Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
29 rumah kosong


__ADS_3

POV ARDEN


Pukul 19.00


Kami sudah bersiap untuk memulai acara bakar bakaran lagi.


Memang kegiatan ini seperti menjadi agenda rutin kami selama di sini. Mengingat halaman rumah Om Wayan yang nyaman dan pas untuk acara outdoor, dan sepertinya mereka sangat antusias jika melakukan hal ini bahkan hampir setiap malam.


"Den ... Nanti bawain ayam, ya, di dapur." Tiba tiba Alya muncul di belakangku dengan membawa piring dan sendok.


"Oh oke. Ayam aja?" tanyaku memastikan.


"Iya, ayam aja. Hati hati tapi, agak berat," ujarnya lagi.


"Iya, Al."


Segera saja aku ke dapur dan mengambil ayam yang hendak dibakar ke halaman depan.


Semua ikut andil dalam kegiatan ini. Aku mendekat ke Alya dan membantunya menyiapkan segala keperluan untuk memasak.


"Kurang apa lagi, Al?" tanya ku padanya.


"Ya ampun, Den. Kecap!! Aku lupa beli. Habis nih. Gimana dong," katanya panik.


"Ya udah, biar aku yang beli. Aku ambil jaket dulu ya, anginnya kenceng nih," kataku.


Aku lalu masuk ke dalam kamar dan segera mengambil jaket yang tergantung di hanger belakang pintu.


Sampai di depan, aku mengajak Dedi agar menemaniku membeli kecap yg jaraknya tidak begitu jauh dari rumah om Wayan.


Namun, Radit dan Aretha malah minta ikut. Sepertinya mereka berdua sedang bertengkar, raut wajah keduanya tidak begitu sedap dipandang, terutama Aretha.


"Beli kecap aja kayak mau tawuran," celetuk Doni asal.


"Sambil jalan jalan, Don," sela Dedi.


"Ikut?" tanyaku.


"Males ah. Den, hati hati tuh sama adek elu. Dia lagi kumat, bahaya banget," kata Doni sambil tertawa puas.


Aretha langsung menginjak kaki Doni keras keras dengan wajah yg sangat masam.


Wah, kalau Aretha sedang begini, aku mending pura pura tidak melihatnya saja. Memang bahaya sekali kalau dia lagi ngambek.


Beberapa kali Radit berusaha mendekati Aretha, namun Aretha terus menghindar. Sepertinya sedangĀ  ada di perang dingin.


"Ya udah yuk. Jadi ikut nggak?" tanyaku pada mereka berdua.


"Jadi lah, Kak," sahut Aretha ketus.


Kami lalu berangkat dengan jalan kaki berempat.


Suasana agak sepi, hanya sesekali motor berlalu lalang di jalanan yg kami lewati ini.


Hingga saat kami akan melewati sebuah rumah kosong.


Badanku terasa tidak nyaman, dan Aretha berhenti berjalan sambil menatap rumah itu dengan tatapan bingung.


"Dek, ada apa?" tanyaku.


"Nggak papa kok, kak. Biarin aja," katanya lalu berjalan lagi.


Namun saat kami meneruskan perjalanan, kami mendengar seperti ada piring pecah di dalam rumah itu.


Otomatis kami berempat menoleh ke rumah kosong tersebut


Rumahnya gelap, kotor dan tidak terawat.


"Paling kucing, " kata Radit.


"Masa sih?" tanya Dedi tidak percaya.


"Iya anggap aja gitu," sahutku agar dia tidak memperpanjang obrolan ini.


Karena aku tau apa sebenarnya yg ada di rumah itu, dan aku yakin Aretha juga merasakannya.


Lagi lagi kami mendengar suara aneh.


Kini ada suara tangis anak kecil.


Kami berhenti dan menatap ke sekitar.

__ADS_1


"Suara dari mana nih?" tanya Dedi dengan muka agak panik.


