau nggak kita nggak tau apa yang harus kita lakukan buat Ollie."
"Sama - sama. Kalian jaga dia, takutnya kumat lagi. Lebih baik kalian di dalam saja, terlalu berbahaya kalau di luar terus. "
'Baik, kak."
"Eum, Kak. Aku minta maaf soal tadi," kata Adnan yang kini terlihat sungkan padaku. Aku pun tersenyum menanggapinya lalu mengangguk. "Iya, aku juga minta maaf, ya. Kalau terlalu kasar tadi."
"Teman kakak belum balik?" tanya yang lainnya. Aku dan Kiki saling pandang, sama - sama tersenyum. "Eum, belum masih dicari. Doain aja semoga cepat ketemu. Temen - temen kalian juga bantu tadi, terima kasih, ya."
Keadaan sudah terkendali. Aku sudah memberi tau kan agar meminumkan air tadi ke OlliE saat dia bangun nanti. Masih cemas jika makhluk tadi kembali lagi ke sini.
Aku dan Kiki lantas kembali ke vila kami. Tapi begitu keluar dari vila mereka, aku dan Kiki justru menghentikan langkah saat melihat Citra sudah duduk di kursi, sedang menikmati teh hangat tanpa ekspresi.
"Itu Citra asli apa bukan, Tha," bisik Kiki mulai cemas.
Aku diam, dan terus memperhatikannya lekat - lekat, memastikan kalau yang ada di sana manusia atau bukan. "Manusia kok. Dia Citra!"
"Alhamdulillah."
__ADS_1
"Tapi ... kok aneh, ya?"
"Aneh apanya, Tha?"