
"Tapi ... kok aneh, ya?
"Aneh apanya, Tha?"
"Hm. entahlah. Kita samperin saja, yuk. Tapi yang lain ke mana, ya? Coba kamu kabarin Doni, Ki. Suruh mereka balik," pintaku sambil berjalan ke tempat Citra bersama Kiki. Kiki segera mengambil ponsel dari saku jaketnya, dering nada panggilan terdengar nyaring di suasana sunyi seperti sekarang.
"Halo, sayang, kalian di mana? Balik sekarang. Citra udah ketemu!" seru Kiki.
"...."
"Oke."
Kami mendekat ke Citra, Kiki terlihat panik melihat teman kerjanya kini hanya diam duduk di kursi. Tatapan matanya kosong dan wajahnya agak pucat. Kiki langsung menyentuh bahu Citra, berusaha menyadarkannya. Karena Sikap Citra terlihat seperti orang yang sedang melamun.
"Cit, lu ke mana aja sih? Ari sama yang lain nyariin lu dari tadi! Lu kenapa?!" tanya Kiki dengan antusias. Aku justru hanya diam memperhatikan, dan tidak ingin terlibat lebih jauh. Sikap Citra tampak mencurigakan dan aneh. Hanya saja aku belum tau kenapa.
"Citra! Cit!" Kiki terus menjerit, hingga akhirnya dia tersadar.
"Ki ...," panggilnya pelan, seperti kehabisan tenaga. Dia terlihat panik dan ketakutan.
"Iya, kenapa, kenapa? Bilang, Cit, ada apa?"
"Kok aku di sini?" tanyanya, seperti orang kebingungan. Sementara Kiki dan aku justru saling pandang, bingung. Aku menaikkan dagu, bertanya pada Kiki tentang apa maksud perkataan Citra, dan Kiki justru menggeleng pelan, berakhir dengan kembali menatap Citra.
Beberapa langkah berlarian mendekat ke vila, para teman - teman pria sudah mulai datang. Ari yang paling cemas, dan segera mendekat pada kekasihnya. Pertanyaan beruntun mulai dilontarkan, dan Citra hanya diam dengan tatapan sendu yang membuat banyak orang iba padanya. Ari akhirnya membawa Citra masuk ke dalam.
"Kok dia bisa pulang sendiri?" tanya Radit yang kini berada di dekatku, berbisik.
"Hm, nggak tau, sayang. Tadi waktu aku di vila sebelah sama Kiki, tiba - tiba dia udah duduk di sini, cuma pas Kiki tanyain malah mirip orang linglung. Nggak ngerti kenapa," jelasku sambil menekan dahi dan menatap mereka semua. Mereka berkerumun, seolah ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Lah, kamu ngapain ke Vila sebelah?" tanya Radit menyelidik.
Mereka lantas mengerumuniku, karena diskusi ini yang cukup menarik. "Gini, tadi aku sama Kiki duduk di sini, sambil nunggu kalian pulang, tapi tiba - tiba ada yang teriak di vila sana. Mereka yang tadinya duduk di teras, langsung lari masuk. Otomatis aku sama Kiki penasaran. Akhirnya kami ikut masuk ke sana, eh ternyata si siapa tadi, yang di sana?" tanyaku beralih ke Rayi, dan menunjuk tempat pertikaian ku dengan Adnan tadi.
"Adnan?" tanya Rayi menebak.
"Bukan, Bukan! Cewek yang kalian bilang lihat sesuatu!"
"Oh, Oliie?"
"Iya, Oliie. Dia kesurupan!"
"Hah?! Yang bener, Kak?!" pekik Roger, Bintang justru menoleh ke sekitar. "Eh, kalian dengar nggak?"tanya Bintang menyuruh kami diam.
"Apaan?" tanya Dedi, penasaran.
__ADS_1
"Suara burung hantu!"
"...." Suara burung yang aku tidak tau kalau itu adalah burung hantu memang terdengar nyaring.
"Ini suara burung hantu, ya?" tanya Danu ikut mencari keberadaan hewan tersebut.
"Iya, Kak. Katanya kalau ada suara ini, artinya ada makhluk halus," bisik Bintang.
Kami semua saling pandang, menatap sekitar, berharap kalimat yang dilontarkan dia salah. Walau memang aku pernah mendengar mitos ini. Ada beberapa mitos pertanda kedatangan makhluk halus. Selain lolongan anjing atau serigala, suara burung hantu, burung gagak juga salah satunya. Ada lagi suara anak ayam, dan itu sudah aku buktikan keakuratannya, tentang suara anak ayam tersebut. Benar atau tidak, jika suara burung hantu juga salah satu pertanda kehadiran makhluk hidup, bukan menjadi pedomanku sekarang.