Aku dan Aretha langsung melihat ke rumah itu. Aku langsung membuka mata ketiga dan melihat seorang anak kecil sedang berdiri di balik korden rumah itu. Sekalipun tempat itu gelap, namun cahaya bulan mampu membuat sosok itu terlihat jelas oleh kami.


Aretha melirik padaku lalu menaikkan alisnya ke atas.


Aku hanya mampu menaikkan bahuku juga ke atas.


"Udah yuk. Biar aja," kataku lalu mengajak mereka pergi ke tujuan semula kami.


Tak lama kami sampai di warung itu.


"Ini saudaranya Wayan, ya?" tanya Ibu pemilik warung.


"Iya bu, betul. Saya keponakan om Wayan," jawab Aretha ramah.


Kami lalu membeli beberapa barang yg memang kami butuhkan.


"Eh, kalian lewat rumah kosong itu?" tanya Bu warung lagi.


"Eum... iya bu. Memang nya kenapa?" tanya Radit.


"Hati hati ya, di sana angker banget.. banyak orang yang hilang kalo udah masuk ke sana," jelas bu warung itu sambil melirik ke sana kemari.


Terlihat sekali raut wajah ibu itu sungguh ketakutan. Sebenarnya ada apa dengan rumah itu?


Om wayan pun tidak pernah membahas soal rumah itu.


"Memang nya rumah itu kenapa, bu. Kok kosong?" tanya Dedi yg penasarannya udah di ubun ubun.


"Jadi, dulu ada yg tinggal di sana. Mereka 1 keluarga. Sepasang suami istri dan seorang anak laki laki yg masih kecil."


Degg!!


Aku dan Aretha saling lempar pandangan. Walau kami hanya diam, tapi aku tau apa yg ada di dalam pikirannya.


Anak yg tadi itu salah 1 anggota keluarga penghuni rumah itu.


"Memangnya mereka ke mana bu? Kok rumahnya kosong gitu. udah lama ya bu?" tanya Dedi sambil meneguk soft drink yg dia beli.


"Udah 3 tahun ini kosong. Dulu rumah itu pernah kena kebakaran mas, terus kebetulan cuma ada anaknya di dalem, dan saat orang orang ke sana, semua sudah terlambat. Anak itu meninggal hangus terbakar," ucap ibu itu.


"Anaknya kebakar bu??" tanyaku penasaran.


Kebakar? masa? Perasaan yg kulihat tidak ada luka gosong apa pun pada anak itu.


Aretha mendekat padaku.


"Kak.. Masa sih tu anak kebakar? Kok bersih gitu ya sosok nya?" tanya Aretha sambil berbisik.


"Kakak juga ragu, Dek.. Kayanya enggak deh. Tapi gimana ya?" aku pun belum paham betul apa yg sebenarnya terjadi pada anak itu.


"Eh, yuk balik. Ditungguin nih kecap," celetuk Radit dengan menunjukan belanjaan kami barusan.


Akhirnya kami pulang.


Dan kembali kami melewati rumah itu.


"Eh, ngomong ngomong gak ada jln lain ya, selain lewat sini?" tanya Radit sambil memandang rumah itu ngeri.


"Ya kagak ada, Dit. Mau lewat mana lagi ini jalan satu satunya lho. Elu takut?" tanya Dedi.


"Enak aja. Enggak lah," elaknya.


Padahal aku tau kalau mereka berdua sama sama takut.


"Aduh! Siapa nih yg ngelempar gue!!" teriak Dedi sambil memegang kepalanya.


"Apa sih ribut banget," timpal Radit.


Dedi memungut batu yg tadi mengenainya.


Sambil mengelus pucuk kepalanya, dia mencari siapa yg iseng melemparnya barusan.


Degg!!


Sosok anak itu kini berdiri di halaman rumahnya sambil melambai lambaikan tangannya.


