
"Ta! Yuk buruan. Jadi nggak nih?" tanya Kak Arden sambil melihat jam tangannya.
Aku yang masih berdandan menoleh sebentar lalu sekali lagi mematutkan diri di depan cermin.
"Oke. Yuk. Eh Bang Aim sama Mba Ais udah dateng?" tanyaku.
"Kakak jemput mba Aisyah kamu sama Bang Aim. Tuh udah di depan."
Mba Aisyah memang paling takut kalau disuruh bonceng motor Bang Aim. Soalnya naik motornya gila gilaan. Makanya kalau kami akan hang out bareng mereka, aku yg bonceng Bang Aim. mba Aisyah sama kak Arden.
Kami berencana mau nonton bareng. Ini hari minggu, dan sudah menjadi kebiasaan kami jalan jalan bersama. Madang dua minggu sekali kadang sebulan sekali. Yang jelas, ini merupakan agenda rutin kami.
Aku dan Mak Arden keluar dan mendapati Bang Aim sedang asyik makan sosis bakar buatan Bunda.
"Lha... Udah siap! Aku masih makan nih. Sebentar, ya," ucap Bang Aim sambil sibuk meniup sosis yang masih panas.
"Iya, santai aja kali, Bang," sahutku.
Setelah makan selesai, lebih tepatnya ngemil. Kami langsung naik motor menuju tempat tujuan kami. Namun sebelumnya mampir dulu ke rumah Mba Ais. Kebetulan rumah kami tidak begitu jauh satu sama lain. Dan ini memudahkan kami untuk saling bertemu jika ada waktu luang.
"Assalamualaikum, Pakde," seruku saat kami sudah akan pergi.
Sesuai rencana awal, kami akan menonton bioskop. Setelah semua sudah siap, kami berempat segera pergi ke bioskop. Hanya butuh sekitar 20 menit bagi Kak Arden, dan 15 menit bagi Bang Aim, kami sudah sampai di bioskop yang menjadi target hang out kami.
Namun saat akan mengantre, kami menghentikan langkah, begitu melihat deretan panjang antrean orang yang hendak menonton bioskop juga.
"Ya ampun, ramainya."
"Duh, males banget, Bang. Nggak jadi aja deh, " protesku.
"Gimana, Den? Ais?" tanya Bang Aim pada mereka.
"Iya deh, males. Besok lagi aja kalau udah agak sepi." Mba Ais pun setuju. Memang film yang sedang diputar adalah salah satu film incaran kami sejak lama. Dan kami harus menonton nya. Tapi paling males kalau nonton dengan keadaan penonton membeludag begini. Sudah pasti antre tiketnya akan lama, capek. Belum lagi di dalam gedung rasanya penuh sesak. Padahal semua duduk di kursi dan sesuai sama jumlah maksimal di dalam gedung.
Tapi tetap saja malas.
"Terus mau ke mana?" tanya kak Arden.
"Hm... Batur Agung Mount of Fun aja gimana? Kita main flying fox," ajak Bang Aim.
Plakk!
"Setuju, Bang, " ucapku sambil menepuk bahunya
"Ih, kaget! Kamu nih, kebiasaan," gerutunya sebal.
Aku hanya menaikan dua jariku ke samping sambil tertawa.
Akhirnya kami ke tempat itu. Dan bermain flying fox di sana.
Lokasinya yang berada di kaki gunung Slamet membuat kami harus menempuh perjalanan yang cukup lama. Hampir 30 menit aku dan bang Aim sudah sampai aja di sini, karena Bang Aim naik motornya sudah mirip pembalap.
kak Arden yang tertinggal jauh tampak santai aja. Karena memang mereka berdua, tidak begitu suka balapan.
Aku dan Bang Aim sampai duluan.
"Tha, beli minum dulu, yuk. Tuh ada warung. Sambil nunggu Arden. Lama pasti nih," ucap Bang Aim sambil melepas jaketnya.
"Oke. Traktir tapi lho."
"Beres."
Kami memutuskan minum es kelapa muda dulu di sana. Suasana nya masih agak sejuk. Maklum kami sekarang ada di kaki gunung.
"Eh Bang, kemaren kok nggak dateng pas bunda launching resto??" protesku sambil melirik kepadanya.
"Hehehe. Sorry, Tha. Sibuk kuliah aku. Gimana? Resto bunda? Pasti keren deh."
"Iya dong. Pasti."
Bang aim ini sudah mulai masuk kuliah tahun ini sebagai mahasiswa baru. Dia memang saudara sepupu paling tua dari kami. Saat masih asyik mengobrol, tiba-tiba seorang menarik tanganku agak kasar.