"Ya wajar aja sih, lihat aja sekitar kita. Kita, kan, ada di tengah hutan. Apalagi lahan ini kan baru dibuka, iya, kan, Yon?" tanyaku pada penanggung jawab vila ini. Dion hanya garuk - garuk kepalanya yang tidak gatal, dan tersenyum.
"Jadi gimana, Kak?"
"Apanya yang gimana?"
"Eum, maksudnya apa ada hal - hal aneh yang terjadi sekarang, mungkin gangguan itu karena mereka nggak suka sama kedatangan kita. Begitu kah, Kak?" tanya Rayi padaku.
"Hm, kita saling waspada saja. Kalian juga harus hati - hati dan jagain Oliie malam ini. Aku cuma takut dia kambuh lagi, soalnya kalau orang yang udah pernah kesurupan, bakal mudah kesurupan lagi. Apalagi kita di tengah hutan gini."
Ketiga pemuda itu saling tatap, seolah memberi isyarat. "Kalau gitu, kami pamit dulu, kak. Permisi," kata Bintang mengakhiri.
"Oke, thanks, ya. Kalau ada apa - apa, kalian kasih tau kami. Siapa tau kami bisa bantu," kata Radit sebelum mereka pergi.
Kiki dan Doni sudah masuk ke dalam, menemani Ari dan Citra. Tinggal kami berlima saja di sini. Angin malam makin berembus kencang, karena laut sangat dekat dengan kami.
"Hm, ya kamu udah bilang begitu, kan? Ya sudah, kita memang harus hati - hati. Mereka harus waspada sama Ollie, takutnya kesurupan susulan, dan kita juga jagain Citra. Dia aneh," bisikku menunjuk dua vila yang bersebelahan.
"Ya sudah, kita sudah biasa kan, menghadapi keadaan seperti ini, jadi kita sekarang istirahat, sekalian bagi tugas buat berjaga. Seperti biasa," jelas Radit, sambil meraih tanganku dan menggenggamnya. "Kamu istirahat, ya." Dia mengelus pipiku lembut, lalu mengecup kening. Teman - teman yang lain berdeham sambil batuk - batuk.
"Iya, kita masuk aja, yuk," ajak ku menarik tangan Radit, diikuti teman - teman yang lain.
Suasana di halaman depan sudah cukup mencekam. Apalagi langit rasanya akan menurunkan air hujan, dengan suara petir yang menyambar - nyambar. Berada di tengah hutan dengan kondisi seperti ini, bukanlah ide bagus. Tapi anehnya aku terjebak di tempat ini. Kalau saja aku tau, seperti apa akses jalan dan lingkungan vila ini, lebih baik aku menghabiskan waktu di rumah saja, menonton film yang masih banyak di folder laptopku.
Korden mulai ditarik, menutupi jendela. Dedi dan Danu mulai memeriksa jendela, pintu dan sekitarnya. Dion pergi ke dapur sambil membawa makanan yang masih tersisa di meja depan.
"Tidur sana, istirahat ya, sayang." Radit sedang membelai kepalaku, sambil terus menatapku intens. "Maaf, ya, kita malah terjebak di tempat seperti ini. Seharusnya aku ajak kamu buat have fun, tapi malah ketemu 'mereka' lagi," jelasnya panjang lebar. Tangannya tak lepas dari wajah, pipi dan kepalaku. Setiap belaian pria ini terasa hangat dan membuatku nyaman.
"Bukan salah kamu kok, sayang. Lagipula, kamu tau sendiri aku ini seperti apa, kan? Jadi di mana pun, kapan pun, pasti ada aja yang berkaitan dengan mereka. Aku nggak apa - apa, apalagi sekarang ada kamu, ada teman - teman. Aku yakin kita bisa melewati semua ini."
Radit tersenyum, lalu menarik tubuhku dalam dekapannya. Membuat suara berdeham makin gencar menggema di seluruh ruangan. "Pacaran mulu!" kata Dedi tanpa melihat kami, hanya fokus pada layar di genggamannya.
"Makanya cari pacar! Jadi tau gimana rasanya punya pacar, terus jadi bucin!" bela Radit dengan menaikkan nada bicara.
"Udah ih, Dit. Aku ke kamar, ya. Kamu juga istirahat." Sekilas aku mengecup pipi Radit, dan mendapat reaksi keras dari Danu. "Ommo! Daebak! Aretha telah mencium Radit di depan kami semua!"