'tolonng... Tolong, kak,' ucapnya dengan suara yg sangat mengiba, membuat bulu kudukku meremang.


"Cabut deh.. Gawat kelamaan di sini," ajak Radit, sambil menarik tangan aretha.

__ADS_1


Kami lalu berjalan agak cepat menjauhi rumah itu.


Buuuggg!


Aku menoleh ke belakang dan mendapati Dedi jatuh pingsan di jalan beraspal ini.


"Eh... Ded!! Kenapa lu!" teriak Radit lalu kami kembali menghampiri Dedi.


"Ded! Dedi! Bangun, Ded!! Kenapa si? duh gawat banget. Pingsan gak liat liat sikon lagi ni anak," kata Radit.


Ya mana ada pingsan liat liat situasi dan kondisi dulu. Ini anak suka ngaco emang. Lagi keadaan serius gini masih bisa becanda.


"Ded! Bangun, Ded!!" teriak Aretha, lalu membaca doa dan meletakan telapak tangannya di dahi Dedi sambil memejamkan mata.


Aku berdiri sambil berkacak pinggang melihat ke dalam rumah itu dengan seksama.


Apakah ini ulah anak itu atau ada makhluk iseng lain di sana.


Tak lama Dedi bereaksi.


Dia mulai bergerak sambil memegangi kepalanya.


"Ssh ... Sakit banget kepala," gumamnya.


"Alhamdulillah... Akhirnya sadar juga, Ded!!" ucap Aretha lega.


"Ya udah, yuk cepet pulang aja. Jangan lama lama di sini," ajakku.


Ku ulurkan tanganku ke Dedi dan membantunya berdiri.


Dia masih jalan sempoyongan karena baru sadar dari pingsan nya tadi. Akhirnya aku dan Radit memapahnya hingga sampai rumah.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Om wayan mana?" tanyaku ke Alya.


"Barusan pergi, Den. Katanya ada kerjaan terus balik besok. Soalnya keluar kota," jelasnya sambil masih sibuk dengan ayam panggang buatannya.


Jika melihat Alya, aku teringat bunda. Bunda juga jago masak.


"Kok malem malem pergi sih." aku berbicara sendiri.


"Iya, katanya ada kerjaan mendadak, Den. Emang kenapa?" tanya Alya lembut lalu menatap mataku lekat lekat.


"Mm... en... Enggak papa. Hehe"aku malah gagal fokus karena ulah Alya kali ini.


Astaga. huft.


"Den... Dedi mana sih? Gue ambil dia minum malah ngilang?" tanya Radit sambil celingukan.


Aku pun ikut mencari keberadaan Dedi yg benar benar tidak bisa kulihat sepanjang mata mandang.


Perasaanku jadi tidak enak.


"Ded!!! Dedi" teriakku agak panik.


Karena jelas jelas tadi ku dudukkan dia di saung bambu di dekat kolam ikan.


Radit menatapku dan sepertinya mengerti kegelisahan ku.


Kami lalu mencari Dedi di semua sudut rumah.


"Apa sih? nyari apaan elu pada?"


Tanya Doni yg sedang menikmati lobster panggang.


"Dedi mana? elu liat gak?" tanya Radit.


"Dedi? kagak liat gue. Justru gue mau nanya. Dedi kalian tinggal di mana sih?" tanyanya bingung.


"Lah orang tadi dia duduk di situ," kataku sambil menunjuk tempat yg kumaksud.


Doni menoleh pelan


"Elu gak usah ngaco ya, Den... Kagak ada. Tadi kalian balik bertiga doang!!lah Dedi kalian tinggal di mana??" tanya Doni bingung.


Deggg!!


Aku dan Radit saling lempar pandang lalu menunjukan kerutan di dahi kami masing masing.


Jika tadi bukan Dedi yg kami bawa, lantas siapa?

__ADS_1


Dan mana Dedi?


Astaga...


__ADS_2