"Radit?!" pekikku.
Aku benar benar kaget karena melihat Radit yang sudah ada di hadapanku sekarang.
Padahal sebelumnya dia bilang kalau mau pergi ke gereja dan setelah itu mau ke rumah saudaranya yang sedang sakit. Tapi kenapa sekarang justru dia di sini.
Radit makin menarikku menjauh dari bang Aim.
Bang Aim hanya menaikkan sebelah alisnya melihat kami, saat awalnya hendak menghampiriku namun aku melarangnya. Sepertinya dia paham situasi ini
__ADS_1
"Kok kamu di sini, Dit?" tanyaku heran.
"Kamu sendiri ngapain di sini?"tanya Radit ketus sambil menghilangkan tangan di depan dada, menatap tajam padaku dan sesekali melirik bang Aim.
"Aku lagi main sama bang Aim. Tadi kita mau nonton, cuma bioskop nya penuh. Bang Aim ngajak ke sini," jelasku.
"Oh gitu? Kenapa nggak sama Arden aja? Terus siapa dia?" tanya Radit dengan muka kusut.
Tunggu! Jangan bilang kalau dia ini sedang cemburu. Aku lalu tertawa sambil menutup mulutku.
"Kok ketawa?" tanya Radit makin kesal.
Bang Aim lalu mendekat dan seketika merangkul ku dan berbisik padaku.
"Siapa dia? Cemburu sama Abang, ya, Tha? Pacar kamu pasti nih," bisiknya sambil menatap tajam Radit yang makin emosi.
Aku melingkarkan tanganku ke pinggang Bang Aim. Dan membuat Radit makin melotot.
Tak lama Kak Arden datang dan heran melihat Radit ada di sini.
"Lho, Dit? Kok elu di sini?" tanya kak Arden. Radit hanya diam.
Kak Arden melihat ku dan bang Aim yang senyum senyum. Lantas melotot
"Dek! Jangan becanda deh. Kamu mau bangunin macan tidur. Besok ambruk sekolah, kalau kamu terusin," tegurnya.
"Iya deh." Akhirnya drama ini ku akhiri, aku melepaskan tanganku dari bang Aim.
Kini kutarik tangan Radit dan mengajaknya ngobrol agak jauh.
"Apa sih, Tha. Mau ngapain sih? Udah sana kamu lanjutin aja jalan jalannya. Aku mau balik." dia ngambek.
Sumpah lucu banget lihat Radit ngambek begini.
"Kamu cemburu ya," cecarku.
"Enggak," jawabnya ketus tanpa melihatku.
"Serius?" ledekku.
"Nggak tau ah. Aku balik ya." Kali ini dia bener bener marah. Belum pernah aku melihat sikap Radit semarah ini.
Saat dia hendak pergi, aku memeluknya seketika. Entah mendapat dorongan dari mana. Aku melakukan hal ini. Ini benar benar refleks. Aku tidak merencanakan nya dan tidak memikirkan nya sebelumnya. Yang kutau, aku tidak ingin Radit makin kesal.
"Dia Bang Aim. Kakak sepupuku, Dit," jelasku masih dalam keadaan memeluknya.
"Hah?! Bohong."
"Ih gak percaya bangett sih." kulepaskan pelukanku dan kupencet hidungnya yang mancung.
"Dit... Nggak usah ngambek gitu kenapa sih. Jelek tau. Bang Aim emang sepupu kita "ucap kak Arden. Yang tiba-tiba sudah ada bersama kami.
Radit menatap kak Arden dan aku sambil berfikir.
Bang Aim dan mba Ais cuma senyum senyum. Lalu bang aim berjalan mendekat dan mengulurkan tangannya ke Radit.
"Aku Ibrahim. Kakak sepupunya mereka," katanya memperkenalkan diri.
Dengan malu malu Radit menjabat tangan Bang Aim juga. "maaf bang. Aku nggak tau," katanya sambil cengengesan.
"Iya, nggak apa-apa. Kemaren aku gak dateng sih pas launching resto tante Nisa, jadi kita nggak ketemu ya," terang bang Aim. Memperkuat pernyataannya.
Radit hanya cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Plakkk!!
"Kamu ngapain coba di sini? katanya mau ke gereja?" tanyaku gantian kesal.
"Ye... Udah kok. Tadi pas baru keluar gereja aku lihat kamu lewat, jadinya aku ikutin," kata Radit dengan memelankan suaranya.
Kak Arden tertawa kencang.