__ADS_1
"Kebanyakan nonton drama korea lu!" ejek ku sambil berlalu masuk ke dalam kamar.
Di kamar, Doni berdiri di dekat pintu. Memperhatikan tiga orang yang sekarang ada di ranjang besar tengah ruangan. "Ngapain lu?!" tanyaku menyenggol pria tinggi kurus ini, hingga posisinya berganti. Dari yang berdiri dengan melipat kedua tangan di depan, kini justru menarik nafas dalam seolah telah melihat film pembunuhan. Wajah nya terlihat tegang sekali.
"Itu, si Citra. Apa dia nggak kesambet, Tha? Kok mirip orang linglung gitu. Ditanyain malah bingung. Bahkan dia nggak sadar kalau ada di sini sejak tadi sore. Terus kalau nggak sadar, yang sepanjang perjalanan tadi nyanyi - nyanyi nggak jelas siapa, kalau bukan dia coba!" hardik Doni berbisik dengan antusias.
"Nyanyi apa emangnya?"
"Nggak paham gue. Bahasa Jawa gitu."
Aku lantas menyimak apa yang sedang mereka bertiga bicarakan. Kiki dan Ari terus memberikan pertanyaan yang membuat Citra seakan frustrasi. Dia terus beranggapan kalau dia tidak sadar kalau berada di tempat ini. Ingatan yang dia tau, adalah dia masih berada di rumahnya, tidur di kamarnya.
Memang aneh. Apa mungkin dia kerasukan? Tapi kenapa aku tidak menyadarinya.
"Tidur sana!" suruh ku ke Doni. Aku lihat dia juga sudah kelelahan. Doni mengangguk lalu berpamitan dengan Kiki. Ari akhirnya ikut Doni keluar, agar kami semua bisa beristirahat.
"Ki, gue tidur di mana? Kalau misal apa gitu, gue di sofa ruang tamu aja nggak apa - apa," kataku sambil mengambil handuk kecil. Rasanya aku ingin cuci muka, bahkan mandi.
"Heh 'Misal apa gitu', maksud lu apa, nyet?! Sini aja lu! Udah tau, keadaan lagi serem, malah mau tidur di sofa! Enak aja!" geram Kiki dan berhasil membuatku tertawa tertahan.
"Kamu mah emosian, Ki. Ah, cuci muka dulu ah!" kataku sambil mengambil peralatan mandi yang ada di dalam tas kecil.
"Jangan lama - lama!" tegas Kiki.
"Ye, kenapa? Kan dia temen situ, kok takut!" ejekku.
"Setan, lu, Tha!"
Sebelum dia murka lebih parah, aku putuskan pergi ke kamar mandi yang letaknya di dekat dapur. Sambil tertawa - tawa aku keluar kamar, dan membuat teman - teman yang ada di ruang tengah menoleh menatapku.
"Ke mana, sayang?" tanya Radit yang baru saja membuat kopi.
"Mandi. Hehe."
"Malam - malam gini? Yakin?"
"Yakin, sayang. Gerah banget. Aku nggak bisa tidur ini."
"Oke. Jangan lama - lama tapi."
"Siap, Bos!"
Sudah lewat tengah malam, dan aku justru mandi saat malam begini. Entahlah, rasanya badanku sangat lengket. Vila ini cukup mewah, karena ada bathtub yang berada di kamar mandinya. Selain shower yang memang ada di dekatnya. Aku mulai menyalakan kran, dan rasanya berendam air hangat akan membantuku bisa tidur lebih nyenyak.
Aku sudah terlentang di dalam air, menikmati tiap aroma sabun yang sudah ku tuang ke tubuh. Bermain dengan busa sabun juga sedikit mengurangi rasa tegang yang sejak tadi kurasakan. Kaki aku gerakkan seperti hendak berenang. Hingga tiba - tiba kakiku seperti ada yang membelit. Aku sontak terkejut dan mencari sesuatu yang rasanya ada di dalam air.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti, aku melihat ada bayangan hitam muncul di bak bawah kakiku. Dari dalam air, benda hitam itu mulai muncul ke permukaan, aku sontak menjerit dan segera keluar dari bathtub.
"Aretha! Aretha! Kenapa, sayang?" tanya Radit sambil mengetuk pintu kamar mandi dengan cepat. Aku justru diam, sambil mengamati air di bathtub tersebut. Tidak ada hal aneh yang muncul, tapi hal itu tetap membuatku ingin segera mengakhiri acara mandi malam ini.