"Cemburu ni ye," ledek nya.
"Sialan." Radit mengapit leher kak Arden dengan lengannya karena malu terus menerus diejek.
"Udah udah, yuk masuk. Keburu siang nih," ajak mba Ais.
Akhirnya Radit ikut juga.
Kami seharian ada di sini. Bermain flying fox, lalu ke kolam pemancingan dan terakhir mencoba wahana arum jeram. Semua merasa senang.
__ADS_1
Hingga sore harinya, kami memutuskan ke mushola dulu untuk salat ashar.
Radit seperti biasa menunggu di depan mushola.
Setelah salat, kami makan jagung bakar dulu sambil ngobrol-ngobrol.
Aku melihat sosok hitam mengerikan terus berjalan mengikuti seorang pengunjung.
Seketika aku memalingkan wajahku ke arah lain. Sosok itu juga menatapku tajam. Mungkin karena dia tau kalau aku bisa melihatnya juga.
"Tha... kenapa?" tanya bang Aim yg duduknya di depanku.
"Tuh. "Aku mengisyaratkan mereka melihat ke sosok tadi.
Mereka serempak menoleh ke pemuda yang kumaksud.
"Kamu udah ada radit masih aja melirik cowok lain. Gantengan Radit ke mana- mana kali, Tha," ucap bang Aim ngawur.
"Ih.. Yang ngeliatin cowok itu siapa?"
"Lah kamu nyuruh kita liat tuh cowok? Maksudnya apa coba?" tanya bang Aim lagi.
Oh iya, aku lupa kalau mereka tidak bisa melihat sosok itu.
"Nggak apa-apa," gerutuku sebal sambil makan jagung bakar denga kesal.
"Udah ah, biar aja, Dek. Yang penting nggak gangguin kita," kata kak Arden santai.
"Ini kalian lagi ngomongin setan?" tanya bang Aim sambil berbisik.
"Iyalah, Bang, kalau yang beginian ya cuma mereka berdua aja yg ngerti," tutur Radit.
"Selama ada mba Aisyah, 'dia' nggak bakal berani deketin kita, " sahut kak Arden.
Mba aisyah bingung sambil melongo.
"Kok aku? Emang aku kenapa? Aku aja nggak bisa lihat kayak kalian?" tanyanya.
"Mba Aisyah aja yang nggak tau, kalau ada yang jagain terus tuh."aku menunjuk sosok di belakangnya
Yah, mbak Aisyah punya sosok pendamping. Dan itu suruhan pak dhe Yusuf pastinya.
Mbak Aisyah menoleh lalu bergidik ngeri.
"Jangan nakut-nakutin deh," katanya.
"Ya nggak usah takut kali. Orang nggak nyeremin kok, Mba," kataku agar dia tidak takut. Tapi memang nggak nyeremin kok, serius.
Cantik pula, cuma jangan ditanya gimana kekuatannya. Luar biasa. Karena aku pernah melihat kemampuannya.
Setelah asik bermain di sini mbak Aisyah minta ke bukit bintang.
Namun sebelum ke sana kami ke mushola dulu untuk salat maghrib.
Dan setelah itu makan dulu di sebuah warung tenda.
Setelah agak malam, walau baru sekitar pukul 18.30 malam, kami lalu ke lokasi.
Ternyata di sana sudah ramai pengunjung. Kebanyakan sih berpasang pasangan.
Kami duduk di tempat itu. Tempatnya mirip stadion untuk menonton basket di sekolah.
Aku dan mba Aisyah diapit kak Arden dan Bang Aim juga Radit.
Makin malam suasana makin dingin. Apalagi kami ada di atas bukit yg sudah pasti angin pun agak kencang.
Radit melepaskan jaketnya lalu memakaikan nya padaku.
Tak banyak obrolan saat ini, kami asyik dengan pikiran masing masing sambil menatap jutaan bintang di langit.
Radit menggenggam tanganku erat.
"Dingin ya?" tanyanya lalu menggosok gosokan tanganku agar lebih hangat.
Aku hanya melemparkan senyum saja padanya.
Yah, Radit selalu seperti ini.
Dan aku, makin terbiasa dengan perlakuan istimewanya padaku.
Kami memang tidak ada kata pacaran atau apalah itu. Namun semua orang tau kalau Radit menyayangiku dan aku pun sama.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=
Terkadang ada saat di mana gelap malam seakan mampu mengerti kamu lebih dari yang lain. Bersama bintang. Bersama bulan. Bersama langit malam. Cukup dengan melihat alam, kamu merasakan kedamaian.